Uang Jajan



Dulu saat masih berstatus sebagai pelajar, gue nggak begitu bisa me-manage keuangan. Selama sekolah, gue selalu mendapatkan uang jajan per hari. Dapat uang jajan pagi, sorenya udah habis. Gitu mulu selama 12 tahun.
Iya 12 tahun, sama kayak Cinta nunggu kedatangan Rangga. Lah.

Namun, semua berubah saat gue sudah memiliki pekerjaan. Status gue yang dulunya pelajar kini berubah menjadi pekerja. Dan disitulah awal malapetaka terjadi kepada gue.


Gue nggak bisa me-manage keuangan. 


Memiliki pekerjaan saat ini membuat gue selalu menanti-nanti salah satu tanggal di setiap bulannya. Tanggal dimana gue bisa pegang uang banyak, tanggal dimana gue bisa makan sepuasnya, tanggal dimana dompet gue tidak hanya penuh dengan kertas resi saldo saja, tanggal dimana gue pulang kerja dengan senyuman paling bahagia sepanjang masa, tanggal dimana gue bisa menjadi ratu seharian di rumah.
Iya, serius. Dengan uang, gue bisa bersantai ria duduk-duduk manis depan tv. Apa-apa tinggal nyuruh gue tinggal nyuruh adik. Kayak,
 
‘’ Beliin aku pulsa dong. Ini uangnya. Kembaliannya ambil aja. ‘’

Satu kalimat yang sangat ampuh dengan berkata, kembaliannya ambil aja, itu ternyata dapat meningkatkan reaksi yang baik dan cepat terhadap adik gue.

Gue masih ingat dengan uang yang gue habiskan pada gaji pertama gue. Malam itu, gue bisa menghabiskan uang sebanyak lima ratus ribu rupiah untuk membeli barang-barang yang tak berguna sama sekali. Kayak binder-binder lucu, sticker dinding, jedai, frame lucu, gelang lucu, cincin perak lucu, gantungan kunci, pokoknya segala aksesoris lucu dan yang paling lucunya adalah sesampainya di rumah  gue baru sadar kalo gue paling nggak suka memakai semua aksesoris lucu itu.

Akhirnya gue cuma bisa memandang semua barang-barang lucu yang nggak akan pernah gue pake itu.



Limaratus ribu gueeee ;(



Sudah dua tahun gue kerja di salah satu perusahaan swasta dan selama dua tahun itu gue selalu cengap-cengap saat tanggal mulai berjalan pada angka dua puluhan. 

Dengan kata lain, gue harus menahan godaan makanan dan belanja lainnya di akhir bulan yang dikarenakan dompet gue terlihat semakin menipis. Gini amat nasib yang gajian di awal bulan.
Di saat seperti ini, gue merasa kalo pribahasa yang sesuai dengan gue adalah, ‘Bersakit-sakit dahulu, lalu gajian di awal bulan’.

Dan semenjak kerja ini gue sangat begitu sering mengalami ngenesnya relung hati di tanggal tua. Apalagi pada tanggal tua itu gue ngeliat gebetan jalan sama cewek lain. Ngenes paraaah.
Gue jadi ingat dengan kejadian beberapa bulan yang lalu. Kalo nggak salah sih kejadian ini terjadi di bulan Nakhir tahun kemarin. Tapi kayaknya nggak salah sih perkiraan gue. Cewek nggak pernah salah gaes.

Saat itu, gue harus menemani Mbak Yoan, sepupu gue untuk ngekos di salah satu kosan yang baru ia tempati. Berhubung gue dari dulu kepengen banget ngekos, maka hari itu gue sangat excited dengan permintaan Ibu untuk tinggal bersama Mbak Yoan selama seminggu di kosannya.

Kapan lagi gue bisa jadi seorang Wulan yang mandiri?

Pikir gue ketika itu.


