Feature news

Showing posts with label Family. Show all posts

Tentang Romantis


                                       


Akhir-akhir ini gue ngerasa kurang produktif untuk menulis. Gatau kenapa. Gue ngerasa ada yang kurang. Gue ngerasa kalo gue kurang bergairah, kurang makan, kurang uang jajan, kurang perhatian, kurang kasih sayang dan berbagai kekurangan lainnya.
Postingan yang gue tulis kemarin juga gue tulis dengan males-malesan. Huhuuu. Kenapa gue jadi males-malesan gini sih. Seperti biasa, gue kalo lagi males-malesan jadi sering ngelamun dan flashback, mengingat kejadian masa lalu. 

Gue anaknya pelupa parah. 

Andai kalian tau wahai sobat yang berbahagia, saat mandi sore, gue sering lupa kalau tadi pagi gue pake baju apa. Gue sering lupa kalo gue udah makan sejam yang lalu. Gue sering lupa naruh barang di mana.
Tapi, selupa-lupanya gue, gue masih ingat dengan kejadian beberapa tahun lalu atau kejadian yang udah lama berlalu.

Gue suka mengenang. Mengenang masa lalu saat gue punya pacar. Tapi semengenangnya gue, gue nggak pernah sampe stalk akun medsosnya mantan. Nggak akan pernah! Helooww iyuuuh banget.
Mentok-mentok gue cuma sms dia doang. Minta balikan.
Enggak deng.

Gue suka mengenang.
Apalagi mengenang saat saat bahagia dulu. Sampai akhirnya gue jadi mikir, ‘’ Ternyata gue dulu pernah bahagia ya. ‘’ Sebelum pada akhirnya gue langsung ngomong dalam hati, ‘’ Tapi percuma sih kalo ujung-ujungnya bakal dikecewakan. ‘’


YHAAA~


Dari kegiatan yang maha penting itu, gue jadi belajar banyak hal. Dengan mengenang masa lalu, gue jadi tau akan apa yang harus gue cari dan apa yang harus gue tinggalkan.
Seperti postingan kemarin yang terlahir dari kegiatan mengenang masa lalu gue, gue mendapat salah satu pelajaran.


Yaitu, jangan pernah mencari pasangan yang pelit.


Bayar parkir motor dua rebu doang pelit. Gimana besok mau bayar popok anak, susu anak, beras, cabe rawit, bawang, minyak goreng, bayar listrik, belum lagi kalo anaknya udah sekolah. Uang sekolah anak mahal broh.

Saat gue mengenang masa lalu dengan beberapa mantan, gue juga menyadari akan satu hal. Ternyata gue pernah bahagia dengan mantan gue yang sama sekali nggak pernah romantis.
Gue masih ingat dengan jawaban beberapa teman gue tentang kriteria cowok idaman mereka. Yang di mana salah satunya mereka akan menaruh kata ‘harus romantis’ di deretan kriteria cowok idaman yang mereka sebutkan.

Kenapa harus romantis? Ada apa dengan romantis? Apa romantis itu tolak ukur kebahagiaan?

Emang romantis itu kayak gimana sih? Apa harus ngasih bunga tiap ketemu atau dinner bareng pake lilin lilin gitu?


Gue dari dulu, nggak pernah meletakkan ‘harus romantis’ dalam kriteria cowok idaman.

Kriteria cowok idaman gue cuma dua.
1. Kalo pipis berdiri 
2. Nggak takut sama kecoa.

Udah, itu aja.

Gue mah anak simple. Nggak mesti dikasih bunga-bungaan. Gue ditraktir makan nasi goreng brebes aja udah seneng. Dibikinin mie rebus pake telor ceplok sama pacar aja, gue udah bahagia. Bahagia bangetlah. Bahagia dunia akhirat.

Waktu gue pacaran dengan pacar gue ketika itu, gue nggak seperti temen-temen lain yang setiap hari selalu dapat sms yang isinya, ‘’ Selamat pagi sayangku. ‘’
Setiap pagi, gue hanya dapat sms dengan isi satu pertanyaan, ‘’ Koe sekolah hari ini? ‘’

Iya waktu itu gue masih duduk di bangku SMK. Tadinya mau duduk di pangkuan Aliando, tapi nggak mungkin sih.

Waktu gue SMK, gue nggak kayak anak sekolahan jaman sekarang. Gue nggak pernah bikin video salam osis, salam pramuka atau salam-salaman lainnya. Satu-satunya video yang pernah gue rekam adalah video saat gue sedang joget dengan gerakan erotis. Kalian cari aja di yutub, pasti nggak ada.

Betewe, gue jadi bingung. Kenapa mereka yang sebagai anak sekolahan dengan baik hati mengunggah video mereka sendiri. Kan yang cowo cowo jadi keenakan.
Apa jangan-jangan anak osis dan anak pramuka pernah punya masalah?
Jadi ini semacam kontroversi antar anak organisasi osis dengan anak pramuka.

Harapan gue, yaaa semoga masalah yang ada diantara mereka cepat terselesaikan.
Harapan gue satu lagi, yaaa semoga rasa yang ada diantara kita cepat diutarakan.

Oke.

Ini ngapa jadi bahas salam salaman sih. ASTAGFIRULLAH.

***

Berbicara tentang keromantisan, saat gue masih berhubungan dengan dia, gue nggak pernah dipanggil dengan panggilan mesra serta manja.
Jangankan dipanggil dengan panggilan mesra, dipanggil nama aja gue udah seneng. Karena gue sendiri nggak begitu excited dengan cowok yang romantis. Bahkan kalo jalan, gue dan dia nggak pernah berpegangan tangan. Soalnya gue lebih milih berpegangan kepada teguh dan keyakinan. Asooy.

Ketika itu gue sangat nyaman dengan hubungan yang seperti itu. Gue sama sekali nggak iri dengan teman gue yang selalu pamer foto pacarnya yang lagi megang kertas dengan tulisan nama mereka berdua.
Gitu doang elaah. Gue mah nanti pamernya, waktu nama gue dan dia berdua tertulis di buku nikah. Uhuk. 


Ngomongin keromantisan, ternyata Ibu gue ‘sepertinya’ sedang berusaha untuk menjadi orang yang romantis. Gue baru menyadari hal itu sejak dua hari yang lalu, saat gue baru pulang kerja dengan tampang lesu tak berdaya, gue duduk melahap pecel yang terlihat nganggur di atas meja.
Ibu berjalan mendekati pintu kamar mandi dengan memegang setangkai bunga yang-entah-darimana ia dapatkan.

Sebagai anak yang cerdas serta aktif bertanya, ya tentu saja gue nyengir dan melahap pecel yang ada di hadapan gue.

Ibu menyembunyikan setangkai bunga mawar putih plastik di punggungnya. Begitu pintu kamar mandi terbuka, Ayah keluar dengan tampang bengong sambil melihat Ibu yang senyum-senyum nggak jelas.
Dengan mengambil nada do tinggi, Ibu berteriak TARAAAAAA
Yang kemudian dilanjutkan dengan memberi setangkai bunga mawar putih di hadapan Ayah.

Kalian tau respon apa yang Ayah ucapkan?
Hanya dua kata.


Ayah menghela nafas sambil berkata, YA ALLAH..


Tanpa dikomando, suara tawa Ayah dan Ibu pecah secara bersamaan. Gue juga ikut menahan tawa setelah mencoba menelan pecel suapan terakhir.

Di tengah-tengah suara tawa, dengan entengnya Ibu berkata, ‘’ Kan biar romantis kayak di FTV itu loh. ‘’


Gaes.

Ternyata, selain pecinta tayangan Katakan Putus, Ibu gue juga pecinta serial FTV.



***

Kembali ke tentang romantis, kalo boleh gue bertanya, perempuan mana sih yang nggak mau diperlakukan dengan romantis?

Gue juga mau keleus.

Tapi gue nggak menaruh keromantisan sebagai hal yang harus diprioritaskan. Bagi gue, keromantisan hanya nilai tambah yang akan kita terima dari diri pasangan.


Ini gue ngapa sok wibawa, adil dan bijaksana gini sih, elaaahh.
Udah dulu ya. Aku dipanggil mama nich beli garem.
Dadaaah
Learn more »

Rumah dan Keluarga



                                






Gue anak pecinta rumah. 
Bagi gue, rumah adalah segalanya. Tempat berkumpulnya keluarga, tempat dimana canda dan gelak tawa tertumpah di dalamnya, tempat melepas penat dengan saling bercerita di malam hari.

Sabtu kemarin, saat menunggu jarum jam beralih ke angka satu, waktunya pulang kerja, gue yang lagi duduk manis di depan komputer terlibat dalam percakapan dengan teman-teman kerja.
Fyi, gue satu-satunya karyawan perempuan di kantor ini. Ngerasa paling cakep banget kalo gabung bareng mereka. Padahal mah muka gue beda tipis sama kanebo kering. Kusut. Tegang. Dekil.
Selain ngerasa paling cakep saat gabung dengan mereka, gue juga ngerasa paling dimanja. Hohooo

Siang itu, salah seorang teman menganggu gue yang sedang khusyuk blogwalking.
  ‘’ Lan, ntar malam kemana? Malam minggu kan. ‘’
  ‘’ Nggak kemana-mana bang. Di rumah doang. ‘’
  ‘’ Siang pulang kerja ini kemana? ‘’
  ‘’ Ya sama, di rumah doang. Nggak kemana-mana. ‘’
  ‘’ Nonton Comic 8, yuk. ‘’
 
Gue memasang muka nyengir.
  ‘’ Rame-rame kok. Mereka juga ikut. ‘’ Temen gue menunjuk ke arah dua orang teman lainnya.
  ‘’ Nggak mau ah. Males. ‘’
  ‘’ Atau kita nonton kungfu panda. ‘’ Salah seorang temen gue yg lain angkat bicara.
  ‘’ Enggak deh. Mending tidur di rumah. ‘’


Meskipun gue seumur hidup nggak pernah nonton bioskop, gue sama sekali nggak mengiyakan ajakan mereka. Daripada nonton bioskop, mending makan nasi padang kuah rendang. Nonton bioskop mentok-mentok makan popcorn. Nggak kenyang. Kecuali kalo makan popcornnya pake nasi. Baru dah gue mau.

Gue kembali meneruskan kegiatan blogwalking gue di depan meja.
  ‘’ Nomor hp Ayah berapa, Lan? ‘’

Lah ini kenapa segala nanya nanya Ayah gue.
  ‘’ Buat apaan bang? ‘’ ujar gue bingung.
  ‘’ Buat minta izin bawa Wulan keluar. ‘’

Gue hanya menghela nafas kemudian kembali melanjutkan blogwalking.

  ‘’ Ayah sukanya buah apa, Lan? ‘’

Asli. Ini orang kepo parah. Segala nanya-nanya Ayah gue sukanya buah apa. Ya buah dada lah.

  ‘’ Hhehee enggak tau, Bang. ‘’ Gue menjawab dengan sekedarnya. 


**


Percakapan di hari Sabtu itu mengingatkan gue dengan sifat gue yang bisa dibilang cupu. Diumur yang sedang otewe ke duapuluh tahun, gue masih jarang untuk keluar dan ngumpul dengan teman-teman.
Ngumpul yang gue maksud di sini adalah ngumpul yang kerjaanya ‘haha hihi’ doang. Nggak guna menurut gue. Kalo mau ‘haha hihi’ doang ngapain harus keluar rumah. Nonton mister bin di laptop aja, gue udah ‘haha hihi’ nggak jelas di kamar.
Beda dengan ngumpul yang memang untuk mengerjakan sesuatu hal.
Contohnya, gue masih menerima ajakan teman untuk mengerjakan tugas kuliah, tugas sekolah, atau membahas suatu hal di luar.  Itu juga kadang gue masih memberi tawaran kepada mereka untuk mengerjakan dan ngumpulnya di rumah gue.

Gue secemen itu untuk keluar rumah.

Nggak jarang, setiap kali libur atau tanggal merah, gue selalu memanfaatkan moment itu untuk beristirahat, bantu-bantu Ibu di rumah dan nonton film di laptop.
Gue masih ingat dengan chat dari Darma ketika tanggal 9 Maret kemarin.
  ‘’ Lu hari libur gini, nggak jalan-jalan keluar? ‘’

Mungkin ada sebagian teman-teman gue yang menganggap kalau gue anaknya sombong. Padahal mah enggak. Gue memang nggak doyan aja ngerumpi di luar. Jalan sana-sini sama temen-temen. Sampai-sampai ada temen gue yang nekat datang ke rumah gue saat malam hari hanya untuk curhat ke gue, setelah beberapa kali gue menolak tawarannya untuk bertemu di luar rumah.


