Feature news

Showing posts with label Lagi Serius. Show all posts

Cinta Itu Hebat



                                




Siang itu, jam menunjukkan pukul setengah dua. Gue yang baru sampai di parkiran kampus langsung buru-buru naik ke atas.Gue telat setengah jam. Huh.
Gimana enggak, jam pulang kerja gue bertabrakan dengan jam masuk kuliah. Jam satu siang gue pulang kerja, dan jam satu siang pula jam masuk kuliah. -_-

Benar saja, di dalam kelas, seorang dosen terlihat sangat bersemangat dalam menyampaikan materi. Gue mengetuk pintu, mengucapkan salam kemudian masuk.

‘’ Huh, gue telat ya? ‘’ Gue menghenyakan pantat di  kursi sambil meletakkan tas. Teman-teman di sekeliling melihat gue dengan tatapan  ya-menurut-lu-aje-nyet.
Hari itu gue mempelajari mata kuliah Ilmu Budaya Dasar. Di sana dijelaskan secara  detail tentang sifat-sifat manusia, segala macam phobia, tipe-tipe manusia,  tentang perasaan, jiwa dan rohani, cinta kasih, sifat-sifat negative pada manusia dan banyak lainnya. Gue hanya manggut-manggut memahami ucapan yang dilontarkan Ibu dosen.
Sampai pada akhirnya, Dosen melemparkan pertanyaan kepada seluruh mahasiswa.

‘’ Ada yang pernah merasa tersiksa?‘’

Spontan, salah seorang teman gue, Nurul menyahut, ‘’ Pernah, Bu. Tersiksa rindu.‘’
Gue hanya tertawa kecil.
‘’ Ada lagi?‘’
‘’ Ada, Bu. Tersiksa batin, ‘’ ujar gue dengan nada pelan.
‘’ Iya apa tadi? ‘’ Dosen mencari-cari dari mana sumber suara yang barusan ia dengar. Suasana kelas mendadak hening. Gue hanya diem sambil menahan ketawa, yakali gue mengulang ucapan yang barusan gue ucapkan.
Sang dosen mendekati posisi Nurul.
‘’ Kamu kenapa tersiksa rindu? Pacaran jarak jauh ya?‘’

Nurul hanya mengangguk. Satu anggukan.

‘’ Nih ya buat kalian, kalau kalian punya pacar jauh, kalian harus punya cadangan di sini. Jangan terlalu percaya seratus persen ke si dia yang jauh di sana. Percaya nggak percaya, dia pasti juga punya cadangan pacar di sana. ‘’

Gue mengerutan dahi. Ini dosen ngajarin yang baik atau yang buruk sih?

Seumur hidup selama pernah menjalani LDR, gue nggak pernah ada kepikiran untuk mencari cadangan lelaki lain atau menyukai lelaki lain, selain pacar gue. Kalau kita mencari cadangan lain, itu berarti kita belum sepenuhnya yakin ke pasangan. Kalau belum yakin kepasangan, ya buat apa menjalin hubungan.

‘’ Yang dekat saja bisa selingkuh, gimana yang jauh?‘’
Dosen tersebut melanjutkan kembali ucapannya kemudian berbalik dan duduk di kursinya.
Alis gue semakin mengerut.

Ibu dosen terlihat duduk di kursinya seperti semula. Kemudian tangannya menelusuri deretan kertas absen yang berisi daftar nama-nama mahasiswa.

‘’Indah?‘’
‘’ Iya Bu, ‘’ ujar sebuah suara dari belakang posisi gue duduk.
‘’ Kalau ada dua lelaki yang sama-sama suka dengan kamu. Keduanya sama-sama baik, sopan, sama dalam segi apapun. Apa yang akan kamu lakukan? Kamu harus memilih satu.‘’
Indah terlihat bingung. Mikir keras.

‘’Nggak bisa jawab? RahayuWulandari. ‘’
‘’ I-iya, Bu. ‘’
‘’ Kalau kamu, apa yang akan kamu lakukan? ‘’

Sebenernya gue mau jawab, ‘’ Saya nikahin aja dua-duanya, Bu. ‘’
Tapi nggak jadi.

‘’ Hmm,  saya akan membandingkan mereka berdua dalam segi atau hal lain yang saya sesuaikan dengan kriteria lelaki yang saya cari. ‘’
‘’ Keduanya sama-sama baik dalam segi apapun. Nggak ada yang bisa dibandingkan.’’

Pertanyaan macam apa ini. Ahelah.

‘’ Enggak tau, Bu. ‘’
‘’ Nggak tau jawabannya? Nah, kalau kalian berada dalam situasi seperti ini, jawabannya adalah perbanyak sholat tahajud. ‘’

Lah iya juga yak. Gue manggut-manggut paham.

‘’ Masalahnya bu sekarang, jangankan dua lelaki, satu lelaki aja kagak ada yang mau sama saya, Bu. ‘’
Spontan seisi kelas tertawa. Cara mempermalukan diri yang paling elegan.

Elegan ndasmu!

***

Sore itu, jam menunjukkan pukul lima sore. Waktunya istirahat untuk semua mahasiwa. Perkuliahan akan dimulai kembali, tepat pada jam tujuh malam.

‘’ Kita makan di mana gengs? ‘’ Gue sok menirukan gaya bicara Komo Ricky. Tau kan Komo Ricky? Ituloh host yang kalo ngomong selalu bicara pake otot, emosi sampai urat lehernya keliatan sixpack, ngaceng keluar.

‘’ Makan di mana ya, di mana aja deh. Nggak usah di tempat kemarin, bosen, ‘’ ujar Fira, salah seorang temen gue.

‘’ Di kaepci, yuk? ‘’

Kami berempat mengangguk setuju.
Tak berapa lama, kami berempat sudah sampai di dalam toko ayam. Sambil menikmati makanan, terjadi percakapan ala ciwi-ciwi.

‘’ Lu beneran  LDR, Nur?‘’ Fira menyenggol lengan Nurul.
‘’ Iya, gue LDR. Dia di Jawa Tengah, jauh. ‘’
‘’ Wah berarti lu harus punya cadangan nih, ‘’ Fira menggoda Nurul. Nurul menggelengkan kepalanya cepat.

‘’ Di sini yang jomblo siapa sih?‘’ ujar Imel, salah seorang teman gue.
Tanpa dikomando, gue, Fira dan Indah menunjuk dirinya masing-masing. Setau gue, Fira memang jomblo. Jika ditanya mengapa ia jomblo, Fira selalu berkata, ‘’ Gue mau nunggu orang yang tepat untuk bisa hidup selamanya sama gue. ‘’ Maknyus. 

‘’ Lu jomblo?‘’ Nurul seakan tak yakin dengan pengakuan gue barusan. Gue mengangguk. 

‘’ Yang kemarin mana?‘’ tanyanya lagi.

‘’ Oh, yang itu udah putus. Males dicuekin. Serasa nggak punya pacar. Males pacaran, maunya nikah aja. Tapi sama siapa? Sama bambu runcing? Yakali,‘’ ujar gue sambil  menyuap nasi ke dalam mulut.
Suasana kembali hening, lagi asyik-asyiknya menikmati makanan, tiba-tiba Indah memecah keheningan. Dengan setengah berteriak, ia membuka mulutnya.

‘’ MAKAN TUH CINTA! ‘’

Indah menatap kosong ke arah luar jendela. Lebih tepatnya kearah parkiran motor. Kami berempat saling pandang. Bingung mendengar ucapan Indah barusan, apalagi melihat ekspresinya yang datar. Antara kerasukan atau frustasi berat, gue menyenggol kaki Indah.

‘’ Lu kenapa deh?‘’

Indah mengedipkan matanya setelah beberapa detik menatap nanar keluar jendela.
‘’ Nggak, gue nggak papa. Lagi bosen aja pacaran. Bosen jatuh cinta. Capek. ‘’ Gue mengangguk pelan, seakan tau apa yang dirasakan Indah saat ini.


***

Tepat pada jam sembilan di Sabtu malam, perkuliahan untuk hari itu selesai. Setelah membiarkan dosen pamit dan keluar dari kelas, terdengar suara Imel memanggil gue.
‘’ Lan? ‘’
‘’ Iya, Mel. ‘’
‘’ Minggu depan temenin gue keluar cari kado ulangtahun untuk pacar gue, ya. ‘’
‘’ Iya, insyaallah ya kalau gue masih hidup. ‘’
‘’ Hoi, mulut lu! ‘’
‘’ Hahaaha yakali aja habis pulang ini gue meninggal, ya umur siapa yang tau. Jodoh juga siapa yang tau. Entahlah kira-kira jodoh gue siapa ya, Mel? ‘’
‘’ Bodo ah.‘’

Gue hanya cengengesan sambil berjalan beriringan dengan Imel menuruni anak tangga.
Dalam perjalanan pulang, gue masih nggak habis fikir dengan apa yang diucapkan Dosen tadi. Dengan saran yang ia berikan dalam menjalani LDR.
Gue juga teringat dengan kejadian tadi sore.

Cinta itu hebat.
Cinta bisa membuat seseorang bertahan pada satu hati dan setia menunggu kepulangannya, seperti yang dirasakan oleh Nurul.
Cinta bisa membuat seseorang tersenyum bahagia, membuat orang untuk selalu berusaha membahagiakan kekasihnya, seperti yang dialami oleh Imel.
Cinta bisa membuat seseorang mampu menjaga diri, menjaga hati dan berhati-hati untuk memilih demi menunggu orang yang tepat, seperti yang dialami oleh Fira.
Bahkan, cinta juga bisa membuat seseorang mati rasa, bosan, lelah dalam jatuh bangun karena cinta, seperti yang dialami oleh Indah.


Di balik kaca helm, gue hanya tersenyum penuh haru. Menyadari betapa hebatnya cinta yang bisa membuat masing-masing orang merasakan hal yang berbeda-beda dalam satu waktu. Tidak hanya itu, cinta juga bisa membuat orang untuk bertahan dengan prinsipnya.

Karena, cinta mampu membolak-balikan hati.








Learn more »

Kopdar Pekanbaru

Sabtu, 06 Februari

Gue yang sedang serius dengerin dosen dalam menyampaikan materi  sesekali melihat hp, menghilangkan suntuk.
Kali aja ada chat dari pacar. Pacar orang.

Sebuah notif muncul di layar hp. DM dari Pangeran Wortel. Awalnya gue mengira kalo Pangeran sedang mengirim sayembara ke semua orang untuk meminta bantuan agar cepat menemukan Permaisurinya. Tapi ternyata enggak, Pangeran menawarkan gue untuk ikut kopdar BE Pekanbaru. Pembicaraan beralih ke BBM.

‘’Tanggal 08, Lan. Di Panam. Bisa kan? ‘’
“ Tapi Pange, dari rumah Wulan ke Panam 1,5 jam lagi. Hehee ‘’

Gue juga rada ragu, soalnya gue bukan anak BE. Wkwk.

Ternyata dan ternyata, Pangeran mengira kalau gue tinggalnya di Pekanbaru. Padahal mah enggak, gue tinggalnya di Pangkalan Kerinci. Jarak dari rumah gue ke Panam (daerah di Pekanbaru) itu bisa memakan waktu 1,5 jam.
Kuliah gue jadi nggak konsen. Pengen buru-buru pulang trus minta izin ke Ibu, semoga saja Ibu ngizinin gue pergi sendirian ke Pekanbaru.

Sesampainya di rumah, gue langsung meminta izin ke Ibu. Syukurlah Ibu mengizinkan gue untuk pergi kopdar pada tanggal 08 Februari itu.
Gue langsung mengirim chat ke Pangeran.

‘’ Pange, Wulan diizinin  Ibu. ‘’
‘’ Yeeeeeeee… ‘’

Gue masih ingat jelas dengan respon Pangeran saat gue mengirim chat itu. Gue takut aja, setelah itu Pangeran malah bilang, ‘’ YEEEEEEEE KETIPU LU KAN! ‘’
Untung aja enggak.

**

Senin, 08 Februari

Tepat jam 8 pagi, gue sudah mandi dan bersiap-siap untuk berangkat ke Pekanbaru. Padahal acaranya malam jam setengah 8. Hahaa
Berhubung kakak juga ada keperluan di Pekanbaru, hal itu membuat gue untuk bisa menginap bersamanya.