Gue mengemasin semua barang-barang yang akan gue bawa ke kosan untuk persiapan menginap selama seminggu. Gue membawa beberapa helai baju, celana, bantal, selimut, sabun, sikat gigi, charger, alat make up, tenda, kompas. LAH DIKATA MAU KEMPING.

Sesampainya di kosan yang hanya membutuhkan waktu 10 menit dari rumah, gue langsung memarkirkan motor di halaman luar kosan. Gue membuka pintu, mengucapkan salam, dan melangkah masuk. Dihitungan ke lima langkah kaki gue, gue langsung terdiam sejenak sambil bergumam dalam hati.


YA ALLAH. AKU KANGEN KELUARGA. KANGEN RUMAH. KANGEN IBU AYAH. ;(


Hari Kedua

Di hari kedua menginap di kosan Mbak, gue baru sadar akan satu hal.

Astagaaa, makan gue kayak gimanaaaaah

Mulai hari itu, di tanggal tua yang menyebalkan itu, gue harus  belajar menghemat uang agar pengeluaran bisa gue minimkan seminim-minim mungkin. Minimal nggak usah ada pengeluaran sama sekali deh.
Sore itu sepulang kerja, gue membuka dompet dengan harap-harap cemas. Berharap kalo dia punya perasaan yang sama dengan apa yang gue rasakan dan cemas saat menunggu jawaban dari dia.

Ini apa sih, Nyet!

Oke abaikan.

Gue membuka dompet dengan kewibaan yang mencapai tingkat tertinggi, dengan penuh seksama, tangan gue perlahan melebarkan kedua sisi dompet.
Dan.

YAK DUIT GUE TINGGAL EMPAT PULUH LIMA REBU RUPIAH.

Masih ada 15 hari lagi menjelang tanggal gajian. Dan masih ada 5 hari lagi gue harus bertahan hidup di kosan ini. Dan mungkin gue masih ada kesempatan hidup selama 2 hari lagi. Yaiyalaah buseeeett. Mau makan apa dengan duit 45 ribu selama 5 hari.

Dengan keyakinan yang sebenernya nggak yakin-yakin amat, gue memejamkan mata beberapa detik.

Gue bisa hidup dengan 45 rebu.

Gue. Bisa.

Hestegempatpuluhlimarebu.

Yeah!

Di hari kedua itu, gue berjalan kaki keluar kosan sendirian. Kalo rame-rame namanya girlband. Tujuan pertama gue adalah, mencari warung harian. Dan target gue adalah pop mie dengan harga lima rebu.
Sesampainya di kosan, gue dengan senang hati berjalan menuju dapur dan menghampiri dispenser. Namun, semuanya tidak seperti yang diharapkan. 



INI DISPENSER MANA COLOKANNYAAAA KAMBINGG!



Posisi kabel dispenser dengan stopkontak yang ada di dinding cukup jauh. Kabel dispenser terlalu pendek. Yakali dispensernya gue pangku di paha supaya kabelnya bisa kecolok di stopkontak. Ntar kalo dispensernya keenakan kena paha gue gimana? Kalo gue digrepe-grepe gimana?

Setelah melalu pertimbangan yang cukup rumit, akhirnya gue memilih untuk memakan popmie itu dengan cara yang menimbulkan bunyi, ‘kriuk kriuk’.
Iyak. Popmienya gue jadiin cemilan. Ntaps.
Tau gini mending gue beli indomie aja. Harganya juga cuma 2.500. Gue masih dapat kembalian 2.500 lagi.

Pengeluaran di hari kedua:  45.000-5.000 = 40.000



Hari Ketiga

Di hari ketiga ini, gue terpaksa harus mengisi bensin motor dengan melayangkan uang 10 ribu.
Gue menatap miris saat menutup dompet dan melihat hanya uang yang jumlahnya 30 ribu.