Sifat gue yang cupu ini selalu saja menjadi bahan pertanyaan yang selalu Ibu lontarkan ke gue. Ibu sering berkata, ‘’ Mbok ya sekali-sekali keluar rumah gitu, Lan. Main sama teman-temanmu. Ini enggak, mendekem terus di dalam kamar. ‘’


Sebegitu cintanya gue dengan kamar. Hhhh
Sama kamar aja aku cinta, apalagi sama kamu. Apalagi sama kamu di dalam kamar.



***


Beberapa Minggu yang lalu, di siang hari yang terik, gue memutuskan untuk membeli indomie ke warung belakang. Gue langsung saja mengambil payung dengan corak orange dan biru lalu dengan sigap mengembangkan payungnya.
Gue berjalan ke warung belakang rumah. Deket doang sih sebenernya. Gue gaya-gaya aja pake payung. Biar sok anti panas matahari. Eheh.
Dengan langkah yang pasti dan anggun, gue berjalan dengan payung yang memayungi badan gue.
Sesampainya di warung, gue dikejutkan dengan suara ibu ibu yang juga turut belanja yang tiba-tiba menepuk pundak gue.
  ‘’ Eh ini si Wulan ya? ‘’
  ‘’ Hehee iya, Bu. Ibu belanja? ‘’ tanya gue basa-basi.
  ‘’ Iya nih. Wulan udah besar aja ya sekarang. Dulu masih kecil, kurus. Sekarang udah sebesar ini. ‘’


INI APANYA YANG BESAR COBAA?!!?


Gue hanya cengengesan seraya berkata, ‘’ Hehee dari dulu gini-gini aja kok, Bu. ‘’

Di perjalanan pulang dari warung, gue nggak habis pikir. Ini gue yang jarang keluar rumah atau pertumbuhan gue yang cepet membesar atau si Ibunya yang selama ini nggak memerhatikan gue. Iya sih, nggak mungkin juga Ibu ibu itu merhatiin gue. Gue kan anaknya kurang perhatian. Kurang kasih sayang juga.
Sayangin aqu dongs qaqaaa~

Sambil membuat mie, gue masih saja heran. Masalahnya, itu rumah ibu ibu tadi deket banget dengan rumah gue. Yakali dia nggak ngeliat punya gue yang udah sebesar ini. Ahelah.
Maksudnya, badan punya gue yang udah sebesar ini.

Beberapa hari berikutnya, gue bertemu dengan seorang ibu tetangga di suatu toko buku. Gue yang hampir-setiap-minggu membeli pena untuk persiapan kuliah, dikejutkan dengan panggilan seorang ibu ibu.
Iya, gue setiap hari Sabtu pasti membeli pena. Soalnya selesai kuliah, pena gue selalu hilang entah kemana.

Dari kejauhan, gue mendengar suara panggilan ibu ibu itu. Memang ya, gue idola ibu ibu banget.
Sambil memanggil nama gue, ibu ibu yang mengenakan baju putih lengan pendek itu menghampiri gue. 
  ‘’ Eh Wulan. Sama siapa ke sini? ‘’

SKSD banget sih.
Sebagai anak perempuan yang cukup mengerti dengan tata krama, gue menatapnya dengan sinis sambil berkata, ‘’ Menurut lu aje? ‘’

Enggak deng.
Gue membalasnya dengan senyum sebelum akhirnya gue menjawab pertanyaanya.
  ‘’ Wulan kok jarang keliatan sih. Nggak pernah keliatan sama Ibu. ‘’

Gue hampir aja mau jawab, ‘’ Iya sama dengan jodoh saya, nggak keliatan. ‘’ Trus gue dan Ibunya berpelukan hangat. Menangis bersamaan. Soswit.

  ‘’ Wulan nggak kemana-mana kok, Bu. Di rumah aja. Memang jarang keluar. Hehee. ‘’

Jujur, siklus kegiatan gue dari hari ke hari sangat pasif. Itu itu mulu.
Bangun tidur-mandi-berangkat kerja-pulang kerja-mandi-tidur.
Gitu terus.

Rasanya gue udah cukup lelah di malam hari setelah seharian bekerja. Karena itu, gue jadi jarang untuk keluar rumah.
Selain itu, bagi gue, rumah adalah segalanya. Rumah dan keluarga adalah satu paket kebahagiaan yang tak dapat terpisahkan.
Gue selalu merindukan hangatnya suasana rumah, ramainya gelak tawa yang pecah hanya karena humor receh dari Ayah, ributnya suara sorak-sorakan kayak di pasar malam dari gue yang selalu membully kakak dan adik gue.


Sungguh, gue seorang saudara yang keji.


Sejauh manapun gue pergi,  seberapa lamapun gue jauh dari rumah, gue selalu merindukan rumah dan keluarga.


Bahkan, gue selalu suka keluar dan liburan bersama keluarga. Seperti jalan jalan sore dengan keluarga, makan sate, bakso dan lainnya bareng satu keluarga, foto-foto alay di taman bersama keluarga dan hal hal yang sepertinya nggak penting juga gue lakuin bersama keluarga.
Meskipun keluarga gue kalo keluar udah kayak rombongan jemaah haji yang mau berangkat umroh. Rame heheee. Tapi gue selalu bahagia dengan suasana yang tercipta di sana.

Mungkin karena hal itu, gue jadi kurang suka dengan kegiatan ngumpul bersama teman yang nggak penting karena cuma ketawa ketiwi ketika bertemu.

Sampai-sampai sewaktu SMK, gue pernah dikucilkan dari pergaulan anak hits yang doyan foto. Sudah bisa ditebak, alasannya karena gue selalu menolak ajakan mereka untuk berfoto foto ria dengan camera milik salah seorang teman gue.
Iya, gue bukan anak hits. Gue enggak kayak mereka yang foto pesbuknya sering diganti dengan foto baru yang keren. Foto duduk bersila di semak-semak belukar, trus difoto dari atas. Kalo dilihat sekilas kayak orang-orangan sawah yang kekenyangan habis nyemilin mecin.
Mereka juga sering mengupload foto terbaru mereka. Foto dengan pose duduk di tengah jalan sekaligus dengan rambut yang sengaja diacak-acak serta ekspresi yang galau, seakan foto tersebut menggambarkan orang yang tengah frustasi. Meskipun kalo dilihat, lebih mirip ke kuntilanak kena diare yang kelindes mobil di tengah jalan.
Serem.

Tapi foto-foto seperti itu cukup hits dan nge-trend di kalangan anak anak sekolah gue. Gue hanya bisa diam sambil pura pura main hp saat mereka dengan bangganya memamerkan hasil foto kemarin sore. Dan seperti itu disetiap harinya.
Mereka selalu keluar di saat sore dan malam hari hanya untuk mencari lokasi-lokasi foto yang menurut mereka bagus. Sedangkan gue, selalu menolak ajakan mereka.
Aku mah apa.

Mungkin gue sudah ditakdirkan untuk tidak menjadi salah seorang dari bagian komunitas anak hits di sekolahan. Gue anaknya pemalu sih kalo difoto. Apalagi fotonya berduaan sama kamu. Coba aja foto, pasti aku tutup-tutupin muka karena malu sambil nyender dibahu kamu.

EHEHEEE


**


Gue ngerasa, rumah adalah tempat paling nyaman bagi gue dalam kondisi apapun.
Lagi seneng dapat sms gebetan, gue langsung joget joget dangdut depan laptop di kamar. Trus direkam. Jadi aib pribadi. 
Lagi galau habis putus dari pacar, gue bisa nangis sesenggukan di kamar mandi sambil keramas. Disitu kadang gue ngerasa jadi agnes monica yang sedang syuting video klip.
Lagi kesel, nggak mood, gue bisa nangis keras sambil berusaha nutupin mulut dengan bantal.
Lagi sakit, gue bisa tiduran seharian di depan tv dengan indahnya. Nonton acara dari subuh waktu si ustadz Maulana ceramah sampai acara berita islami masa kini. Bayangin aja, pas sakit gue selalu nonton tayangan-tayangan dakwah tentang islam.
Ya meskipun pas siang harinya gue nonton tayangan kisah cinta-cintaan anak muda. Heheeew

Gue juga ngerasa bahagia saat di hari Minggu tiba. Dimana gue selalu bertugas sebagai penyedia teh anget untuk keluarga. Kata mereka, teh anget buatan gue enak. Ini karena jiwa keibuan gue atau jiwa pembokat gue yang keluar sehingga bisa bikin teh anget yang enak.
Selain bertugas sebagai penyedia teh anget di rumah, saat hari Minggu, gue juga ditugaskan sebagai operator musik. Iya, gue selalu disuruh untuk menyetel lagu. Meskipun terkadang terjadi perdebatan antara Ayah yang ingin lagu campursarinya diputer dengan Ibu yang ingin lagu Nika Ardillanya diputer. Tanpa menunggu perdebatan selesai, gue biasanya langsung mengambil jalan tengah. Yaitu dengan memutar lagu Ungu. YEAAAH!

Berikan akuuuu ciuman pertamamu..
Agar kuyakin, kau memanglah milikku….
Ooohh ooh… 


Gue selalu senang mendengar cerita-cerita Ibu dan Ayah. Tentang Ayah yang menjadi superhero terhebat di keluarga gue. Ayah yang memilih untuk memandikan anak-anaknya ketika bayi sampai tali pusernya lepas. Meskipun ada bantuan seorang perawat, Ayah memutuskan untuk melakukan itu sendiri. Memandikan bayi yang masih merah dengan kedua tangannya.
Mengurus Ibu setelah masa melahirkan dengan sendiri tanpa bantuan siapapun. Memasangkan pembalut, membuatkan jamu bersalin dan kebutuhan Ibu melahirkan lainnya.

Gue selalu ketawa geli dan salut dengan hubungan pacaran Ayah Ibu yang backstreet selama 5 tahun. Mereka saling percaya dan yakin untuk bisa bersama. Ya walaupun untuk bertemu, Ayah harus menunggu Ibu libur kuliah. Itu juga bertemunya sebentar dengan cara kucing-kucingan.
Sampai akhirnya mereka mendapat restu dan menikah.
Gue salut dengan mereka. Hebat.

Gais, walau bagaimanapun kondisi keluarga kita, mereka tetaplah orang terdekat di dalam hidup kita. Orang terdekat di hidup kita bukan teman, sahabat ataupun pacar. Tetapi keluarga.
Hanya keluarga yang paling mengerti kita, keluarga yang selalu ada untuk kita disaat kita senang maupun terpuruk sekalipun. Terlebih kedua orangtua, yang selalu setia merawat kita, si bayi kecilnya saat dulu.

Rumah dan keluarga.
Nggak ada yang mengalahkan kebahagiaan gue dengan satu paket itu.


Dengan rumah dan keluarga aja, aku bahagia. Apalagi serumah dan berkeluarga dengan kamu.





Learn more »

Adam, Ibu dan Kakak.

Hari ini tas kerja gue berat banget. Isinya makanan semua. Mulai dari biskuit, kopi mocha, cokelat, roti cokelat dan nasi uduk juga turut memenuhi isi tas gue.
Gila ya. Separah itu. Serasa mau piknik.

Duh pembuka postingannya gini amat. -__-

Berhubung kakak gue selama seminggu harus menjalani masa karantina sebagai finalis bujang dara, maka gue sebagai anak kedua harus mengganti posisi beliau untuk mengajar Adam. Adik bungsu gue. Anak kelas empat SD yang mesum parah.
Jujur, gue paling nggak bisa ngajari Adam belajar. Kerjaanya main mulu sih. Gue lagi nerangin dengan serius, eh dianya malah sibuk sama mainannya.
Nah, berhubung minggu ini Adam sedang ujian semester, mau nggak mau gue-harus-bisa-ngajarin-Adam. Sekalian belajar untuk ngajarin anak-anak kita kelak. Uhuk.

Pelajaran dimulai dari mata pelajaran PKN. Gue langsung membuka buku catatan dan latihannya. Wow. Emejing. Tulisannya parah. Gede-gede acak adul. Berantakan. Mau nangis gue.
Setelah menemukan beberapa soal, gue langsung melontarkan pertanyaan itu ke Adam.
Gue : Dam, jawab ya. Apa kepanjangan dari Sekda?
Adam : Sekuriti Daerah.
PINTAR SEKALEH. 
Gue: Kok sekuriti daerah sih? Sekertaris daerah yang benernya dek.
Adam: Kan di setiap daerah ada sekuriti. Di sekolah Adam ada sekuriti, di bank, di swalayan. Berarti sekda itu sekuriti daerah. 

