Feature news

Showing posts with label Dodol. Show all posts

Saat Kemachoan Gue Dipertaruhkan



                                              




Sebagai cewe macho sejagad raya, gue harus terlihat selalu tegar di hadapan teman-teman.
Disakiti cowo, gue tegar. Dibohongin cowo, gue tegar. Dikecewain cowo, gue tegar.
Gila. Keren banget ya gue.

Namun semua kemachoan gue hampir saja runtuh di beberapa minggu lalu.
Tepat pada tanggal 20 Maret di hari Minggu, gue dan beberapa teman serta dosen berangkat menuju kampus pusat.
Fyi, gue berkuliah di kampus cabang. Dari kampus cabang ke kampus pusat bisa dikatakan cukup jauh. Bisa memakan waktu satu setengah jam.

Pagi itu, di mata kuliah yang terakhir di semester dua, gue dan beberapa teman sudah berkumpul di area parkir kampus cabang. Area parkirnya tidak terlalu luas. Nggak bakalan cukup untuk dipake main gobak sodor. Apalagi main futsal. Nggak cukup.
Seperti yang diinfokan dari beberapa hari yang lalu di grup, pagi ini, di mata kuliah Pancasila, semua mahasiwa diharuskan untuk berangkat ke kampus pusat. Kelas akan diadakan di sana.
Karena salah seorang ibu dosen di kampus cabang gue ini berbaik hati, ramah serta bisa menggunakan lampu sein motor dengan benar, ia dengan senang hati menyediakan dua mobil pribadinya untuk digunakan mahasiswa.

Posisi duduk gue ketika itu berada di bangku tengah dan di tengah. Di kursi belakang diisi oleh tiga cowok kece, di kursi tengah diisi oleh tiga cewe. Dengan gue yang berada di tengah, Nurul di sebelah kanan gue dan kakak senior di sebelah kiri gue.
Sementara Dosen di bangku depan dengan adiknya yang menyetir mobil.

Saat 15 menit perjalanan, gue melihat ke sebelah kanan dan kiri. Mereka diam. Hening.
Dengan setengah berbisik gue bertanya ke kakak senior.

  ‘’ Kakak, suka mabok ya kalo naik mobil? ‘’

  ‘’ Iya, Dek. ‘’

Gue manggut-manggut sebelum akhirnya gue menanyakan hal yang sama ke Nurul.

  ‘’ Nurul suka mabok ya? ‘’

  ‘’ Iya, Kak. ‘’

Yawlaaa. Tolong.

Ini kenapa posisi duduk gue bisa di tengah-tengah mereka yang suka mabok gini sih. Harusnya kalo sama-sama suka itu kan disatukan, didekatkan. Bukan dipisahkan.


Setengah jam berlalu sampai pada akhirnya gue mendengar suara-suara aneh dari Nurul. Gue menoleh. Nurul terlihat menutup mulutnya dan mukanya memerah.
Sebagai perempuan yang teramat sangat ngerti dengan kode, gue langsung meminta plastik ke dosen.

  ‘’ Bu, ada plastik nggak? Ini Nurul mau muntah. ‘’

Ibu dosen terlihat panik dan merogoh laci tasnya.

  ‘’ Kakak ada plastik nggak? ‘’

  Kakak senior menggeleng. Mukanya ikut memerah. Sepertinya dugaan gue bener. Mereka akan muntah bersamaan dengan intonasi dan irama yang sama. Gue ngerasa kalau di antara mereka ada ikatan batin yang kuat.

  ‘’ Nggak ada plastik nih, ‘’ ujar Ibu dosen setelah membuka dasbornya.


HUWAAAAA

Gue nggak tau harus gimana lagi. Lama-lama gue jual plastik juga nih di dalam mobil. Mayan kalo dijual seratus rupiah. Seenggaknya lebih murah dari plastik indomartt. Bakal laku keras pasti.
Kira-kira begini:

Nurul muntah 5 kali = Rp. 500
Kakak senior muntah 5 kali = Rp. 500
Total Rp. 1.000
Rp. 1.000 = dapat antimo dua biji.

1 biji untuk gue minum di perjalanan pergi dan 1 biji lagi untuk gue minum diperjalanan pulang.
Keren ya perhitungan gue.


Untung saja ketika itu, Nurul dan kakak senior bersama-sama mengurungkan niat untuk muntah massal. Syukurlah.

Limabelas menit sebelum sampai di kampus pusat, gue mendadak pusing. Badan gue lemes. Dan begonya gue baru sadar kalo gue belum makan dari pagi. Bahkan dari kemarin malam. Di saat seperti ini gue merasa kemachoan gue sedang dipertaruhkan.

Gue nggak boleh muntah.

Sesampainya di kampus pusat, gue langsung sarapan di tempat yang tidak jauh dari lokasi kampus.
Tepat pada jam setengah sembilan, gue dan anak-anak lain mulai memasuki kelas. Seorang lelaki tua, dengan baju abu-abu yang super rapi kayak mau ikut prospek MLM, kacamata bulet serta rambut klimis yang licin kebangetan. Itu gajah kalo jalan di rambutnya pasti langsung kepeleset. Licin cooyy.
Selama menyampaikan materi, dosen pancasila ini bener-bener bikin gue boring. Posisi duduk gue yang di depan meja dosen, sama sekali nggak bisa membuat gue fokus mengikuti materi yang ia sampaikan.

Sampai pada akhirnya, KREEK KREEK
Di hadapan gue, dosen pancasila itu menggaruk kepalanya dengan dua kali garukan.  Karena hal itu, rambut dosen yang awalnya rapi dan licin mendadak langsung berantakan.

Gue langsung menahan tawa yang hampir meledak.
Rasanya saat itu juga gue pengen teriak, YA ALLAH ANDHIKA KANGEN BAND.

Sekitar jam setengah empat sore, perkuliahan di hari itu selesai. Perkuliahan di semester dua selesai. Saat keluar dari kampus, salah seorang teman perempuan gue menawarkan beberapa orang untuk ikut dengan mobilnya.

  ‘’ Yuk siapa yang buru-buru naik sama aku aja, ‘’ ujarnya setengah berteriak.

Mengingat besok adalah hari Senin dan gue harus masuk kerja lagi, rasanya gue pengen buru-buru istirahat. Pengen cepet pulang. Tanpa menunggu waktu lama, gue dan beberapa teman langsung masuk ke dalam mobilnya.
Tiga orang cowo, gue dan Nurul kini tengah berada di dalam mobil. Nggak afdhol rasanya kalo cewek yang menyetir mobil sementara ada tiga biji cowo di dalamnya. Salah seorang temen cowo gue, menawarkan diri untuk menyetir.

Perjalanan dimulai.
Lagi-lagi gue duduk di posisi tengah dan di tengah. Dengan Nurul di sebelah kiri dan Sheina di sebelah kanan.
Bener-bener deh. Gue tersiksa dengan posisi duduk di tengah gini. Nggak enak.

Bang Daniel, temen gue yang menyetir tiba-tiba saja membuka suara.

  ‘’ Ini remnya kok jauh banget ya. ‘’ 

Maksudnya rem yang jauh ini, rem yang kurang cakram.

  ‘’ Iya bang. Remnya jauh. Nggak bisa ngerem mendadak, ‘’ ujar Sheina


DEGG!


Gue kaget. Takut. Ini mah bukan buru-buru untuk sampai di rumah. Tapi buru-buru untuk melepas nyawa. Gue belum siap ketemu mas Fir'aun di neraka.
Lagian, ini kenapa juga remnya sampe bermasalah gini. Kalo ada apa-apa, secara nggak langsung kita pasti ngerem mendadak dong. Lah kalo remnya jauh gini, gimandose? Gue panik.

Lagi sedang panik-paniknya, tiba-tiba  AAAAAAAKKK
Salah seorang cowo yang duduk di belakang gue berteriak. Awalnya gue sempat berfikir, ah kali aja kejepit resleting. Baju kemejanya. Gue menegakkan badan untuk melihat ke depan mobil. Hampir. Bener-bener hampir aja mobil yang gue naikin ini menabrak seorang pengendara motor.

Gue baru menyadari suatu hal. Ternyata naik mobil dan ngeliat buku rekening di akhir bulan itu sama. Sama-sama nyeremin.

Perjalanan kembali diteruskan dengan khusyuk dan banyak cemasnya.
Langit kian meredup. Lampu jalanan mulai dinyalakan. Gue perlahan menoleh ke belakang, memastikan dua orang cowo yang duduk di belakang gue masih hidup dan bukan salah satu dari kaum LGBT. Yakali aja. Habis mereka berdua-berduaan sih di belakang. Udah gelap juga.
Ajak-ajak gue gitu kek.


Entah dengan faedah apa, Bang Daniel tiba-tiba menaikkan kecepatan laju mobilnya. Suasana dalam mobil semakin panik. Kami semua berteriak histeris. Tapi tetap dalam hati. Kalo tetap dalam jiwa itu lagunya Isyana.
Suasana di dalam semakin mencekam. Gue yang sedari tadi berusaha untuk memejamkan mata, mulai merasa tidak tenang. Jantung gue berdegup kencang. Oh apakah ini cinta?

Mobil semakin kencang. Melesat di antara kerumunan mobil truk bermuatan lainnya. Gue mendadak pucat.
Rasanya saat itu juga gue pengen mendekatkan wajah gue ke telinga Bang Daniel seraya berbisik pelan, ‘Gue belum mau mati. Plis. ‘

Gimana kalo gue kecelakaan trus mati. Gue belum nikah. Belum ngerasain bobo dan manja manja halal dengan pasangan. Belum ngerasain jadi ibu-ibu yang menyalahgunakan fungsi lampu sein motor. Belum namatin sinetron anak jalanan. Belum namatin uttaran. Belum hafal mars perindo apalagi.

Huwaaaaa. Gue pengen nangis.

Gue tetep diam sambil sesekali membaca ayat-ayat pendek. Jantung gue terus menerus berdegup kencang. Kepanikan gue malah meningkat saat Bang Daniel memutuskan untuk menyalip mobil depan. Masalahnya ini, mobil yang di depan bukan sembarang mobil. Mobil tangki SPBU. Mobil gede. 
Dan di saat yang bersamaan, sebuah mobil datang dari arah lawan.

TIN TIIIIN

AAAAAAAAAKKKK

Suasana mobil yang tadinya hening penuh kecemasan mendadak berubah ramai penuh histeris. Terlebih gue. Gue berteriak sehisteris mungkin. Satu teriakan histeris gue sama dengan nada suara Komo yang lagi batuk kering.

Mobil melaju kian kencang. Rasanya roh gue udah menggantung di langit-langit atap mobil.

Dan

Alhamdulillah ya Allah.
 Mobil yang dikemudi Bang Daniel selamat. Itu artinya GUE BISA MENIKAH. YEAH.

Ternyata Bang Daniel jago nyalip euy. Gue salut.

Beberapa menit kemudian, gue mendengar suara aneh dari sebelah kiri gue. Nurul. Iya, Nurul terlihat sedang menutup mulutnya yang hendak muntah. Sebagai perempuan sejati yang pantang pergi sebelum disakiti, gue langsung saja menyodorkan sebuah plastik ke Nurul. Nurul menggeleng.
Heran gue. Ini anak mau muntah. Tapi pas gue sodorin plastik, dia malah nolak.

Buat cowo-cowo yang cintanya sering ditolak, ai nou wat yu fil. Ditolak itu sakit gengs.

Gue memperhatikan Nurul yang sepertinya sudah tidak tahan ingin muntah. Dengan cepat gue langsung menyuruh Bang Daniel untuk menepikan mobilnya. Nurul turun. Kami meninggalkan Nurul.
Enggak deng.

Kami semua menunggu Nurul untuk menuntaskan tugasnya. Satu pelajaran yang bisa gue contoh dari seorang Nurul. Kita harus mencintai lingkungan.
Gue jadi tau alasan kenapa Nurul menolak plastik pemberian gue. Karena Nurul lebih mencintai lingkungan. Ia tidak mau menggunakan plastik sebagai wadah untuk muntahnya.

Keren juga si Nurul.


Baru beberapa menit Nurul duduk dan mobil kembali berjalan normal, mendadak perut gue terasa nggak enak. Kerongkongan gue hambar. Kayak hubungan kamu dan dia. Udah hambar. Tapi tetep aja masih diteruskan. Huh.
Tidak hanya itu, kepala gue juga terasa pusing. Kesimpulannya, gue pengen muntah.