Pagi ini gue nggak sarapan apapun. Begitu juga dengan makan siang di kantor. Gue lebih memilih untuk blogwalking di depan layar komputer. Rasanya gue nggak mau ketinggalan satu postingan pun dari temen temen blogger tercinta. Gila ya, gue sebegitu cintanya dengan dunia blog.
Alesan aja sih sebenernya. Padahal mah gue memang nggak ada duit buat beli makan siang.
Sepulang kerja, gue langsung menuju ke salah satu bank tempat Mbak Yoan bekerja. Berhubung Mbak Yoan baru sebulan kerja dan belum punya motor, maka dari itu gue harus bersedia menunggunya pulang kerja untuk pulang bareng dengan gue.
Jam lima sore, sepulang kerja gue langsung meluncur ke bank. Duduk di depan bank sendirian. Berkali-kali security bank melirik ke arah gue. Jujur, gue ngerasa risih dilirik-lirik gini. Gue nggak ada ngelakuin kegiatan atau gerak-gerik yang mencurigakan kok. Cuma yaa, tampang gue dari sananya memang mirip kayak pelaku pembobol brankas bank gini sih. YHA ;(

Tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Sudah sejam gue duduk di depan bank.  Sumpah, gue laper.
Dengan uang yang hanya bersisa 30 ribu, gue memutuskan untuk membeli soya dan roti sebungkus di alfamart terdekat.
Gue menghela nafas saat mengetahui bahwa uang gue yang tersisa di tangan tinggal 19 ribu.
Jam mulai menunjukkan pukul delapan malam. Mbak Yoan keluar dari bank dan langsung menemui gue.
Malam itu, gue pulang menuju kosan dengan membonceng Mbak Yoan serta membawa uang yang hanya tinggal 19 ribu rupiah.

Yawlaaa. Tanggal tua gue bener-bener serem dah.

 Pengeluaran di hari ketiga:  40.000- 10.000 (bensin)-11.000 (soya dan roti) = 19.000



Hari Keempat

Hari ini, gue lagi lagi tidak sarapan. Begitu juga dengan makan siang di kantor. Gue nggak tau harus berbuat apa dengan uang yang hanya bersisa 19 ribu di dompet itu.
Sepulang kerja, gue menunggu Mbak Yoan di depan bank dengan duduk sendiri, soalnya kalo duduk rame-rame namanya yasinan. Tiba-tiba hp gue bergetar. Sebuah sms mendarat di layar hp gue. Sms dari Ibu.

  ‘’ Lan, kalo mau jemput makanan, ambil aja ke rumah. ‘’


Senyum gue merekah lebar. Hati gue riang gembira. Gue ngerasa kalo gue adalah orang paling bahagia di muka bumi ini.

Namun sesaat, senyum gue kembali menciut. Gue mulai berpikir dan melahirkan beberapa opsi, yaitu:
1. Pulang ke rumah = jatah bensin gue untuk 2 hari lagi bakal berkurang
    19.000-10.000 = 9.000
    Kesimpulan: 2 hari lagi, uang gue hanya akan bersisa 9.000 rupiah
2. Nggak pulang ke rumah = beli roti (harga 2000)
     19.000-2.000 = 17.000

Akhirnya dengan perasaan sedih, jemari gue mengetik sederetan huruf dan membalas sms Ibu. Gue menolak tawaran Ibu untuk menjemput makanan ke rumah. Pilihan gue jatuh pada opsi kedua. Malam itu, gue mengisi perut dengan sebungkus roti seharga 2 ribu. Gue mengunyah roti dengan airmata yang mengalir di kedua pipi.

Gue nangis tak karuan.

Nangis karena ternyata isi rotinya cokelat, padahal di bungkusnya ada tertera tulisan ‘rasa strawberry’.

Ini pasti pemilik perusahaan rotinya laki-laki. Suka nipu gini. HIH.

Pengeluaran di hari keempat: 19.000-2.000 (roti) = 17.000

Hari Kelima

Di pagi hari ini, gue berangkat kerja seperti biasa. Tanpa ritual sarapan nasi uduk, ngeteh-ngeteh lucu dan tanpa dapat sms ‘ kamu hati-hati berangkatnya kerjanya ya’ dari pacar. Pacar orang lain.