YAOLOH GINI AMAT ADEK GUE. 


Setelah selesai membahas pelajaran PKN, gue beralih memberikan pertanyaan mengenai pelajaran IPS yang besok akan diujiankan juga.
Gue: Dam, apa perbedaan....
*Adam sibuk ngelipatin kertas untuk membuat pesawatan*
Gue: TARUH DULU NGGAK ITU! TARUH CEPAT! NANTI MAINNYA.
*Adam shock jantung*
Gue: Dam, denger. Apa perbedaan saat zaman batu dan zaman logam?
Adam: Kalo pas zaman batu, orang-orang pakainya batu. Nggak pakai logam. Kalo zaman logam, orang-orang pakainya logam, nggak pakai batu. 
Gue: Enggak gituuuuuuuuu jugaaaa

MAU DIRAJAM, TAPI GUE SADAR INI ADEK GUE SENDIRI. -__-


Usai membahas pelajaran IPS dengan memberikan beberapa pertanyaan dan penjelasan, gue kemudian beralih ke pelajaran IPA. Gue membuka buku paket IPA milik Adam. Membaca beberapa pertanyaan dan langsung saja gue melontarkan pertanyaan untuknya.
Gue: Dek, denger nih ya. Garam berasal dari?
Adam: Dari air laut.
IYAK, BENER. ADIK GUE PINTER. CAKEP. SIAPA DULU KAKAKNYA,.
Gue: Iya bener.
Adam: Wam, kenapa air laut bisa jadi garam?
Gue: Iya, air laut dijemur di bawah sinar matahari. Trus jadi garam.
Adam: Oh berarti kalo air laut lama-lama kena panas matahari, bisa jadi garam?
Gue: Iya cin.
Adam: Semuanya?  Air laut sebanyak itu Wam sampai ke dalam-dalam dasar lautnya? Trus nanti kalo semua air lautnya jadi garam, kita nggak bisa main ke laut lagi dong.
Gue: asdfghjkll;''./


Betewe, gue di rumah dipanggil Uwam oleh adik. Nggak tau deh kenapa bisa-bisanya mereka memanggil gue dengan panggilan itu. Uwam.
Hmm mungkin kepanjangannya, Untuk Wulan Manis.
Atau mungkin, Untuk Wanita Muda.
Untuk Wajah Merona. Untuk Waria Macho. Untuk Wanita yang Merindukanmu. Untuk Wanita yang Mecintaimu. Untuk Wanita yang Mengharapkanmu. Untuk Wanita yang mendoakanmu. HALAH. BAPER.



Masih mengenai pelajaran IPA, gue kembali memberikan pertanyaan berdasarkan soal yang ada di dalam buku Adam.
Gue: Hewan pemakan daging disebut apa Dam?
Adam: Karnivora.
Gue: Iya betul. Mantap. Kalo hewan pemakan daging dan tumubuhan?
Adam: Emm herbi.. eh Omnivora.
Gue: Iya betul lagi.
Adam: Kalo manusia apa Wam?
Gue: Kalo manusia termasuk kedalam golongan Omnivora cin. Manusia juga pemakan tumbuhan dan hewan.
Adam: SALAH. Kalo manusia Nasivora. Kan manusia makannya nasi.

PERI GUT.

Entahlah gimana Adam pas ujian besok. Kalo nilainya bagus berarti itu berkat gue, sang kakak yang imut dan cerdas. Tapi kalo nilainya jelek, itu pasti karena dia nulis jawaban NASIVORA. -__-


***


Beda halnya dengan Adam yang bikin gue kesel. Ibu malah lesu mikirin kakak beberapa hari ini. Kakak yang mulai hari Minggu kemarin udah masuk ke dalam karantina selama seminggu itu membuat ibu terus-terusan mikirin kakak.
Setiap pagi ibu selalu nyempatkan diri untuk nelfonin kakak. Nanyain gimana kegiatannya, kesehatannya. Dan kemarin kakak gue menjawab kalau kesehatannya turun. Rada mual. Itu juga dialami oleh finalis lainnya. Mungkin karena terlalu padatnya jadwal kegiatan, jadi waktu istriahat para finalis kurang. Akibatnya jadi kurang fit. 
Meskipun dari rumah kakak sudah dibekali vitamin peningkat daya tahan lama, errr maksud gue daya tahan tubuh, tapi tetep saja ibu khawatir dan cemas dengan keadaan anaknya di sana.

Bagi gue, salah satu keuntungan kakak gue nggak ada di rumah adalah nasi di rumah nggak cepet habis. Ruang tamu bersih. Nggak ada sepatu maupun sendal yang numpuk di pojokan pintu.
Kakak gue mah suka gitu, suka banget naruh sepatu sembarangan. 

Tadi malam gue dengan leluasa tidur-tiduran di kamar kakak. Kapan lagi coba? Kapan lagi tempat tidurnya bisa sebersih ini. Biasanya mah, pasti ada tumpukan baju yang menggunung di atas tempat tidurnya. Gue aja ngeliatnya kayak pedagang obral baju. 
Gue tiduran sambil mainin hp di kamar kakak. Sambil dengerin lagu.
Dan gue teringat dengan masa dimana waktu itu gue juga berada jauh dari ibu untuk mengikuti lomba. 5 hari doang sih.
Sebuah pertanyaan timbul di kepala gue. Apa waktu gue lomba dan jauh dari ibu selama 5 hari, ibu juga khawatir dengan gue? Secemas itu? Apa itu yang dirasakan semua orangtua kepada anak-anaknya saat anaknya jauh darinya?

Mungkin jawabannya iya. 

Waktu gue lomba selama 5 hari, kedekatan gue dengan orangtua benar-benar terasa. Ayah yang gue kenal sebagai sosok yang cuek di rumah, terasa berbeda. Dari awal gue berangkat sampai di penginapan selama 5 hari, Ayah tak hentinya mengirim sms ke gue. Nanya lagi apa, udah makan belum, udah belajar, dll. Kita bener-bener kayak orang pacaran.
Belum lagi ibu yang tiap malam nelfonin gue, tapi selalu dan selalu saja nggak pernah gue angkat. Jadwal belajar untuk lomba ketika itu sangat padat. Kadang juga sampai jam 1 dan 2. Alhasil selesai belajar gue langsung bobo imut. Nggak ada kesempatan megang hp.
Sampai pada suatu hari, kesehatan gue down. Gue nangis nelfonin ibu di teras lantai 2 penginapan. Di samping jemuran handuk. Iya, gue ingat betul itu.
Gue nangis. Gue capek, pusing, mual. Dan selama 5 hari itu sangat minim sekali waktu untuk istirahat. Gue nangis sesenggukan. Au dah suara gue kayak apa. Hancur kedengarannya.

Besok harinya, saat di dalam mobil seusai lomba, gue mendapat sms masuk. Sms dari ibu. Gue membuka pesannya tersebut dan membacanya.

  '' Lan, udah selesai lombanya? Kapan pulang? Ibu rindu. ''


Ada air yang siap jatuh membendung di ujung mata. Ketika itu, gue bener-bener nangis sambil memandang ke luar kaca. Berusaha mengedarkan pandangan ke arah lain agar tidak ada teman dan guru yang tau bahwa gue sedang menangis. 
Iya, gue nggak bisa jauh dari ibu dan ayah. Setiap pergi jauh, setiap kali berada jauh dari rumah, gue selalu rindu dengan suasana rumah, suasana ngumpul dengan keluarga. Uuh~
Gue baru menyadari betapa khawatir dan sebegitu cemasnya orangtua saat berada jauh dari anak. 

Hmm. 
Ya semoga saja kekhawatiran ibu berujung bahagia. Semoga aja kakak gue terpilih sebagai Dara Pekanbaru di tahun ini. Amin.

Gudlak my sister, Rahayu Kuntum Melati :))
Jaga kesehatannya, lakukan yang terbaik. I'll see u on Sunday :)





Bujang dan Dara Pelalawan 2015










Learn more »

Kakak

Menghitung hari. Yeay!
Beberapa hari lagi gue bakal pergi melepaskan status lajang dan menikah dengan abang Zayn.



Enggak deng.
Tapi aminin aja. Huahaaa

Beberapa hari lagi gue bakal pergi ke Padang. Ada beberapa alasan kenapa gue akan berangkat ke Padang. Yaitu untuk:
- Makan sate kerang
- Ke pantai
- Makan sate kerang
- Makan sate kerang
- Makan sate kerang
- Makan sate kerang
- Ke pantai
- Ke pantai
- Hadir di acara wisudaan kakak
- Makan sate kerang
- Makan sate kerang
- Makan sate kerang
- Makan sate kerang
- Makan sate kerang
- Ke pantai
- Ke pantai
- Ke pantai
- Hadir di acara wisudaan kakak
- Lihat abang-abang ganteng
dan yang terakhir adalah
- Makan sate kerang

Gilak, keren. Gue baru sadar, ternyata jika disebutin banyak banget alasan gue untuk pergi ke Padang. Kayaknya gue termasuk ke dalam tipikal orang yang penuh dengan rencana. Termasuk rencana hidup di masa depan dengan kamu. Iya kamu yang lagi baca ini. Ailofyu.

Tahun ini kakak gue akan melaksanakan wisudanya di Padang. Sebagai adik yang baik, gue akhirnya bisa memanfaatkan moment itu. Emm maksud gue harus bisa hadir di acara itu. Selain untuk melihat-lihat abang-abang kece dan dosen muda di sana, gue bakal ikut nangkring untuk foto di samping kakak. Lumayan, untuk nambahin isi foto di instagram.
Nggak terasa banget, kakak gue udah wisuda aja. Rasanya baru kemarin dia masuk kuliah. Sibuk-sibuk ngerjain tugas ini-itu, eh tau-tau sekarang udah lulus saja.

Akhir-akhir ini gue sering cekcok sama dia. Bahkan dalam segala hal.
Beberapa minggu yang lalu, ibu dan kakak habis pulang berbelanja baju kebaya. Kebaya untuk wisudaannya. Kebayanya warna pink. Feminim abis.
Dan karena itulah, gue sering ngomel setiap kali kakak gue ngemil di kamar. Gue takut, ntar badannya tambah gemuk, melar dan ujung-ujungnya tuh kebaya nggak muat. Kan kacau.
Setiap pulang kerja gue pasti ngomelin dia, kerjaannya tiduran di kamar sambil ngemil, kadang juga duduk di depan sambil ngemil. Apa-apa ngemil. Gue tau ngemil itu memang enak, apalagi ngemilikin kamu. Ngemil memang enak, tapi lihat ukuran badan juga dong. Kalo kayak gue gini, iya nggak apa-apa kalo kerjaanya ngemil mulu.
Dan karena ocehan gue yang bertujuan untuk mengingatkan dia agar mengurangi kerjaan ngemil, kami akhirnya keseringan cekcok. Adu mulut sampe ada yang sakit hati dan akhirnya diam-diaman.

Ada banyak kejadian-kejadian di rumah yang berhubungan dengan kakak gue. Kayak yang di bawah ini:

*Kacamata*
Kakak: HUAAAA KACAMATA GUE MANA? HAAA DIMANA NIH?? ADUUHH
Orang satu rumah menyebar. Bongkar sana-sini. Dan nggak berapa lama.
Gue : Nih kacamata lu.
Kakak: NAH KAN, LU PASTI DEH YANG NYEMBUNYIIN. IYA KAN? PERASAAN TADI ADA DI KAMAR DEH. KOK BISA ADA DI SITU.
Gue: Allahuakbar!