OH NO!


Gue mencoba menelan ludah. Ludah Bang Daniel. Kagak. Ludah gue sendiri. Gue menarik nafas panjang. Mencoba untuk menenangkan tenggorokan yang sepertinya sudah meminta untuk dikeluarkan.
Gue menegakkan posisi duduk gue. Berusaha mengalihkan pikiran dengan memandang suasana jalan di malam hari. Tapi paan. Kanan kiri gue gelap banget. Sepi. Hanya satu-satu lampu dari cahaya kendaraan yang menerangi jalan raya.

Gue menyandarkan badan ke kursi. Saat itu juga, kepala gue terasa berat. Gue mual.

Gue juga nggak tau kenapa tiba-tiba gue mual dan pengen muntah. Padahal sebelumnya nggak ada yang naruh foto mantan di hadapan gue.

Demi menjaga kemachoan diri sendiri, gue bertekad kalo gue-enggak-boleh-muntah.
Mau ditaruh di mana harkat martabat negara? Hellaaww~
Bisa-bisa dalam sekejap, pencitraan barbie selama ini bakal hancur.

Sepuluh menit lagi mobil akan sampai di area parkir kampus. Dalam sepuluh menit itu, gue bernazar kalo gue berhasil dan nggak muntah sampai di parkiran kampus dan turun dari mobil, gue bakal jadi cosplay Nami. Tapi nggak mungkin. Nami dadanya indah penuh pesona. Kalo gue indah paan.

Sesampainya di parkiran kampus, gue langsung gelar sajadah. Sujud syukur. Akhirnya gue nggak muntah selama di perjalanan pulang dan pergi. Yeaaahh.
Setelah mengambil motor di parkiran kampus, gue hanya senyum-senyum saat di perjalanan pulang menuju ke rumah di atas motor.
Gue nggak bisa bayangin saat gue pulang ke rumah, ucap salam, ketok pintu, orang-orang di rumah langsung berteriak histeris lalu mengatakan, ‘’ NAMI? ‘’

Ah indahnya berkhayal.

Sesampainya di rumah, gue langsung menemui Ayah sambil berkata, ‘’ Yah, pijitin dong. Kayaknya masuk angin nih. Pusing. ‘’




BETEWE, NAMI MANA SIH YANG MASUK ANGIN DAN MINTA DIPIJITIN? ELAAH.


Pokoknya hari itu, gue bener-bener macho. Okesip.



Learn more »

Kejadian Memalukan di Bank


                                                  




Sebagai seorang karyawan yang bekerja pada bagian administrasi, hal ini cukup membuat gue setiap sore selalu sibuk ke bank. Alhamdulillah, gue dipercaya untuk memegang kas kantor yang setiap harinya akan diclaim dari pusat. 


Pekerjaan ini menuntut gue untuk lebih berhati-hati dan teliti. Terutama dalam memilih pasangan. Harus berhati-hati. Pastikan dulu dia berstatus lajang atau suami orang.

Gue yang anaknya memang nggak sabaran, ceroboh dan tergesa-gesa perlahan-lahan mulai menghilangkan sifat buruk itu. Gue selalu sabar dengan otak gue yang terlalu lambat menghitung angka di layar komputer. Gue mulai mencoba untuk teliti dalam membuat laporan, hitung-menghitung, termasuk menghitung hari menunggu kepastian darimu yang tak kunjung datang jua. Halah.

Nggak enaknya, ya kalo salah hitung, ujung-ujungnya gue juga yang nombok (ganti uang). Trus gue nggak bisa makan setahun.
Meninggal.
Masuk neraka.
Ketemu Farhat Abbas di pintu neraka.
Lagi gantian shift sama malaikat Malik.

Beberapa hari yang lalu, Yoga mengirimkan link tes uji otak dengan situs ini di grup WIDY.
Tak lama kemudian, Icha mengirim skrinsut hasil tesnya. Hasilnya, Icha lebih cenderung di otak kanan dalam hal musik. Pantesan Icha sering apdet banget tentang lagu-lagu kekinian, semua soundtrack, lirik lagu dan lainnya yang berhubungan dengan musik.

Sedangkan Yoga juga lebih cenderung di otak kanan, tetapi dalam hal imajinasi. Kalau ada hal tentang mantan, mungkin Yoga lebih cenderung di otak kanan dalam hal itu. Mengenang mantan. Uhuk.

Gue yang penasaran langsung meluncur ke sana. Dan hasilnya :

Gue lebih cenderung di otak kiri.
Ada 2 respon yang gue rasakan ketika itu:
1. Yeaaah akhirnya gue punya otak juga.
2. APA-APAAN INI. KENAPA LEBIH CENDERUNG DALAM HAL MATEMATIKA SIH. ELAH.

Gue kaget. Ini hasilnya yang salah apa gimana sih. Gue mencoba mengulang lagi. Jawab pertanyaan lagi dan hasilnya tetep sama.

Sore harinya, Darma juga ikutan tes di link yang Yoga berikan. Hasilnya, Darma lebih cenderung otak kiri dalam hal digital.
Mungkin itu typo, maksudnya digatal.
Soalnya Darma ya gitu. Hmm sudahlah nggak perlu gue lanjutin. Ntar nggak ada lagi yang mau dengerin cerita-cerita aneh gue setiap hari. Nggak ada lagi yang nelfonin gue. Nggak ada lagi yang nanya-nanya kapan gue haid di setiap hari. 


***


Jujur, seumur hidup gue paling benci dengan suatu hal yang berhubungan dengan angka, kecuali angka tanggal jadian dan tanggal gajian.
Dari SD sampai SMK, gue selalu mendapatkan nilai matematika yang rendah. Udah remedial, tetep aja rendah. Termasuk pelajaran fisika.  Pas-pas KKM aja gue udah seneng sujud syukur. Gue muak dengan angka. Seperti muaknya melihat engkau dan dia. Anjaaayy.

Sampai akhirnya, Yoga cerita kalau dia juga pernah ikut tes itu dan hasilnya rada seimbang karena waktu itu Yoga kerja di perpajakan. Pekerjaan yang berbau hitung-menghitung.



Wah sama nih, berarti karena kerjaan, gue juga dipaksa ngitung-ngitung.
Tapi nggak papa, ai lop mai kerjaan. Soalnya kalo ai lop yu, belum tentu yu lop mi. Yaa gitu.



INI APAAN?



Hmm. Oke. Abaikan saja.


Hampir setiap sore gue harus pergi ke ATM. Kadang juga ke bank, lumayan bisa cuci mata liat sekuriti muda sampai abang-abang staff yang tampan rupawan.

Ada beberapa kejadian yang gue alami saat gue berada di bank maupun di ATM. Kejadian memalukan.
Cerita pertama tentang :


-         - KEJEDOT
      Suatu sore, gue ke atm seperti biasanya. Ngambil uang dengan sok kuwl dan terburu-buru. Soalnya udah  jam pulang kerja, gue takut kehujanan di jalan. Selesai menarik kartu atm dan memasukkannya ke dalam  dompet, gue berbalik badan, melangkah dan DUK!.

       Jidat suci gue kejedot kaca atm. #nggakpapa #Wulananaqkuwat #enggaksakitkokhehee

      Sakitnya nggak seberapa, malu dan suara jedotannya yang bikin malu. Suara jedotannya kayak suara kelapa jatoh. Menarik setiap mata memandang. Alhasil gue malu. Gue keluar atm dengan muka cengengesan dan mengabaikan muka orang-orang yang prihatin. Prihatin ke kaca atm. Takut lecet dan berkuman.



-          - BINI KEDUA
      Kejadian ini kalo nggak salah terjadi pada pertengahan tahun kemarin, gue yang baru masuk ke atm terkejut melihat sebuah kartu yang masih tersangkut di mesinnya. Dengan layar mesin yang menunjukkan angka saldo yang sempat membuat gue berpikir, ‘’ mayan nih buat modal nikah. ‘’
      Tapi gue berpikir lagi, ‘’ BETEWE GUE MAU NIKAH SAMA SIAPA YAK. ‘’ Daripada kelamaan mikir mau nikah dengan siapa, akhirnya gue mencabut kartu atm itu dan langsung berlari menuju parkiran.
      Dalam hati, gue sempat mikir, seandainya aja yang punya kartu atm ini  seorang cowo ganteng. Trus pas gue ngasih atmnya yang ketinggalan, dia senyum sambil natap mata gue dengan tatapan dalam penuh cinta. Trus dia ngomong, ‘’ Kita nikah, yuk. ‘’
      Ah andai saja.

    Gue berlari ke parkiran dan menemukan seorang lelaki muda yang sedang mengenakan helmnya hendak duduk di atas motor. Istri dan anak balitanya juga turut duduk di belakangnya.
        ‘’ Bang, ‘’ panggil gue.
     Gue hampir aja mau gombal,  ‘’ Bapak kamu tukang sate, ya? ‘’
     Tapi nggak jadi.
       ‘’ Iya? ‘’
      ‘’ Ini, kartu atmnya ketinggalan. ‘’ Gue menyodorkan kartu atmnya.
      ‘’ Eh iya, makasih ya. ‘’
     ‘’ Iya bang. Sama-sama. ‘’ Gue membalikkan badan sambil ngomel dalem hati. Lah udah punya anak-bini  ternyata. Tapi kan nggak tertutup kemungkinan juga untuk gue jadi bini kedua.
     Mayan. Abangnya ganteng.
    Gue kembali melangkah masuk ke ruang atm lagi dengan rasa kesal. Tau gitu, tadi nggak gue kembaliin deh kartu atmnya. 
     Astagfirulloh. Dosa.



-          -CELANA
Ini kejadian waktu di akhir tahun 2014 lalu. Sebelum gue putus, galau diakhir tahun. Gue sempat memiliki pacar sesama karyawan di perusahaan yang sama, hanya saja beda kantor. Waktu itu, dia berkunjung ke kantor gue. Dan siang itu, gue harus segera mentransferkan uang ke bank. Kebetulan, waktu itu dia menawarkan diri untuk menemani gue ke bank.
 ‘’ Kamu tunggu di sini ya. ‘’
 ‘’ Iya, iya aku tunggu di sini. ‘’ Gue kemudian turun dari mobil dan masuk ke bank. Gue disambut senyuman hangat dari sekuriti bank yang bikin hati gue meleleh. Setelah mengisi form, gue berdiri berbaris di antrian yang cukup panjang. Tidak terjadi apa-apa sebelum akhirnya gue merasakan jeans hitam gue melonggar. Lama-kelamaan semakin longgar dan KREK.

Yak, nggak salah lagi. Resleting gue turun. Bukan hanya resletingnya, pengaitnya juga ikutan lepas.

Gue menoleh ke sekeliling, rame bener orang. Gue menoleh ke belakang, antrian di belakang gue juga udah panjang. Semakin gue bergerak, resleting gue semakin turun. Gue panik. Nggak mungkin gue menunduk-nunduk meraba  lalu mengaitkan celana untuk menaikkan resleting.
Mau keluar dari baris antrian, nanggung. Antriannya udah panjang. Lagian mau jalan juga udah susah.
Akhirnya dengan sisa keberanian yang ada, gue nekat membiarkan resleting gue begitu apa adanya. Gue juga berusaha menarik-narik baju gue agar bisa menutupi resleting yang terbuka. Walaupun panjang baju yang gue kenakan pas-pasan untuk menutupi resleting.
Selesai mentransfer uang, gue langsung buru-buru jalan menuju parkiran. Gue udah bodo amat dan nggak peduli dengan orang-orang yang melihat resleting dan pengait jeans gue yang terbuka penuh pesona.
Gue langsung naik ke dalam mobil dan panik.
   ‘’ Kamu lihat ke sana! Jangan lihat ke sini! ‘’
   ‘’ Kenapa? ‘’
  ‘’ JANGAN LIHAT KE SINI!! ‘’ Gue setengah berteriak. Si pacar menoleh ke arah lain dan akhirnya gue sukses memasangkan pengait jeans dan resleting seperti semula.



-          -SALAH NGOMONG
Ini kejadian yang baru gue alami kemarin sore. Sore itu, gue melihat ada beberapa karyawan bank beserta security sedang memasukkan uang ke mesin atm yang bernominal 50.000. Berhubung mesin atm di ruangan itu ada 3, gue langsung saja masuk dan menuju mesin atm paling ujung. Begitu gue masuk dan membuka pintu atm, spontan sebuah suara mengejutkan gue, ‘’ Assalamualaikum. ‘’
Gue sempat mikir, ini gue salah masuk ke rumah ibu-ibu pengajian bulanan apa gimana?