Selama di perjalanan gue menuju kantor, gue merasa tidak terjadi apa-apa. Semuanya tetap berjalan baik seperti biasa. Spion gue masih dua, rem masih cakram, klakson masih di sebelah kiri, lampu sein kanan-kiri nyala, baru setahun pake, STNK dan BPKB hidup. YANG MINAT PING. BISA NEGO!
Lah sitai.

Motor gue melaju seperti biasanya, gue juga masih sempat bernyanyi-nyanyi kecil di atas motor sambil mengetuk-ngetukkan jari ke stang motor. Sampai pada akhirnya, laju motor gue terasa stabil. Terasa berat. Gue mencoba menaikkan kecepatan motor. Ada yang aneh.
Karena merasa ada janggal, gue meminggirkan motor ke trotoar jalanan. Begitu gue turun dari motor, gue menghela nafas.

Ban motor gue kempes.

Beruntung, dari tempat gue berdiri dengan motor ketika itu, gue melihat ada bengkel motor. Tanpa menunggu waktu lama seperti lamanya menunggu kepastian dari doi, gue langsung membawa motor ke bengkel dan mengisi angin pada ban motor.
Setelah membayar 2 ribu rupiah, gue kembali melanjutkan perjalanan.
Tidak sampai 10 menit, gue merasa motor gue lagi lagi terasa aneh. Gue kembali meminggirkan motor.


DAN TERNYATA. 


BAN MOTOR GUE BOCOR.


Fakyuu. Dengan duit yang pas-pasan tersisa di tangan, gue mencoba membawa motor secara perlahan sambil mencari bengkel motor yang terdekat. Sayangnya, pagi itu banyak sekali bengkel motor yang masih tutup. Gue terpaksa mencari persimpangan dan masuk ke jalan kecil demi mencari bengkel motor.
Alhamdulillah, gue melihat bengkel. Sambil menunggu ban motor gue ditambal, gue bener-bener gelisah. Setau gue, harga untuk bayaran menambal ban motor berkisar dari harga 15.000-25.000. Sementara uang yang tersisa di tangan gue hanya 15 ribu. Omaigat. Gimana kalo ternyata harga tambal ban ini dikenakan biaya 20 ribu.

Ya Allah. Tanggal tua gini amat. Asli. ;(

Masak iya gue harus gombalin abangnya dulu. Gue ngomong, ‘’ Bang, abang tukang tambal ban ya? ‘’
Trus si abang jawab, ‘’ Iya neng, kok tau? ‘’
  ‘’ BISA KALEE BAYARANNYA DIKURANG GOCENG. ‘’
Trus gue dilempar pake kompresor.

Setelah menunggu beberapa menit, si abang tukang tambal ban berdiri dan menyudahi pekerjaannya.
Dengan amat sangat pelan, gue bertanya berapa biaya tambal ban yang harus gue bayar ketika itu. 
  ‘’ 15 ribu aja neng. ‘’



PUJA KERANG AJAIB. Yeaaahh.



Gue langsung menyodorkan uang 15 ribu ke si abang tukang tambal ban. Seketika itu juga, dompet gue kosong. Emejing.

Pengeluaran : 17.000-2.000 (isi angin)-15.000 (tambal ban) = Kampreeet, gue nggak punya duit lagi.

Malam harinya, seusai menjemput Mbak Yoan pulang kerja, gue sama sekali tidak melakukan kegiatan apapun selain tiduran sambil mainin hp.
Mau makan? Ra nduwe duit.
Mau nongkrong nggak guna sampe berjam-jam sambil ketawa ketiwi ala anak-anak gaul nan hits? Ra nduwe duit.

Malam itu, hanya cahaya lampu tidur yang berwarna hijau kayak lampu lalu lintaslah yang menemani malam-malam menyedihkan gue. Sampai akhirnya, Mbak Yoan membuka suara.

