Rindu di Mesjid

                                                


Gue suka . Beribadah, Dakwah, Salat, Mengaji; apalagi ketika bulan puasa.

Oh ya, gue baru inget kalo di bulan puasa tahun kemarin, gue cuma nulis satu postingan doang. Iya cuma sebiji. Huahahaaa. Parah ya.
Entah kenapa, semakin bertambahnya umur, gue nggak ngerasain lagi bagaimana hawa-hawa bulan ramadhan yang biasanya gue rasakan saat masa kecil dulu. Buka di rumah mah ga penting, yang penting itu bisa main ke mesjid dengan modus solat tarawih. Abis main lari-larian dengan mengelilingi teras mesjid, gue pasti laper lagi dong. Kalo udah gitu, gue langsung ngambil makanan dari meja tempat makanan bukaan. Selesai tarawih, otomatis gue udah keringetan abis lari-larian. Namun hal itu tidak menghentikan niat gue untuk tadarus di mesjid. Gue dan kakak gue sangat rutin menghabiskan waktu dengan tadarus bersama ibu-ibu lainnya di mesjid. Gue yang ketika itu masih kelas 4 atau 5 esde merasa senang bukan main karena bisa ikut tadarusan dengan menggunakan mikrofon mesjid. Dan tentu saja setelah sampai rumah, gue langsung berlari menghampiri ibu dan bertanya, 

'' Bu, denger suara adek nggak tadi? ''

Fyi, adek sebutan untuk diri gue sendiri. Padahal ketika itu gue udah punya adek. Ya itu adalah salah satu bentuk harapan gue yang pernah menginginkan akan menjadi anak bungsu, walaupun harapan itu telah pupus.
Mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut gue, Ibu langsung mengangguk senang. 

'' Iya denger dong. Suara adek bagus ya kalo ngaji. Tapi ngajinya jangan cepet-cepet loh, pelan-pelan aja. ''

Setelah mengangguk mendengar saran Ibu, gue berbalik dengan perasaan bahagia. Bahagia gue sesederhana itu. Pada masa itu :)

Belum lagi ketika malam takbiran. Gue dan temen-temen sekompleks memutuskan untuk membagi 2 tim. Tim 
satu terdiri dari lelaki alim yang ditempatkan di mesjid untuk gabung takbiran bersama bapak-bapak dan pengurus mesjid melalui mikrofon mesjid sedangkan
 tim kedua terdiri dari para lelaki bandel yang di mana mereka ikut bergabung dengan kami, para cewe-cewe imut nan menggemaskan. Setelah berdiskusi dengan hangat karena empet-empetan, kami akhirnya memutuskan untuk keliling kompleks untuk mengumandangkan takbir. Dengan modal suara pas-pasan, kaleng susu untuk digetok-getok, kaleng cat untuk dipukul-pukul dan dua buah batu besar berwarna putih kami melaksanakan rencana itu. 
Sumpah, gue gatau apa fungsi batu itu. Mungkin untuk ngelempar rumah mantan kalo ngeliat ada si mantan lagi berduaan di teras rumah sama pacar barunya. Mungkin. 
Eetapi gue pas masih esde belum pacar-pacaran kok. 

Satu-satunya hal yang membuat kami bahagia dan ngerasa percaya diri saat keliling kompleks adalah ketika para anak-anak dan ibu-ibu keluar untuk melihat kami yang berombongan melantunkan takbir. Ketika itu gue langsung ngerasa sebagai Kendall Jenner yang berjalan di atas karpet merah dengan diiringi suara takbir. 
Kegiatan takbiran keliling kompleks itu harus berakhir ketika Ibu teriak-teriak memanggil gue dan menyuruh gue untuk tidur. 
Ok mam. 

Kalo mengingat kejadian itu, gue mendadak rindu dengan semuanya. Dengan momennya, teman-temannya, tingkah lucunya, gue rindu semuanya. Gue rindu dengan bulan ramadhan yang seperti itu. Berbeda dengan saat ini. Tapi tetep, gue nggak pernah lepas dari BDSM. Gue bahkan sangat menyukai hal itu. 

Oh ya, gue masih inget kejadian saat tarawih beberapa tahun lalu. Saat itu, gue duduk di kelas 4 SD. Seperti biasa, kegiatan tarawih yang kami lakukan hanyalah omong kosong saat kami berpamitan dengan orangtua di rumah. Tentu saja kami menghabiskan waktu tarawih itu dengan bermain. Kami memilih untuk bermain di malam hari karena ketika siang hari kami sedang berpuasa, tentu saja kami tidak bisa main dengan keadaan lemah tak berdaya. 
Gue inget banget, malam itu mungkin malam -H2 atau -H3 menjelang lebaran. Suasana mesjid semakin lengang, terlebih pada shaf perempuan. Buibu kebanyakan memilih di rumah untuk membuat kue lebaran. Shaf laki-laki juga semakin sedikit, tapi ga separah shaf perempuan sih. Karena itu, mau gamau gue harus menempati shaf barisan pertama perempuan. Dan shaf itu berhadapan langsung dengan tirai kain yang membatasi shaf perempuan dan laki-laki. Posisi yang amat sangat gue benci. 