Gue menoleh ke sumber suara. Salah seorang pegawai bank tersenyum ke arah gue.
Ya Allah, inikah calon imamku kelak di masa depan?
Gue menjawab pelan, ‘’ Waalaikumsalam. ‘’
Dengan menggunakan nada yang lembut. Biasa, pencitraan gitu.
Hampir aja gue ingin melanjutkan membaca surah al baqarah sebelum pada akhirnya gue ingat, apa tujuan gue masuk ke ruang atm ini.
Selesai menarik uang, gue berbalik pelan-pelan. Takut kejedot lagi, malu. Sebelum gue membuka pintu atm, si abang karyawan bank membuka suara lagi.
  ‘’ Hati-hati ya. Assalamualaikum. ‘’
Gue tersenyum penuh pencitraan lagi sembari menjawab, ‘’ Waalaikumsalam, Bu. ‘’

Gue keluar dari ruang atm.
Sayup-sayup terdengar suara gelak tawa dari dalam ruang atm.
Lah iya. Gue baru sadar. 



GUE SALAH NGOMONG.







Entahlah, dimana gue harus naruh muka saat besok gue ke bank dan jumpa dengan beberapa karyawan itu lagi. Mengingat hampir setiap sore gue harus pergi ke ATM. Bolak-balik.

Mungkin masih ada kejadian-kejadian memalukan lainnya yang bakal gue alami di kemudian hari. #Wulantegar2016
Tapi gue bahagia. Seenggaknya karena gue kerja di bagian administrasi, kemampuan gue yang paling menonjol di otak kiri adalah dalam hal matematika.
Wah, anaknya jenius nih. Yoih.
Kedengerannya keren. Pinter matematika. 

Tapi paan. Rumus segitiga sama kaki aja gue enggak hafal. 


Trus apa hubungannya hasil tes otak kiri dengan kejadian di Bank?? Ya kayak kita.

Kok kayak kita? Iya, nggak ada hubungannya.


Duh, kebelet pipis. Udah ya. 





Note: Sering bingung kalo nulis penutup postingan. Hahaaa. Tapi lebih bingung menunggu kepastian dari kamu sih. 
Learn more »

Anak Pramuka

                                      



Gue anak pramuka.
Iya dulu, waktu SD.
Dulu gue bisa menghafal tri satya dan dasa dharma pramuka dalam waktu satu malam. Dulu gue hafal semua sandi dan kode. Kamu aja yang dikode nggak pernah peka. Aqu lelah mzz..

Gimana enggak hafal, kemana-mana gue selalu bawa buku saku pramuka. Berhubung bukunya kecil, itu bisa membuat gue dengan mudah memasukkannya di kantung baju atau menyelipkannya di belahan. Belahan buku tulis maksudnya.

Gue mengikuti kegiatan ekstrakulikuler di sekolah saat duduk di kelas 4 SD, sementara saat itu kakak gue duduk di kelas 5 SD. Setiap hari Kamis, gue rela panas-panasan berbaris di lapangan sekolah. Demi pramuka aja aku rela panas-panasan, apalagi demi kamu.
Alhasil setiap selesai pramuka, keringat dengan ekstra daki bercucuran di sekujur tubuh gue. Belum lagi kalau ada aroma menyengat dari kaus kaki hitam pramuka milik temen gue. Sinar matahari yang menguap membuat aroma khas surga itu menusuk indera penciuman. Baunya sumpah, parah.

Sampai suatu hari, Pembina pramuka memberikan informasi bahwa lusa akan diadakan camping atau perkemahan oleh anak pramuka.
Semuanya pada senang. Bersorak girang kayak menang undian dari frutang.
Kemahnya di mana? Di hutan? Bukan.
Di tepi sungai?  Bukan juga.
Di pedesaan? Bukan. Di pegunungan? BUKAN.


Kemahnya di lapangan olahraga sekolah. Lapangan bertanah kuning. Ntaps!

Sesampainya pulang ke rumah, gue dan kakak langsung mengabari Ibu dan Ayah. Menceritakan semuanya agar mempersiapkan barang bawaan yang akan di bawa.
Dari rumah, gue mempersiapkan untuk membawa baju tidur,  sikat gigi, sandal jepit, baju ganti, singlet, kolor, air mineral, sirup, biskuit, kecap abese, roti, senter, selembar kain dan korek api.



Ini kemping udah kayak warga kena ungsi.



Gue sempat merengek sama Ibu demi mempertahankan sebotol sirup marjan.
  ‘’ Buat apa sih, Dek bawa sirup. ‘’ Ibu mengeluarkan sebotol sirup marjan merah dari tas gue yang udah padat kayak tas abang-abang sales obat kuat.
Betewe, waktu itu gue masih dipanggil dengan sebutan ‘adek’ di rumah.
 
‘’ Nggak papa, Bu. Kalau nanti adek haus, mau minum sirup gimana? ‘’



Lah, dikata lebaran bisa minum-minum sirup. Sekalian aja bawa toples kue nastar dan kue bawang.




Akhirnya Ibu mengalah dengan membiarkan sebotol sirup itu masuk secara paksa ke dalam tas kembali.
Setelah diantar Ayah, gue sampai di lapangan sekolah dengan membawa banyak tas yang gue jinjing serta ransel punggung yang padatnya bukan main.

Gue, kakak dan seorang temannya langsung mendirikan tenda. Setelah mendirikan tenda yang akan dihuni oleh tiga orang di setiap tendanya, gue langsung mencari baju dan handuk untuk segera mandi.
Baru kali ini ada anak kemping yang mandi di toilet sekolah. Iya. Elit sekaleh.

  ‘’ Ayo, buruan mandi ke atas. ‘’

Kami bertiga naik ke atas dan mandi di toilet sekolah dengan menenteng handuk yang digulung-gulung serapat mungkin karena ada aset berharga dalam handuk. Sempak dan singlet. Waktu itu gue belum make beha.
Gue ngerasa ini kayak kerja rodi lembur membersihkan sekolah.

Setelah mandi di toilet sekolah, gue langsung handukan dan mencari sempak dan singlet.

Gue pucat.

SEMPAK GUE HILANG.

  ‘’ Kalian ada lihat sempak aku, nggak? ‘’ tanya gue sambil mencari-cari sempak gue ditumpukan handuk teman lainnya.
Tetep aja gue nggak nemu sempak gue, yang gue temukan dilipatan handuk hanya sempak kakak gue. Awalnya gue berniat untuk memakai sempak kakak. Tapi nggak jadi, badan kakak gue gede. Bisa-bisa sempaknya kedodoran saat gue pakai.
Kan nggak lucu waktu upacara pembukaan kemping nanti, lagi serius mendengarkan instruksi Pembina,  tiba-tiba ada benda yang meluncur indah ke bawah kaki gue. Dan ternyata itu sempak yang kedodoran.

Gue mengurungkan niat itu.

  ‘’ Sempak aku hilang. ‘’

Bener apa kata orang, kehilangan itu sakit. Kita bakalan merasakan sangat berartinya sesuatu, saat dia tak lagi ada.
Gue baru menyadari betapa penting dan berharganya sebuah sempak. Ini menyangkut masa depan negara, gengs.

  ‘’ Hilang? Kok bisa? ‘’ Kakak gue yang responnya sama sekali nggak penting tetap meneruskan memakai baju dengan tenang.

Gue melihat ke sekeliling. Anak-anak lainnya udah pada selesai mandi. Udah ganti pakaian, lah gue? Masih handukan tanpa sempak.

Gue-pengen-nangis.

  ‘’ Ambil sempak aku di tas dong. Turun, ‘’ ujar gue menyuruh kakak gue.

  ‘’ Iya, nanti ya. ‘’ Kakak gue tetap meneruskan berpakaian.

Minta ditoyor amat palanya. Panik gitu kek karena adiknya baru saja mengalami musibah kehilangan sempak.  Lah ini kagak, malah santai.

Sampai beberapa menit kemudian, kakak gue keluar toilet dan turun untuk mengambil sempak gue di dalam tas. Saat berjalan turun, sehelai kain putih-putih dengan ukiran bunga ungu muda tergeletak manis tak berdosa di atas rerumputan.

Itu sempak guuueeee!


Tak lama kemudian, kakak gue kembali masuk ke toilet dan memberikan sempak itu kepada gue. Dengan diiringi ornament orchestra, airmata gue jatuh berlinang menahan haru. Nggak nyangka akhirnya gue bisa menemukan sesuatu yang selama ini gue rindukan, harapkan dan impikan. Gue baru tau, betapa pentingnya sebuah sempak.
Memang harganya nggak seberapa, tapi manfaatnya juga nggak ada.
Gue menangis sesenggukan.

Gue buru-buru memakai sempak dan langsung keluar toilet.

***

Malam harinya, setelah berbagai kegiatan selesai dilaksanakan, gue, kakak dan temannya tidur di dalam tenda. Bertiga. Bertiga terasa bertujuh. Badan kakak gue, ditambah badan temannya yang lumayan gede. Apalah daya gue yang berbadan kurus ceking yang setiap hari hanya makan remah-remah gorengan sisa jualan abang-abang di warung depan.

Gue terhimpit diantara dua benua. Nggak bisa napas. Meninggal.
Trus diangkat jadi film horor, judulnya Arwah Gentayangan Anak Tak Berguna.
Jadi arwah aja nggak berguna, apalagi waktu masih hidup.

Gue yang ketika itu masih belum bisa tidur karena kesempitan, terbangun oleh panggilan kakak Pembina.

  ‘’ Itu Ayahnya datang. ‘’

Gue langsung keluar dari tenda, berharap Ayah menjemput gue dari penyiksaan tidur dengan himpitan lahir batin ini.

  ‘’ Ini Lan, ada roti dan sari kacang hijau. Kasih kakak juga ya. Tadi udah makan, kan? ‘’

  ‘’ Iya udah, Yah. ‘’

  ‘’ Yaudah, Ayah pulang lagi ya. ‘’

Gue melepas Ayah pergi dari lapangan sekolah dengan menenteng sebungkus makanan. Banyak bener makanan yang ada di dalam plastik. Lama-lama gue buka lapak jualan jajanan juga nih di depan tenda. Mayan bisa dijual ke anak di tenda-tenda tetangga sebelah.

Sesampainya di dalam tenda, gue yang nggak bisa tidur langsung memakan semua makanan itu. Sementara kakak gue dan temannya tertidur lelap dengan posisi menguasai tenda. Gue hanya duduk dan memakan makanan dengan posisi di dekat kaki mereka yang mengarah pintu tenda. Gini amat jadi orang kecil, tersiksa.
Setelah selesai memakan semua makanan, gue pun mulai merasa kantuk akibat kekenyangan.
Belum sempat memejamkan mata, suara Pembina berteriak nyaring di luar. Menyuruh kami semua tidur berbaring di atas tanah kuning lapangan dengan mengitari api unggun.
Udah kayak ikan asin bakar.

Gue menatap langit yang berserakan bintang-bintang. Langit malam itu sangat bersih, indah. Gue ngerasa kayak di film-film korea. Dimana ada adegan memandangi bintang malam hari bersama sang kekasih.
Gue tersenyum dan menoleh ke arah kiri.
Kakak gue terlihat bersusah payah menahan kantuk, terlihat dari matanya yang bolak-balik merem-merem kecil. Kalo ngeliat kakak gue seperti itu, rasanya gue mau bisikin ke telinganya, trus ngomong pelan,  ‘’ Udah siap? Ikutin ya, Ashhadu alla ilaha illallah… ‘’


Trus gue dilempar ke api unggun yang menyala-nyala. Trus meninggal.

Ini kalo diangkat jadi film horor lagi, mungkin judulnya, ‘’ Arwah Gentayangan Anak Tak Berguna (part 2)‘’

***

Menjelang pagi, hujan turun dengan derasnya. Semua tenda kebasahan, banjir di mana-mana.
Pagi itu, akhirnya semua anak pramuka tidur di dalam ruangan kelas.

KEMPING MACAM APA INI. TIDUR DI KELAS??

Sekitar jam 10 pagi di hari Minggu, orangtua siswa menjemput anaknya masing-masing ke sekolah. Begitu juga dengan Ayah. Gue duduk di motor dengan posisi di tengah di antara Ayah dan kakak. Lagi-lagi gue dihimpit dua benua.
Sementara semua tas yang gue bawa tadi diletakkan dibagian depan Ayah. Dibalik punggung Ayah gue sadar akan suatu hal,

GUE LUPA MINUM SIRUP MARJAN DI KEMPING KEMARIN.