‘’ Nginap di mana?‘’
‘’ Di asrama putri, kamar Ningsih.‘’
‘’ Aku udah otewe.  Jemput aku nanti di simpang harapan ya. ‘’

Ini nama simpangnya bener-bener bikin baper. Simpang harapan. Mungkin dulu asal-usulnya di simpang ini ada dua pasang kekasih yang sama-sama menaruh harapan. Tapi akhirnya harapannya nggak terwujud.Ya jadi gitu deh, namanya simpang harapan.


NGARANG BEBAS! OKE.


‘’ Bawa helm ya. Di sini banyak polisi. ‘’

Gue mengerutkan alis. Gimana caranya gue naik angkutan umum, bawa tas dan juga bawa helm.
‘’Oke. Aku bawa helm. Kalo bawa helm sih bisa, asal jangan suruh bawa pacar aja. Nggak punya soalnya.‘’
‘’ BODO ‘’

Karena gue nggak mau memperpanjang chat yang nanti bakal menimbulkan masalah, daripada gue terlantar karena nggak dijemput di simpang harapan,  akhirnya gue nggak membalas chatnya lagi.
Jam 8 pagi, kak Putri mengantar gue ke terminal mobil angkutan umum. Gue yang seumur hidup baru kali itu pergi sendirian menggunakan angkutan umum dengan pedenya turun dari motor.

‘’ Ini langsung ke Pekan, kan Pak? ‘’
‘’ Iya, iya. Naik aja?‘’
‘’ Naik ke mana? Ke pelaminan?
‘’ Ciyeee ‘’

Trus gue menikah dengan supir angkutan umum.

Kagaklah.
Gue langsung naik dan meletakkan helm di dekat kaki. Tak lama kemudian, 2 penumpang lain yang kalau pipis berdiri mulai naik ke dalam mobil. Gue menelan ludah.
Di mobil ini cuma gue sendirian yang cewek. 2 orang penumpang laki-laki ditambah supirnya juga laki-laki.

Fakyu.
Kalo gue diperkosa di semak-semak gimana? Foursome dong.

Sekitar jam setengah 10, gue sudah sampai di simpang harapan. Seorang laki-laki langsung menghampiri gue.
‘’ Ojek, Neng?‘’
Trus disambut dengan laki-laki lain dibelakangnya, ‘’ Taksi, Neng? ‘’
Gue menggeleng cepat.

Gue yang-kayak-orang-dongo-nenteng-nenteng-helm-hitam mencari tempat duduk untuk menunggu, sampai akhirnya gue menemukan posisi duduk di emperan toko. Ada beberapa orang yang juga ikut menunggu di sekitaran gue. Ada yang menunggu dijemput suaminya, dijemput anaknya, dijemput pacarnya, dan ada juga yang menunggu kepastian yang jelas. Hmm.

Gue langsung saja mengirim chat ke kakak.
‘’ Aku udah di simpang harapan. Jemput aku ya. Aku di depan hotel alpha. ‘’
‘’ Iya aku udah jalan. Tunggu sana aja ya. ‘’

Lima menit kemudian.

‘’ Aku udah di depan hotel alpha. Kamu di mana?‘’
‘’ Aku di seberang hotel alpha. Trus maju dikit, kan ada apotik tuh. Di samping apotik kan ada ruko yang tutup. Cari aja cewek paling kiyut sejagad raya. Itu aku.‘’
‘’ UDAH AH CEPAT AJA KE PINGGIR JALAN.‘’
‘’ Oke. ‘’

Gue jalan dengan menenteng helm dan tas. Di seberang gue, seorang perempuan yang celingukan terdiam menatap gue. Gue melambaikan tangan.

‘’ Golut, aku di sini. AUUWOO O..‘’

Kakak gue melihat gue dengan tampang jijik.

Selesai makan siang bareng, gue dan kakak memutuskan untuk tidur siang di asrama Ningsih, teman masa kecil gue. Gue baru tahu, kalau peraturan di asrama putri yang Ningsih sewa ini memberlakukan aturan batasan pulang malam. Pulang malam hanya boleh sampai jam 10. Lewat dari jam 10, pintu gerbang akan ditutup. Kayak hati kamu, yang ditutup.

Sore sebelum gue siap-siap, terjadi percakapan antara gue dan kakak.
‘’ Alamat kopdarnya di mana?‘’
‘’ Di Zi Cafe. Daerah Panam. Dekat SKA. ‘’
‘’ Oh itu, iya iya tau. Nanti sama aku berangkatnya. Aku antar. Biar bisa cepat pulang, kalo kelamaan ntar gerbang asramanya dikunci. ‘’

Jam 7 lewat , gue mengirim chat ke Pangeran.
‘’ Pange, udah di tempat?‘’
‘’ Belum, masih mau jalan. Taukan Pangeran yang mana?‘’
‘’ Hahaaa iya tau. ‘’

Sebenernya gue mau jawab, ‘’ Iya tau, yang jomblo itu kan. ‘’
Tapi nggak tega.

Gue dan kakak meluncur menyusuri jalanan. Hening. Kakak gue celingukan kesana-sini mencari alamat lokasi yang gue sebutkan tadi.

‘’ Ini alamatnya di mana sih?Dari tadi nggak nemu.‘’
‘’ Lah tadi katanya tahu.‘’
‘’ Iya aku tahu, ini jalannya. Tapi Zi Cafe di mana?‘’
‘’ Aku juga nggak tau.‘’ Gue menjawab ketus.

Beberapa menit kemudian.

‘’ Duh, ini jalannya kemana lagi sih? Alamatnya yang mana yang bener?‘’
‘’ AKU NGGAK TAU. KAN TADI KATANYA TAU. DI ZI CAFÉ, DARI SIMPANG EMPAT MALL SKA LURUS TERUS. ‘’

Gue mengeraskan suara. Kesel. Pengen loncat dari motor aja. Tapi nggak jadi. Soalnya nggak punya asuransi.
Mendadak suasana hening.

‘’ Nah, itu tuh Zi Café.‘’

Gue menghela nafas kemudian tersenyum. Akhirnya gue bisa turun dari motor juga tanpa harus meloncat.
‘’ Itu kayaknya temen aku deh. Nanti jemput jam setengah 10 ya. Dadaah. Hush hush. ‘’

Gue merapikan jilbab yang sedikit berantakan. Di parkiran, dengan jarak 5 meter dari posisi gue berdiri, seorang lelaki berjaket hitam berdiri dan menoleh ke belakang. Gue yang dari awal belum pernah bertemu dengan Heru Arya a.ka.Pangeran pemilik blog tulisan wortel, langsung menghampirinya.

‘’ Heru ya?‘’ Gue menyalaminya.
‘’ Iya, Wulan kan? ‘’
‘’ Iya.‘’

Gue berbincang sedikit dengan Pangeran, sebelum akhirnya gue dikenalkan dengan seorang blogger cewek.  Namanya Kak Icha.  Anaknya cakep, baik, ramah. Istri-able banget.
Tak lama kemudian, sebuah motor berhenti di parkiran. Lelaki itu adalah Hardiansyah (Didi). Pemilik blog budak sadjak.

Kami berempat masuk ke dalam, membaca daftar menu yang disodorkan oleh waiters. Mengingat jam setengah sepuluh gue harus buru-buru balik ke asrama, gue hanya memesan minuman ice bubble chocolate.
Sambil menunggu pesanan datang, gue, Pangeran, Didi dan kak Icha saling berbincang-bincang.
Pangeran menjelaskan tentang Blogger Energy, tentang award yang pernah ia dapat dari BE, tentang keseruan dalam dunia blog dan banyak lainnya. Sampai akhirnya seorang perempuan masuk ke dalam cafe.
Dengan kerudung merahnya, perempuan itu melemparkan senyum ke arah kami. Wajahnya ceria dan imut. Baby face. Beda sama gue, babi face.

‘’ Hai, hai. Duh sorry ya datangnya lama. Tadi lagi ada urusan.‘’

Gue hanya senyum. Gue anaknya pemalu dan kalem-kalem gitu. Percayalah.
Pangeran mengenalkan gue ke perempuan berkerudung merah itu.
‘’ Vina.‘’
‘’ Wulan.‘’
Kami bersalaman dan mempersilahkan Vina duduk. Vina, perempuan yang heboh, rame parah, bisa bikin suasana cair.
Kalo Vina bisa bikin suasana cair, aku juga bisa kok bikin cair. Bikin hati kamu cair.Uhuk.
‘’ Jadi kamu ke sini dari rumah demi kopdar ini? ‘’ tanya Vina ke gue.
‘’ Hehee iya. Deket kok, Kak.‘’
Gue ketawa kecil.

Tak lama kemudian, pesanan kami datang. Seperti biasa, ritual anak muda terkini, anak-anak mulai mengambil handphone masing-masing dan memotret makanan yang terhidang di atas meja.

Cekrek.
‘’Waaah keren. ‘’

Cekrek.
‘’ Bagus ya Tapi kurang kiri dikit. ‘’

Cekrek.
‘’ Aaa bagus bagus. ‘’

Cekrek.
‘’Pangeran, tangannya awas dikit.‘’

Cekrek.

Begitu terus sampai cafenya tutup dan waitersnya pulang.

'' Dasar anak alay. Hih, '' ujar gue dalam hati sambil mencoba serius memfokuskan kamera handphone untuk memotret minuman. 


***


Obrolan berlanjut bersamaan dengan kami yang menikmati hidangan. Gue menoleh ke arah kak Icha yang sedang asyik menikmati makanan. Dengan lahapnya dia menikmati makanan.
Setelah berbincang-bincang, Pangeran menyarankan agar kami berfoto bersama. Pangeran menyodorkan handphonenya.
‘’ Foto dulu yuk. ‘’
Kak Icha yang udah kenyang dengan semangat langsung menaikkan handphone dan cekrek.



Maafkan daku, yang menghalangi wajahmu, Pangeran. :'D


Kak Icha menyodorkan handphone ke pemiliknya.
'' Blur nih, ulang lagi dong. '' Pangeran menyodorkan hpnya pada kak Icha.
Kak Icha memperhatikan seksama hasil foto yang ia potret tadi.

'' Nggak blur kok, Pangeran aja nih yang blur di foto ini. Lihat deh sini. '' Spontan semuanya tertawa.

Malam itu, gue bener-bener sedih saat jam di layar hp mulai menunjukkan pukul sembilan lewat duabelas menit. Gue langsung buru-buru pamit pulang, meskipun sebenernya gue masih pengen bercerita dan mengumpul bersama mereka untuk waktu yang lama. Tapi apa boleh buat :(

'' Pange, Wulan pulang duluan nggak papa ya. Asramanya tutup jam sepuluh, '' ucap gue sambil beranjak berdiri dari kursi.
'' Iya, iya nggak papa. ''
'' Wulan pamit pulang dulu ya semua. ''
Anak-anak mengangguk. Selesai membayar minuman ke Pangeran, gue langsung menemui kakak yang ternyata dari zaman raja namrud sudah di luar nungguin gue dari pertama gue sampai di sini.

'' Yuk, buruan pulang. Sebelum gerbang asramanya ditutup. Kalo ditutup, ntar kita tidur di mana, ''

Malam-malam, di jalan raya yang masih ramai, kakak gue menancap motor dengan kecepatan tinggi. Ngebut kaya Komo Ricky lagi ngintai target.

Lagi asyik menikmati angin malam, gue merasakan punggung gue dingin. Memang semilir angin malam itu terasa sangat dingin, gue mulai merasa aneh saat punggung makin lama terasa semakin dingin. Gue meraba punggung gue.

Fakyu. Baju belakang gue terbuka dan terangkat-angkat karena angin yang kencang.

Mendadak gue terdiam sambil menahan malu. Gue menoleh perlahan sedikit ke arah belakang, dua orang laki-laki yang mengendarai matic tampak senyum-senyum ke arah gue.


OH NO!


Gimana kalau dia ngeliat punggung gue yang terbuka tadi?
Gimana kalau dia tau warna daleman gue? Merek daleman gue? Ukuran daleman gue? Renda-renda daleman gue?


AAAAAAKKKK GUE MALU.