*Kunci Motor*
Gue pulang kerja. Mandi. Gue masuk ke kamar, dan sebelumnya mata gue sempat ngeliat sebuah kunci motor yang berada di atas kulkas. Gue masuk kamar, pake baju dll.
Selang beberapa lama di luar kedengaran heboh banget.
Gue:  Ada apaan sih? Ribut amat.
Kakak: Kunci motor hilang. HUWAAAAA
Gue: Apa?
Kakak: KUNCI MOTOR!
Gue: Oh, kunci motor. Itu tuh di atas kulkas.
Kakak : TUH KAN PASTI LU YANG NARUH KUNCI MOTOR DI SANA. YAKALI KUNCI MOTOR BISA JALAN KE ATAS KULKAS.
Gue: Hei, gue aja baru pulang kerja. Lagian kan lu yg make motor seharian.
Kakak : UDAH LAH!
Gue : asdfghjkl;'

*Binder*
Kakak: Tok-tok-tok. Lan, liat binder nggak? Gue mau ujian. Mau belajar, tapi bindernya hilang.
Gue : Binder hijau?
Kakak: Iya.
Gue nyari kesana-sini dan masuk ke kamarnya.
Gue: Nih bindernya.
Kakak: LU KAN YANG OBRAK ABRIK MEJA GUE. KALO NGGAK BERANTAKAN GINI, NGGAK MUNGKIN GUE NGGAK NGELIAT BINDERNYA ADA DI KAMAR GUE.
Gue: -______________________________________________________-


Kadang gue bingung. Serba salah. Sampai suatu hari gue bertekad untuk nggak bakal bantuin nyari apapun kalo dia lagi kehilangan. Tapi ujung-ujungnya gue nggak tegaan dan akhirnya ikut bantuin nyari. Walaupun pada akhirnya gue lagi yang dituduh.
Lelah gue.
Dibantuin salah, nggak dibantuin salah. Gue anaknya suka nggak tegaan gitu. Kalo kakak minta temenin ke sana-sini, pasti gue temenin. Lah kalo gue yang minta temenin? Nggak bakalan mau dia mah.
Beneran nggak tegaan gue. Kadang juga kalo lihat cowok ganteng yang jomblo, gue juga ngerasa nggak tegaan. Pengen gue nikahi aja.

Dari kejadian-kejadian seperti di atas, gue bisa menyimpulkan kalau,
'' Cowok dan adik yang mempunyai kakak SELALU SALAH ''
Kayak gue. Selalu salah.

Dibalik baju pasti ada daleman. Sama kayak kakak gue. Dibalik sifatnya yang seperti itu, dia baik banget. Dulu pas masih SMP gue sering banget diajarin matematika. Dia otaknya encer, pinter, juara satu umum terus. Lah gue, naik kelas aja udah sujud syukur.
Gue anaknya batu. Keras kepala. Gengsian kalo nanya pelajaran matematika ke kakak. Akhirnya saat ujian gue hanya bisa menjawab soal dengan otak gue yang minim. Sampai pada akhirnya ibu marah-marah saat melihat nilai ujian gue yang parah angkanya.
Dan hari itu, gue disuruh belajar matematika dengan kakak. Awalnya suasana damai, tenteram. Gue masih ngeh dan cuma ngangguk-ngangguk saat kakak gue jelasin soal.

K: Jadi gini, blablablaa. Rumusnya blbablablaa.
Gue: Oh gitu. (ngangguk-ngangguk sok ngerti. Padahal mah enggak)
Sejam kemudian.
K: Nah, sekarang coba kerjain soal ini.
Gue: Iya.
Beberapa menit kemudian.
K: KOK KAYAK GINI SIH? SALAH. BUKAN GINI CARANYA.
Gue: YA JADI GIMANA LAGI? TADI RUMUSNYA GITU. YAUDAH INI RUMUSNYA.
K: Tapi inikan rumus mencari luas lingkaran. Ini soalnya luas persegi panjang.
Gue: UDAH AH NGANTUK. (tutup buku, masuk kamar, tidur)

Dan karena itulah, sampe sekarang gue bener-bener bego dalam matematika.
Pokoknya gue paling benci dengan pelajaran yang berhubungan dengan angka dan rumus. Otak gue mendadak jadi tegang nggak karuan. Otak ya yg tegang, bukan anu.

Satu hal yang bisa gue pelajari dari sifat kakak gue. Dia orangnya tegar. Mau apapun yang terjadi, dia tetap bisa menutupinya. Hebat ya.
Januari kemarin, kakak gue putus dengan pacarnya yang sudah berhubungan selama empat tahun. Dan gue sama sekali nggak ngeliat ekspresi sedih atau galau atau depresi pada kakak gue. Hidupnya santai dan slow banget.
Padahal mereka pacaran udah empat tahun. Lah gue yang pacaran baru empat bulan trus putus aja udah mewek seminggu di kamar. Hebat ya.
Kenapa dia bisa sestrong itu? Caranya gimana coba? Apa harus minum kukubima dulu? Atau minum extrajoss? Kok bisa kuat gitu sih. Apa karena gue keseringan minum ale-ale ya? Jadi lemah gitu anaknya.
Satu lagi, kakak gue juga anaknya nggak baperan.
Beda dengan gue yang kalo di suit-suitin kang kernet angkot langsung geer trus malamnya nggak bisa tidur sampe terbawa mimpi.
Parah



Udah ah, ntar aib gue makin lama makin terbongkar di sini.
Doain ya semoga perjalanan gue nanti bisa lancar dan selamat sampai Padang. Biar bisa makan sate kerang bareng cowok ganteng. Enggak gitu, maksud gue biar bisa nemenin kakak di acara wisudanya.



Trus ini nutup postingannya gimana nih? Nggak usah pake pantun ah. Ribet.
Dadaaa                                                                                                          h.



Ini gue masukkin beberapa foto gue dan kakak.


Pipi gue kenapa jadi lebar gitu coba? huhuu


Tinggi kita sama rata. GAK USAH PROTES!



Gue.    Yang ngasahi batu cincinnya -_-
Learn more »

MALING !

Alhamdulillah keputusan yang akan gue ambil di postingan kemarin tidak terwujud dalam waktu dekat. Yaiyalah, masak gue harus menikah di usia yang sekarang ini. Mens juga belum. Masih delapan taon qaqa.

Dan alhamdulillah, di tahun ini gue mulai menyandang status sebagai mahasiswi. Itu berarti satu minggu gue akan full dengan kegiatan. Nggak ada istilah hari Minggu santai, bisa leyeh-leyeh di rumah. Nggak ada istilah bobo siang di hari Sabtu.
Berhubung di hari Sabtu gue kerja setengah hari, biasanya gue selalu menyempatkan diri untuk bobo siang sepulang dari kerja. Hitung-hitung untuk persiapan di malam minggu. Biar nggak ngantuk. Biar bisa tidur agak larut malam. Ya meskipun cuma mantengin hape. Nggak apa-apa.
Dan semua kegiatan indah yang gue harapkan di hari Sabtu dan Minggu itu bakalan hilang dan terisi dengan kegiatan kuliah.
Lah terus kapan gue istirahatnya? Nanti saat tanggal merah.

Sabtu kemarin gue minta izin pulang cepat ke atasan. Yang biasanya pulang jam 1 siang, hari itu gue pulang jam 12 siang. Soalnya jam 1 udah masuk kuliah umum. Informasinya begitu.
Posisi letak kampus bisa dibilang cukup dekat dengan rumah. Kira-kira begini gambarannya.

Kantor----------------------------------------------- Rumah-------Kampus.

Daripada pulang kerja langsung ke kampus, mending gue pulang ke rumah dulu. Toh bakal ngelewatin rumah juga nantinya. Sekalian makan siang juga sih.
Sesampainya di rumah. Dewi Fortuna sedang berpihak ke gue.
Rumah sepi. Kosong. Hanya pintu dapur yang terbuka. Ternyata ibu dan kakak sedang ke pasar. Otomatis, ibu nggak masak. Otomatis lagi, nggak ada yang bisa gue makan. Mantap.

Jam 1 kurang 15 menit, gue langsung otewe ke kampus. Awalnya gue ragu, ini kampus kok sepi. Apa gue yang terlambat? Atau gue salah kampus?
Untung saja, oom datang menghampiri gue.
  '' Loh Lan, masuknya nanti jam 2. Kenapa datang sekarang? ''
Gue menelan ludah. Cengengesan.
  '' Yaudah, Wulan nunggu aja deh om. ''

Kurang teladan apa gue coba?
Kurang teladan ndasmu.


Cukup lama gue menunggu di lantai bawah. Mana perut keroncongan, nggak bawa minum, batuk-batuk. Sampai akhirnya seorang maba datang menghampiri gue. Cewek. Cantik. Baik. Imut. Manis. Unyu.
Hingga pada akhirnya gue tersadar, kalo itu adalah wujud gue yang terpantul dari dinding kaca pintu. Uhuk.

Sekitar jam dua kurang, ada dua orang maba yang masuk. Duduk di samping gue. Kita kenalan, saling menyebutkan nama, menyebutkan alamat, menyebutkan minuman kesukaan, warna favorit, zodiak, cita-cita, hobi dan kesan juga pesan.
Gue terkejut saat mbak-mbak bagian administrasi menyebutkan nama gue. Mempersilahkan gue duduk di hadapannya. Satu hal yang gue takutin. Menatap matanya. Gue takut jatuh cinta.
  '' Ini silahkan tandatangan di sini, '' ujar si mbak-mbak.
Dengan penuh ekspresi gue menandatangani selembar kertas yang disodorkannya. Corat-coret, sret-sret jadilah tanda tangan gue.
  '' LOH KENAPA DI CORET? '' Mbak adm protes. Gue cengengesan.
Sebenernya tanda tangan gue memang rame, penuh, berantakan juga. Di tambah dengan gerakan cepat tangan gue yang terlihat seperti mencoret-coret kolom tandatangan.
  '' Hehee, kan tanda tangan mbak. Ya memang gini tandatangan saya. ''

Padahal dalam hati gue pengen ngomong, '' YA SUKA-SUKA GUE DONG. TANDATANGAN JUGA TANDATANGAN GUE. LEMPAR GOLOK NEH ''

Setelah mengucapkan itu, gue kembali duduk ke tempat semula. Di samping maba yang baru gue kenal tadi.
Gue duduk tenang sambil sesekali mengedarkan pandangan ke muka-muka maba. Saat gue menyandangkan tas ke pundak, oh no. Tali tas gue copot.
Memalukan. Untung saja masih ada tali lainnya.

Tepat jam setengah tiga, para maba naik ke lantai atas. Setengah tiga gaes. Gue datang ke sana jam satu. Satu setengah jam pantat gue panas duduk di kursi. Huh.
Hari itu pembelajaran belum di mulai. Masih perkenalan tentang bagaimana dunia perkuliahan, sistemnya blablablaa dan berakhir pada jam empat.


***


Hari Minggu ini mbak Yoan, sepupu yang sudah dua minggu tinggal di rumah gue akhirnya memutuskan untuk pindah ke kosan. Itu artinya gue harus menemani mba tidur di kosannya.
Setelah beres-beres hingga jam 2 siang, kami memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu. Dengan kondisi seperti ini, gue merasa jiwa memasak gue lebih ditantang. Siapa takut. 
Gue akhirnya langsung memutuskan untuk memasak nasi. Ya memang cuma bisa masak nasi sih.
Saat gue sedang memasak nasi dengan khidmat, mbak Yoan terdengar menjerit dari dalam kamar mandi.
   '' HUAAA ADA KODOK!.. HAAAAA ''

Mbak Yoan ngacir ke luar dari kamar mandi.
Melihat hal itu, gue dengan gagah berani langsung mencari tongkat kayu yang panjang dan bergegas masuk ke kamar mandi.
   '' Mana kodokya mbak? '' Di situasi seperti ini gue jadi merasa macho. Gagah abis.
   '' Itu Lan, di balik pintu. ''
Benar saja. Ada seekor kodok dengan perut yang gede sedang berdiam diri di balik pintu kamar mandi. Gue langsung saja menyodok-nyodok kodok tersebut dengan mengarahkan arah lompatannya menuju pintu keluar belakang. 
Dengan penuh perjuangan hingga titik darah penghabisan, akhirnya kodok tersebut berhasil ke luar dari rumah.
Gimana? Gue udah cocok belum bikin acara di tipi. Pengganti acara Petualangan Panji.
Jangan heran kalo suatu saat nanti ada acara, '' Wulan Si Penakluk Kodok '' dalam tayangan tipi kalian semua. 
Keren abis. 


Sore harinya, gue dan mbak keluar untuk membeli jeruk. Berhubung si penjual jeruk adalah orang Padang, mbak Yoan yang memang berasal dari Padang dengan fasih bercakap-cakap dengan menggunakan bahasa Padang.
Gue cuma melongo.
Saat si penjual menunjuk bagian tumpukan jeruk yang bentuknya kecil, gue langsung ngomong dengan pedenya.

  '' KETEK BANA. ''

Si penjual langsung menoleh ke gue. Mbak Yoan juga. Beberapa pembeli juga menoleh ke gue.
Ketek dalam bahasa Padang artinya berukuran kecil.
Jadi maksud gue, itu jeruk yang di tawari si penjual terlalu kecil. Gue nggak suka yang kecil-kecil. Maksud gue, kalo jeruknya kecil otomatis bijinya kecil. Gue nggak suka biji yang kecil. Maunya yg gede kayak biji salak.
Kalo jeruk yang gede, pasti bijiinya juga gede kan. Jadi nggak khawatir kalo keselek saat memakannya.
Gitu.