Sesampainya di rumah, kakak gue langsunge meminum teh hangat, sementara gue minum sirup marjan dingin.
 Besoknya gue demam dan masuk angin.

Mantaps.



Quote of the day:
‘’ Sejujurnya, kehilangan sempak itu sangat menyakitkan. Apalagi kehilangan kamu dan kehilangan sempak kamu. ‘’




Learn more »

Kisah yang Menginspirasi

Gue anak silat.

Ralat.

Gue bekas anak silat yang pernah ikut tapi nggak tamat dan nyusahin pelatih-pelatihnya doang. Hebat.

Gue dan kakak mengikuti pencak silat di tahun 2011. Pencak Silat Setia Hati Terate. Yang awal berdirinya di kota Madiun pada tahun 1922.

Awalnya semua berjalan lancar. Gue senang banget bisa tergabung dan dikelilingi dengan mas-mas ganteng perkasa serta pelatih yang kalo gue denger suaranya, rasanya pengen membangun rumah tangga yang sakinah, mawadah dan warohmah.
Jadwal silat ditentukan pada hari Selasa dan Sabtu.
Ini apa banget gitu kan, yang punya pacar nggak bisa malam mingguan. Kenapa harus hari Sabtu coba?
Gue mau protes, tapi takut dihajar rame-rame. Trus meninggal. Kan nggak elit.

Sesudah isya sekitar jam 8, kami semua udah ngumpul di lapangan silat. Angkatan gue waktu itu ada 11 orang. 8 cowok, 3 cewek.
Yang ceweknya, gue, kakak dan adik kelas gue.
Sebagai cewek, gue ngerasa diperlakukan bak seorang ratu. Pergi dijemput segerombolan cowok, pulang jam 2 pagi juga dianterin cowok-cowok. Melindungi cewek-cewek banget. Uuh~

Setiap istirahat sekitar jam 10 malam, kami selalu disuruh bawa minum air pepaya. Sumpah. Itu air pepayanya kayak kisah cinta gue. Pahit.

Dalam pencak silat, tingkatan warna sabuknya berbanding terbalik dengan karate.
Dalam pencak silat tingkatan warna sabuk dari yang terendah sampai ke tinggi dimulai dari,

Polos (cuma seragam doang nggak pake sabuk)
Hitam
Jambon (merah jambu)
Hijau
Putih


Di sana gue baru merasakan arti dari kebersamaan dengan sesama. Mulai dari makan bareng di satu piring gede.
Butir-butir pasir dari telapak tangan sehabis push up kayaknya ikut menggurihkan nasi yang gue makan. Belum lagi keringat yang menetes. Tapi anehnya, itu nasi tetep abis. Lezatnya ngalah-ngalahin nasi padang.

Waktu naik ke sabuk hitam, gue cuma berkata dalam hati, '' Kayak gini doang nih ujiannya? Cih. ''
SONGONG.

Naik ke sabuk jambon (merah jambu), '' BUSET, SUSAH AMAT. MENDING GUE NIKAH AJA SAMA NAZAR ''
Gimana enggak. Gue diadu dengan kakak. Biasanya waktu latihan, setiap hari Sabtu ada tes adu gitu. Dan gue selalu dilawankan dengan Irma. Irma badannya kecil, mungil. Tapi kalo nendang, badan gue cuma ijo-ijo lebam, lecek doang . Tulang belulang semua sih.
Nah, waktu tes ke sabuk jambon, gue dihadapkan dengan kakak.
Ini nggak baik gaes. Melawan saudara sendiri. INI KONSPIRASI !

Tapi mau nggak mau, gue harus berhadapan dengan kakak. Gue mulai dengan pemanasan. Lari kecil mengitari lapangan. Ini kalo bisa lari sampe rumah, gue udah lari pulang nih. Sambil lari kecil, gue udah mengatur siasat.
Oke.

Salam pembuka. Salaman.
Dan

HOIK



Maknyus. Gue kena tendang. Karena nggak terima dengan perlakuannya itu, gue langsung berteriak,
  '' RASAKAN INI, JURUS RASENGAN. HIYAAAAT ''

Tapi nggak jadi. Gue cuma nyengir-nyengir nahan sakit. Perlawanan terus terjadi. Dengan semampunya gue berusaha menampik tendangan dan pukulan dari kakak.
Kalo diliat dari jauh, gue rasa ini bukan tes uji adu. Tapi lebih mirip ke emak-emak yang marahin anaknya karena semalaman nginap di warnet.
Lah iya, badan kakak gue gede. Sementara badan gue kecil kayak upil plankton.

Gue mencoba memukul ulu hatinya. Nggak bisa. Anunya kegedean.
Maksud gue, tangannya kegedean. Jadi gue nggak bisa tepat sasaran dan mengenai ulu hatinya.

Sampai pada akhirnya,

HIYAAAT


Kakak gue salah sasaran. Betewe tau kan di mana letak ulu hati. Pas di bawah tulang rusuk dada. Niatnya mau memukul ulu hati gue, tapi nggak kena. Malah yang kena tete gue.

Sakit men. Gila.

Bayangin, tangan kakak gue gede. Dikepal, tambah gede. Tenaga kakak gue gede karena makannya banyak, ditambah kayak ada rasa-rasa kesal yang tak tersampaikan ke gue.
Sasarannya ulu hati, malah kena tete gue.

Sumpah. Itu sakit bener. Gue mau elus, kayak elus kaki gue yang kena tendang tadi. Tapi, yakali gue elus-elus tete di tengah-tengah lapangan. Harkat martabat negara bisa hancur.

Oke. Akurapopo.

Gue tetep melanjutkan perlawanan sambil mikir, '' Kalo tete gue yang sebelah lagi juga kena, bisa bisa gue pulang dengan dada rata. Operasi kelamin. Jadi laki-laki macho. ''

Gue melakukan serangan pukulan dan tendangan ke kakak gue. Nggak mempan. Pengen bawa teroris aja rasanya.
Sampai pada akhirnya,

CIYAAT


Gue terduduk dengan anggun di lapangan. Kayak putri salju.
Gue meringis.

Tulang kering gue. Huwaaa. Gue terisak-isak. Besoknya langsung masuk tipi, masuk acara jalinan kasih.

Gue meluruskan kaki gue, membuka celana. Eng anu, menaikan celana untuk melihat tulang kering gue yang nggak berdosa apa apa.

TARAAA
Tulang kering gue benjol. Gede. Segede telor ayam. Kayak hasil perpaduan tumor dan bisul.

Awalnya gue sempat mikir,
  '' Ini kenapa tete gue malah pindah ke tulang kering ya? ''

Tapi setelah gue pencet dan terasa sakit. Gue baru sadar, ternyata tulang kering gue bengkak. Yawloh. Kakak gue tega banget. Durhaka.


Setelah mendapatkan sabuk jambon, beberapa bulan berikutnya diadakan tes kenaikan tingkat sabuk hijau. Dan setelah mendapatkan sabuk hijau, gue hanya bertahan selama 2 bulan sebelum pada akhirnya gue memilih untuk mengundurkan diri. Sedangkan kakak gue masih ikut sampai mendapatkan sabuk putih dan lulus.


Begitulah kisah gue sebagai mantan siswi pencak silat.
Kisah yang menginspirasi.




Learn more »

Astaga, gue hina!

Jumat kemarin, gue yang lagi goler-goleran indah mesra bersama kasur dengan meng-scroll layar hp, menemukan sebuah dp (display picture) bbm yang sangat menggugah hati. Gue melihat sebuah screenshoot percakapan dua orang manusia. Yang isinya seperti ini,

A: Iya Nda, Ayah selalu jaga kesehatan kok. Bunda juga ya, jangan sakit.
B: Iya Yah. Pasti.

Awalnya gue senyum-senyum doang bacanya sambil mikir, '' Wah orangtuanya so sweet ya, perhatian gitu. ''
Sampai pada akhirnya gue meneruskan membaca percakapan yg ada di dp itu.

A: Love you Putri.
B: Love you too Agung.


Fak!

Setau gue pemilik bbm ini Putri, adik dari temen gue. Dan Putri ini masih berstatus sebagai pelajar SMP kelas dua.
Yawloh mau nangis. Kenapa manggil pacarnya pake ayah-bunda segala coba?

Gue kemudian meletakkan hp dan memandangi langit-langit kamar. Pikiran gue melayang dan kembali ke masa-masa saat SMP dulu.
Jujur, gue pernah ada di posisi seperti Putri. Sebagai anak SMP. Punya pacar. Dengan panggilan ayah-bunda.
Allahukbar!

Gue.

Hina.

Tapi jangan salah gaes, menentukan nama panggilan kesayangan antar satu sama lain ini sangat sulit. Tentunya harus ada persetujuan kedua belah dada, eh maksud gue kedua belah pihak. Oke, serius.

Misalnya ada pasangan yang baru jadian nih 5 menit yang lalu. Lalu terjadi percakapan:
Cowo: Emm kita kan baru jadian nih. Menurut kamu, bagusnya kita pake panggilan sayang apa ya?
Cewe: Gimana kalo ayah-bunda aja?
Cowo: Duh jangan dong, mama-papa aja.
Cewe: Aku maunya ayah-bunda!
Cowo: Nggak usah itu.
Cewe: KAMU KOK NGGAK NGERTIIN KEMAUAN AKU SIH?
Cowo: AKU MAU PANGGILAN KITA MAMA-PAPA!
Cewe: KOK LO GITU? YAUDAH KITA PUTUS!
Cowo: OKE!


Gila. Cuma karena berdebat untuk menentukan panggilan kesayangan aja sampai putus.

***

Berikut gue jelaskan panggilan alay apa saja yang pernah gue pakai bersama si pacar ketika itu.

1. Ayah-Bunda
Iya, gue pernah menggunakan panggilan ini. Alay. Najis. Iyuh. Tapi tetep aja waktu itu gue seneng dipanggil dengan sebutan itu. Panggilan kesayangan. Hahaa tapi menjijikan.
Di mata gue, sosok seorang perempuan yang pantas dipanggil dengan panggilan 'Bunda' itu adalah perempuan yang sholehah, rajin sholat, pinter ngulek sambel bawang, kalo dikagetin orang, lantas berucap,  '' MasyaAllah. ''
Gitu.
Berbanding terbalik dengan gue yang saat itu masih duduk dibangku SMP. Sholehah kagak, sholat masih bolong-bolong, ngulek sambel bawang nggak bisa, masak nasi kebenyekan mulu, trus juga kalo dikagetin orang, gue langsung ngucap, '' WOY TAI AYAM LU! ''

Walaupun  gue memang nggak pantas dipanggil dengan sebutan 'Bunda' ketika SMP, tapi kenapa gue pas pacaran manggil Ayah-Bunda ke pasangan. Masih pacaran juga, ahelah.
Bahkan waktu itu.  dengan pedenya gue dan si pacar saling memanggil nama ayah-bunda di depan umum. Di depan teman-teman. Di rumah gue.
Ya Allah, hamba-Mu khilaf :(
Sampai sekarang, gue geli mengingat masa-masa itu.



2. Mimi-Pipi
Itu panggilan kesayangan yang terimut yang pernah gue gunakan. Imut banget gila. Gue menggunakan panggilan ini saat gue duduk di kelas 2 SMK. Parah. Kealayan dari masa SMP gue masih aja terus menempel hingga sampai gue duduk di kelas 2 SMK ketika itu.
Mimi-Pipi. Kayak panggilan Krisdayanti dan Anang ya. Tapi meskipun gue dipanggil mimi saat pacaran, gue nggak selingkuh sama Raul Lemos sih. Gue orangnya setia. Tapi sebenernya leh uga om Raul. Apartemennya banyak, rumahnya banyak.

Eh apa tadi??

Gue masih ingat kejadian waktu kelas 2 SMK. Gue yang sok-sok belajar make up mencoba menggunakan eyeshadow. Tau eyeshadow kan?
Eyeshadow artinya bayangan mata. Sering dipakai pada kelopak mata. Warna warni. Bikin mata keliatan lebih ngejreng.
Beda dengan mantanshadow yang artinya bayangan mantan. Kayak belum move on gitu.
Oke, jangan bahas mantan lebih dalam.