***

Sesampainya di asrama, untung saja gerbangnya masih dibuka. Sebagai seonggok adik yang baik dan berbudi pekerti luhur, gue langsung buru-buru naik ke atas dan membiarkan kakak gue sendirian di parkiran motor.

Malam itu gue senang bukan main. Meskipun waktunya hanya sebentar, gue bisa bertatap muka langsung dengan teman baru, dengan mereka yang baik, ramah dan seru. Sebenernya masih banyak lagi yang ingin diperbincangkan, pengen sharing lebih dalam, sedalam cintaku padamu. Meskipun kau tak menyadari itu. Halah.

Sesampainya di rumah, gue langsung bbm Pangeran, gue lupa akan sesuatu hal. Sebuah pesan dari Darma Kusumah, orang yang sama sekali nggak ada hubungan darah dengan Arum Kusuma.

'' Pange, Wulan kelupaan. Ada salam dari blogger Jabodetabek. ''
'' Iya, salam balik dari blogger Pekanbaru ya. ''
'' Iya, Pange. ''


Ini foto-foto hasil jepretan Pangeran. Sayang sekali, gue nggak sempat foto bersama Pangeran bareng-bareng.


Kak Icha-Vina-Didi-Raisa Andriana




Kak Icha-Vina-Didi-Kekasih Zayn Malik




Kak Icha-Vina-Didi-Calon makmum kamu





Masih banyak waktu-waktu lain untuk kita bertemu lagi. :)
See u again :)







Learn more »

Kisah yang Menginspirasi

Gue anak silat.

Ralat.

Gue bekas anak silat yang pernah ikut tapi nggak tamat dan nyusahin pelatih-pelatihnya doang. Hebat.

Gue dan kakak mengikuti pencak silat di tahun 2011. Pencak Silat Setia Hati Terate. Yang awal berdirinya di kota Madiun pada tahun 1922.

Awalnya semua berjalan lancar. Gue senang banget bisa tergabung dan dikelilingi dengan mas-mas ganteng perkasa serta pelatih yang kalo gue denger suaranya, rasanya pengen membangun rumah tangga yang sakinah, mawadah dan warohmah.
Jadwal silat ditentukan pada hari Selasa dan Sabtu.
Ini apa banget gitu kan, yang punya pacar nggak bisa malam mingguan. Kenapa harus hari Sabtu coba?
Gue mau protes, tapi takut dihajar rame-rame. Trus meninggal. Kan nggak elit.

Sesudah isya sekitar jam 8, kami semua udah ngumpul di lapangan silat. Angkatan gue waktu itu ada 11 orang. 8 cowok, 3 cewek.
Yang ceweknya, gue, kakak dan adik kelas gue.
Sebagai cewek, gue ngerasa diperlakukan bak seorang ratu. Pergi dijemput segerombolan cowok, pulang jam 2 pagi juga dianterin cowok-cowok. Melindungi cewek-cewek banget. Uuh~

Setiap istirahat sekitar jam 10 malam, kami selalu disuruh bawa minum air pepaya. Sumpah. Itu air pepayanya kayak kisah cinta gue. Pahit.

Dalam pencak silat, tingkatan warna sabuknya berbanding terbalik dengan karate.
Dalam pencak silat tingkatan warna sabuk dari yang terendah sampai ke tinggi dimulai dari,

Polos (cuma seragam doang nggak pake sabuk)
Hitam
Jambon (merah jambu)
Hijau
Putih


Di sana gue baru merasakan arti dari kebersamaan dengan sesama. Mulai dari makan bareng di satu piring gede.
Butir-butir pasir dari telapak tangan sehabis push up kayaknya ikut menggurihkan nasi yang gue makan. Belum lagi keringat yang menetes. Tapi anehnya, itu nasi tetep abis. Lezatnya ngalah-ngalahin nasi padang.

Waktu naik ke sabuk hitam, gue cuma berkata dalam hati, '' Kayak gini doang nih ujiannya? Cih. ''
SONGONG.

Naik ke sabuk jambon (merah jambu), '' BUSET, SUSAH AMAT. MENDING GUE NIKAH AJA SAMA NAZAR ''
Gimana enggak. Gue diadu dengan kakak. Biasanya waktu latihan, setiap hari Sabtu ada tes adu gitu. Dan gue selalu dilawankan dengan Irma. Irma badannya kecil, mungil. Tapi kalo nendang, badan gue cuma ijo-ijo lebam, lecek doang . Tulang belulang semua sih.
Nah, waktu tes ke sabuk jambon, gue dihadapkan dengan kakak.
Ini nggak baik gaes. Melawan saudara sendiri. INI KONSPIRASI !

Tapi mau nggak mau, gue harus berhadapan dengan kakak. Gue mulai dengan pemanasan. Lari kecil mengitari lapangan. Ini kalo bisa lari sampe rumah, gue udah lari pulang nih. Sambil lari kecil, gue udah mengatur siasat.
Oke.

Salam pembuka. Salaman.
Dan

HOIK



Maknyus. Gue kena tendang. Karena nggak terima dengan perlakuannya itu, gue langsung berteriak,
  '' RASAKAN INI, JURUS RASENGAN. HIYAAAAT ''

Tapi nggak jadi. Gue cuma nyengir-nyengir nahan sakit. Perlawanan terus terjadi. Dengan semampunya gue berusaha menampik tendangan dan pukulan dari kakak.
Kalo diliat dari jauh, gue rasa ini bukan tes uji adu. Tapi lebih mirip ke emak-emak yang marahin anaknya karena semalaman nginap di warnet.
Lah iya, badan kakak gue gede. Sementara badan gue kecil kayak upil plankton.

Gue mencoba memukul ulu hatinya. Nggak bisa. Anunya kegedean.
Maksud gue, tangannya kegedean. Jadi gue nggak bisa tepat sasaran dan mengenai ulu hatinya.

Sampai pada akhirnya,

HIYAAAT


Kakak gue salah sasaran. Betewe tau kan di mana letak ulu hati. Pas di bawah tulang rusuk dada. Niatnya mau memukul ulu hati gue, tapi nggak kena. Malah yang kena tete gue.

Sakit men. Gila.

Bayangin, tangan kakak gue gede. Dikepal, tambah gede. Tenaga kakak gue gede karena makannya banyak, ditambah kayak ada rasa-rasa kesal yang tak tersampaikan ke gue.
Sasarannya ulu hati, malah kena tete gue.

Sumpah. Itu sakit bener. Gue mau elus, kayak elus kaki gue yang kena tendang tadi. Tapi, yakali gue elus-elus tete di tengah-tengah lapangan. Harkat martabat negara bisa hancur.

Oke. Akurapopo.

Gue tetep melanjutkan perlawanan sambil mikir, '' Kalo tete gue yang sebelah lagi juga kena, bisa bisa gue pulang dengan dada rata. Operasi kelamin. Jadi laki-laki macho. ''

Gue melakukan serangan pukulan dan tendangan ke kakak gue. Nggak mempan. Pengen bawa teroris aja rasanya.
Sampai pada akhirnya,

CIYAAT


Gue terduduk dengan anggun di lapangan. Kayak putri salju.
Gue meringis.

Tulang kering gue. Huwaaa. Gue terisak-isak. Besoknya langsung masuk tipi, masuk acara jalinan kasih.

Gue meluruskan kaki gue, membuka celana. Eng anu, menaikan celana untuk melihat tulang kering gue yang nggak berdosa apa apa.

TARAAA
Tulang kering gue benjol. Gede. Segede telor ayam. Kayak hasil perpaduan tumor dan bisul.

Awalnya gue sempat mikir,
  '' Ini kenapa tete gue malah pindah ke tulang kering ya? ''

Tapi setelah gue pencet dan terasa sakit. Gue baru sadar, ternyata tulang kering gue bengkak. Yawloh. Kakak gue tega banget. Durhaka.


Setelah mendapatkan sabuk jambon, beberapa bulan berikutnya diadakan tes kenaikan tingkat sabuk hijau. Dan setelah mendapatkan sabuk hijau, gue hanya bertahan selama 2 bulan sebelum pada akhirnya gue memilih untuk mengundurkan diri. Sedangkan kakak gue masih ikut sampai mendapatkan sabuk putih dan lulus.


Begitulah kisah gue sebagai mantan siswi pencak silat.
Kisah yang menginspirasi.




Learn more »

Cabe-cabean dan Kepo

Semua bermula pada hari Minggu kemarin.
Gue yang usai melakukan ritual bobo siang kiyut ketika itu terbangun dengan wajah berantakan. Kayak hati. Hiks.

Dua orang perempuan abege anak SMP datang dan masuk ke rumah gue. Dan mereka berdua ternyata adalah temen adik gue, Nova.
Sore itu, Nova pamit ke ibu kalau dia diajak temannya untuk merayakan ulangtahun salah seorang temannya di toko ayam. Sebelum Nova keluar kamar, gue memanggilnya dengan syahdu.
  '' Nova, bawa plastik ya. ''
  '' Untuk apa? ''
  '' Bungkus. Dua. ''

Nova langsung ngacir meninggalkan gue yang masih bengong duduk di pinggir tempat tidur.

Adik durhaka!

Setelah ganti baju, rapi-rapi dikit, Nova langsung keluar kamar dan menemui dua orang temennya.

  '' Ini nggak papa nih naik motor bertiga? '' Ibu kelihatan panik melihat tiga anak SMP itu sempitan sempitan di motor matic.
  '' Ini deket kok Bu. Kami bertiga mau ke rumah Helen dulu, nanti dari rumah Helen bertiga naik mobil sama mama Helen. '' Helen, salah seorang temen Nova yang sedang berulangtahun menjelaskannya kepada Ibu.

Deket doang sih jarak rumah gue ke rumah Helen.
Ibu manggut-manggut.

  '' Udah, nggak papa, Bu. Biar kayak cabe-cabean. Hahaaa. ''

Gue ngakak puas sembari masuk lagi ke dalam rumah. Sebelum ngeloyor masuk, gue sempat melirik ke arah Ibu. Ibu terlihat diam seakan paham akan sesuatu.


***


Sore itu gue kedatangan saudara. Rame bener. Saat lagi asyik-asyiknya ngobrol, Nova tiba-tiba masuk ke rumah setelah pulang merayakan ulangtahun temannya.

  '' Ini nih, anak Ibu yang cabe-cabean. '' Ibu menarik Nova halus dan memeluk Nova dengan posisi duduk.

APA-APAAN INI.

Asli. Gue bengong.
Bentar-bentar,

Atas dasar visi dan misi apa Ibu dengan penuh rasa bangga mengatakan itu?
Kalau kalian tanya, ada nggak orangtua yang bangga dengan anaknya yang cabe-cabean? Nah ada. Itu orangtua gue. HUWAA MAU NANGIS AJA.

Setelah Ibu keluar rumah dan melepaskan saudara gue untuk pulang, seorang ibu-ibu yang mengendarai motor dengan dua anaknya memanggil Ibu gue.
Biasalah, ibu-ibu. Ngerumpi-ngerumpi ini itu, mulai dari kasus Nikita Mirzani, Musdalifah sampai kasus Farhat Abbas yang nggak penting sepertinya juga dibahas oleh dua ibu-ibu ini.

*Beberapa tahun kemudian*


  '' Udah ya Bu, udah magrib nih. Saya pulang ya. ''
  '' Iya iya Bu, udah magrib ya. Hehee. Eh ini anaknya udah besar ya. Udah kayak cabe-cabean. ''


SUMPAH.
INI IBU GUE SEBENERNYA NGERTI NGGAK YA CABE CABEAN ITU APA.




  '' Heheeheeheheeheheeehehee. '' Ibu-ibu temen ibu gue cuma ketawa cengengesan.