Gue pernah sholat dengan posisi seperti ini sebelumnya, namun ketika gue sujud, hembusan dari kipas angin yang menggantung di langit-langit mesjid membuat gue kaget saat gue bangun dari sujud. 
Tirai kain pembatas sudah menyangkut di bagian pantat gue saat sujud. Dan ketika gue duduk di antara dua sujud, gue shock. 

INI GUE DI SHAF MANA ANJEEER??

KOK BANYAK LAKI-LAKI SEMUA SIK

Sholat gue semakin ga khusyuk. Temen-temen gue di shaf perempuan mulai panik saat melihat gue hilang ditelan tirai kain pembatas. Namun, untung saja ketika gue sujud kembali, tirai kain tersebut sudah kembali pada posisi semula. Entah gue harus bersyukur atau shock karena kejadian ini. Shock karena tiba-tiba sudah berada di shaf laki-laki atau bersyukur karena dikasih kesempatan untuk melihat para lelaki ganteng nan sholehah idaman wanita. 
Entahlah. 

Oke, kembali ke malam di mana gue sedang melaksanakan solat tarawih. Sebenarnya dari lubuk hati yang terdalam gue benar-benar ogah untuk melaksanakannya, maka gue pun menghasut temen-temen lainnya untuk kembali bermain seperti biasa. Karena bingung mau main apa, kami akhirnya hanya duduk berkelompok dan menggosip. Sedang asyik-asyik menggosip, sebuah telapak kaki berukuran kecil menyembul dari balik tirai kain pembatas. 
Sepertinya telapak kaki ini milik seorang anak kecil yang berusia 3 atau 4 tahun. Dari posisi telapak kakinya gue sudah jelas bisa memastikan bahwa anak tersebut sedang dalam posisi telungkup. Mungkin dia ngantuk nungguin bapaknya selesai tarawih. 
Maka, karena sifat usil sudah mendarah daging di tubuh gue, maka gue pun mencubit telapak kaki milik si anak. 

Tidak ada respon. 
.
.

Gue mencubit lebih keras. Kali ini dengan 2 cubitan. 
.
. Kaki si anak mulai bergerak pertanda cubitan gue terasa sakit. Mantap nih, pikir gue. 
.
Gue mencubit kakinya lagi, kali ini bukan telapak kaki, melainkan di betis. 

Sontak si anak langsung menangis histeris. 



MAMPUS GUE!

Gue langsung panik. Temen-temen langsung memandangi gue sambil berkata dalam hati, 'MAMPUS LO !'
Gue langsung melepas mukenah, melipatnya dan bergegas untuk keluar dari mesjid. Belum sempat gue melangkah keluar, sebuah suara memanggil gue. Gue menoleh ke belakang. 

FAK. 

Tampak seorang bapak muda sedang menggandeng anak laki-laki. Meskipun gue cuma nyubit kaki si anak tanpa tau bentuk mukanya kayak gimana, gue bisa menduga bahwa itu adalah anak laki-laki yang kakinya gue cubit tadi. Terlihat dari raut mukanya yang sedang menangis. 

'' Kamu anak siapa? '' tanya bapak muda tersebut dengan ketus. 
'' Anak Pak Kasmat, Om, '' ujar gue keringet dingin. 
'' Yaudah, pulang sana. ''

Gue akhirnya pulang dengan perasaan menyesal. 


Pertanyaannya:
Kenapa gue menyesal?
A. Karena gue memberi tahu nama asli Ayah gue
B. Karena ga sempet minta nomer hape si bapak muda tersebut
C. Karena telah menyia-nyiakan cinta yang kau berikan kepadaku pada saat itu



Tulisan ini merupakan proyek menulis WIRDY. Bagi yang ingin membaca tulisan teman WIRDY lainnya, silahkan klik di bawah ini:
Icha : Kamu Nggak Sendirian, Tapi Bertiga 
Robby : Mencari Berkah Dengan BDSM 
Yoga : Gadis Macan 
Darma : Masih kelayapan di Turki



29 comments:

Komentarnya ditunggu kakak~

Pengalaman Mendapatkan Hadiah Uang 100 juta

Di suatu pagi yang cerah, gue berangkat ke kantor seperti biasa. Dengan penampilan simple tentunya. Celana kain hitam, tanktop yang dilapisi brazzer eh maksudnya blazer hitam dan jilbab hitam. Percis kayak mau ngelayat. 
Gue mengendarai sepeda motor kesayangan gue menuju kantor. Sambil mengendarai sepeda motor, gue senyum-senyum bahagia di balik kaca helm sekaligus di balik masker penutup mulut. Mengingat sebelumnya perut sudah terisi segelas susu hangat dan wafer cokelat, ini berarti gue tidak akan merasakan lapar pra makan siang yang kerap sekali terjadi pada jam 10 ke atas.