Nah, pagi itu sebelum berangkat sekolah gue mencoba memakai eyeshadow. Berhubung waktu itu gue menggunakan seragam sekolah SMK biasa, putih biru, maka gue memilih menggunakan eyeshadow warna biru.  Asoy.
Gue berangkat menuju sekolah dengan berjalan kaki. Iya sekolah gue deket dari rumah. Kentut doang, udah. Sampai.
Waktu masuk ke gerbang sekolah, gue udah pede mampus nih. Ngerasa paling oke sejagad raya. Sesampainya gue di depan kelas, seperti biasa pacar gue waktu itu sudah nunggu di depan pintu kelas. Temen-temen gue pada ngiri, sampai ada yang bilang, '' Ih pacar lu romantis ya. ''
Romantis apaan. Nunggu depan pintu. Kayak satpam mall. Bhahahaa.
Harapan gue waktu masuk kelas, nantinya gue bakal melihat teman-teman tercengang, terpesona sambil berkata,
  '' Ya Allah, Taylor Swift. ''
  '' Bidadari surga. Subhanallah. ''

Tapi kenyataannya berbeda. Baru gue sampai di depan pintu kelas, pacar gue langsung memandang wajah gue dengan tatapan  kok-tampang-lu-kayak-keset-kaki  kepada gue.
  '' Mi? ''
Gue menoleh. Waktu itu gue seneng banget dipanggil Mimi.
  '' Iya? ''
  '' Itu mata kamu kenapa? Biru-biru. Kayak nyi  roro kidul. ''

Oke.
Akurapopo.
Terimakasih eyeshadow.


Cry.

Sejak saat itu, setiap kali melihat eyeshadow, gue selalu ingat dengan kejadian itu. Kejadian gue yang ketika itu bangga dipanggil Mimi dan dikatain nyi roro kidul oleh pacar.



3. Mamah-Papah
Eits, jangan salah pengucapan waktu manggilnya. Panggilan ini harus dilafalkan dengan suara mendesah. Mamah dan Papah.
Akan ada nafas-nafas terzalimi yang keluar dari mulut saat menyebutkan.
Gue menggunakan panggilan mamah-papah dengan pacar saat gue duduk di kelas 3 SMP. Dalam pandangan gue, sebutan mamah ini menggambarkan sosok seorang perempuan sosialita yang hobinya haha-hihi, nongkrong cantik dan belanja kangkung pake hermes.

Gue seneng dong dipanggil dengan sebutan Mamah. Baik dalam sms maupun panggilan langsung.
Padahal gue sama sekali nggak mencerminkan sosok perempuan yang pantas dipanggil 'Mamah' tersebut. Yang kalo ketawa, '' BHAHAAHA, NGAKAK. HAHAA. ''
Siswa satu kelas dari lantai atas sampai lantai bawah ngeliatin. Jangankan nongkrong cantik, nunggu angkot sampai kelamaan pulang aja udah dicariin. Padahal nunggu angkot juga. Gue yang disalahin.
Boro-boro belanja kangkung pake hermes, ada plastik kresek juga udah syukur daripada kangkungnya cuma diiket karet gelang yang warna merah.

Tapi, jujur. Waktu itu gue bangga parah dipanggil dengan panggilan mamah oleh pacar. Begitu juga gue, manggil si pacar dengan sebutan papah. Kayak di tipi-tipi.
Bedanya kalo papah yang muncul di layar tv, papahnya pake jas dan dasi panjang. Papah kantoran. Gagah.
Kalo papah yang jadi pacar gue, pake dasi juga sih. Sama. Tapi dasinya yang ada tulisan ''tut wuri handayani''.


4. Bawel-Jelek
Ini panggilan yang membuat banyak dosa bagi gue. Gimana enggak, manggil orang sekaligus ngatain. Bawel dan jelek. Dulu waktu facebook lagi hits, gue bangga setiap dapat tulisan '' Sayang Bawel'' kiriman di dinding fb. Panggilan romantis.

Gue takut aja nanti pas di alam kubur, malaikat nanya, '' Coba kamu jelaskan dan uraikan sisi romantis dari panggilan bawel-jelek yang pernah kamu lakukan dalam hidupmu? ''

Gue langsung pura-pura pingsan. Udah meninggal, pura-pura pingsan lagi.


Dan dengan hati yang berbunga-bunga gue dengan pedenya membalas dan mengirimkan tulisan '' Sayang kamu juga jelek '' di dinding pacar.

So sweet. Facebook serasa milik berdua. Gue rasa Om Mark Zuckerberg kalo ngeliat pasti iri dengan keromantisan kami berdua. Trus dengan sukarela menghibahkan facebook kepada kami.
Untung gue nggak sampai ganti nama facebook jadi Whulan chayank Ayah cLaloe polepHeL.

Nggak! Nggak!
Gue nggak sampai sesesat itu.


 ***

Setiap kali gue mengingat masa-masa alay dengan panggilan pacaran saat SMP, rasanya gue mau sholat taubat.

Astaga, gue hina!

Learn more »

Cabe-cabean dan Kepo

Semua bermula pada hari Minggu kemarin.
Gue yang usai melakukan ritual bobo siang kiyut ketika itu terbangun dengan wajah berantakan. Kayak hati. Hiks.

Dua orang perempuan abege anak SMP datang dan masuk ke rumah gue. Dan mereka berdua ternyata adalah temen adik gue, Nova.
Sore itu, Nova pamit ke ibu kalau dia diajak temannya untuk merayakan ulangtahun salah seorang temannya di toko ayam. Sebelum Nova keluar kamar, gue memanggilnya dengan syahdu.
  '' Nova, bawa plastik ya. ''
  '' Untuk apa? ''
  '' Bungkus. Dua. ''

Nova langsung ngacir meninggalkan gue yang masih bengong duduk di pinggir tempat tidur.

Adik durhaka!

Setelah ganti baju, rapi-rapi dikit, Nova langsung keluar kamar dan menemui dua orang temennya.

  '' Ini nggak papa nih naik motor bertiga? '' Ibu kelihatan panik melihat tiga anak SMP itu sempitan sempitan di motor matic.
  '' Ini deket kok Bu. Kami bertiga mau ke rumah Helen dulu, nanti dari rumah Helen bertiga naik mobil sama mama Helen. '' Helen, salah seorang temen Nova yang sedang berulangtahun menjelaskannya kepada Ibu.

Deket doang sih jarak rumah gue ke rumah Helen.
Ibu manggut-manggut.

  '' Udah, nggak papa, Bu. Biar kayak cabe-cabean. Hahaaa. ''

Gue ngakak puas sembari masuk lagi ke dalam rumah. Sebelum ngeloyor masuk, gue sempat melirik ke arah Ibu. Ibu terlihat diam seakan paham akan sesuatu.


***


Sore itu gue kedatangan saudara. Rame bener. Saat lagi asyik-asyiknya ngobrol, Nova tiba-tiba masuk ke rumah setelah pulang merayakan ulangtahun temannya.

  '' Ini nih, anak Ibu yang cabe-cabean. '' Ibu menarik Nova halus dan memeluk Nova dengan posisi duduk.

APA-APAAN INI.

Asli. Gue bengong.
Bentar-bentar,

Atas dasar visi dan misi apa Ibu dengan penuh rasa bangga mengatakan itu?
Kalau kalian tanya, ada nggak orangtua yang bangga dengan anaknya yang cabe-cabean? Nah ada. Itu orangtua gue. HUWAA MAU NANGIS AJA.

Setelah Ibu keluar rumah dan melepaskan saudara gue untuk pulang, seorang ibu-ibu yang mengendarai motor dengan dua anaknya memanggil Ibu gue.
Biasalah, ibu-ibu. Ngerumpi-ngerumpi ini itu, mulai dari kasus Nikita Mirzani, Musdalifah sampai kasus Farhat Abbas yang nggak penting sepertinya juga dibahas oleh dua ibu-ibu ini.

*Beberapa tahun kemudian*


  '' Udah ya Bu, udah magrib nih. Saya pulang ya. ''
  '' Iya iya Bu, udah magrib ya. Hehee. Eh ini anaknya udah besar ya. Udah kayak cabe-cabean. ''


SUMPAH.
INI IBU GUE SEBENERNYA NGERTI NGGAK YA CABE CABEAN ITU APA.




  '' Heheeheeheheeheheeehehee. '' Ibu-ibu temen ibu gue cuma ketawa cengengesan.

Saat Ibu masuk ke rumah, gue langsung ngomong ke Ibu.
 Gue : Bu, Ibu sebenernya tau nggak artinya cabe-cabean itu apa?
 Ibu  : Tau. Cabe-cabean itu maksudnya anak perempuan yang udah gadis gitu kan?
 Gue : Yaoloh, bukan Bu. Cabe-cabean itu cewek nggak bener. Cewek alay yang narsis, yang suka naik     motor bonceng tiga, pake baju seksi nan aduhai. Alay lah pokoknya.
 Ibu  : Eh iya ya? Duh, tadi Ibu salah ngomong berarti ya.
 Gue : Iya Bu, itu kayak julukan buat perempuan yang kurang bagus.
 Ibu  : Eh tapi, kamu sendiri siang tadi juga ngomong gitu kan ke Nova? Lah, Ibu kan taunya dari kamu,    Sek.
 Gue : Iya, itu karena Nova tadi bonceng tiga naik motor sama temennya.
 Ibu  : Ya tadi Ibu nggak tau kalau artinya itu. Pokoknya Ibu kan taunya dari kamu.
 Gue : ASDFGHJKL;'.?!#


***


Gue paham bener dengan sifat Ibu. Ibu orangnya gaul abis, suka niruin kata-kata yang lagi ngetren sekarang.
Gue masih ingat, waktu itu lagi trend banget istilah, '' KEPO ''.
Nanya dikit ke temen, dibilang kepo. Apa-apa dibilang kepo. Bhangkay.

Sampai suatu sore, gue udah capek kebangetan sehabis pulang kerja. Gue langsung nyamperin Ibu yang lagi duduk santai di teras rumah.
  '' Bu, masak apa? ''
  '' KEPO! ''


Key. Fain. Akurapopo.


Malam harinya, seperti biasa setelah magrib semua anggota keluarga pasti berkumpul di ruang tengah. Nonton tv bareng. Malam itu, layar di tv menayangkan acara Biang Rumpi. Itu loh yang hostnya Feni Rose. Seingat gue, waktu itu bintang tamunya adalah Regina, Istri Farhat Abbas. Tau Farhat Abbas nggak? Itu loh, yang kalo setiap kali kita liat mukanya nongol di tv, bawaan kita pengen ngerajam dia. Separah itu.
Nah, saat lagi seru-serunya berbincang dengan Regina, gue baru menyadari akan suatu hal.
Ternyata Regina itunya gede. Serius. Hmm.

Maksud gue tali pinggangnya. Regina waktu itu kan pake tali pinggang gede.

Lagi asyik-asyik menonton acara itu, tiba-tiba ibu nyeletuk,
  '' Itu, Feni Rose kepo banget ya. ''

Satu rumah menghela nafas.





Tapi walau bagaimanapun, aku tetep sayang Ibu dan juga Ibu kamu.
Iya, Ibu kamu. Mertua aku nanti. Uhuk. 
Learn more »

Hai, Cinta Pertama

Ada yang ingat kapan pertama kali jatuh cinta?
Kata orang cinta pertama itu enggak bisa dilupakan. Bener nggak sih?
Meskipun pada kenyataannya cinta pertama kita belum tentu menganggap kita sebagai cinta pertamanya. Karena dia pasti punya cinta pertamanya sendiri.



                                       




Jujur. Gue sendiri merasakan cinta pertama di usia 8 tahun. Gila ya. Gue nggak habis fikir. Anak kelas 3 esde bisa-bisanya mengalami jatuh cinta.
Gue jatuh cinta dengan ketua kelas di kelas gue sendiri. Namanya Fariz. Beneran deh, ini nama asli. Bukan nama samaran.
Fariz bersuku Aceh. Badannya gagah, tampan rupawan. Kepribadiannya juga wibawa banget. Ngomong seadanya. Tipe suami-able gitu. Duuh.
Gue sering kali melirik-lirik dia di setiap kali ada kesempatan. Ada bahagia yang tak terungkap di dalam hati.