Saat Ibu masuk ke rumah, gue langsung ngomong ke Ibu.
 Gue : Bu, Ibu sebenernya tau nggak artinya cabe-cabean itu apa?
 Ibu  : Tau. Cabe-cabean itu maksudnya anak perempuan yang udah gadis gitu kan?
 Gue : Yaoloh, bukan Bu. Cabe-cabean itu cewek nggak bener. Cewek alay yang narsis, yang suka naik     motor bonceng tiga, pake baju seksi nan aduhai. Alay lah pokoknya.
 Ibu  : Eh iya ya? Duh, tadi Ibu salah ngomong berarti ya.
 Gue : Iya Bu, itu kayak julukan buat perempuan yang kurang bagus.
 Ibu  : Eh tapi, kamu sendiri siang tadi juga ngomong gitu kan ke Nova? Lah, Ibu kan taunya dari kamu,    Sek.
 Gue : Iya, itu karena Nova tadi bonceng tiga naik motor sama temennya.
 Ibu  : Ya tadi Ibu nggak tau kalau artinya itu. Pokoknya Ibu kan taunya dari kamu.
 Gue : ASDFGHJKL;'.?!#


***


Gue paham bener dengan sifat Ibu. Ibu orangnya gaul abis, suka niruin kata-kata yang lagi ngetren sekarang.
Gue masih ingat, waktu itu lagi trend banget istilah, '' KEPO ''.
Nanya dikit ke temen, dibilang kepo. Apa-apa dibilang kepo. Bhangkay.

Sampai suatu sore, gue udah capek kebangetan sehabis pulang kerja. Gue langsung nyamperin Ibu yang lagi duduk santai di teras rumah.
  '' Bu, masak apa? ''
  '' KEPO! ''


Key. Fain. Akurapopo.


Malam harinya, seperti biasa setelah magrib semua anggota keluarga pasti berkumpul di ruang tengah. Nonton tv bareng. Malam itu, layar di tv menayangkan acara Biang Rumpi. Itu loh yang hostnya Feni Rose. Seingat gue, waktu itu bintang tamunya adalah Regina, Istri Farhat Abbas. Tau Farhat Abbas nggak? Itu loh, yang kalo setiap kali kita liat mukanya nongol di tv, bawaan kita pengen ngerajam dia. Separah itu.
Nah, saat lagi seru-serunya berbincang dengan Regina, gue baru menyadari akan suatu hal.
Ternyata Regina itunya gede. Serius. Hmm.

Maksud gue tali pinggangnya. Regina waktu itu kan pake tali pinggang gede.

Lagi asyik-asyik menonton acara itu, tiba-tiba ibu nyeletuk,
  '' Itu, Feni Rose kepo banget ya. ''

Satu rumah menghela nafas.





Tapi walau bagaimanapun, aku tetep sayang Ibu dan juga Ibu kamu.
Iya, Ibu kamu. Mertua aku nanti. Uhuk. 
Learn more »

Cita-cita yang Gagal

Ngomongin cita-cita.
Sampai sekarang, di umur yang masih belasan ini gue masih bingung mencari jawaban saat ditanya mengenai cita-cita.
Eh bentar, umur sembilan belas masih termasuk belasan ye kan? Masihkan? Oke.

Jujur, gue masih bingung dalam menemukan jati diri gue sebenarnya.
Mari kita bahas tentang satu per satu cita-cita yang dulu pernah gue impikan.

1. Guru Ngaji
Ini cita-cita paling subhanallah banget gaes. Gila, mana ada cita-cita anak kecil yang waktu itu masih berumur 4 tahun memiliki cita-cita itu. Di saat anak lain bercita-cita pengen jadi dokter, guru, polisi, pilot, de el el, gue dengan bangga bercita-cita menjadi seorang guru ngaji.

Ini bermula saat gue ikut ngaji bersama temen di suatu mesjid. Gue dan kakak. Kakak waktu itu masih berumus 5 tahun. Gue waktu itu seneng banget datang telat. Sekarang enggak, apalagi telat datang bulan. Enggak seneng.
Hukuman bagi murid ngaji yang suka datang telat adalah pukulan rotan spesial dari pak ustadz. Maknyus. Dan gue harus rela menyodorkan telapak tangan untuk dipukul dengan rotan setiap kali gue datang telat.

Kamprednya gue nggak jera.

Karena gue sering telat dan dapat teguran dari pak ustadz, gue akhirnya diberhentikan ibu dari kegiatan mengaji di mesjid. Sebenernya alesan yang tepat karena gue pernah bolos sekali waktu ngaji. Pamitnya ngaji, tapi malah main-main sama temen.
Hingga akhirnya ibu menyuruh gue untuk mengaji dengan tetangga sebelah rumah. Setiap selesai magrib, gadis kecil nan imut ini buru-buru menenteng iqra dengan mukenah yang sumpah-itu-mukenah-apa-baju-pengantin. Pake ekor segala dibelakangnya. Mukenahnya kegedean. Gue kayak kain putih berjalan. Serem.
Gue sangat nyaman ngaji dengan tetangga gue ini. Dengan perempuan yang sudah berusia senja. Gue memanggilnya nenek.
Gimana nggak nyaman, wong tiap ketemu waqaf dan selesai membaca satu ayat, gue selalu ngajak ngobrol nenek.
Baca ayat sampe ketemu waqaf.

  '' Nek, Wulan belum makan. Makan ciki dulu nggak papa ya. ''
Nenek ngangguk sambil berzikir. Gue ngambil cemilan ke rumah, makan di depan nenek.

Lima menit kemudian, baca lagi ayat satu baris sampe ketemu waqaf.

  '' Nek, nenek ada minum dingin nggak? Nanti habis ngaji, Wulan minta ya. ''

Lanjut lagi baca satu ayat.

  '' Nek, tadi sore Wulan kan jalan-jalan sama ayah. Itu Wulan beli lego baru. Wulan ambil dulu ya. ''

Dulu waktu kecil gue penggila lego. Beda sama sekarang, sekarang mah jadi penggila cinta kamu. Walaupun dalam diam, ya tetep lego. LEGO-WO AE LAH.

  '' Enggak usah. Ngaji dulu. ''
  '' Iya Nek. ''
Gue kembali ngaji. Gila ya, seru banget ngaji kayak gitu. Dan diumur segitu, setiap kali ditanya guru TK tentang cita-cita, gue selalu menjawab dengan yakin, '' Jadi guru ngaji. ''


2. Penjahit
Gue pernah bercita-cita menjadi penjahit. Punya ide kreatif dalam mendesain pola baju, menjahit baju. Gue selalu senang setiap kali Ibu mengajak gue ke rumah teman Ibu. Teman Ibu seorang penjahit. Dan gue dengan polosnya berdiri di samping teman ibu, memperhatikan bagaimana gerakan tangan yang super cepat dan lincah itu memainkan mesin jahit serta kaki yang menimbulkan suara mesin jahit yang semakin membuat gue berdecak kagum.
  '' Enaknya jadi penjahit. ''
Tapi kayaknya gue nggak bisa menjahit dan jadi seorang penjahit. Menjahit luka di hati aja gue nggak bisa. Mungkin gue lebih cocok jadi perajut. Perajut tali cinta diantara kita. Asoooy.



3. Pemadam Kebakaran
Entahlah. Darimana asalnya gue bisa memiliki cita-cita menjadi pemadam kebakaran. Seingat gue, sewaktu gue duduk di kelas 4 SD, gue sangat suka menonton berita. Sungguh, masa kecil yang barokah. Dulu sinetron alay binatang-binatang bisa jatuh cinta mah nggak ada.
Anehnya, gue cuma suka menonton berita kebakaran. Bodo amat dengan berita pencurian,perkosaan, perselingkuhan, tawuran, curanmor, koruptor de el el. Pokoknya setiap kali gue denger suara pembawa berita yang mengatakan,
'' Pemirsa, telah terjadi kebakaran di bla bla blaaa.... ''
Gue langsung buru-buru duduk bersila di depan tv dengan kepala mendongak menatap layar tv.
Ada perasaan bangga setiap kali gue melihat pemadam kebakaran yang berusaha memadamkan api dengan selang yang panjang terulur. Kayak kamu, yang suka tarik ulur. Huh.
Seringkali gue membayangkan diri sendiri di depan cermin dengan mengenakan seragam merah pemadam kebakaran sambil memegang yang panjang-panjang di kedua tangan. Iya, itu maksudnya selang air pemadam kebakaran. Kan panjang.
Dalam pemikiran gue ketika itu, tugas sugas seorang pemadam kebakaran adalah, nyiram api dengan selang panjang ke lokasi kebakaran dari atas mobil, apinya padam, yaudah kelar.
Gila ya, anak kecil diumur segitu cita-citanya udah mulia banget.



4. Cheff
Sampai saat ini, gue nggak terlalu suka memasak. Bisa sih masak, tapi nggak terlalu digemari banget. Kan ada tuh orang yang hobi banget masak. Bahkan bisa-bisanya nemuin masakan baru. Bahan ini dicampur ini, jadi deh masakan baru dan muncul juga nama makanan baru. Biasanya orang kayak gini nih kreatif. Segala bahan makanan bisa dijadikan sebuah masakan lezat. Apa-apa dimasak.
Sebelum pernah bercita-cita menjadi cheff, gue terlebih dahulu menyukai bagian memasak yang berupa memanggang/membakar. Bakar apa aja deh. Bakar ayam, ikan, jagung, muka pacar kalo ketahuan selingkuh juga gue bisa gue bakar.
Tapi semua berubah setelah gue melihat acara masak memasak ala cheff perempuan di tv. Masih nggak habis fikir.
Itu cheffnya, dari cabe masih dipetik di kebun cabe sampe makanan tersaji sambil keluar kata, '' so delicious, ''  itu kenapa pakaiannya tetep rapi aja sih? Rambutnya juga tetap tergerai indah. Make upnya juga nggak luntur kena asap dari wajan penggorengan.
Karena rasa penasaran itu, gue akhirnya berniat menjadi seorang cheff. Cita-cita luar biasa ini muncul saat gue duduk di kelas satu SMP.
Hari Minggu pagi, gue bangun jam setengah tujuh. Ke dapur, mempersiapkan segala jenis bahan yang akan di masak.
  '' Bu, Wulan bikin nasi goreng ya. ''
  '' Iya bikin aja, '' sahut Ibu.

Setelah gue mengupas semua bawang merah dan putih serta bumbu yang nantinya akan gue blender, tiba-tiba Ibu menghampiri gue ke dapur.
  '' INI KENAPA BIKIN NASI GORENG PAKE JAHE DAN KUNYIT YA? MAU BIKIN JAMU ATAU NASI GORENG? ''

Gue bengong. Kemudian ketawa receh.
  '' Hehee, untung belum dimasukkin ke blender. '' Gue langsung saja menyingkirkan jahe dan kunyit yang sudah gue kupas tadi.

Untung, ndasmu!

Dengan gaya cheff handal, gue dengan lincah mengaduk nasi goreng dengan sendok masak. Sok ahli gitu.
Selama mengaduk-aduk nasi goreng agar bumbunya rata kayak dada gue ketika itu, gue sibuk mikir. Gue memikirkan, '' ini kalo jadi nasi gorengnya, gue namain apa ya? ''
Nasgor cokelat ala Cheff chimoed.
Nasgor ala Cheff nyonya Wulan
Nasgor yumy ala  Lancut (Wulan-Cute)    sekalian aja kancut. Oke.
Nasgor lezat ala Cheff  myself

Aaaa apa ya namanya? Belum sempat gue menemukan nama keren untuk penemuan nasi goreng yang gue buat ketika itu, ibu langsung memanggil gue dan menyuruh gue mematikan kompor. Jangan kelamaan, takutnya nasinya malah gosong.
Pikiran gue bener-bener memutar keras untuk mencari nama yang akan gue pakai untuk menamakan masakan lezat ini. Nggak kebayang kan kalo suatu hari nanti, gue bakal ngegantiin Cheff Farah Quinn. Kalo gue, Cheff Farah Amat ini masakan apa sih!
Nggak kebayang juga kalau suatu hari nama masakan lezat ini bisa muncul di buku menu masakan. Uuh gila ya. Gue sehebat itu.

Oke. Setelah nasi goreng selesai, orang di rumah langsung mencoba mencicipi nasi goreng untuk sarapan pagi itu. Ada 2 kemungkinan yang terjadi setelah mereka memakan nasi goreng itu. Kalau nggak muji gue ya meninggal keracunan.
Belum sampai setengah jam, gue tersenyum lega melihat nasi goreng gue yang sudah ludes di atas kompor.
Duh, keren ya gue. Waktu SMP aja gue udah bisa masak.
Kakak gue datang sambil  meletakkan piring di atas meja. Dan di atas meja itu gue melihat banyak piring lainnya yang berisi nasi goreng tergeletak begitu saja.