Pagi itu tidak ada aneh. Semua berjalan sebagaimana biasanya. Dimana ketika itu meja gue penuh dengan tumpukan lembaran kertas yang nantinya akan gue input dan itu menjadi kegiatan rutin gue di setiap harinya. Gue memperhatikan meja kerja gue yang berantakan dengan kertas. Rasa-rasanya meja ini terlalu kecil untuk menjadi wadah segala barang-barang gue. Mulai dari botol minum, hp, body mint, cologne, freshcare, body lotion, tisu, baby oil, sunblock dan pretelan lainnya yang berjejer rapi di atas meja kerja gue.

Di tengah kesibukan gue akan padatnya inputan data, sebuah sms masuk dari seorang laki-laki. Laki-laki tersebut adalah sahabat semasa SMK gue. Sahabat yang selalu ada untuk gue dalam keadaan apapun. Namanya Jeri. Laki-laki tergokil dan tergila yang pernah ada. Tingkahnya absurd banget. Asli.
Setelah melihat layar hp, gue membaca satu pesan dari Jeri.

‘’ Nyok, lu di mana? Gue mau ke kantor lu. Ada perlu nih, penting! ‘’

Sok keren banget sih elah pake pentang penting segala.

‘’ Ngapain woy? Ada perlu apa? Gue lagi banyak kerjaan nih. Bilang aja di sms. Telfon kalo ga? ‘’
Sekitar 5 menit kemudian, barulah sms gue dibales oleh Jeri.

‘’ Gue di depan tempat kerja lu. Keluar cepet. ‘’

Gue menggaruk kepala sebelum pada akhirnya celingukan keluar mencari Jeri. Gue melihat Jeri yang berjalan tergesa-gesa menghampiri gue. Raut wajahnya tampak panik sekaligus cemas sekaligus kaget. Ga karuan dah pokoknya.

‘’ Napa lu? ‘’ tanya gue to the point.  

‘’ Ini gue bawa ini, Nyok, ‘’ ujarnya dengan napas yang ngos-ngosan kaya abis mengerahkan seluruh tenaga untuk ngeden saat boker, namun yang diharapkan tak kunjung keluar. Kegiatan yang sia-sia tiada guna.

‘’ Apaan tuh, Cung? ‘’ tanya gue. 

Gue memanggilnya Cung, dan Jeri memanggil gue Nyok. Entah darimana panggilan Nyok yang sungguh tidak layak dilafalkan itu tercipta. Mungkin dia menciptakan nama itu saat melihat hati gue yang penyok beberapa tahun yang lalu. Jadi munculah panggilan Nyok alias Penyok. Hhh. 

Sementara gue memanggilnya Cung karena ehem karena maap maap ajanih ya, karena giginya agak mancung sedikit. Hhh.

Jeri mengeluarkan sebuah amplop cokelat kecil berukuran persegi panjang yang disampul plastik.


                                          


‘’ LU MAU NIKAH ANJEEERR?? ‘’ Gue shock.

Mengingat dulu semasa sekolah dia pernah cerita ke gue saat kami menjadi sahabat sebangku, setidaknya satu level di atas teman sebangku. Ketika itu dia pernah cerita bahwa nanti kalo udah sukses, dia bakalan nikahin gue dan punya bisnis rental mobil di mana-mana. Satu-satunya kegiatan yang bisa dilakukannya jika hal itu terjadi adalah, ‘ jadi gue enak, tinggal duduk nyantai, makan, nonton di rumah aja. ‘

Gue yang mendengar impian dan harapannya yang menurutnya indah itu hanya cengar-cengir. Setidaknya dia masih punya tujuan hidup aja gue udah seneng bukan main.

‘’ Bukan elaah. Ini nih, ini cek bukan sih? ‘’ tanyanya sambil mengeluarkan selembar kertas dari dalam amplop. Gue mengambil kertas itu dan membacanya. Memastikan yang diberikan Jeri beneran cek dan bukan sekedar cek dan ricek.

Gue melongo.  Di tangan gue tergenggam sebuah cek yang bertuliskan tiga milyar empat ratus tujuh puluh juta rupiah.


                          


Seriously?

Gue membaca dan membuka selembar surat yang turut ada di dalam amplop tersebut. Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP). 