Selama di perjalanan pulang, gue masih nggak tau kenapa tadi orang-orang pada ngeliatin gue saat gue dengan sok berbicara dengan bahasa Padang.
Apa karena ucapan gue yang salah? Karena intonasi gue yang nyaring? Atau karena gue ketahuan nyicipin 2 jeruk tadi?
Entahlah.

Selang beberapa menit, akhirnya kita sampai di kosan.
Sebenernya ini bukan kosan kalau melihat bentuk tempat tinggal yang di tinggali oleh Mbak.
Kosan ini cukup luas. Ada ruang tamu, ruang tengah, kamar tidur dua, kamar mandi dan dapur yang cukup gede. Iya dapurnya beneran gede. Nggak tau kenapa.
Kayak kontrakan. Cocoknya sih ditempati untuk orang yang sudah berkeluarga.
  Kalo aku dan kamu, kapan bikin keluarga?

Satu hal yang sempat bikin gue kesal. Pintu  kosannya berat banget. Sempat terlintas di fikiran gue saat hendak menutup pintu kosan, Ini pintu atau beban kehidupan? Berat amat.
Itu masih pintu kosan. Beda masalah dengan pintu kamar. Betewe kita tidurnya di satu kamar. Masih takut meskipun ada dua kamar di kosan ini.

Masalah yang mucul kembali di malam itu adalah,
Pintu kamarnya nggak bisa di kunci dari dalam. Bagus. Kalo ada orang asing yang masuk ke kamar gimana?
Kan serem.
Gue dan Mbak Yoan sama-sama panik. Saling berpandangan.
  '' Duh, gimana dong mbak? ''
  '' Iya Lan,Mbak bingung juga nih. Nguncinya susah kali. ''
Hampir 10 menitan, gue dan mbak sibuk mendorong-dorong pintu, buka-tutup, colokkin kunci, puter sana-sini tapi tetep nggak bisa.
Saat itu yang ada di pikiran gue cuma, menurunkan anu. Maksud gue, menurunkan posisi lubang yang ada di kusen pintu. Gue udah nyoba nurunkan pake tangan. Dengan cara memukul-mukul tangan gue ke besi di lubang itu. Yang ada tangan gue malah sakit.
  '' Mbak, ada palu nggak? '' tanya gue.
Mbak Yoan menggeleng. Gue melihat ke sekeliling. Ada obat nyamuk semprot. Kayaknya kuat nih untuk di pukul-pukul ke lubang besi di kusen pintu.
Baru dua kali pukulan, gue berhenti.
Suara pukulannya terlalu kuat. Takut menganggu tetangga sebelah. Lagian sudah malam juga.
  '' Aduh, gimana ya Lan. Masak kita tidur dengan pintu kamar yang nggak di kunci. Takut. '' Mbak Yoan tetep terlihat bingung.
Gue diem beberapa detik sebelum akhirnya mengambil kunci motor. Membuka jok motor. Mengambil obeng yang ada di sana.
Mengotak-atik lubang pintu. Menekan lubang pintu dengan kuat.

  '' Bisa Lan? ''

Gue diem.

  '' Gimana Lan? Payah nggak? ''

Gue diem. Sibuk konsentrasi demi menyelamatkan tidur kami malam itu.

Selang beberapa lama.
  '' Coba dulu mbak. '' Gue mengambil kunci dari tangan Mbak Yoan.
Dan UHLALAA
Alhamdulillah ya. Pintunya bisa di kunci.


Gue baru menyadari suatu hal. Kayaknya mulai besok gue bakal membuka jasa yang bernama,
 ' Jasa Perbaikan Pintu '.
Bisa memperbaiki :
- Pintu kamar tidur
- Pintu kamar mandi
- Pintu kulkas
- Pintu lemari
- Pintu brankas
- Pintu hati
- Dan pintu surga bagi anak-anak kita kelak.
Ailofyu.



Jam setengah sembilan, akhirnya kita memutuskan untuk tidur dengan penerangan redup dari lampu tidur hello kitty yang dipasang oleh Mbak Yoan.
Serem tau. Malam-malam. Lampu kamar dimatikan dan diganti dengan cahaya lampu redup dari lampu tidur hello kitty.
Hello kitty mana yang bisa mengeluarkan cahaya? Cahaya putih lagi. Serem.
Lebih terlihat seperti  Hello Kitty yang kena kutukan penyihir jahat.
Terkadang ngerasa serem dan kampungan itu memang beda tipis.

Lagi enak-enak hendak memejamkan mata, gue terkejut saat mendengar teriakan dari luar.
  '' MALIING.. MALING ! ''

Gue dan mbak sontak bangun lalu terduduk di atas kasur. Saling bertatapan panik.
Tidak sampai dalam hitungan menit, di luar sudah terdengar ribut. Suara ibu-ibu yang membicarakan maling,, anak-anak kecil, suara rumpi ibu-ibu yang super nyaring, suara obrolan bapak-bapak dan anak remaja lainnya yang masih membicarakan seputar kejadian maling barusan, semuanya terdengar ricuh sekali, bahkan gue sampai mendengar suara percakapan,
  '' Bapak kamu maling ya? ''
  '' Kok tau? ''
  '' Karena kamu telah memaling hatiku. ''

Ternyata itu suara abang-abang tetangga sebelah yang lagi mojok pacaran dengan kekasihnya.

Dan gue baru tau, ternyata begini amat yak jadi anak kosan. Serba parno.
Kangeeen rumah.

Learn more »

Nostalgila

Dulu sewaktu kecil gue bandelnya nau'udjubillah. Minta digaplok banget. Untung ibu baik, masih mengangap gue sebagai anaknya.
Sewaktu SD dulu gue punya geng gitu. Hanjir, anak esde udah punya geng segala. Gengnya terdiri dari tiga cewek alay sok gaoel. Gue, Nila dan Asti.

Dulu sewaktu esde gue tinggal di perumahan komplek RAPP gitu. Rumah gue nomer tiga, rumah nila nomer lima dan rumah Asti nomer enam. Cocok deh. Satu geng, rumah deketan.
Kami bertiga kemana-mana pasti barengan. Mandi bareng, tidur siang bareng, makan bareng. Kadan makan malam juga bareng.
Kalo hari ini jadwal makan di rumah Asti, selesai magriban gue langsung keluar bawa piring isi nasi dan gelas air minum ditangan. Kayak orang kesenengan yang baru dapat sumbangan makan.
Asti ini orang jawa banget. Hitam manis. Anehnya, Asti nggak pernah mau makan sayuran atau ikan. Bahkan gue dan Nila udah terbiasa saat ngeliat Asti makan hanya dengan kerupuk dan kecap. Padahal ibunya masak yang enak-enak di rumah. Alhasil, siapa lagi yang makan makanan hasil masakan ibunya Asti kalo nggak gue. Mantap.

Kebiasaan gila kita saat bulan ramadhan adalah ritual makan mie. Sebelum adzan isya, sahutan panggilan nama gue pasti udah kedengaran dari luar. Dan itu pertanda bagi gue untuk ngambil mukenah dan buru-buru ngambil duit gopek. Untuk apalagi kalo bukan untuk beli mie.
Gue, Nila dan Asti jalan dengan gagahnya menuju warung. Beli mie goreng. Waktu itu harga mie masih seribulimaratusrupiah. Jadi tiap orang harus punya duit gopek untuk bisa mendapatkan satu bungkus indomie.
Selesai isya, seperti biasa akan ada sedikit ceramah dari sang ustadz sebelum masuk ke sholat tarawih.
Dulu saat masih esde, gue masih diberikan tugas dari pihak sekolah di bulan ramadhan. Iya, bener. Mencatat ceramah di buku agenda ramadhan. Selesai isya, kami bertiga ngumpul di shaf paling belakang. Mendengar satu judul yang akan diucapkan sang ustadz di mikrofon mesjid.
  '' Jadi, judul ceramah kita malam ini adalah, Kemuliaan Bulan Ramadhan. ''
Kita bertiga langsung menulis judul dengan sigapnya di buku agenda ramadhan. Bodo amat dengerin ceramahnya, ntar masih bisa ngarang sendiri kok atau bisa juga nyontek punya temen lain/
 Yang penting udah tau judulnya. Beres.
 Usai menulis judul,  kita bertiga melesat menuju kamar mandi mesjid.

Ritual pun dimulai.
Tutup pintu kamar mandi.
Nyalain keran air, biar dikira beneran ada yang orang yang ngambil wudhu di dalamnya.
Asti ngeluarin sebungkus mie.
Nila ngeluarin gunting.

Dan gue yang mengaduk dan mencampurkan semua bumbu mie ke dalam mie mentah tersebut. Dan jadilah kokokrunch. Di sini udah keliatan banget ya, jiwa dan aura masak memasak gue keluar. Mie hasil campuran tangan gue bener-bener lezatos.

Berasa jadi Farah Quin.


Enak gaes. Semua aroma bercampur menjadi satu. Aroma wc, aroma bak kamar mandi, aroma nafas Asti yang masih beraroma es cendol ketan duren. Pokoknya kesemua aroma itu jika digabungkan akan membentuk suatu reaksi kimia.

Reaksi kenyang.

Kita bertiga dengan lahapnya memakan sebungkus mie itu dengan keganasan. Heran deh. Padahal baru selesai buka puasa juga, kok masih laper aja ya. Pengaruh aroma wc mungkin.

Prinsip kami bertiga adalah, '' Pantang keluar, sebelum habis.''
Dan kami bertiga sebagai murid teladan, cerdas dan berwawasan luas selalu menerapkan prinsip itu di kehidupan.
  '' Baiklah, para jamaah sekalian. Ceramah malam ini cukup sampai disini. Semuanya telah berakhir. Buat apa dipertahankan jika hanya membuat luka hati. CUKUP SAMPAI DI SINI! ''

Antara ngingat sinetron tadi siang dengan denger ceramah yang sayup-sayup dari kamar mandi mesjid.
  '' Wassalamualaikum. '' Akhirnya suara ceramah sudah tidak kedengaran lagi. Dan itu  seolah menjadi bel pertanda masuk ke dalam mesjid bagi kami bertiga, si calon penghuni neraka. Udah nggak dengerin ustadz ceramah, malah makan mie di kamar mandi, nyalain air keran sampe selesai makan mie, buang-buang air. Dasar. Cewek-cewek cakep.

Karena tadi nggak sempat mendengar dan mencatat ceramah di buku agenda ramadhan, akhirnya kami bertiga harus meminjam dan  menyalin buku catatan temen. Biasanya yang jadi langganan kami adalah buku milik Novi. Novi ini anaknya kalem banget. Penurut. Cantik. Calon istri sholehah gitu.
Dan karena kesibukkan mencatat hasil ceramah, kita bertiga nggak sempat melakukan sholat tarawih.
Keren. Nambah satu dosa. Di mesjid. Di bulan ramadhan.
Sebenernya, di rakaat sholat keempat dan kelima kami sudah bisa ikut melakukan tarawih. Soalnya catatan yang dicontek cuma sedikit. Buku agenda ramadhannya juga kecil. Jadi enak kalo mau nulis. Tapi nggak juga sih. Kadang karena males nulis, gue sengaja nulis huruf dengan ukuran besar. Baru nulis sebaris, eh udah gue sambung dibaris berikutnya. Sebenernya bukan karena males nulis sih, tapi karena banyak banget godaan syaiton yang ada di sekeliling gue. Ada yang ngajak ngerumpi, ada yang ngajak berburu takjil sisa di depan. Gue yang kuat iman dan tahan godaan, YA ENGGAK MUNGKIN NOLAKLAH.

Kebiasaan kita sebelum pulang tarawihan dan keluar dari mesjid adalah menendang-nendang sendal para jamaah yang sholat. Nggak tau deh, mau itu sendal Pak erte, Bu lurah, Pak ustadz, gebetan pak erte, mantan pak erte, cowok kece, ibu-ibu,
POKOKNYA TENDANG.
 TENDANG SAJA.
BEBAAASSS.
Gue dengan gaya ala ronaldowati, heboh nendang sendal kesana sini. Pokoknya sampe puas dan sendal itu masuk ke parit atau ke tempat sampah, baru deh kami seneng. Ketawa cekikikan.
Kadang juga ada yang ngumpetin sendal ke dalam tanaman pagar yang tumbuh mengelilingi mesjid.
Malam. Gelap. Banyak nyamuk. Tanaman pagarnya tinggi. Rimbun. Daunnya lebat.
Sungguh malang sekali nasib si pemilik sendal itu saat mengetahui sendalnya ada di dalam tanaman pagar. Pukpuk.