Sampai pada suatu hari yang di mana gue mengingat jelas hari bersejarah ketika  gue jatuh cinta untuk yang pertama kalinya.
Pagi itu pelajaran matematika sedang berlangsung. Sialnya, gue lupa membawa penggaris. Padahal beberapa hari sebelumnya, ibu guru udah mengingatkan siswanya untuk membawa penggaris. Soalnya pelajaran kali itu udah masuk ke bab bangun ruang.
Selesai ibu guru menerangkan di papan tulis, seperti biasa anak-anak lainnya sibuk mencatat kembali pelajaran dari papan tulis. Dan gue mendadak bengong saat menyadari bahwa gue tidak membawa penggaris.
Daripada enggak nyatat, akhirnya gue memberanikan diri bertanya ke teman-teman yang posisi duduknya dekat dengan gue.

  '' Temen-temen, ada yang bawa penggaris nggak? ''
Satu kelas hening. Nggak ada yang respon. Gue dikacangin. Parah.
Gue kembali  membuka mulut.

  '' Ada yang bawa penggaris nggak? Pinjem dong. ''

Belum sempat gue menyelesaikan omongan gue, sebuah penggaris hadir tepat di depan gue.
  '' Nih, ''

Seorang lelaki mengulurkan penggarisnya ke arah gue. Gue terkejut. Fariz tersenyum seraya menganggukkan kepalanya ke gue.
Gue diem.
Waktu seakan berjalan lambat. Ada jeda yang membuat jantung gue berdegup cukup kencang. Nafas pun ikut tertahan.

 Ada gejolak yang tak biasanya gue rasakan saat berada dalam situasi saat ini. Ada rasa yang beda. Lain.


Keringat dingin mulai mengalir di sekujur tubuh.

  '' Ini, pakai aja. '' Fariz menyadarkan gue.
  '' Ehh iya, iya. Pinjam dulu ya. ''

Sejak saat itu, gue menyukai Fariz.
Fariz yang berhasil membuat gue jatuh cinta untuk yang pertama kalinya. Kedengarannya memang aneh, bagaimana mungkin anak berumur 8 tahun bisa mengalami jatuh cinta dengan lawan jenisnya? Bagaimana mungkin cinta bisa datang tiba-tiba di usia yang semuda itu. Masih terbilang kanak-kanak.

Tidak hanya itu. Gue juga sering sekali memperhatikan buku absen yang ada di atas meja guru. Memperhatikan deretan nama absen sesuai abjad. Yang dimana nama gue dan nama Fariz hanya terpisah oleh satu nama siswi lain.

Muhammad Fariz
Ningsih
Rahayu Wulandari


Ada senyum yang perlahan mekar di ujung bibir saat jari tangan gue menyentuh deretan nama gue dan nama Fariz.
Ah, andai saja Ningsih tidak ada di kelas ini. Pasti nama gue dan Fariz udah deketan.
Gila. Segitu jatuh cintanya gue dengan lelaki itu.

Semakin hari, gue semakin menyukai sosok Fariz. Sikapnya dalam memimpin kelas, mengatur kelompok, mengatur barisan. Hanya satu kata yang terlintas di benak gue. Gagah.
Naik ke kelas 4 SD, gue tidak lagi sekelas dengan Fariz. Meskipun begitu, setiap jam istirahat gue selalu menyempatkan diri untuk melihatnya dari kejauhan. Melihat punggungnya yang sedang berjalan di paving block halaman sekolah. Melihatnya masuk ke kantor guru, bicara dengan guru, tertawa dengan teman-temannya. Tatapan matanya teduh.

Hingga sampai naik ke kelas 6 SD, gue-masih-menyukai-Fariz.
Gue menyukai saat di mana gue bisa memperhatikan raut wajahnya secara jelas. Ketika nomor ujian akhir murid udah keluar dan terpampang di papan info sekolah, rasanya gue ingin melompat girang saat mengetahui posisi duduk gue tepat di belakang posisi duduk Fariz. Gue juga bingung, kenapa bukan Ningsih yang berada di belakang posisi duduk Fariz. Dan akhirnya gue tau, ternyata posisi duduk sengaja dibentuk zig-zag sesuai nama di buku absen. Syukurlah. Setidaknya dengan posisi zig-zag itu, gue bisa berada dekat dengan lelaki ini. Lelaki yang gue kagumi 3 tahun lamanya.


Ada satu momen yang sampai saat ini masih teringat jelas di benak gue di saat hari ujian akhir berlangsung.
Seperti biasa, setiap kali selesai mengerjakan soal ujian, gue dan Fariz selalu berbicara tentang apa saja. Saat itu obrolan yang paling gue ingat mengenai musibah tsunami di Aceh. Berhubung Fariz adalah orang Aceh, gue selalu bertanya tentang kejadian itu, tentang saudaranya di sana.
Gue selalu senang ketika bisa berbicara dekat dengan sosok Fariz.

Setidaknya dengan obrolan inilah, gue bisa berada dekat sebagai lawan bicaranya. 


Gue juga masih ingat, saking ingin mengobrol dekat dengannya gue pernah membuka pembicaraan dengan kalimat,
  '' Riz, kamu tau nggak. Itu A'a Gym nikah lagi loh. ''
  '' Eh, masak iya? ''
  '' Iya, bla bla bla  ''

Bayangin. Anak kelas 6 SD udah ngomongin tentang A'a Gym yang melakukan poligami. Waktu itu acara gosip di tv memang lagi seru-serunya ngebahas tentang A'a Gym yang berpoligami.
Habisnya, gue nggak tau lagi mau bahas apa dalam obrolan. Gue hanya ingin terus berada dekat dengannya. Meskipun hanya dengan melalui obrolan.



Hingga di hari ujian kedua, gue mendadak kesel dengan Fariz. Fariz tidak sengaja mencopot kartu ujian gue yang tertempel di atas sudut permukaan meja. Di tiap-tiap meja memang tertempel kartu ujian masing-masing siswa. Dengan tujuan agar siswa bisa menyesuaikan posisi duduk dan kartu ujian yang asli sebagai pegangan.
  '' Sorry, aku nggak sengaja. ''
  '' Kamu sih, lihat tuh kan kartu ujianku jadi lepas. Ujungnya juga robek. '' Gue manyun. Sok imut. Jiji.
  '' Iya, aku minta maaf. Blablablaaa.. ''

Hari itu, tidak ada lagi obrolan seusai ujian yang biasa kami lakukan sambil menunggu jam ujian berakhir. Tidak ada lagi membahas tsunami maupun A'a Gym yang menikah lagi.
Setiap kali Fariz menoleh ke belakang untuk mengajak gue mengobrol, gue selalu membuang muka. Diem. Ngambek.
HAHAAHAA KOK GUE GELI YA NGETIK DI BAGIAN INI. NGEBAYANGIN GUE SOK-SOK NGAMBEK.

  '' Lan, maaf. Kan aku nggak sengaja. '' Fariz memutar posisi duduknya. Gue tetep diem sambil melempar pandangan ke arah lain.

Keesokan harinya, gue yang sedang diam duduk manis di kursi terkejut dengan kedatangan Fariz yang terlihat tergesa-gesa. Gue mau nanya sih, tapi gue sadar. Kan gue masih dalam kondisi 'ngambek'.
Fariz meletakkan tas punggungnya kemudian mengeluarkan kotak pensil hitamnya. Kemudian Fariz berbalik arah menghadap gue yang berada di belakangnya.
Dari kotak pensil hitam itu, Fariz mengeluarkan sebuah lem kertas. Dengan tanpa bicara apapun, Fariz langsung saja mengoleskan lem kertas itu ke kartu ujian gue dan menempelkannya kembali di atas meja. Gue sama sekali nggak melihat jelas tangan Fariz yang berusaha menempelkan kembali kartu ujian gue.
Dari posisi seperti ini, gue hanya-ingin melihat raut wajahnya yang tampak serius dan berhati-hati menempelkan kertas tersebut.
  '' Udah kan? '' Fariz tersenyum sambil menutup kembali lemnya.
Gue tersenyum dan mengangguk. Masih nggak menyangka Fariz sebegitu pedulinya dengan gue. Berbeda dengan anak-anak lainnya.

Gue sebenernya mau ngomong,
'' Lemnya masih di pake nggak? ''
Dan membayangkan Fariz yang akan menjawab,
'' Enggak. Memangnya buat apa? ''
Trus gue dengan imutnya membalas,
'' Buat ngelem hati aku dan hati kamu. Biar lengkeeeet terus. ''

Trus gue dilempar lem.

Sayangnya, percakapan itu nggak terjadi. -__-

Setelah kartu ujian gue kembali melekat di atas meja, gue mulai membuka mulut saat Fariz mengajak gue mengobrol.
Ada perasaan yang sulit untuk diungkapkan saat gue mengingat kejadian seperti itu.
Sebegitu tanggung jawabnya dia di usia anak sekolah dasar ketika itu. Gue salut. Dan sikap-sikap seperti itu yang menjadi alasan mengapa gue bisa menjatuhkan cinta kepada sosok seorang Fariz.
Hampir setiap hari gue selalu berdoa dengan kalimat,
''Ya Allah semoga aku lulus SD. Semoga diterima di SMP 1. Semoga hasil ujiannya bagus dan kertas ujiannya nggak ada masalah. Semoga Fariz bisa jadi suamiku. Amin. ''

Nama Fariz, selalu ada dalam setiap rentetan doa gue.


Sejak lulus dari sekolah dasar, gue dan Fariz masuk di SMP yang berbeda. Begitu juga saat di SMA.
Gue sudah jarang bertemu Fariz.
Pernah suatu kali gue bertemu dengannya. Ingin sekali rasanya menyapa teman lama, tapi gue begitu takut untuk memulai.
Setiap kali berjumpa, gue dan Fariz selalu bertatapan beberapa detik sebelum pada akhirnya kami sama-sama sibuk dan kembali pada kegiatan masing-masing. Satu hal yang gue ingat, tatapan matanya masih sama seperti yang dulu. Teduh. Menyejukkan hati.
Tahun lalu, gue juga sempat bertemu dia saat di bulan puasa. Gue yang ketika itu sedang berburu takjil  di pinggir jalan selalu menyempatkan diri melihat jalanan yang macet. Nggak tau kenapa, gue suka macet. Saat berada dalam mobil, gue juga sering memperhatikan korban macet dari balik kaca mobil.
Gue suka memperhatikan orang-orang yang terjebak dalam situasi macet meskipun gue sama sekali tidak berada di dalam kerumunan itu.
Gue bisa melihat raut wajah, gerutuan, omelan dari sikap masing-masing pengguna kendaraan. Gue juga bisa melihat sikap sabar dari beberapa pengendara motor dalam menghadapi situasi macet kala itu.
Dan pada detik itu, tanpa sengaja tatapan mata gue berhenti pada seorang pengendara motor. Fariz.
Lelaki itu...
Entah bagaimana bisa seketika gue menatap Fariz, lelaki itu seperti sadar dan juga menatap gue di tengah-tengah macet yang dialaminya.
Ada beberapa detik saat mata gue dan Fariz saling bertemu. Tak ada obrolan seperti yang kami lakukan saat 6 tahun silam. Tak ada sapaan, senyuman juga tegur sapa.

Mata yang seolah berbicara.


Percaya atau tidak, sampai saat ini gue masih sering menjadi stalker Fariz. Gue hanya ingin tau bagaimana tentang dia, bagaimana sekolahnya, kuliahnya juga tentang pacarnya.
Gue juga sering membaca komen-komenan instagramnya bersama teman-temannya. Tentang ia yang saat itu mendaki gunung, liburan ke pantai, jadi seorang maba, berlebaran dengan keluarganya dan banyak lainnya.

Karena gue hanya ingin tau tentang bagaimana keadaan dia setiap waktu.



Hai cinta pertama.
Sepertinya kamu tidak tau dan tidak akan pernah tau bahwa kepada kamulah aku menjatuhkan cinta untuk yang pertama kalinya di hidupku. Pemujamu dalam diam.
Kepada sosokmulah aku dapat merasakan bagaimana rasanya menyukai seseorang. Dengan hati yang bercampur aduk, dengan hati yang tidak menentu setiap kali aku melihatmu.
Hai cinta pertama.
Aku sangat berterimakasih kepadamu. Dengan adanya kamu, aku menjadi tau bagaimana rasanya guncangan degup jantung dengan skala besar. Aku menjadi tau bagaimana sejuknya hati saat berbicara denganmu. Dengan memperhatikan tekstur wajahmu, lekukan lesung pipimu, setiap inci helai rambutmu.
Hai cinta pertama.
Sukses selalu dalam mewujudkan impianmu :))



Learn more »

Susu dan Keyword

Gue. Cewek. Gagah.