  ‘’ Lan, besok temen Mbak ke sini. Katanya dia jadi ngekos sama Mbak di sini. ‘’

  ‘’ Oh iya ya, Mbak. Syukurlah Mbak ada temennya. Yaudah besok pagi Wulan langsung pulang ke rumah aja ya, Mbak. ‘’


Hari Keenam

Keesokan paginya, di hari Minggu yang indah, gue membereskan semua barang-barang gue dan bersiap-siap untuk pulang ke rumah. Gue udah kangen dengan suasana rumah yang sudah 5 hari gue tinggal. Setelah berpamitan pada Mbak Yoan, gue berangkat pulang ke rumah. Di perjalanan pulang, gue ngerasa kalo gue adalah Wulan seorang perantau muda yang merantau di seberang pulau dan telah lama meninggalkan rumah serta keluarga selama bertahun-tahun.

Padahal cuma 5 hari doang sih ;(

Sesampainya di rumah, gue begitu terkejut saat melihat red carpet digelar di depan pintu rumah. Gue menangis haru saat mengetahui bahwa gue akan disambut dengan cara seperti ini. Gue bener-bener nggak nyangka. Ternyata kehadiran gue di rumah ini sangat berarti bagi mereka.
Tangis haru gue mendadak berhenti saat Ibu keluar dari rumah sambil bilang, ‘’ Awas, awas jangan diinjak. Ini karpetnya mau Ibu bersihin. Masuk lewat belakang aja sana. ‘’

YHA ;(

Namun, semenjak hari itu, ketakutan gue akan hidup di tanggal tua mulai menghilang. Gue tidak akan makan roti dan soya lagi untuk mengirit pengeluaran.

Dengan gue yang sudah berada di rumah, gue tidak perlu lagi pusing-pusing memikirkan pengeluaran harian yang gue keluarkan untuk membeli makanan. Berkat Ibu tercinta yang setiap hari memasak makanan, gue sekarang bisa makan sepuasnya tanpa harus menahan-nahan lapar.
Hidup di tanggal tua memang bener-bener menyeramkan dan membuat kita harus berpikir seribu kali untuk membeli suatu barang dengan sisa uang yang pas-pasan.


Quotes of the day :

  ‘’ Hidup di tanggal tua memang sangat menyeramkan, tetapi hidup dan tua bersamamu sangat menyenangkan ‘’
 


ASOYY DAH.






4 comments:

  1. Daripada pop mi emang mendingan indomi, kalo perlu bikin double. Terus sejak kejadian lima hari merantau di kosan apakah jadi bisa ngatur keuangan?

    Gue pernah juga hidup di kosan temen di Bandung. Cuma punya 300 ribu selama 13 hari. Itu belum termasuk ongkos pulang ke Jakarta sekitar 70 ribu, dua kali ke tempat wisata (lupa habis berapa). Cara hematnya buat makan itu patungan beli beras sama dia. Terus lauknya palingan kami beli di warteg, atau bikin mi instan, dan telur ceplok atau dadar. Kami payah karena kagak ada yang bisa masak sayur. Wqwq.

    Tapi gue kaget juga waktu itu bisa bertahan hidup. Ya, mungkin semuanya berkat ditraktir makan sama salah dua temen yang tinggal di Bandung. Relasi sangat penting. Meski kalo dipikir ulang rada memalukan, tapi enggak usah malu-malu sama yang namanya gratisan. Haha. Setelahnya kan lumayan belajar hidup prihatin. Jadi mencoba menghargai setiap kali Nyokap masak. Walaupun beberapa kali tetep khilaf jajan di luar ketika lagi pegang duit.

    ReplyDelete
  2. tapi sekarang udah sukses kan??

    ReplyDelete
  3. enggak cuma laki-laki yang suka nipu kok. perempuan juga ada.

    btw, jangan lupa kasih uang bulanan ke nyokap, lan.

    ReplyDelete

Komentarnya ditunggu kakak~