Setelah capek, akhirnya kita memutuskan pulang kerumah masing-masing.
Pernah suatu kali, gue pulang lama karena menunggu kakak gue yang masih ngerumpi dengan temannya di halaman mesjid. Sementara, teman se-genk. Hasek bahasanya. Nila dan Asti sudah lebih dulu pulang. Dan gue bener-bener nggak tega pas ngeliat pak ustadz sekaligus guru ngaji gue celingukan kesana sini nyari sendalnya yang hilang. Astaga. Berarti ada sendal pak ustadz yang ikut kami tendang tadi.
Bagus. Dosa gue, nambah. Lagi.

Yang anehnya, beberapa bulan kemudian istri pak ustadz melahirkan seorang anak perempuan. Dan nggak tau kenapa, pak ustadz menamai anaknya dengan nama 'Wulan'.
Gue pengen teriak,
ITU NAMAA GUEEEH !!
Tapi nggak jadi. Gue tau, pasti ada alasan kenapa pak ustadz menamai anaknya dengan nama yang sama seperti nama gue. Mungkin supaya nanti anaknya tumbuh besar dengan cantik dengan memiliki perilaku baik kayak gue.
perigut~

***

Bukan hanya di bulan ramadhan. Di hari hari lain gue juga tetep bandel. Waktu esde, gue paling seneng kalo sholat zuhur di mesjid. Selesai sholat zuhur, kami bertiga pasti dikasih jajan sama orangtua. Biasanya kami memilih untuk beli es. Siang-siang, pulang zuhur makan es. Mantap.
Jangan kira, karena dikasih duit untuk beli es, sholat zuhur gue jadi khusyuk. Enggak. Gue, Nila dan Asti tetep bandel.
Gue saat itu sedang sholat di shaf paling depan bagian shaf makmum wanita. Otomatis, didepan gue ada tirai sebagai pembatas shaf antara wanita dan laki-laki.
Pas gue sujud di rakaat pertama, JLEDUK.
Jidat gue sakit. Ada sebuah kaki yang nongol di balik tirai pemabatas itu. Kaki anak kecil. Kelihatannya anak kecil itu sedang dalam posisi telungkup.


Dengan menahan sakit perih di jidat, gue langsung mendekati kaki anak tersebut.
HIYAAAT .. Rasakan ini, jurus rasengan !

Ciyut.
Tangan gue sukses mencubit paha belakang anak kecil tersebut. Anak tersebut nangis heboh. Rasain lu.
Seusai zuhur, gue yang sedang berjalan lenggang keluar bersama Nila dan Asti mendengar suara anak kecil dari belakang. Gue menoleh.
  '' Itu tuh, kakak itu tuh. '' Anak kecil itu menarik tangan bapaknya dan menunjuk-nunjuk gue.
Mampus gue.

***

Suatu hari, genk A dan genk B berantem hebat. Ada yang bawa parang, golok, bambu runcing, mata rantai de el el. Gue dengan pedenya keluar dengan membawa sebuah gir ditangan. Gir minjam punya Darma.
Berasa keren gitu.
Karena genk A dan genk B terdiri dari anak anak cewek esde, maka itu semua nggak akan terjadi. Berantem antar genk itu hanya dilakukan dengan adu mulut, saling ejek, saling bikin yel-yel.
Yang gue inget yel-yel genk gue kayak gini nih,

  Mana orangnya, tuh, tuh, tuh   (nunjuk genk musuh)
  Kasi pantatnya, nih,nih,nih       ( Mamerin pantat)
  Ejek orangnya, wek,wek,wek  (Julurin lidah)

Nggak tau kenapa, pas di lirik akhir suara gue lebih kedengeran mirip orang lagi ngeden karena susah boker. Miris.
Setelah yel-yel genk gue selesai, kini giliran genk B yang akan mempertunjukkan yel-yelnya. Kurang lebih kayak di acara tim kuis gitu. Tinggal nyari juri aja lagi untuk nentuin siapa pemenang yel-yel terbaik.
Berantem antar genk nggak sampe di situ aja. Seusai magriban di mesjid, gue, Nila dan Asti pulang dengan melewati rumah milik musuh dari genk B. Kita sebut saja namanya Sintia. Memang Sintia sih.
Entah karena sebab apa, kami bertiga berbuat baik malam itu. Jarang banget ada anak-anak yang mengutip sampah plastik, dedaunan di malam hari seperti ini. Memang, genk gue adalah genk anak baik.
Dan entah ide gila darimana, akhirnya kami memutuskan untuk mengumpulkan sampah-sampah itu menjadi satu di tempat yang layak. Iya, di teras rumah Sintia.
Mampus lu. Rasain. Udah yel-yelnya jelek lagi. Cemen ih.

Sebelum melangkah jauh, gue sempat mengambil batu dan melemparkannya ke rumah Sintia.
PRAAANGG.

Suara kaca pecah.
Mati gue.

Setengah jam kemudian, gue yang lagi duduk anteng sambil nonton tv dengan senyuman puas karena telah sukses melakukan misi terlaknat tersebut dikejutkan dengan suara cempreng Asti.
  '' Kenapa Ti? ''
  '' Itu, ayah Sintia datang ke rumah Asti. Marah-marah. Gimana dong?  Huwaaaa ''

Asti mewek ketakutan. Gue yang saat itu melihat Asti mewek, cuma bisa berpura-pura steikul. Dalem hati ngomong,
  '' Gue yang mecahin kacanya aja, nggak sampe mewek ketakutan itu. Ta-tapi... HUWAAAAAAA ''
Gue ikutan mewek.
Malam itu, kami bertiga nangis saat  dinasehati oleh bapak Sintia.

'' Ampun, janji nggak ngulangi lagi Om. Kami janji. Lagian siapa suruh yel-yel genk Sintia jelek gitu. Huh ''




Learn more »

Adam

Gue punya adik cowok yang kampretnya nau'ujibillah.
Anak cowok satu-satunya sekaligus anak bungsu dirumah yang tingkahnya bisa bikin asam urat gue naik.

Muhammad Adam Rizqi.
Panggilannya Adam.
Adam yang memiliki 3 Hawa di rumah. (Gue, kakak dan adik cewek)
Dari sini gue bisa paham kenapa laki-laki diperbolehkan memiliki banyak istri atau poligami. Lah, ini adek gue contohnya.
Kalo kata orang-orang, gue mirip banget dengan Adam. Denger-denger sih kalo mirip gitu tandanya jodoh.

Saat ini dia duduk dikelas 4 SD di sekolah baru dan masih menyesuaikan diri pada habitatnya. Ibu memutuskan untuk memindahkan Adam sekolah karena ia sering bermasalah di sekolah lamanya.
Dia bahkan pernah memasukkan cicak mati ke dalam bekal makan siang teman perempuannya. Dan karena itu ibu bolak-balik dipanggil ke sekolah.
Good job~

Meskipun begitu, gue tau kalo Adam memiliki bakat terpendam yang memang sudah lama terlihat dari kegiatannya sehari-hari.
Adam berbakat mesum.

Heran gue, kenapa punya adek cowok kok begini amat yak mesumnya. Kadang kalo gue selesai mandi, handukan trus buru-buru masuk kamar. Eh bukan sulap, bukan sihir Adam udah duduk anteng di kamar gue. Untuk apa dia masuk kamar gue kalo bukan mau 'ngeliat-ngeliat' gue.
Parah memang.

Dulu sewaktu masih rata, gue sering banget mandi bareng sama Adam. Ya walaupun punya kita beda, toh dia adik gue. Gak papa kali kalo cuma untuk mandi bareng.
Sewaktu duduk di SMP gue sering banget mandi bareng sama Adam. Kadang dia yang keramasin rambut gue, kadang juga gue yang keramasin rambut dia. Tapi gue selalu gagal di bidang peng-keramasan. Adam sering sesak nafas sewaktu gue keramasin. Katanya air yang gue siram ke kepalanya kebanyakan. Gue ngerasa jadi kayak ibu tiri yang menyiksa anaknya di kamar mandi.
Selesai mandi kita juga pake baju bareng, sisir rambut bareng terus duduk anteng di depan tivi.
Tapi semua berubah saat suatu hari gue mandi bareng sama Adam.
Pas lagi asyik-asyik mandi berdua dengan khidmat yang diiringi lagu Indonesia Raya, gue tiba-tiba terkejut.
  '' Wam ''
Fyi: Di rumah gue dipanggil Uwam sama adik. Pengennya dipanggil Raisa, tapi gak ada yang setuju.
  '' Iya..''
  '' Ambil sabun. ''
  '' Ambil sendiri beb.''
  '' Gak sampe Adam. ''
Posisi sabun saat itu memang cukup tinggi. Gue aja ngambilnya harus pake galah.
Gue diem aja sambil keramasih rambut. Karena gue kelamaan ngambil sabun untuknya, akhirnya Adam nekat ngambil sendiri. Dia manjat, lompat-lompat kecil dan..
PLAK !

Sentuhan panas mendarat di dada. Dada gue.
Ya Allah, sakitnya.
  '' Hehee.. ''
Adam cengengesan. Gue cuma melotot nahan sakit kearahnya.
  '' Jangan pegang-pegang, sakit. ''
  '' Hehee.. ''
Belum ada jeda beberapa detik dari 'hehee' yang keluar dari mulut Adam, langsung saja dia mendaratkan tepukan kedua.
  ''Aduh, jangan pegang-pegang dong. ''
  '' Kan Adam cuma pelan aja, '' Adam mengangkat tangannya lagi dan bersiap untuk melanjutkan aksi ketiganya.
  '' GAK USAH PEGANG-PEGANG! UDAH,UDAH KELUAR. GAK USAH MANDI BARENG LAGI KITA. UWAM GAK SUKA! ''

Gue mendorong adek keluar dari kamar mandi.
Dan mulai hari itu, kisah indah dalam kamar mandi kami berdua berakhir.

Adek gue juga aneh. Dia paling anti dicium. Dicium sama siapapun. Dan karena itu dia lebih berhati-hati kalo mengaji dengan gue. Salah dikit, langsung CUP.
Hahaaa
Karena susahnya untuk dicium, akhirnya gue berniat untuk menciumnya saat Adam sedang tidur siang. Seperti biasa, kita tidur bareng dikamar gue. Kira-kira 15 menitan setelah Adam cukup terlihat pulas, gue mendekat kearahnya.
Kapan lagi coba nyium Adam, adek sendiri?
Gue mendekat kearahnya, lebih dekaaaat dan

PLOK.

Hidung mancung Raisa kena tampol.
  '' Gak usah cium-cium Adam. ''


Kayak beberapa hari yang lalu. Enggak tau kenapa Adam meminta gue untuk sholat magrib bareng. Karena umurnya yang masih kecil, akhirnya kita sholat samping-sampingan. Setiap gerakan gue diikutinnya.
Gue rukuk, dia rukuk.
Gue sujud, dia sujud.
Gue naik ke rakaat kedua.
Eh dia udah di salam terakhir, lipat sajadah dan cus kabur.
Itu sholat atau pedekate anak jaman sekarang? Singkat amat.

Sampai suatu hari gue menemukan softex bersih yang udah terbuka dari plastiknya yang berceceran di teras rumah. Gue juga gak mau di cap orang sombong dengan pamer softex yang banyak oleh tetangga.

Keesokan harinya, gue gak sengaja ngintip Adam di kamar. Dari balik pintu gue ngeliat dia sibuk membuka softex dan memasangkannya ke celananya.
Hastagah !
  '' Dam, ngapain sih itu? Koe itu laki-laki. Ngapain pake softex segala. Mau jadi perempuan? '' Omel gue kesal.
Adam cuma diem sambil cengengesan.
Entahlah, mungkin ini dikarenakan faktor lingkungan keluarga yang lebih dominan perempuan daripada laki-laki.

Yang bikin gue seneng adalah saat nelfon Adam di depan temen-temen yang jomblo. Hahaa
Gue kalo di rumah, gak pernah sama sekali memanggil Adam dengan sebutan namanya atau manggil adik dan sebagainya.
Pernah suatu hari gue dan temen-temen lagi ngumpul. Tiba-tiba aja hp gue berbunyi. Dan langsung aja gue mengangkat telfonnya.
  '' Iya cintaku.. blablaa ''
Temen-temen gue hening

  '' Udah mandi beb? Iya iya, bentar lagi Uwam pulang ya ''
Temen-temen gue yang jomblo gigit jari. Jari onta.

  '' Iya beb, nanti ya ''
Temen-temen gue jomblo nahan airmata.

  '' Iya cintaku, ailopyu ''
Temen-temen saling pandang.