  '' Ini nasi goreng apa sih? ''
  '' Nasgor nikmat ala Cheff Lancut alias Wulan Cute. Enak kan? ''
  '' Enak apaan. Ini nasi goreng kenapa banyak gini minyaknya? ''

Gue langsung mengangkat piring yang berisi nasi goreng dari atas meja.
Eeeh iya yak. Ini nasi gorengnya banyak banget minyaknya. Sampai bergelimangan.

Fix, ini nasi goreng kuah minyak ala cheff Wulan!

Sejak saat itu, harapan gue untuk menjadi Cheff seperti Farah Quinn yang pinter masak dan berbadan dan berdada bohay, musnah seketika. Karena nasi goreng itu.

'' Cheff Farah Quinn, aku tidak bisa menjadi penerusmu. Dadaku rata. Tengkiyu. ''



5. Pramugari
Cita-cita ini muncul saat gue duduk di kelas 2 SMK. Di mata gue, jadi pramugari adalah cita-cita yang sangat gue banggakan. Berpakaian rapi, bersih, bertutur halus, setiap hari bertemu dan berinteraksi dengan orang banyak, cakep, badannya langsing dan bisa ngegebet abang pilot cakep. Sampai suatu hari, di teras rumah gue berbincang-bincang dengan ibu dan ayah.

  '' Bu, habis lulus SMK ini, Wulan mau jadi pramugari ya. ''
  '' Pramugari? Memang berani pergi-pergi jauh? ''
  '' Berani dong. '' Gue menjawab dengan mantap.
  '' Kalo ada kecelakaan pesawat gimana? Pesawatnya hilang, pesawat jatuh, pesawat tenggelam, ''
  '' Itu sih udah jadi resiko pekerjaan, Bu. Masuk dalam kategori mati syahid. Meninggal dalam bekerja yang semata-mata hanya untuk beribadah kepada Allah. ''

Anjir, gue udah kayak mamah dedeh.

Ibu manggut-manggut doang. Diem.

  '' Memang tinggi koe berapa? '' kali ini Ayah membuka mulut.
  '' 154 cm, Yah. ''
  '' Nggak bisa dong. Tingginya nggak cukup. Blabla blablaaa.. ''

Gue masuk kamar. Buka gugel nyari persyaratan masuk pramugari. Ternyata bener, tinggi gue nggak pantas untuk jadi seorang pramugari. Kampred. Gue pendek bener. Huhuu
Seminggu setelah itu, setiap sore gue rajin berolahraga dengan skipping. Sampai pada akhirnya, saat sedang serius menggunakan skipping dengan harapan gue bisa nambah tinggi dan bisa masuk pramugari trus bisa ngegebet abang pilot ganteng dan kece, tiba-tiba saja PLAKK.

Tali skipping menampar ujung mata gue.

HUWAAAA gue nangis kejer. Bukan apa-apa, kalo nanti mata gue bermasalah gimana? Gue nggak bisa lagi dong ngelirik abang-abang ganteng di kasir swalayan langganan gue?
Masa depan gue hancur hanya gara-gara skipping sialan ini.

Semenjak itu, aku mencintaimu.


Halah. Semenjak itu, gue memutuskan untuk menghapus daftar impian menjadi seorang pramugari.
Jangankan jadi pramugari, jadi roda kopernya pramugari aja gue nggak lolos.


Entahlah. Sampai saat ini gue masih bingung dengan cita-cita gue yang sebenarnya. Seperti apa? Ingin jadi apa? Bisanya apa?

Apapun itu, saat ini gue sedang mempersiapkan diri dan bercita-cita menjadi ibu yang baik dan cerdas untuk anak-anak kita kelak. Hasek.

Eh betewe, Cita-citanya Cita Citata yang selama ini Cita Citata cita-citakan itu cita-cita menjadi apa ya?






Learn more »

Welcome 2016

Gila ya, nggak terasa udah mau tahun baruan lagi. Rasanya baru kemarin gue galau, eh sekarang galau lagi. -_-
Heran deh. Kenapa setiap akhir tahun gue menyedihkan mulu ya.
Akhir tahun 2012 yang lalu, gue putus pas liburan Desember.
Akhir tahun 2013 yang lalu, gue juga putus pas di awal Desember.
Akhir tahun 2014 setahun yang lalu, gue juga putus, galau alay najis.
Dan sekarang akhir tahun 2015, gue putus lagi.

Kapan? Kapan gue bisa merasakan dan merayakan tahun baruan dengan pasangan sendiri?

Oke, drama abis.

Tahun 2015 ini terasa cepet banget berlalu. Ada banyak hal-hal yang sebelumnya nggak pernah gue rencanakan dan gue impikan bisa terjadi di tahun ini. Banyak sekali.

Jujur, gue sama sekali nggak pernah membuat resolusi seperti teman-teman dan orang kebanyakan. Memang nggak ada salahnya sih, guenya doang yang males. Hahaa
Kadang ada sesuatu hal yang sama sekali nggak pernah direncanakan sebelumnya yang bisa terjadi pada diri kita. Mungkin hal tersebut malah lebih baik daripada resolusi yang sebelumnya sudah kita tulis rutin di note pada setiap akhir tahun. Gue takut bikin resolusi, kalo nggak tercapai rasanya malah jadi beban.
Jalani saja semuanya. Yang terpenting itu niat. Hasek.

Di tahun ini gue belajar banyak dari kejadian dan pengalaman yang sudah pernah gue alami. Mulai dari dalam hal pekerjaan, kuliah, keluarga, hubungan antar teman dan juga percintaan.
Gue banyak mengalami jatuh bangun dalam hal-hal tersebut.
Mulai dari pekerjaan. Gue harus bisa belajar mandiri, belajar ditinggalin atasan dengan setumpuk kerjaan.
Begitu juga dengan dunia perkuliahan. Rencana kuliah yang sudah gue tentukan di tahun 2016 nanti, malah berbeda dengan kenyataannya. Gue akhirnya masuk kuliah di tahun ini.
Kata ibu sih, ' Kalo ditunda-tunda sayang umur. ''
Pas dengar ibu ngomong itu, rasanya gue pengen nanya,
  '' Oh jadi ibu lebih sayang umur daripada sayang aku? ''

Gue digampar.


Dalam keluarga dan hubungan antar teman juga banyak sekali perubahan yang bikin gue seneng bukan main dalam tahun ini.
Juga dalam dunia percintaan. Ini apa banget gue nyebutnya 'percintaan'. -_-
Pokoknya dalam dunia itu deh. Yaa meskipun dalam setahun ini gue telah menghabiskan waktu dengan orang yang salah, tapi setidaknya gue udah dapat pelajaran dari hal tersebut. Pelajaran untuk mencari pasangan yang bisa memprioritaskan. :))


Welcome 2016 :))

Learn more »

Suporter di Pemilihan Bujang Dara Provinsi Riau 2015

  '' Loh ibu kenapa? ''


Gue yang baru selesai subuhan pagi itu terkejut melihat ibu yang panik di di ruang tengah dengan handphone di tangan. Gue pun langsung duduk di sebelah ibu dan mendengar semua cerita ibu.
Seperti yang sebelumnya telah gue posting tentang kakak gue yang lagi ikut dalam karantina seminggu, maka di hari itu tanggal 20 Desember adalah malam final dari pemilihan acara tersebut. Dan kejadian yang nggak diharapkan tiba-tiba datang.
Baju melayu harian milik kakak yang nanti akan dipakai nanti malam ternyata kependekan. Peraturannya harus di bawah lutut. Sedangkan baju kakak hanya sampai di atas lutut.
Bingung. Gimana mau nyari baju yang sesuai lagi?
Mau nggak mau, baju melayu harian itu harus dijahitkan pagi itu juga mengingat malam nanti akan dipakai.

Pagi itu sekitar pukul 7, gue tanpa cuci muka, tanpa sikat gigi dengan muka acak adul bangun tidur langsung pergi keluar dengan motor bersama ibu. Tujuan kita pagi itu adalah mencari bahan baju yang berwarna kuning.
Satu masalah muncul.
Warna kuning yang seperti apa?
Berhubung utusan dari kabupaten adalah cewek dan cowok, maka pakaian pasangan yang diutus itu harus sama. Nah sekarang, kalo gue dan ibu salah milih warna kuning, nanti bakal kacau kalau warna kuningnya nggak sama dengan kuning pasangan cowok si kakak.
Gue baru tau. Ternyata warna kuning ada banyak ragamnya. Ada kuning kecokelatan, kuning emas, kuning pudar, kuning ngejreng, kuning e'ek, kuning cream, kuning gelap, banyak deh pokoknya.
Ibu nggak tau warna kuning yang dipakai kakak gue dan pasangannya itu kuning yang seperti apa? Gue kembali melihat layar hp, menyocokkan warna kuning baju kakak yang dipakainya pada foto di hp gue. Gue baru sadar ternyata efek warna pada objek yang ada di foto bisa berubah-ubah daripada aslinya. Apalagi warna kuning. Nggak jelas kuning yang seperti apa.


Akhirnya gue dan ibu tiba di depan toko penjahit tempat kakak gue menjahitkan baju yang kependekan itu sebulan yang lalu.
Dan tokonya tutup. Belum buka. Gue dan Ibu dengan sabarnya nunggu di depan toko jahit dengan tampang lesu belum sarapan. Apalagi gue, masih setengah sadar.
Cukup lama ibu dan anaknya yang terkiyut itu menunggu di luar toko jahit. Dan dengan modal nekat, ibu dan gue akhirnya memilih satu warna kuning yang kemungkinan mirip. Saat itu juga, ibu meminta si bapak tersebut untuk menjahitkan baju itu.
Berhubung perjalanan dari rumah gue ke tempat acara memakan waktu 1,5 jam, ibu memutuskan untuk memilih berangkat di siang hari.

Alhamdulillah baju kuning melayu harian itu terjahit cepat sebelum jam 3.
Gue berangkat jam 3 dari rumah dan sampai di parkiran gedung jam 5. Parah ya. Lama bener sampainya.
Setibanya di parkiran gedung, kami semua cuma berdiam diri di dalam mobil. Yaiyalah, wong acaranya jam 8 malam. Sementara ibu langsung menuju hotel untuk memberikan baju melayu harian kuning yang dijahitkan tadi.
Sambil menunggu jam 8 dan waktu magrib, ibu mengajak kami untuk masuk ke mall. Ada banyak sekali pemandangan yang menyesakkan dada sore itu. Iya, pasangan yang bergandeng mesra. Fak.
Gue baru ingat, ini kan weekend. Pantesan.


***

Sekitar pukul setengah delapan, kami langsung kembali ke gedung  SKA Co Ex dan masuk ke ruangan tempat acara berlangsung. Para tamu undangan sudah cukup ramai terlihat. Terlebih para senior Bujang Dara tahun lalu.
Yang cowok cowoknya, duuuh cakep gila. Bisa bikin iman melayang.
Gue cukup bingung saat menyadari posisi duduk bangku gue dan orangtua harus berjauhan. Untuk undangan orangtua, posisi duduknya dikhususkan. Sementara gue, adik, adik sepupu dan mba sepupu hanya bisa duduk di posisi tiga baris dari belakang.
Tak lama kemudian para suporter kakak gue datang dan membentuk kelompok di belakang gue.
Acara dimulai.
Ternyata jadi suporter itu beda tipis dengan anak alay. Syarat dan ketentuan untuk jadi suporter yaitu:
1. Harus punya suara yang melengking.
2. Punya tepukan tangan yang kuat.
3. Pede, alay, narsis, bodo amat, suka-suka, gila.