Iya. Gue nggak makan nasi sejak hari Kamis malam.
Keren nggak?
Nyari penyakit nggak?
Bukan. Bukan karena nggak ada yang ngingetin makan. Gue cuma lagi kurang perhatian aja. Enggak deng.

Entah kenapa perut gue rasanya kenyang mulu. Kenyang dengan masalah-masalah yang gue alami.
Malam Kamis gue sama sekali nggak ada makan nasi. Alasannya, males.
Pagi di hari Jumat, gue cuma minum susu. Siangnya cuma minum soya. Soyapa yang nanya??
Malamnya gue kembali males makan. Sabtu pagi gue bete, lagi-lagi nggak sarapan dan nggak ada minum susu. Siang harinya nggak sempat makan karena buru-buru berangkat kuliah. Maklum, pengen cepet-cepet berangkat kuliah biar bisa ketemu abang-abang ganteng. Uuuh~
Setelah istirahat ashar, lambung gue nyeri.
Gue dengan pelan-pelan memeras anu, baju di bagian perut untuk mengurangi sakitnya nyeri lambung. Sampai salah seorang temen laki-laki gue nanya.
  '' Lan, kenapa? ''
  '' Nyeri lambung bang. ''
  '' Wah iya? Selamat ya. ''

Enggak deng.

 Temen gue keliatan prihatin. Duuh cowok kalo prihatin ke cewek, tingkat kharismanya naik berjuta-juta persen.
  '' Loh kenapa? Belum makan? ''
  '' Belum makan nasi dari hari Kamis bang.  ''
  '' Kenapa? ''
  '' Pengen jadi cewek macho bang. ''


Sampai sore hari, saat istirahat kuliah.
Gue dan tiga temen lainnya memilih untuk mencari makan di luar. Berhubung jam setengah delapan masuk kelas lagi, kami akhirnya memutuskan untuk mencari tempat makan yang jauh. Iya beneran jauh.
Setelah waiter datang, gue dan Fira dengan pedenya memilih mie goreng dan susu dingin untuk gue makan malam itu.
Malam itu hujan, dan gue dengan bodohnya malah milih susu dingin untuk diseduh. Seandainya ada pilihan lain, mungkin di malam saat hujan turun itu gue lebih memilih untuk berada di dalam dekapan kamu.

Dan terhitung sudah dua hari perut gue nggak ada terisi nasi. Keren.
Nggak ada terjadi apa-apa selama gue melahap mie goreng itu. Sampai akhirnya, setelah selesai makan dan meminum susu dingin, gue merasakan hal aneh yang terjadi di dalam perut gue. Temen-temen yang lain keliatan sibuk ngerjain tugas kuliah yang diberikan dosen tadi. Sementara gue berusaha megangin perut yang sakit bukan main.
Gue noleh ke Fira yang ikutan meringis.
Yak, nggak salah lagi. Kita berdua yang sama-sama meminum susu dingin kayaknya keracunan susu. Itu susu sapi atau mba-mba waiternya? Huh.
Sebelum masuk toilet di tempat makan, gue dan Fira masih sempat tolak-tolakan untuk yang masuk ke toilet duluan.
  '' Kakak dulu deh yang masuk. ''
  '' Fira aja duluan. Kakak nanti. Fira udah mules kali ya? Duluan sana. ''
  '' Kakak aja. Fira nggak terlalu mules. ''
  '' Kakak nanti. Fira deh sana yang masuk. ''

Beberapa menit kemudian kita boker di tempat.

Ini apa banget gue dan Fira pake tolak-tolakan segala. Sama-sama kebelet boker juga. -__-

Untungnya, dua temen gue yang lain nggak ikut memesan susu dingin. Kalo mereka ikut minum susu dingin, pasti kita berempat udah tolak-tolakan siapa yang duluan masuk ke toilet. Nggak kebayang gue.
Setelah Fira keluar dari toilet, mules gue malah hilang. Kenapa saat gue mules, Fira ikutan mules. Fira udah lega, mules gue juga ikutan hilang. Apa ini yang dinamakan cinta? So sweet.

Selama di perjalanan kembali ke kampus, gue dan Fira sama-sama diem. Sama-sama nahan sakit perut yang masih muter-muter di dalam. Nggak mules sih, tapi perut gue sakit banget.
Gue yakin. Kayaknya ini nih akibat gue nggak makan nasi dua hari. Bahkan Sabtu itu gue bukannya makan nasi, malah makan mie goreng. Perut kosong trus langsung diisi dengan susu dingin mba-mba. Maksud gue susu dingin yang di antar mba-mba sebagai waiternya.

Gue kapok nggak makan nasi. Nggak mau lagi jadi cewek gagah. Nggak mau lagi jadi cewek macho.



***

Kemarin tanggal 18 November gue sempat shock dan pengen ngakak saat melihat statistik blog gue.


Tanggal 18 November.



1. Kata tukang urut, rahim subur nyut-nyutan. 
    Sejak kapan gue beralih profesi jadi tukang urut? Tukang urut rahim apalagi. 

2. Cowo dan cewe gitu-gituan.
    INI MAKSUD GITU-GITUANNYA GIMANA SIH? 
    Apanya yang gitu-gituan? gitunya digituin atau gitu-gitunya gitu-gituan. Kenapa malah nyasar ke blog gue coba? Setahu gue,  blog ini lebih mengarah ke aura religi nan agamis deh. Huh. Ucink pala Raisa.

3. Ciri cowok yang cuma php doang.
    Iya, cowok memang gitu. Hmm

4. Sek ibu dan anak kandung.
    Astagfirulloh. Betapa hinanya blog ini. 



Tanggal 19 November

4. Adik Darma Kusumah
    Apa-apaan ini. Kenapa ada nama Darma Kusumah di sini.
    Adik? Kakak-adik zone?
    Iya Darma memang gitu. Hmm.


5. Cuek kepada pasangan itu ada gunanya.
    Iya, ada gunanya. Untuk mengakhiri sebuah hubungan. Hasek.




Learn more »

Bagaimana Ini??

Akhir-akhir ini gue rada takut nulis di blog. Bukan takut sih, lebih tepatnya malu. Iya gue malu.
Ternyata tanpa gue ketahui, pak Manager membaca blog ini. ALLAHUAKBAR !

Bukan apa-apa. Gue cuma takut reputasi gue sebagai karyawan terkiyut sejagad raya ini jatuh begitu saja.
Awalnya saat makan siang berempat, pak Manager berceloteh tentang cowok cuek dengan tipe-tipenya. Dan sontak gue kaget bukan main. Itu kan tulisan gue di blog? Gimana bisa??

Beberapa hari setelah itu, gue meminta bantuan untuk meng-unprint file yang mana hanya si pak Manager yang bisa melakukannya. Otomatis gue meminta tolong ke beliau melalui layanan hangouts gmail. Setelah print selesai, gue langsung mengucapkan terimakasih ke pak Manager yang kemudian dibalas dengan,

 '' Terimakasih juga vixalnya ''

Gue bingung. Kayak orang dongo.
Vixal? Itu kan cairan pembersih wc. Kenapa bilangnya ke gue? Apa gue terlihat seperti kerak-kerak wc? Atau gimana?

Selang beberapa menit gue mendapat balasan lagi.
  '' Terimakasih Vixal, eh terimakasih Wulan ''

OMAIGAT. ITU KAN JUDUL TULISAN GUE DI BLOG !

Gue malu. Bener-bener malu. Parah.
Meskipun pak Manager kemudian membalas lagi dengan mengatakan,
  '' Kenapa malu? Tulisannya bagus kok. ''

Iya pak. Bagus.
Bagus.
Bagus untuk menyesatkan orang.

Gimana enggak. Tulisan ini kebanyakan sesat dan aib. Awalnya gue berfikir, oh mungkin pak Manager nyasar sampai tiba-tiba bisa membaca blog hina ini.
Tapi bagaimana dengan postingan Vixal itu? Itu postingan bulan Mei. Postingan lama gaes.


Huwaaa gue malu. Nikahin aku abang Zayn. Bawa aku hijrah ke negaramu. Bawa..


Semoga saja pak Manager nggak baca tulisan ini. Kalau pun baca, gue cuma mau bilang.
Pak, tolong naikkan gaji saya. Eh bukan gitu. Emm maksud saya. Tolong banyak-banyak istigfar sebelum dan sesudah membaca tulisan saya ya pak.
Terimakasih ~

Learn more »

Kuku Jempol yang Malang

Wew. Sudah 11 hari gue nggak nge-blog.
Pikiran gue mumet. Kacau. Berantakan.

Pikiran gue terbagi dengan tugas kuliah yang sampai saat ini baru beberapa soal gue kerjain. Itu juga masih dikerjain, belum dibaca ulang. Yang lebih parahnya awal Desember gue udah ujian. Omaigats.
Pikiran gue terbagi lagi dengan urusan pekerjaan. Bangun pagi pulang sore dan akhirnya kelelahan.
Pikiran gue terbagi lagi dengan mikirin hubungan gue sendiri. Alhasil gue jadi ngambek-ngambek nggak jelas. Aneh memang. Emosi gue labil. Naik turun.

Hampir setiap hari gue membuka blog ini. Kayak kemarin. Halaman kosong udah terbuka di depan mata. Cukup lama gue bengong sampai akhirnya gue memilih untuk meng-close tab. Pikiran gue buntu. :(
Keliatannya doang gue nggak ada masalah. Kalau gue jabarkan di sini, mungkin Mahabrata nggak bakal sanggup menayangkannya. Huh.


Setelah membaca postingan sebelumnya, gue akan menceritakan tentang kejadian kesurupan yang gue alami. Kejadian ini sungguh memalukan dan menjatuhkan harga diri gue sebagai senior terkece saat itu.

Gue si Pembuka
Senin pagi selesai upacara, gue masih biasa biasa saja. Masih kiyut dan ramah serta rajin menebarkan senyuman manis. Haseek.
Siang itu selesai istirahat untuk masuk ke les pelajaran, (betewe waktu itu gue kelas tiga esempe) gue memilih untuk duduk di anak tangga. Sendirian. Kayak jomblo. Sedih. Memang waktu itu gue jomblo.
Gue lama duduk di anak tangga itu dengan sikap bengong. Gue suka bengong. Rasanya beban pikiran yang memenuhi kepala gue hilang begitu saja. Plong.
Gue bengong sampai pada akhirnya gue mendengar suara panggilan dari seorang temen.
  '' Lan ''
Gue diem.
  '' Hei Lan! ''
Gue masih diem.
  '' LAN. HOI. LAN!! ''

Sumpah, gue denger mereka manggilin gue. Tapi gue nggak bisa gerak sama sekali. Noleh juga nggak bisa. Gue mendadak kaku. Diem.
  '' Woi Lan, lu nggak kenapa-napa kan? ''
Beberapa temen gue mulai berdatangan menghampiri gue.
  '' Lu sakit? ''
Gue tetep diem. Pandangan gue kosong. Telinga gue mendengar semua pertanyaan yang mereka suarakan. Tapi apa daya, saat itu gue nggak bisa ngapa-ngapain. Hingga akhirnya gue diajak berdiri dan dibawa ke UKS. Belum sempat gue berdiri sempurna, gue jatuh pingsan.
Begitu sadar, gue berada di ruang UKS.
Cukup lama gue berbaring di atas tempat tidur UKS. Hingga seorang guru kemahasiswaan mendatangi gue.
   '' Kamu sakit? ''
Gue diem. Kemudian duduk. Pandangan mata gue lurus ke depan. Dengan kondisi-masih-kaku.
Nggak tau deh gue sadar atau enggak. Yang pasti gue mendengar semua pertanyaan yang dilontarkan bapak guru itu ke gue. Gue pengen ngomong, menjawab pertanyaannya. Tapi nggak bisa. Seperti ada yang menahan gue untuk bergerak dan mengeluarkan suara. Tenggorokan gue tercekat. Badan gue berat untuk digerakkan.
Sampai pada akhirnya gue pulang dengan ditemani oleh dua temen perempuan gue. Baik sekali :))


Setelah kejadian aneh di hari Senin itu, ibu menyarankan agar gue beristirahat dulu satu hari.
Hari Selasa, gue tidak masuk sekolah.