Selesai mengakhiri pembicaraan, gue diserbu pertanyaan yang intinya adalah, '' Itu tadi cowok lo ya Lan? ''
Dengan enteng gue menjawab.
  '' Enggak, itu Adam. Adek gue ''
Hahhaaa.
Yakali gue mau mesra-mesraan alay gitu nelfon pacar di depan umum. Kasian yang jomblo, ilernya tumpeh-tumpeh.
Entah bermula darimana dan enggak tau kenapa, gue udah terbiasa manggil Adam dengan sebutan '' cintaku atau Beb''.
Gak terhitung juga udah berapa kali gue ngucap kalimat I love you ke Adam di rumah.
Ya meskipun dia baik ke gue cuma di tanggal tertentu doang. Cuma di tanggal 5. Iya tanggal gue gajian. Kampret memang.
Adek gue matre. Dia juga inget kalo setiap tanggal 5 gue gajian.
Kayak tadi malam. Gue lagi asyik ngacaan di kamar.
  '' Wam? ''
  '' Iya cintaku ''
  '' 5 hari lagi? ''
  '' Kenapa? 5 hari lagi apanya? ''
Gue bingung dong. Lima hari lagi abang Zayn ngelamar gue atau apa nih.

  '' Iya, 5 hari lagi kan Wam? ''
  '' Opo ne? ''
  '' Kak Uwam gajian kan 5 hari lagi, kan? ''

Gue pengen mutilasi diri sendiri aja rasanya. Kenapa dia bisa seingat itu mengingat tanggal gajian gue? Kenapa dia gak mengingat makanan kesukaan gue aja? atau warna kesukaan gue? Huh.
Berhubung hanya di tanggal 5 Adam baik minta ampun ke gue, itu berarti hanya di tanggal 5 itulah gue bisa merasakan kasih sayang dari seorang adik ke kakak.
Terlepas dari tanggal 5, gue sedih. Adam udah gak baik kayak kemarin lagi ke gue.
Ibaratnya tuh pas lagi sayang-sayangan, eh malah ditinggal. Dicampakkan gitu aja. Sedih tau.

Gue juga masih ingat dengan kejadian beberapa yang lalu. Lipstick kesayangan gue harus patah hancur berkeping-keping setelah Adam nyoba buka lipsticknya dan kemudian menutup lipstick tanpa diturunkan terlebih dulu.
Padahal itu lipsticknya gue sayang-sayang banget.
67 ribu melayang gitu aja.
67 ribu , bisa beli nasi padang 4 bungkus, pake kerupuk 6 biji, ditambah seribu bayar parkir.
Susah nyari duit 67 ribu. Gue mesti jual diri dulu kali.
Huh !

1 hal yang perlu dihindari kalo ketemu dengan Adam.
Hindari memakai legging.
Tau kan legging itu apa? Celana berbahan karet yang lentur/elastis. Kalo dipakai, otomatis semua lekukan kaki kelihatan.
Gue, kakak, ibu, adek cewek bahkan temen-temen gue yang lainnya yang-pernah-pake-legging ke rumah gue udah jadi korbannya. Adam suka geram sendiri saat ngeliat orang-orang yang memakai legging.
Gue pernah berdiri di depan kaca. Dandan dulu pas mau kondangan. Berhubung kondangan kali itu gue disuruh ibu make gamis, yaudin mau gak mau gue harus mengenaka legging terlebih dahulu.
Lagi asyik-asyik ngacaa, tiba-tiba Adam datang dan langsung menyambar gue.
  '' TOWET '' Adam berteriak keras bersamaan dengan tangannya yang mencubit pantat gue.
  '' Haduuh jangan ganggu. Jangan kegatelan. ''
  '' TOWET-TOWET ''

Bangkeh, dia makin menjadi-jadi nyubit pantat gue. Kali ini 2 cubitan sesuai dengan suara TOWET yang terlontar dari mulutnya.
Seandainya gue tau bakalan menderita dengan punya adek cowok mesum seperti ini, mungkin dulu pas baru lahir gue bakal titipin dia ke panti asuhan.

Disaat anak-anak kecil lain lagi asyik main dengan lucu-lucunya, kenapa adek gue asyik dengan kemesumannya?

Huhuu






Learn more »

Tragedi 12 ribu

 Nova, adek gue yang baiknya super sekali sampe pengen gue jadiin gantungan kunci saking baiknya. Kemarin Nova maksa-maksa sampe nyeret kaki gue untuk keluar kamar dan nemenin dia nyari buku tulis ke Pustaka 2000, sebuah toko buku yang ada ditempat gue tinggal.
Kalo udah masuk kamar, enggak tau kenapa rasanya gue maleeesss banget untuk ngelakuin kegiatan lain selain nulis binder dengan tulisan-tulisan alay, main hape,nyanyi dengan suara gue yg pas-passan dan meluruskan kaki ke dinding. Bener. Coba deh luruskan kaki ke dinding, enak banget rasanya.

Setelah melihat wajah memelas iba yang emang udah bawaan lahir dari adek gue, gue pun langsung ganti baju dan cus pergi nemenin dia.
  '' mau beli buku apa Va? '' ujar gue sambil tetep ngendarain motor dengan muka males-malesan.
  '' beli buku tulis, sama pena 2. Buku tulisnya yang besar, yang ada gambar-gambarnya disampul luarnya. Isinya juga harus ada gambar-gambarnya. Biar cantik gitu, ''
Disimpang ada tiang listrik gede.
Rasanya gue pengen menabrakkan motor ini secepatnya.Gak tahan denger permintaan aneh dari Nova.

  '' Bawa uang gak Va? '' tanya gue lagi.
  '' Bawa, ini tiga ribu. ''
TIGA RIBU GAEESS! DAPAT APA?
Bayar parkir udah seribu, beli teh gelas satu harganya seribu, cuma sisa seribu. Buat apa ha? Buat apaa??
  '' Ha? Kok cuma segitu sih? ''
  '' tadi lupa minta duit ke ibu, ibu tadi pergi. '' jawabnya.
Oh Tuhan, seandainya jalanan dilampu merah didepan kosong, mungkin gue udah salto depan-belakang.
Untung aja didalam jok motor ada duit. Kayaknya sih.

Sesampainya di Pustaka 2000 kita berdua turun.
Bersamaan dengan langkah kaki gue yang menginjak masuk lantai Pustaka 2000, seorang mbak-mbak cakep senyum ke arah gue. Udah cakep, ramah senyum lagi. Kalo gue cowok, udah gua bawa ke KUA tu mbak-mbak.
Dalam sekedip mata, Nova udah ngilang dari peradaban. Eeh maksud gue dari pandangan mata gue. Dia langsung ngacir ke arah buku-buku.
  '' iih yang ini cantik ya ''
  '' ini doraemon, lucu kan kak ''
  '' Sampulnya timbul gitu, keren ya, ''
  '' eeh ini cantik banget, lucuuu ''
Gue cuma diem dengan melipatkan tangan kedada sambil mandang nyengir ke adek gue. Pengen cepat-cepat pulang gue.

  '' bukunya itu? udah? pena nya cari sana '' gue tetep berdiri santai sambil ngecekkin hape, kali aja ada sms masuk dari pacar. Ternyata enggak. Yaudah.
Pas Nova lagi asyik-asyik milihin pena yang padahal semua isi sama-sama tinta, kagak bakalan ada pena yang isinya minyak solar, gue memandang sekeliling gue. Gak ada cowok cakep soalnya, coba ada cowok cakep, mungkin kita udah saling pandang-pandangan.
Gue noleh ke kiri, seorang mbak-mbak karyawan yang kerja disitu memperhatikan gue. Kayaknya udah dari tadi sih, cuma guenya aja yang baru sadar.
Gue nyengir sambil menatap balik mbak-mbak itu. Gak ada kerjaan banget sih mbak-mbak ini, kebelakang kek, nyuci piring atau apa kek gitu.
Kemudian gue membuang muka.
Selang beberapa lama, gak sengaja pandangan gue mengarah ke mbak-mbak sinis tadi. Beda dengan mbak-mbak si ramah senyum yg berdiri didepan pintu masuk tadi.
Si mbak sinis itu ngeliatin gue lagi dari atas sampe bawah, seolah-olah ngomong,
Oh jadi perempuan ini yang udah merebut suami gue!
Gue natapin dia balik dengan tatapan nantang. Seolah-olah ngomong.
Iya, memang gue yang ngerebut suami lo. Mau apa lo hah?

Adegan tatapan itu berlangsung kira-kira setengah menitan. Entah dengan visi dan misi apa mbak-mbak itu menatap gue dengan tatapan sinis.
Apa karena pakaian gue?
Gue ngeliat pakaian yang gue kenakan ketika itu. Jilbab cokelat, tanktop hitam yang dibaluti dengan jaket pendek seukuran pinggang, serta celana jeans hitam. Ditambah tas samping cokelat ala-ala tukang kredit yang lagi frustasi ngejar client nya. Dan yang terakhir sendal jepit cokelat kesayangan gue dengan tulisan ''woles'' di atasnya.
Apa karena penampilan gue yang absurd itu kali ya sampe si mbak-mbak negliatin gue. Pengen banget gue ngelepas sendal cokelat ini trus gue sodorin ke mbak-mbak nya sambil teriak,
  '' NIH BACA MBAK, WOLES DONG WOLES. MATA NYA WOLES AJA! ''
Abis itu gue diseret keluar sama security.

Selesai membayar dan menjauh dari mbak-mbak sinis itu, gue langsung ngacir keluar.
  '' Kita kesana dulu yuk '' gue ngajak Nova ke supermarket yang gak jauh dari Pustaka 2000 itu.
Sesampainya disupermarket, kita berdua langsung naik ke lantai atas. Jalan ke bagian aksesoris, dan disana gue ngeliat banyaaaakk banget barang-barang lucu. Cewek bangetlah pokoknya.
Setelah ngeliat sana-sini, akhirnya gue memilih jedai rambut untuk dibawa pulang. Iya, cuma jedai.
Gue pecinta jedai rambut. Sangat cinta.
Hampir seminggu sekali gue beli jedai, soalnya sering patah mulu kalo gue pake. Entah ada apa dengan rambut gue ini. Tapi gue semangat dan gak pernah berhenti untuk beli jedai, ya meskipun sering patah sih.
Kayak cinta, walaupun udah banyak cinta yang patah, kita harus tetep semangat dan jangan pernah  berhenti untuk mencari cinta yang baru.
Gue dan Nova langsung turun ke lantai dasar. Muter-muter lagi, beli ini-itu dan akhirnya sampailah kami ke meja kasir.
Saat mbak kasir sedang menghitung harga barang yang kami beli, mata gue tiba-tiba ngeliat sebuah maskara didalam kotak kaca.
  '' Mbak, itu maskara nya satu ya ''
Spontan aja gue langsung ngomong gitu. Dengan penuh sukacita, si mbak kasir ikut menggabungkan maskara kedalam plastik belanjaan setelah menjumlahkan harganya.
  '' Total semuanya 143 ribu mbak ''
Gue merogoh anu gue, saku celana maksudnya, saku celana. Dengan bermodal duit yang dari dalam jok motor, gue langsung meletakkan uang tersebut dimeja kasir.
Seratus
Tiga
Puluh
Satu
Ribu

Mampus gue~
Duit gue kurang 12 ribu. Sumpah, gue malu.
Gue merogoh anu gue yang satu lagi. Saku celana sebelah kiri maksudnya. Berharap ada sisa-sisa duit untuk melanjutkan hidup gue ketika itu.
Sial! Yang ada disaku kiri cuma bungkus permen Mint. Itu juga permen kembalian dari mas ganteng di indomaret. Berhubung mas kasirnya kece, yaudah gue simpan deh bungkus permennya. Mau dibuang, tapi sayang.
Gue sempat ngelirik ke Nova, kayaknya adek gue bisa nih dijadiin jaminan atas kurangnya duit gue itu. Tapi setelah gue liat-liat lagi, kayaknya dia gak sampe 12 ribu deh kalo dijadiin jaminan.

  '' Mbak, maaf.. Ini barangnya bisa dibalikin gak? 1 barang aja. Soalnya duit saya kurang, hehee ''
Suer deh, itu bener-bener '' hehee '' terkamfred yang gue ucapkan.
  '' Bisa kok mbak, mau balikin barang yg mana? ''
Setelah gue meletakkan salah satu barang kembali ke raknya, alhamdulillah gue masih nerima kembalian 4 ribu. Gak papa. Lumayan buat beli cimol didepan.