Dan gue yang memang alay jijik ternyata sangat berbakat jadi suporter. Saat acara pembuka dimulai, 11 pasang finalis naik ke atas panggung dengan diiringi irama musik penyambut dan gemerlap lampu yang meriah.
Saat pertama kali melihat kakak gue dan pasangannya naik, gue dan suporter kakak langsung menjerit histeris.
HIYYAAAAAAA WAAAA HYYAAA

Alay. Nggak jarang para penonton yang duduk di depan menolehkan pandangannya ke belakang. Ke suara teriakan dari lubang neraka.
Lampu kembali meredup. Sebuah layar yang berukuran besar mulai menyala dan menampilkan tayangan seminggu penuh tentang kegiatan para finalis. Berkunjung ke sana sini, interview, dll.
Tayangan di layar menampilkan kakak gue yang sedang diinterview. HYAAAA
Suporter langsung teriak.
Tayangan kakak gue lagi terlihat jalan dengan anggunnya. HYAAAA HUWAAA
Tayangan kakak gue lagi senam pagi. HYAAAAAA
Tayangan kakak gue lagi di class of beauty. HUWAAAA

Begitu seterusnya. Seakan melihat kakak gue di dalam tayangan maupun diatas pentas adalah suatu hal yang membanggakan dan mengerikan. Pake teriak-teriak alay sih.
Suasana kembali tenang, damai dan tenteram. Karena kami diusir security. Enggak deng. Karena saat itu Bapak Gubernur sedang memberi kata sambutan hangat. Iya hangat. Soalnya dibarisan tepat di depan gue ada seorang cowok cakep. Hidungnya, yoloh gemesin. Mancung banget. Jambangnya duileeh. Meleleh adek bang.
Cowok cakep itu hanya diam sedari tadi. Dia terlihat sendirian di antara para suporter kakak gue. Sampai gue mikir, '' Ya Allah, apakah ini jodoh yang engkau kirimkan untukku? "


Setelah Bapak Gubernur memberi kata sambutan, para finalis dipanggil untuk naik ke atas panggung lagi dalam sesi pemilihan 5 besar.
Dan begitu nama kakak gue disebut dan lolos ke 5 besar, para suporter dan terlebih gue langsung teriak heboh nggak karuan.
HYAAAAAAAA
HUWAAA. WAAAAA YEEEEE HWAAAA DOR!.

Kami semua ditembak mati. Ngerusuh sih.

Nggak puas hanya tepuk tangan dan bersorak kesurupan, kami semu memilih untuk berdiri. Hahaa
Dalam keadaan berdiri seperti ini, kami terlihat kayak segerombolan orang kelaparan yang saat melihat makanan langsung histeris teriak,
'' BERI KAMI MAKAN. BERI KAMI MAKAN. AAAARRGHH ''

Acara kembali tenang saat 5 finalis cewek dan 5 finalis cowok satu persatu mendapatkan pertanyaan dari dewan juri. Giliran kakak gue menjawab pertanyaan. Gue semua hanya berdoa agar kakak diberikan kelancaran dalam menjawab pertanyaan juri.Dan gila aja, kakak santai amat ngomongnya. Nggak ada gagap, kaku, atau grogi. HUWAAA

Selama acara berlangsung, gue kesel bukan main. Di belakang gue ada tiga cowok yang berisik minta ampun. Dari acara dimulai, Bapak Gubernur memberi kata sambutan, sampai pertengahan acara, itu trio cowok nggak berhenti ngerumpi.

Bising. Berisik. Mana suaranya nyerocos terus tanpa spasi.
Wong lanang kok koyok ngono? Lu kira ini acara rumpi no secret? Huh.

Selesai kakak menjawab pertanyaan dari juri, kembali para anak alayers bersorak kegirangan.
Dan setelah bersorak, gue baru sadar. Ternyata cowok ganteng itu sudah menghilang dari barisan di depan gue. Hanya ada dua kemungkinan. Dia keluar ballroom untuk ke kamar mandi atau dia keluar ballroom kemudian diopname.

Satu hal yang gue sadari tiba-tiba,
  '' Mampus. Suara gue serak. Suara gue hilang. Duuh mana acara masih panjang juga. ''

Sementara dewan juri berdiskusi untuk menentukan 3 besar, acara hiburan mulai ditampilkan. Malam itu dihadirkan bintang tamu Lucky Idol. Mas Lucky, (biar kedengerannya akrab) menyanyikan lagu Chrisye yang judulnya Kala Cinta Menggoda.

  Maka ijikanlah aku mencintaimu.  Atau bolehkah aku sekedar sayang padamu


Duuh lagunya bikin baper. Seandainya aja si cowok cakep tadi masih ada di barisan depan gue.
Sambil menikmati lagu yang dilantunkan Mas Lucky, snack mulai dibagikan ke para tamu undangan dan penonton. Dan KAMPRETOSNYA, TIBA DI GUE, IYA DI GUE. SNACK KOTAKNYA NGGAK KEBAGIAN.

Apa-apaan ini? Padahal kan itu tujuan utama gue untuk datang ke sini. Mengincar snack kotak.
Kenapa tiba di giliran gue doang yang nggak kebagian? Sementara adik yang ada di kiri gue dapat, Kak Ririn yang ada di kanan gue dapat. Lah gue?? Apa jangan-jangan wujud gue nggak kelihatan oleh mereka? Apa jangan-jangan..... ah sudahlah.
Sedih amat. Gue si penonton yang terlantar. Hiks.


Sekitar setengah jam kemudian, para dewan juri kembali ke posisi masing-masing. MC mulai membuka kertas dari dalam amplop yang berisi nama finalis yang lolos masuk ke tiga besar. 3 cewek dan 3 cowok.
Para tamu undangan terlihat antusias. Gue dan kak Ririn berpegangan tangan. Saling mencengkeram. Mata beradu mata. Kita saling jatuh cinta. Dan menikah.
Enggak deng.
Gue dan Kak Ririn yang suaranya juga melengking saling merasa cemas dan berdoa dalam hati.
Alhamdulillahm kakak gue masuk ke tiga besar.
Lalu apa yang terjadi?
Iyak, ruangan ballroom pecah menggelegar. Kami semua kembali teriak histeris. Belum lagi suara tepuk tangan yang bertubi-tubi. Beberapa cowok ganteng yang duduk agak jauh dari depan gue menoleh ke arah kami. Gue melihat tatapannya yang seperti berkata dalam hati,
  '' Wah, kiyut juga ini cewek. ''

Ah jadi maluk.

Melihat aura matanya, gue jadi semakin yakin kalau dalam hati beberapa cowok ini seakan ngomong,
 '' ANJIRR, INI ORANG BELAKANG BERISIK AMAT. APALAGI ITU YANG PAKE JILBAB CREAM. ALAY. MANA TERIAKAN BISING. BAKAR AJA BAKAAARR. ''

Gue juga kesel dengan salah satu kameramen. Salah satu kameramen dari stasiun televisi lokal merekam adegan sorak-sorak gue dengan posisi mulut gue yang menganga lebar kayak terowongan Mina.
Fak. Reputasi gue jadi turun seketika. Gimana kalo gue dengan mulut menganga lebar yang sedang teriak histeris itu ditayangkan di siaran tv lokal? Apa kata para fans?



Suasana kembali tenang. Kali ini bukan tenang karena kami si suporter ricuh diseret seret security keluar ballroom. Ya nggak mungkinlah.
Kali itu suasana kembali tenang karena barisan para suporter dengan tiba-tiba dibom. Bising.

3 finalis cewek dan 3 finalis cowok mulai berbaris naik ke panggung. Dengan pakaian indah dan sunting yang terpasang di kepala mereka menambah kesan anggun pada tiga finalis Dara Riau.Uuh.
Tibalah giliran kakak gue yang akan menjawab pertanyaan dari Juri. Saat mengambil gulungan kertas, ternyata kakak gue mendapat gulungan kertas spesial. Biasanya rasanya macem macem sih. Ada yang keju cokelat, stroberi cokelat, pandan, rasa kacang juga ada.

Kakak gue mendapat pertanyaan dari Bapak Gubernur. Dengan seksama ia memahami pertanyaan dari si Bapak.
Kami semua kaget saat kakak gue menjawab pertanyaan dengan menggunakan bahasa Prancis.
  '' Bonjour à tous. '' Kakak gue membuka suara.
Serempak teman-teman suporternya yang juga satu les dengan kakak menjawab, '' Bonjour. ''

Gue yang celingak-celinguk kemudian ikutan bersuara, '' BUSU. ''
Berhubung gue telat ngucapinnya, itu menyebabkan suara gue jadi terdengar sendiri. Para penonton melemparkan pandangannya ke gue.
Dan gue baru sadar, '' Kenapa gue sok ikutan bahasa prancis? Busu itu apaan coba? Bahasa negara mana itu? APA ITU BUSU?? HUWAA GUE MALU. ''

Beberapa temen kakak mencolek gue.
  '' Lan, Busu itu apa? ''
  '' Busu itu bahasa prancis juga. '' Jawab gue asal.

Setelah para finalis menjawan pertanyaan, tibalah saat yang paling menegangkan. Penentuan dan penobatan Bujang dan Dara Provinsi Riau 2015.
Suasana mulai mencekam. Lampu mulai padam. Yang menyala hanya lampu panggung.
Dimulai dari juara 1, 2 dan 3 Bujang (cowok) dan kemudian beralih ke para Dara (cewek).

Gue menggenggam tangan Kak Ririn sambil berdoa dalam hati,
  '' Ya Allah, semoga kakak bukan juara tiga. Jangan juara tiga. ''

Juara tiga sudah diumumkan. Alhamdulillah ternyata bukan kakak gue. Hanya tinggal dua posisi lagi. 1 dan 2.
Dan gue merinding asli saat nama kakak disebutkan menjadi Dara Provinsi Riau 2015.
Gue langsung histeris dan memeluk Kak Ririn. Kemudian gue langsung berlari ke arah Ibu. Biasanya Ibu bakalan nangis kalau terharu gini.

Jangan tanya lagi seberapa heboh teriakan para suporter kakak.
HYAAAAA HUWAAAA
WAAAAA AAAAAAAAAAAAA
HYAAAAAAAAAAA
YEEEEEEEEE
HYAAAAA HYAAAAAAAAAAAAAAAAA

Ternyata bukan cuma kami saja yang berteriak ketika itu, para penonton lain juga ikut memeriahkan teriakan kami. Gue seneng. Pengen nangis.
Nggak sia-sia usaha ibu selama ini. Kekhawatiran ibu dan gue yang rela belum mandi, belum sikat gigi dan cuci muka harus ke toko jahit.

Selesai penobatan dan pemakain selempang, para penonton dan suporter berhamburan naik ke panggung. Minta foto.
Dan. Gue. Sama.Sekali. Nggak dapat kesempatan untuk berfoto dengan kakak.
Kakak gue cuma bilang,
  '' Lan, pegangin. ''
Gue disuruh memegangi sebuket bunga dari tangannya.

Rame bener. Gila.
Sementara kakak gue sibuk berfoto dengan Bapak Gubernur dan bapak ibu dinas, gue hanya duduk anteng di pinggiran panggung. Kayak orang dongo sambil memengan sebuket bunga. Berharap ada yang mengasihani gue dengan memberikan sisi snack kotak ke gue.


Bujang Revianda Windu - Dara Rahayu Kuntum Melati
Bujang Dara Provinsi Riau 2015
                                 





Selesai acara, kami pulang ke rumah sekitar jam 2 pagi. Tentunya nggak bersama kakak. Kakak masih ada kegiatan lagi di sana.


Beberapa menit sebelum buket bunga itu diserahkan kakak ke gue -_-



Perhatikan baik-baik. Lihat Bujang Revianda Windu.
Lihat warna cokelat muda yang menyembul di belakang bahu kanan bang Revianda.
Nah, itu gue. Itu jilbab gue yang duduk dipinggiran panggung.
Yoih, jilbab gue masuk ke foto dalam koran Riau Pos. Yuhuuuu





Learn more »

Adam, Ibu dan Kakak.

Hari ini tas kerja gue berat banget. Isinya makanan semua. Mulai dari biskuit, kopi mocha, cokelat, roti cokelat dan nasi uduk juga turut memenuhi isi tas gue.
Gila ya. Separah itu. Serasa mau piknik.

Duh pembuka postingannya gini amat. -__-

Berhubung kakak gue selama seminggu harus menjalani masa karantina sebagai finalis bujang dara, maka gue sebagai anak kedua harus mengganti posisi beliau untuk mengajar Adam. Adik bungsu gue. Anak kelas empat SD yang mesum parah.
Jujur, gue paling nggak bisa ngajari Adam belajar. Kerjaanya main mulu sih. Gue lagi nerangin dengan serius, eh dianya malah sibuk sama mainannya.
Nah, berhubung minggu ini Adam sedang ujian semester, mau nggak mau gue-harus-bisa-ngajarin-Adam. Sekalian belajar untuk ngajarin anak-anak kita kelak. Uhuk.