Jempol gue
Setelah merasa agak mendingan, di hari Rabunya gue kembali masuk sekolah. Awalnya biasa saja. Sampai pada akhirnya setelah masuk jam istirahat, badan gue tiba-tiba lemes dan akhirnya pingsan.
Gue dibawa ke UKS.
Selang beberapa menit gue sadar.

Ebuseet, rame bener orang yang mengelilingi gue.
Saat itu gue cuma ingin memastikan bahwa mereka yang mengelilingi gue sedang tidak memegang surat yasin. Ternyata memang enggak. Huft. Syukurlah.
Gue diem dengan menatap langit-langit ruang UKS. Pertanyaan serta obrolan dari mulut mereka cukup jelas terdengar ditelinga gue. Mulai dari bertanya,
  '' Lan, lu nggak kenapa-napa? ''
Gue diem. Rasanya gue pengen menjawab, '' YA MENURUT LU AJE ''
  '' Lan, ngomong dong. ''
  '' Hei Lan, pusing ya? ''

Gue menarik nafas sedalam mungkin. Dada gue sesak. Beha gue kayaknya mengecil.
Dan entahlah. Gue nggak tau lagi apa yang terjadi ketika itu.
Bangun-bangun air mata gue udah membanjiri kedua pipi. Kaki dan tangan gue sakit. Gue perlahan bangkit untuk duduk.
  '' Kaki gue, '' ucap gue lirih.
Bener saja gaes. Jempol kedua kaki gue luka. berdarah.
Jadi gini, menurut kata orang kalau ada yang kesurupan jempol kakinya harus ditekan kuat. Entah apa gunanya. Supaya setannya cepat keluar kali yak. Dan itu yang diterapkan oleh temen-temen gue. Mereka menekan jempol kaki gue. Gue tau tujuan mereka baik. Supaya gue sadar.
YA TAPI NGGAK GITU JUGA NEKAN JEMPOL GUE. :(

Yang dimaksud menekan jempol kaki itu dengan menekan bagian sela jari jempol kaki.
BUKAN NEKAN KUKU JEMPOLNYA.
BUKAN KUKUNYA.

Lu cobain deh nekan kuku jempol sendiri. Pasti di bagian kuku yang paling bawah terangkat. Belum lagi itu yang nekan kuku jempol kaki gue bodyguard Obama semua. Badannya kekar abis. Gimana enggak berdarah kuku jempol gue.
Alhasil, gue pulang kerumah dengan jempol kaki yang berdarah dan luka. Sedih amat.


Keesokan harinya gue nggak masuk sekolah. Di hari Kamis itu gue memilih untuk beristirahat dan mengobati kuku jempol gue yang sakitnya bukan main.


Massal
Di hari Jumat berikutnya gue kembali masuk ke sekolah. Gue baru sadar. Ternyata enak juga ya masuk sekolah yang harinya di kelang-kelang. Senin masuk, Selasa enggak. Rabu masuk, Kamis enggak. Jumat masuk lagi.
Serasa jadi anak kepala sekolah. Bebaaaass.
Gue mendengar kabar dari temen gue, katanya di hari Kamis yang dimana gue nggak masuk di hari itu, banyak sekali anak kelas lain yang kesurupan. Gue dengernya aja udah merinding.
Seperti biasa, di hari Jumat sekolah gue selalu mengadakan yasinan di lapangan. Di tengah-tengah membaca yasin, seorang adik kelas cewek berteriak di belakang gue. Nangis kejer. Kayak anak-anak yang ngambek.
Gue menoleh ke belakang.
Beberapa menit kemudian, suara tangisan serta jeritan lain terdengar di ujung sana-sini. Ada siswi lain yang ikut kesurupan.
  '' Lan? ''
  '' Iya. ''
  '' Fokus. Lanjut saja baca yasinnya. ''

Gue kembali melanjutkan membaca yasin. Selesai membaca, semua guru dan beberapa teman sibuk menangani siswi-siswi yang kesurupan. Gue diem sambil memeluk salah seorang temen gue.
  '' Gue takut. '' Gue berkata pelan.

Saat itu suasana lapangan sekolah terlihat ricuh. Jeritan di sana-sini. Teriakan nggak jelas. Bahkan ada juga yang berlari-lari sambil menimang tasnya. Tas yang diperlakukan sebagai bayi. Ada juga yang marah nggak jelas. Ntah bicara apa.
Gue takut.

  '' Yuk ambil tas yuk. Kita pulang aja. Keluar. '' Teman gue menyarankan. Gue menggeleng cepat.
  '' Kenapa Lan? Ayuk deh. Nanti lu kena lagi. ''
Gue menggeleng dan tiba-tiba semuanya menjadi gelap. Gue pingsan lagi.


***

Singkat cerita, gue dibawa ayah untuk di rukiyah. Andai saja rukiyah nggak cuma bisa menghilangkan setan, tapi juga bisa menghilangkan kenangan mantan. Mungkin sampai sekarang kenangan itu nggak teringat di benak gue lagi.
Hmm..

Kalau kata temen ayah, gue kesurupan karena gue sering ngerumpi di kamar mandi bawah tangga. Lah gimana enggak ngerumpi. Gue anaknya doyan pipis.
Minum dua gelas. Ntar pipisnya juga dua kali. Nggak heran kalau gue selalu hadir di kamar mandi sekolah setiap hari.

Entahlah. Yang jelas gue ngerasa bersalah. Karena gue, 20-an siswi lain ikut mengalami kesurupan. Awalnya kan cuma gue kenapa yang lainnya pada tertular.

Intinya,

   '' Jaga dan sayangilah kuku jempolmu sebelum ditekan orang lain ''




























Learn more »

4LaY

Bener dengan apa kata bang Raditya Dika.
Alay adalah proses menuju kedewasaan.

Iya. Gue pernah mengalami fase-fase alay yang nau'udjibillah menjijikkan itu. Mulai dari membuat nama keren sendiri. Entah dengan visi dan misi apa gue akhirnya membuat beberapa nama keren atas gue sendiri.
Mulai dari, @-you, Whoe-lan, Aii-u, RWD, Who-Land (baca: tanah siapa? ), a_you comel, Whulan_gembel dan berbagai nama menjijikan lainnya.
Ada kebanggaan tersendiri yang gue rasakan saat gue memilih nama itu sebagai nama akun media sosial yang gue gunakan saat itu.
Ada banyak sekali tindakan alay yang dulu gue anggap keren dan pernah gue lakukan.


1. Tulisan g4uL

 Saat itu tulisan alay memang lagi nge-trend banget. Dalam tulisan g4uL ada hukum yang berbunyi,


 '' Tingkat keren seorang anak gaul, berbanding lurus dengan banyaknya kolaborasi antara huruf dan angka yang tertera dilayar handphone ''


Walaupun membaca pesannya butuh kekuatan mata yang ekstra, tetapi tulisan huruf dan angka pada masa itu sangat digemari dikalangan anak gaul. Gue bukan anak gaul sih, tapi ikut-ikutan gaul.
Pada saat itu, isi pesan handphone gue kurang lebih berisi pesan singkat seperti ini,
'' Hy. LeCh kNal4n G@g? ''  = Ada desahan dibagian Lech.
'' Gh3 phAeNd? ''                 = Huruf qalqalahnya jelas banget.
'' dAcH m4Kan LumZz? ''     = Gue juga bingung, kenapa ada huruf Z di akhir kata '' belum ''.

Tulisan alay itu juga pernah tampil sebagai status yang gue posting di media sosial yaitu facebook.
Maaf ya Om Mark Zuckerberg.


2. Status facebook
 Hampir sama dengan poin diatas. Selain tulisan status yang menjijikan itu, gue juga sering mengupdate status di facebook.

'' CkiD peRuT NieCh ''

Yang ngelike 10 orang.
Yang komen 4 orang.
Yang diopname 658 orang.
Seberbahaya itu status alay.
Apa-apa harus update. Mau makan update, lagi ngantuk di kelas update. Dan kalian tau berapa kali sehari gue mengupdate status? Mungkin 15 status bahkan lebih. Karena itu gue digelari dengan panggilan Miss Status oleh teman-teman.
Sampai sekarang gue kadang mikir. Status apa aja sih yang pernah gue post saat zaman itu. Entahlah.


3. Penampilan
  Efek kealayan memang mempengaruhi cara penampilan seseorang.
Tampilan gue saat SMP:
- Kaos kaki pendek sependek mungkin, warnanya ngejreng abis.
- Tali sepatu pink.
- Poni keluar dikit ngintip-ngintip manja. Kalo kena hembusan angin serasa jadi bintang iklan shampo. Shampo kuda.
- Punggung jempol dicoret sesuai dengan tema hari itu atau bisa disebut dengan istilah status berjalan.
- Baju bagian belakang dikeluarin dikit. Biar kesannya kayak punya pantat montok gitu.
- Ujung tali pinggang dibiarkan lepas. Minta dilepasin beneran kayaknya. Ini berlaku bagi cewe-cowo saat itu.
- Rok dipinggul. Kayak minta dipelorotin om-om. Tapi kalo dompet si om tebel , ya bolehlah. ASTAGFIRULLAH.
- Pake tas sling bag. Waktu itu pake tas sling bag serasa udah kece badai banget. Yang pake tas sandang biasanya anak kutu buku culun semua.
- Paling anti dengan jilbab yang menjulur ke bawah. Jilbab terjulur kebawah = tembak mati. Separah itu.
- Kalo ketawa, ketawanya ngakak melengking. Pamer kebahagiaan.
- Kalo nangis, sampe 7 sekolah tetangga suara tangisannya kedengeran. Nangis anak alay. Cewek lagi.
- Kalo jajan ke kantin sengaja nggak mau pake plastik. Itu juga jajannya seambreng. Kayak mau buka lapak di kelas. Beli makanan yang pake rentetan panjang. Intinya pamer.
- Kalo beli minum, minumnya ditaruh langsung diujung meja. Minumnya dikit. Seteguk dua teguk, udah. Giliran diminta temen, nggak mau ngasi. Tapi pas jam pulang sekolah, itu minumannya langsung dibuang ke tong sampah. Gegayaan doang beli minum.
Kalo sekarang mah gue kalo beli minum minta yang banyak esnya. Airnya udah habis, gue sampe rela nungguin es es didalamnya mencair dan jadi air lagi. Trus minum. Hemat dan kere itu beda tipis.
betewe, nunggu es mencair aja aku rela. Apalagi nungguin kamu.


4. Gaya foto
 Ini yang paling parah dan bener bener gue sesali seumur hidup. Foto alay. Gue pernah berfoto alay saat duduk dibangku SMP. Selesai foto, biasanya gue langsung mengeditnya dengan memberi tulisan alay yang-nggakk-penting-sama-sekali ditambah kemampuan edit foto yang masih cetek. Dan dengan bangganya gue langsung mengupload foto-foto tersebut. Allahuakbar.
Berikut gue hadirkan foto-foto tersebut.
Bismillah.
Al-Fatihah.





Apa banget nama sampe berkali kali. Tulisan namanya juga alay.
Caption: Gue tirus kan?
Lokasi foto: Kamar kakak.


Gue dan Nova. (Adik). Gue sungguh berdosa.
Udah mengajak Nova ikut berpose alay. Efek editan parah.
Caption: Abang udah mandi belum? Sini bang adek cium.
Lokasi foto: Kamar kakak



Percayalah gaes. Baju yg gue pake itu warna ungu.
Edit kamera ternyata bisa mengubah warna baju. Keren.
Caption:  A'a udah sarapan belum? Sini yuk biar neng buatin.
Lokasi foto: Ruang tamu



Caption: Keseringan begadang. Duuh kantong mata.
Lokasi: Kamar kita. Emm maksud gue, kamar gue sendiri.


Gue dan Nova. Lagi-lagi anak ini ikut befoto alay bersama gue.
Caption: gue: Lu jelek banget sih. Iyuuh
Nova: LU KAKAK ALAY!
Lokasi foto: Kamar kakak.




Betewe itu kenapa muka gue jadi lebar kayak telor dadar setengah mateng gitu.
Caption: Hayoo tebak ini siapa?? Sengaja mukanya cuma setengah.
Lokasi foto: Ruang tamu





Jidat: lapangan bola
Hidung: ancur
Bibir: entahlah
Caption: 3-2 jawabannya  SATUUUUUUUUUUU
Lokasi foto: Kamar kakak.






Pesan yang bisa dikutip dari postingan kali ini adalah: 

           Jangan pernah berfoto dengan muka setengah.


tengkiyu.


Tamat.







Learn more »