Gue yang cemberut ketika pergi tadi, berubah jadi ketawa ngakak disepanjang jalan pulang.
Malu gaes, maluuu banget.

Yaudah ya, ada telefon nih dari mamah.
Bye~



Learn more »

Nama Gue...

Nama memang menggambarkan suatu kepribadian seseorang. Dalam istilah lain, arti sebuah nama adalah doa. Jadi gak heran, kalo banyak sekali orangtua yang bingung nyari kata yang bagus kesana kemari untuk dijadikan nama bagi si calon anak. Tentunya nama yang mengandung arti yang bagus dengan harapan sosok kepribadian si anak juga bagus nantinya.









Bicara soal nama.
Gue sendiri masih bingung dengan nama gue. Rahayu Wulandari. tadi nungguin kamu disini seorang diri.
Gue bingung, sebenernya nama panggilan gue itu apa sih? Apa Rah, Rahayu, Ayu,Wulan, Landa, Dari, Ari atau Raisa?
Entahlah.
Soalnya dalam keluarga gue yang terdiri dari 3  anak perempuan dan 1 anak laki-laki, nama ketiga anak perempuan itu di awali dengan nama ''Rahayu''.

- Kakak gue, Rahayu Kuntum Melati. Panggilannya Melati atau Imel.

Keren gak sih nama kakak gue. Bunga-bungaan gitu. Udah pake kuntum, pake melati lagi. Gue gak bisa ngebayangin kalo ortu sampe namai gue dengan nama, Rahayu Setangkai Mawar. omaigat!
 Dan setelah berunding selama beberapa bulan, akhirnya lahirlah seorang bayi lucu nan imut yang lahir pada tanggal 14 September beberapa tahun silam. Sekarang bulan Juli, September 2 bulan lagi sih. Eh betewe nomer sepatu gue 39, ukuran baju M, kadang L juga bisa. Minuman kesukaan jus alpukat. Yaa siapa tau kan. Dua bulan lagi.

Setelah bayi mungil itu lahir, akhirnya kedua orangtua gue menamai anaknya dengan nama:
-  Rahayu Wulandari. Dan itu gue.

Beberapa tahun kemudian, gue punya adek cewek. Ortu menamai nya dengan nama:
- Rahayu Novalin. Panggilannya Nova.

Karena kedua ortu pengen punya anak cowok, akhirnya mereka kerja keras lembur siang-malam bekerjasama untuk mewujudkan agar mereka bisa memiliki anak cowok nantinya. Dan syukur alhamdulillah, adek gue yg terakhir cowok. Kali ini namanya bukan Rahayu, tapi Raharjo. Gak, enggak..

Nama adek cowok gue,
- Muhammad Adam Rizqi. Panggilannya Adam.

Keren namanya, nabi pertama dan nabi terakhir tercantum didalamnya. Dari sini gue jadi tau kenapa laki-laki dibolehkan memiliki banyak istri. Lah ini contohnya dirumah gue, Adam nya 1, Hawa nya 3. Gue, kakak dan adek.

Ada cerita lucu sewaktu ibu lagi mengandung seorang anak yang lucu nan imut ini. (baca: Gue). Setelah usia kandungan menginjak usia 9 bulan 10 hari, ibu belum memperlihatkan tanda-tanda akan kelahiran gue. Gue rasa, mungkin gue terlalu betah berada dalam rahimnya sehingga enggan keluar untuk menyaksikan dunia yang fana dan penuh nista ini. Asooyy..
Sebagai seorang suami, ayah heboh gak ketulungan. Dan akhirnya ayah berusaha nanya ke ibu, apakah ada selera ngidam yang belum terpenuhi sampe-sampe anaknya belum brojol juga.
Ibu ngangguk. '' Ibu pengen makan gulai bebek cabe ijo. ''


Gara-gara ini
                             



Beh, seandaninya gue bisa ngomong dalam kandungan, mungkin gue bakal menghasut ibu untuk ngidam lamborghini ketika itu. Tapi sayangnya kagak bisa.
Seusai ibu bilang kalimat itu, ayah langsung beli bebek dan sesampainya dirumah ibu langsung masak gulai bebek cabe ijo. Kelar masak, dengan asap panas yang masih mengepul dari atas kuali, ibu langsung ngambil nasi dan melahap gulai bebek cabe ijo itu.
Kok gue tau detail sih kejadiannya?
Ya iyalah, kan gue ngintip dari dalam perut. -_________________-
Satu jam
Dua jam
Tiga jam

Iyaaakk.. ibu mulai merasakan adanya kontraksi kuda lumping lagi demo minta kenaikan gaji didepan gedung de pe er didalam perutnya. Perut ibu mulai sakit, sakiiiiitt banget. Sakitnya belom seberapa sih dengan sakit hati lo karena diselingkuhi pacar.
Setelah dibawa kerumah sakit, lahirlah gue disertai dengan tangisan oeek oeek yang lebih mirip kayak tangisan jomblo ngeliat pasangan yg lagi ngedate diluar sana.
Dan, entah kenapa ibu selalu ngatain gue,
  '' Kamu tu ya sek, cerewet amat. Apa-apa cerewet. Pantes aja dulu ibu ngidamnya bebek gulai cabe ijo. Gak heran kalo anaknya ternyata cerewet nya bising kayak suara bebek. ''

Cerewet kayak suara bebek.
Oke, oke.. tenang.. Minum good day dulu.

Huuwaaa.. gue disamain sama bebek. Harusnya dulu ibu ngidam ketemu Raisa gitu kek, trus pas gue udah gede ibu pasti bakal bilang,
  '' Kamu tu ya sek, cantik banget sekarang. Pantes aja ibu dulu ngidamnya pengen ketemu Raisa, ternyata gak jauh beda. ''
Gitu kek.

Yaudah..
Gak usah protes !



Kembali ke nama, sebenernya nama panggilan gue adalah Wulan.
Tapi enggak tau kenapa, orang dirumah selalu manggil gue dengan sebutan, '' Sek ''. Yaa you knowlah, idung orang keturunan arab memang rada kayak gini. PLAK !


Rahayu Wulandari dan ayah. (umur 5 tahun)
                     


Pas masuk SD, gue dipanggil dengan sebutan Ayu dan Rahayu.
Sampe-sampe pas kita jalan bertiga, gue, kakak dan adek. Pas lagi asyik-asyik jalan, tiba-tiba ada yang manggil dari belakang.
  ''yu ''
Kami bertiga noleh ke belakang.
  ''ayu '' Ulang si pemanggil tadi.
Kami bertiga mengerutkan dahi.
  '' rahayu ''
Kami bertiga saling pandang.

'' Rahayu Novalin '' Gue dan kakak gue akhirnya bisa bernafas lega setelah dengar nama lengkap yang diucapkan si pemanggil itu.
  '' eh, itu temen lo. Ngomong dong dari tadi '' gue ngomel ke adek gue, Nova.
  '' eh iya sorry, tadi dia jauh amat. Nova enggak keliatan. Lupa bawa kacamata sih ''
Untung adek kandung, kalo adek tiri mungkin dia udah gue balikin ke panti asuhan.

Hal lain yang bikin kesel itu pas ada salah satu orang yg datang kerumah, sementara gue, kakak dan adek lagi keluar.
  '' Assalamualaikum ''
  '' Iya, waalaikumsalam ''
  '' Rahayu nya ada bu? ''
  '' Sedang keluar. Ada perlu apa nak? Ada pesan? biar nanti ibu sampaikan ''
  '' enggak ada bu. Besok aja saya kesini lg ya. Assalamualaikum ''
  '' waalaikumsalam ''

Pas kita bertiga pulang.
  '' oh iya, tadi ada orang tu yg datang kesini. Dia nyari Rahayu ''
  '' Iya, rahayu apa bu? ''
  '' rahayu aja sih. Aduh, ibu lupa nanya Rahayu apa yg dia maksud ''
HEMMM SUDAH KUDUGA

Sampe sekarang gue enggak pernah tau kenapa ortu namain kita bertiga pake embel-embel 'Rahayu' didepannya. Padahal diantara nama ayah dan ibu sama sekali gak ada kata ' Rahayu ' nya. Dan nama Rahayu juga bukan gabungan dari nama ayah dan ibu.
Pas gue tanya, ibu jawab, '' ya bagus aja namanya gitu ''.
Merasa kurang puas, gue langsung buka kamus bahasa indonesia. Nyari arti kata Rahayu.
Yang artinya, Rahayu = Damai,tenteram, aman.

Gue manggut-manggut sendiri. Pantes aja, kalo kita tiga anak perempuan dirumah udah pada ngumpul, suasana rumah ribut bising hancur dan rame minta ampun. Pantes aja.
Sangat mencerminkan suasana Damai-tenteram-aman. Seperti yang tertulis dalam kamus bahasa indonesia yang gue baca.

Masuk SMP. Gue dipanggil dengan nama, Siomay.
Why? Karena gue ahli siomay? gue penemu siomay? gue pinter ngulek bumbu siomay? gue yang mompa ban gerobak akang siomay? why? Kenapa?
Dan setelah gue ingat-ingat, asal usul nama itu berawal karena ulah gue sendiri. Setiap pelajaran sejarah pas SMP, gue paling males masuk kelas. Pusing, yang dibahas, manusia purba,homo sapiens, homo ini homo itu,
Halah... yang jaman batu yaudah gak usah dibahas. Jaman batu ya jaman batu aja. Lelah gue.
Karena itu, gue selalu cabut bareng temen berdua untuk mojok ke kantin siomay. Gue makan siomay sepuasnya, ngerumpi sama kang siomay, nanya tentang siomay, salah satu yang gue tanyakan misalnya, kenapa ada huruf O dalam kata siomay. Kang siomay nya bukan malah ngejawab, eh  malah nusuk gue pake garpu siomay. Laki-laki memang kejam.
Dan suatu hari, aksi cabut gue ketahuan sm guru sejarah. Dan guru sejarah itu adalah wali kelas gue ketika itu.
Sampe dikelas,
  '' kalian berdua ini ya, hobi banget mojok di kantin siomay. Suka ya sama kang siomay? bukannya belajar masuk kelas, malah blablablaaaaaaaaaa............. ''
Intinya, dari ceramahan guru sejarah hari itu, nama gue resmi dipanggil dengan nama siomay. Why? kenapa harus gue? padahal kan gue sering mojok ke siomay berdua bareng santi. Kenapa cuma gue doang coba yg dipanggil siomay? oke, itu mungkin karena santi lebih mirip batagor.


Alhamdulillah, nama panggilan 'sek/pesek' dalam lingkungan rumah gue udah mulai hilang. Dan digantikan dengan nama panggilan baru, '' Bang Ul ''
Abang? iya, karena pas SMP tingkah gue percis kayak cowok.
Ul? diambil dari kata, wULan.
Dulu gue,
Kagak doyan make rok, satu-satu nya rok yg ada dilemari baju cuma rok seragam sekolah dan seragam pramuka doang.Belum lagi  gue yang hobi nya makan sambil ngangkat kaki satu, manjat pohon ceri tetangga, beneran deh. Dulu gue macho abis. Badan gue six pack, kayak bintang iklan dalam iklan L-men itu loh.
dan faktor lain selain tingkah gue yg kayak cowok, orang dirumah manggil gue dengan panggilan '' Bang Ul'' karena gue satu-satunya yang punya kumis tipis dirumah, tangan kaki gue juga buluan. Percis kayak cowok,
Fix, gue kayaknya cowok dah.  -___-

Alhamdulillah lagi, setelah gue berubah menjadi sosok perempuan feminim nan anggun, lama kelamaan panggilan '' Bang Ul '' itu musnah dari peradaban.
Meskipun panggilan '' Sek '' muncul kembali dalam lingkungan rumah dan panggilan '' Siomay '' masih tetep lengket dalam ingatan temen esempe.
Sampe gue pernah sms temen esempe.
  '' Hei, apa kabar Na? blablaaa. ''
  '' maaf ini siapa ya? ''
  '' Ayu na, ''
  '' Ayu mana ya? ''
 Dengan berat hati, gue ngetik sms,
  '' ini gue, Ayu Siomay. ''
  '' ooh, elo siomay? kabar gue baik may? Kabar lo gimana? ''

Bangkeeee.... ~~~~


Entahlah, kadang gue juga bingung. Nama panggilan gue yg sebenernya itu apa sih?
Soalnya setiap kali gue jalan keluar, orang-orang pada heboh teriak,
  '' RAISAA.. RAISAA.. FOTO BARENG DONG ''

Hmm, Raisa?












Selamat berbuka puasa.



Selamat sahur.  
(idung gue gak pesek-pesek amat kan?) SNI lah

Learn more »