Pelajaran dimulai dari mata pelajaran PKN. Gue langsung membuka buku catatan dan latihannya. Wow. Emejing. Tulisannya parah. Gede-gede acak adul. Berantakan. Mau nangis gue.
Setelah menemukan beberapa soal, gue langsung melontarkan pertanyaan itu ke Adam.
Gue : Dam, jawab ya. Apa kepanjangan dari Sekda?
Adam : Sekuriti Daerah.
PINTAR SEKALEH. 
Gue: Kok sekuriti daerah sih? Sekertaris daerah yang benernya dek.
Adam: Kan di setiap daerah ada sekuriti. Di sekolah Adam ada sekuriti, di bank, di swalayan. Berarti sekda itu sekuriti daerah. 

YAOLOH GINI AMAT ADEK GUE. 


Setelah selesai membahas pelajaran PKN, gue beralih memberikan pertanyaan mengenai pelajaran IPS yang besok akan diujiankan juga.
Gue: Dam, apa perbedaan....
*Adam sibuk ngelipatin kertas untuk membuat pesawatan*
Gue: TARUH DULU NGGAK ITU! TARUH CEPAT! NANTI MAINNYA.
*Adam shock jantung*
Gue: Dam, denger. Apa perbedaan saat zaman batu dan zaman logam?
Adam: Kalo pas zaman batu, orang-orang pakainya batu. Nggak pakai logam. Kalo zaman logam, orang-orang pakainya logam, nggak pakai batu. 
Gue: Enggak gituuuuuuuuu jugaaaa

MAU DIRAJAM, TAPI GUE SADAR INI ADEK GUE SENDIRI. -__-


Usai membahas pelajaran IPS dengan memberikan beberapa pertanyaan dan penjelasan, gue kemudian beralih ke pelajaran IPA. Gue membuka buku paket IPA milik Adam. Membaca beberapa pertanyaan dan langsung saja gue melontarkan pertanyaan untuknya.
Gue: Dek, denger nih ya. Garam berasal dari?
Adam: Dari air laut.
IYAK, BENER. ADIK GUE PINTER. CAKEP. SIAPA DULU KAKAKNYA,.
Gue: Iya bener.
Adam: Wam, kenapa air laut bisa jadi garam?
Gue: Iya, air laut dijemur di bawah sinar matahari. Trus jadi garam.
Adam: Oh berarti kalo air laut lama-lama kena panas matahari, bisa jadi garam?
Gue: Iya cin.
Adam: Semuanya?  Air laut sebanyak itu Wam sampai ke dalam-dalam dasar lautnya? Trus nanti kalo semua air lautnya jadi garam, kita nggak bisa main ke laut lagi dong.
Gue: asdfghjkll;''./


Betewe, gue di rumah dipanggil Uwam oleh adik. Nggak tau deh kenapa bisa-bisanya mereka memanggil gue dengan panggilan itu. Uwam.
Hmm mungkin kepanjangannya, Untuk Wulan Manis.
Atau mungkin, Untuk Wanita Muda.
Untuk Wajah Merona. Untuk Waria Macho. Untuk Wanita yang Merindukanmu. Untuk Wanita yang Mecintaimu. Untuk Wanita yang Mengharapkanmu. Untuk Wanita yang mendoakanmu. HALAH. BAPER.



Masih mengenai pelajaran IPA, gue kembali memberikan pertanyaan berdasarkan soal yang ada di dalam buku Adam.
Gue: Hewan pemakan daging disebut apa Dam?
Adam: Karnivora.
Gue: Iya betul. Mantap. Kalo hewan pemakan daging dan tumubuhan?
Adam: Emm herbi.. eh Omnivora.
Gue: Iya betul lagi.
Adam: Kalo manusia apa Wam?
Gue: Kalo manusia termasuk kedalam golongan Omnivora cin. Manusia juga pemakan tumbuhan dan hewan.
Adam: SALAH. Kalo manusia Nasivora. Kan manusia makannya nasi.

PERI GUT.

Entahlah gimana Adam pas ujian besok. Kalo nilainya bagus berarti itu berkat gue, sang kakak yang imut dan cerdas. Tapi kalo nilainya jelek, itu pasti karena dia nulis jawaban NASIVORA. -__-


***


Beda halnya dengan Adam yang bikin gue kesel. Ibu malah lesu mikirin kakak beberapa hari ini. Kakak yang mulai hari Minggu kemarin udah masuk ke dalam karantina selama seminggu itu membuat ibu terus-terusan mikirin kakak.
Setiap pagi ibu selalu nyempatkan diri untuk nelfonin kakak. Nanyain gimana kegiatannya, kesehatannya. Dan kemarin kakak gue menjawab kalau kesehatannya turun. Rada mual. Itu juga dialami oleh finalis lainnya. Mungkin karena terlalu padatnya jadwal kegiatan, jadi waktu istriahat para finalis kurang. Akibatnya jadi kurang fit. 
Meskipun dari rumah kakak sudah dibekali vitamin peningkat daya tahan lama, errr maksud gue daya tahan tubuh, tapi tetep saja ibu khawatir dan cemas dengan keadaan anaknya di sana.

Bagi gue, salah satu keuntungan kakak gue nggak ada di rumah adalah nasi di rumah nggak cepet habis. Ruang tamu bersih. Nggak ada sepatu maupun sendal yang numpuk di pojokan pintu.
Kakak gue mah suka gitu, suka banget naruh sepatu sembarangan. 

Tadi malam gue dengan leluasa tidur-tiduran di kamar kakak. Kapan lagi coba? Kapan lagi tempat tidurnya bisa sebersih ini. Biasanya mah, pasti ada tumpukan baju yang menggunung di atas tempat tidurnya. Gue aja ngeliatnya kayak pedagang obral baju. 
Gue tiduran sambil mainin hp di kamar kakak. Sambil dengerin lagu.
Dan gue teringat dengan masa dimana waktu itu gue juga berada jauh dari ibu untuk mengikuti lomba. 5 hari doang sih.
Sebuah pertanyaan timbul di kepala gue. Apa waktu gue lomba dan jauh dari ibu selama 5 hari, ibu juga khawatir dengan gue? Secemas itu? Apa itu yang dirasakan semua orangtua kepada anak-anaknya saat anaknya jauh darinya?

Mungkin jawabannya iya. 

Waktu gue lomba selama 5 hari, kedekatan gue dengan orangtua benar-benar terasa. Ayah yang gue kenal sebagai sosok yang cuek di rumah, terasa berbeda. Dari awal gue berangkat sampai di penginapan selama 5 hari, Ayah tak hentinya mengirim sms ke gue. Nanya lagi apa, udah makan belum, udah belajar, dll. Kita bener-bener kayak orang pacaran.
Belum lagi ibu yang tiap malam nelfonin gue, tapi selalu dan selalu saja nggak pernah gue angkat. Jadwal belajar untuk lomba ketika itu sangat padat. Kadang juga sampai jam 1 dan 2. Alhasil selesai belajar gue langsung bobo imut. Nggak ada kesempatan megang hp.
Sampai pada suatu hari, kesehatan gue down. Gue nangis nelfonin ibu di teras lantai 2 penginapan. Di samping jemuran handuk. Iya, gue ingat betul itu.
Gue nangis. Gue capek, pusing, mual. Dan selama 5 hari itu sangat minim sekali waktu untuk istirahat. Gue nangis sesenggukan. Au dah suara gue kayak apa. Hancur kedengarannya.

Besok harinya, saat di dalam mobil seusai lomba, gue mendapat sms masuk. Sms dari ibu. Gue membuka pesannya tersebut dan membacanya.

  '' Lan, udah selesai lombanya? Kapan pulang? Ibu rindu. ''


Ada air yang siap jatuh membendung di ujung mata. Ketika itu, gue bener-bener nangis sambil memandang ke luar kaca. Berusaha mengedarkan pandangan ke arah lain agar tidak ada teman dan guru yang tau bahwa gue sedang menangis. 
Iya, gue nggak bisa jauh dari ibu dan ayah. Setiap pergi jauh, setiap kali berada jauh dari rumah, gue selalu rindu dengan suasana rumah, suasana ngumpul dengan keluarga. Uuh~
Gue baru menyadari betapa khawatir dan sebegitu cemasnya orangtua saat berada jauh dari anak. 

Hmm. 
Ya semoga saja kekhawatiran ibu berujung bahagia. Semoga aja kakak gue terpilih sebagai Dara Pekanbaru di tahun ini. Amin.

Gudlak my sister, Rahayu Kuntum Melati :))
Jaga kesehatannya, lakukan yang terbaik. I'll see u on Sunday :)





Bujang dan Dara Pelalawan 2015










Learn more »

Hidup dan Perubahannya

Hidup adalah perubahan.

Hidup itu selalu mengalami fase perubahan. Yang membawa kita ke pada bentuk yang berbeda dari semula. Dari satu kondisi ke kondisi lain. Dari satu arah menuju arah lain. Hidup itu bergerak maju.
Dan gue sendiri saat ini sedang mengalami kondisi perubahan itu.

Gue. Tidak lagi bersama dia.

Iya. Dia yang sempat bersama gue dalam sepuluh bulan terakhir ini. Orang yang pernah ada di dalam pikiran saat setiap kali gue membuka kedua mata.
Entahlah. Siapa sih yang menginginkan kandasnya suatu hubungan yang telah bersama-sama dibina?
Hubungan yang dilewati dengan penuh pengorbanan. Waktu, materi, perasaan.
Tapi kenyataannya ya seperti ini.
Sebenarnya gue sudah merasakan hal yang ganjil sejak bulan Agustus lalu. Tapi gue selalu nyoba buat sabar. Nggak ada salahnya memaafkan.
Sampai gue mikir, '' Gila, gue nggak bisa kayak gini terus. ''
Hingga gue akhirnya memutuskan untuk menyudahi itu semua.
Semua sudah berakhir. 


                                   



Hmm makin kesini gue jadi makin yakin kalo abang Zayn memang jodoh gue. Uhh.

Lu kesepian nggak?
Hp lu sunyi ya?
Enggak. Gue nggak pernah ngerasa kesunyian tanpa adanya seorang pacar. Gue masih punya temen-temen hebat yang selalu berusaha bikin gue kuat setelah nyodorin obat kuat ke gue. Tengkiyu teman. Kalian memang debes.

Ibarat training kerja, tiga bulan terakhir ini adalah masa-masa training bagi gue. Dimana gue udah mulai ngerasa ada yang beda. Ada yang ganjil. Ada yang kurang pas terasa. Nggak ada lagi perhatian dari dia yang biasa gue dapatkan dulu.
Tiga bulan lamanya. Awalnya gue sempat memprotes. Gue nggak bisa seperti ini. Gue nyerah. Tapi demi kebaikan hubungan, gue kembali mengalah. Mencoba membuang ego sejauh mungkin.
Hingga pada akhirnya gue sudah mulai terbiasa dengan keadaan yang seperti ini. Keadaan yang dulu nggak pernah gue sukai, sekarang malah gue nikmatin sendiri.
Karena siapa gue terbiasa? Karena keadaan dan dia.
Dia yang memilih untuk larut dan diatur oleh keadaan daripada mengatur keadaan.
Gue? Gue hanya mengikuti alur mainnya saja.

He says, '' Kita harus berjuang demi hubungan ini. ''

Hahaha KITA? Gue ngerasa kalo gue doang yang berjuang dalam hubungan ini. Gue doang yang berusaha ikhlas, sabar dengan satu keyakinan. Gue pernah yakin ketika itu, kalau semua akan kembali ke seperti semula.
Tapi ternyata tidak.

Sampai pada akhirnya gue bener-bener terbiasa dengan keadaan ini. 

Seolah itu adalah masa training gue selama tiga bulan. Dan saat ini, adalah kenyataan yang sesungguhnya yang harus gue hadapi.
Gue harus membuka kedua mata lebar-lebar, bahwa inilah hasil keputusan yang gue ambil.
Tidak ada lagi Sabtu-Minggu bersama. Tidak ada lagi perlakuan manis itu, tidak akan ada lagi.

Yaiyalah wong udah putus.


Kampred!



Sekarang gue sama sekali nggak canggung dengan keadaan ini. Lah bukannya tiga bulan belakangan ini gue udah seperti ini.

Gue yakin, Yoga kalo baca ini pasti ngomong, '' Rasain lu Lan, kemarin menghina jomblo. Tau rasa lu kan. ''
Tapi gue nggak yakin Yoga sejahat itu. Yoga itu baik.

Hem. Yog, Double Exposure ya. Hahaaa

Gue pengen ngucapin banyak terima kasih buat lu. Darma Kusumah.
Makasih udah pernah mesumin gue. Huahahaaa ini apaan. Enggak deng serius.
Oke. Serius ya.
Makasih buat lu. Lu mau-mau aja nampung segala bacot gue, segala keluh kesah gue, kekesalan gue.
Gue takut kalo gue kebanyakan bacot, besoknya lu malah ngirim buku lagi ke rumah.
Bom buku.  -__-
Satu hal yang gue salutkan dari lu. Sekesal apapun bacot gue, lu selalu nyemangatin gue. :)

Dan juga buat Icha kekasihnya Adam Levine.
Makasih banget ya udah mau dengerin curhat nggak jelas panjang lebar aku. Hahaa..
Nggak nyangka bisa dapat masukan dan saran dari kamu. Uwuwuw.. makasih :) :*






It's over baby. 


Kadang ada suatu hal yang tidak bisa kita terima, tetapi dapat kita nikmati. 


Learn more »

Pelecehan

                                              

Pelecehan memang kerap sekali terjadi di mana saja. Siapa pun, di mana pun, dan kapan pun. Pokoknya nggak pandang buluh. Apalagi buluh ketek. Coba deh misalnya setiap pelaku pelecehan harus memandang buluh saat akan melakukan aksinya. Ada target korban, kemudian si pelaku buru-buru mendekat, mengendap-endap untuk mendekat ke buluh ketek si target korban. trus ngomong,
Wah ini buluh keteknya lucu nih, ayo beraksi. atau yang ini nih, bulu keteknya keriting-keriting kucel, ayo laksanakan. 
Nggak, nggak kayak gitu gaes.
Maksud gue nggak buluh itu juga!

***

Gue masih ingat saat gue masih duduk di kelas 6 SD dulu. Waktu itu gue lagi berada di pasar dengan ayah. Lupa belanja apa. Saat berada ditengah-tengah pasar gue kaget. Bener-bener shock.
Sebuah tangan mendarat di lengan bagian belakang gue.
Gue noleh.
Diantara banyak orang-orang di pasar yang berlalu lalang saat itu, gue melihat seorang anak lelaki yang kayaknya sebaya dengan gue sedang senyum-senyum cengengesan.
Gue lari mendekat ke ayah. Nangis. Bukan nangis biasa. Gue nangis sesenggukan. Seolah lengan gue disentuh lelaki itu sama dengan kayak diperkosa. Tapi enak.
Gue nangis sesenggukan. Ayah mencoba bertanya dan mencari tau apa penyebab anak perempuan nan imutnya itu menangis.
'' Kenapa Lan? ''
Hiksss hikss
'' Lan, kenapa tadi? ''
Huwaaa hhuhuu
'' Ada apa Lan? ''
Huuuwaaaa hikss hikss
'' DASAR ANAK DURHAKA. DITANYA ITU JAWAB DONG. JANGAN DIEM AJA.  AYAH KUTUK KAMU JADI CAKEP ''

Tringgg 


Lalu gue menjadi cakep. Sampai sekarang.

Setelah kejadian itu, gue ngerasa kalau disentuh lelaki itu adalah perbuatan pelecehan. Ada rasa kesal yang luar biasa gue rasakan saat gue disentuh oleh lelaki. Separah itu.
Masuk SMP, gue mulai terbiasa dekat dengan teman laki-laki. Gue nggak pernah nangis saat ada teman laki-laki gue yan menepuk pundak untuk memanggil gue. Bersentuhan kulit dengan lelaki secara tidak sengaja juga udah biasa. Tapi sebisanya gue hindari untuk berdekatan dengan lelaki.
Sampai pada suatu hari, dua orang lelaki menghampiri gue di jam istirahat. Kita sebut saja namanya Andreas dan Arturianto.
Andreas dan Arturianto ini bisa dibilang cowok ganteng dan kece di kelas. Arturianto mendekat ke meja gue bersama Andreas.
Ganti nama ah, susah bener ngetiknya. Ganti menjadi Adi dan Tono.
Oke.
Adi mendekat ke gue.
Gue nyengir. Setelah berbicara cukup lama dengan Adi dan Tono, tiba-tiba saja.

BYUUURRR

*maaf salah sounds effect*

PLOOK


WOW AKU TERCENGANG.

Adi menempelkan tangannya ke dada gue. Iya dada gue. Dada anak SMP berumur 12 tahun lebih 2 bulan.
'' APA-APAAN LO NGGAK SOPAN! '' Gue teriak nyaring.
'' Hehee nggak sengaja! ''

Hanjiir.. jelas-jelas di depan mata gue dia menyentuh dada gue sendiri. Apanya yang nggak sengaja coba.
Gue melotot ke arahnya, kemudian,

PLAKK !

Mantap. Maknyus. Lezat sekaleh.
Gue menampar kuat pipinya. Stempel jari gue berbekas merah di pipinya.
Dia pulang sedangkan gue menyesal. Bukan nyesal karena nampar dia. Nyesal kenapa nggak minta ulang lagi.
Astagfirulloh.
Gue nggak habis fikir. Kenapa Adi menyentuh dada gue. Dada anak esempe yang masih rata. Aneh.

***


Naik ke kelas 3 SMP.
 Di kelas 3 SMP ini gue mulai berlagak songong  di depan adek kelas. Yaiyalah, senior gitu. Tapi kesongongan gue luntur saat gue mengalami kesurupan di sekolah. Huuhu. Kapan-kapan deh gue tulis yang mengenai itu.
Di kelas 3 SMP ini, gue masuk ke dalam Komunitas Anak Gaul Yang Pulang Naik Angkot Gaul. Kalo disingkat jadi KAGYPNAG. Ciri-ciri anak gaul dalam KAGYPNAG ini adalah nyari angkot yang juga gaul.

Wajib hukumnya bagi KAGYPNAG ini untuk menaiki angkot dengan syarat, angkot harus punya banyak tempelan sticker.Biasanya tulisan sticker yang tulisannya Bridgestone, Hugo's, Road, Locomotif, dan Calvin Klein. Antara bemper depan angkot dengan jalan hanya berjarak 0,12 cm. Tipiiiiss. Kaca angkot juga harus dilapisi dengan kaca film. Biar suasana didalamnya gelap redup.

Angkot yang dipilih KAGYPNAG juga angkot yang ada musik dugem ajeb ajebnya. Speaker dibuat dengan ukuran gede. Mempersempit angkot. Ukuran speaker kira-kira cukup untuk 2 anak sekolahan. Lumayan 4 ribu.Berarti si supir angkot telah menyia-nyiakan uang 4 ribu di setiap harinya. Sama kayak kamu, yang  telah menyia-nyiakan cinta aku setiap hari.

Anak KAGYPNAG rela menunggu berjam-jam lamanya demi menyeleksi angkot dan mendapatkan angkot gaul. Naik angkot gaul serasa udah naik Lamborghini. Keren.
Betewe gue jadi kangen naik angkot. Udah 4 tahun nggak pernah naik angkot :( Kangen waktu abang angkot nge-rem mendadak terus pantat sebelah gue sampe miring-miring naik karena posisi duduk dalam angkot yang memang miring. Ah kangen.

Jadi, ada kejadian buruk di angkot yang nggak bakal gue lupain seumur hidup. Waktu itu gue pulang sekitar jam 4-an. Ada esktrakulikuler english club. Gue ikut english club bukan karena gue anak english, anak pinter atau anak jenius. Kalo anak imut sih iya.

Gue terpaksa ikut english club.

Ada sih Tari club. Tapi nggak mungkin gue ikut tari. Badan gue kaku. Sekalinya lenggongkan badan, besoknya gue positif skoliosis. Kan serem.
Ada juga ekstrakulikuler pramuka. Gue sengaja nggak memilih kegiatan pramuka ini. Soalnya gue udah khatam tentang kode-kode. Kamu saja yang nggak peka dengan kode. Huh dasar lelaki.
Ada juga ektrakulikuler Paskib. Nggak usah diperjelas. Gue foto berdiri bareng anak paskib udah berasa foto keluarga. Dan gue sebagai anak bungsunya.
Mereka tinggi-tinggi sih.
Ya terpaksa gue memilih untuk ikut ke dalam english club.
Sepulang dari english club, gue terpaksa harus pulang sendirian. Anak KAGYPNAG udah bubar pulang sejak jam1 tadi. Lah gue pulangnya jam 4. Setelah memilih angkot yang cukup gaul dan kece, akhirnya gue naik.

Aneh.
Bener-bener aneh.

Si tukang angkot ngebut. Seolah lagi nggak ngincar penumpang lain. Padahal di dalam angkot itu, penumpangnya cuma gue doang. Gue seorang. Sedih amat. Awalnya gue santai dan berpikir positif. Kali aja si abang angkot kebelet boker, nyari musholah atau SPBU untuk menyalurkan hasrat bokernya. Gue tetep diem dan menikmati musik dugem ajeb-ajeb yang disetel di dalam angkot.

Aneh lagi.

Si abang angkot tiba-tiba berhenti di jalanan yang agak sepi. Gue melemparkan pandangan ke luar jendela. Kali aja ada penumpang angkot yang mau naik. Tapi, nggak ada. Nggak ada siapa-siapa di luar sana.
Gue pucat dan melirik ke si abang angkot.

FAK ! DIA-MANDANGIN-GUE

Gue shock bukan main. Si abang keluar dari pintu angkot depan dan masuk kemudian duduk di samping gue.

FAK! DIA-DI SEBELAH-GUE

Gue diem. Gugup. Gue udah mempersiapkan anggukan kalau saja si abang angkot ini mengajak gue membuat video. Astagfirullah.
Hmm
Video klip maksudnya.
Gue menggeser duduk agar menjauh dari si abang angkot. Kalau menurut gue, si abang angkot ini umurnya beda dua tahunan sama gue. Masih muda. Agak cakep. Sebelas-duabelas juta sama Zayn Malik.
Pelan-pelan dia menyentuh bahu gue. Dan gue pun juga menyentuh bahu dia. Kita saling pandang dengan tatapan dalam.
YA ENGGAKLAH!

Gue menggerakkan bahu gue sambil ngomong dalam hati,
 '' Awas tangan lu setan! ''
Tapi saat itu gue bener-bener diem. Karena keenakan mungkin. Sorry typo. Maksud gue keenekan. Iya enek lihat sikap si abang angkot.
Sa ae lu ngelesnya.

'' Bang, kenapa berhenti? Cepetan jalan dong! ''
Gue mulai kesel. Perasaan gue udah nggak enak. Gue bener-bener risih dengan keadaan seperti itu. Jantung gue dag-dig-dug. Takut. Gue cuma mikir sambil ngomong dalam hati.

Ya Allah tolong.
Jangan-jangan gue mau diperkosa. Jangan-jangan gue mau digrepe abang tukang angkot. Huwwaaa nggak mau.
Kalo gue diperkosa, trus pulang-pulang gue hamil gimana?
Kalo gue diperkosa, trus pulang-pulang anak gue dirumah udah kelas 4 esde gimana?
HUWAAAA.. 

Gue panik.

Si abang angkot makin mendekat ke gue dan mulai mencari posisi.

FIX, GUE TURUN.

Gue langsung turun dan menyebrang jalan untuk mencari angkot lainnya. Itu juga angkot yang gue naikkin malah berhentiin gue didepan gang. Sedih. Akhirnya gue berjalan kaki sambil menangis sesenggukan. Nangis takut dengan kejadian tadi. Hampir saja gue jadi korban pelecehan.

Angkutan umum memang tempat yang sering dijadikan tempat aksi pelecehan oleh orang-orang. Yang paling sering jadi korban sih perempuan.
Nggak cuma pelecehan doang, aksi kejahatan juga sering terjadi di dalam angkutan umum. Karena itu, harus ekstra hati-hati.


Ini penutupnya apa banget -_-




Learn more »