                                                     



‘’ INI BENERAN CEK ASTAGAAAA. OMAIGAAT… ‘’

Gue kaget bukan main.

‘’ Lu dapet di mana nih? ‘’ tanya gue pada Jeri yang tampak serius memperhatikan ekspresi alay gue.

‘’ Di jalan raya. Depan penjual pecel deket jalan ambisi. ‘’ Jeri menjelaskan.

‘’ Gue udah nelfon nomer yang ada di situ….. ‘’

‘’ Trus? ‘’

‘’ Yang ngangkat bapak-bapak dan namanya sesuai dengan nama yang ada di cek. Trus dia bilang kalo dia udah lama nyari kertas ini. Dia minta kirimkan pake JNE. Dan dia juga minta rekening gue. Dia bilang sebagai imbalan, nanti dia bakalan ngasi uang seratus. ‘’


Gue mengerutkan alis. Kok, ini di tanggal yang tertera pada cek, tanggal 15 Mei ya. Sedangkan hari ini hari Selasa tanggal 16 Mei.  Tapi gue langsung membuang jauh pikiran aneh tersebut.

‘’ Yaudah kirimin aja. Ongkir kesana juga ga nyampe seratus ribu kok, Cung, ‘’ ucap gue dengan bijak.

‘’ BUKAN SERATUS REBU ANJER, SERATUS JUTAAAA…. ‘’

‘’ OMAIGAAAT. OMAIGAAATT… ‘’

Gue kaget. Rasanya kayak didatengin Rafi lewat dapur pas lagi nyuci piring pake mama lemon. Ya kagetlah, si  Rafi salah alamat rumah. Yang pake sanlaik mah tetangga sebelah.

‘’ Nomer rekening lu sini dah. ‘’

Gue langsung memberikan nomer rekening gue ke Jeri. Gue sengaja memberikan rekening Mandiri yang di mana rekening itu hanya digunakan sebulan sekali saat masuknya gaji. Dan tentu saja di ATM Mandiri itu, saldo gue tinggal Rp 111,000 . Wow. Angka yang sangat fantastis. 

Gue sengaja ga pernah nabung di Mandiri. Gue lebih memilih menabung di BRI dikarenakan berbagai alasan. Jadi untuk transferan seratus juta nanti, gue bersedia memberikan rekening Mandiri yang saldonya kandas agar supaya terisi lagi.

‘’ Ini nih nomer rekening gue. ‘’ Gue menyodorkan sederatan angka yang gue catat di note hp.

‘’ Gue ga ada pulsa buat nelfon si bapak itu. Beda operator, abis pulsa gue, ‘’ terang Jeri. Raut mukanya langsung berubah.

‘’Yailaah si bangke. Bentar dah. ‘’

Gue masuk kembali ke dalam kantor dan keluar dengan membawa uang lima belas ribu dan menyodorkan ke Jeri. Parah memang tu anak.

Setelah mengisi pulsa, gue langsung mengetikan nomor rekening gue di hp Jeri.  Selang beberapa detik, si bapak yang mengaku tinggal di Jakarta sesuai dengan alamat yang tertera di surat menelfon Jeri. Jeri mengangkat panggilan telfon dari si bapak di hadapan gue.

 ‘’ Pak, nomer rekeningnya udah saya kirim ya. ‘’
‘’ Bank Mandiri, Pak, atas nama Rahayu Wulandari. ‘’
‘’ Iya, Pak. Saldonya ada seratus sebelas ribu rupiah. ‘’
‘’ Iya, Pak. Nomor rekeningnya benar dan atas nama yang saya bilang tadi. ‘’
‘’ Baik, Pak. ‘’

Setelah Jeri selesai berbicara dengan si bapak, Jeri tampak senyum-senyum.

‘’ Kayanya dia beneran mau ngirim deh, Nyok. Dia tadi bilang, tolong dipastikan nomor rekeningnya benar dan atas nama yang bapak sebut tadi ya. Gitu. ‘’ Jeri mencoba menirukan ucapan si bapak tadi.

‘’ Waah iya ya. Semoga deh beneran. Dapet seratus juta lu cuy, ‘’ ujar gue sambil menepok jidat Jeri yang lebar.

‘’ Tenang aja, Nyok. Ntar seratus juta kita bagi dua ya, ‘’ ujarnya menjanjikan.

‘’ Waah serius lu? Duh baik amat sih lu. Kalo dapat limapuluh juta, gue bakalan beli eksrim segaban, dua minggu makan bakso pake es teh, seminggu makan nasi padang, uwooohh… ‘’ ujar gue sambil mengkhayal babu.

‘’ Makan terus lu woy! ‘’

‘’ Etapi inget sedekah. Rejeki kita bukan sepenuhnya untuk kita. ‘’ Jeri mengangguk-ngangguk mendengar kalimat islamiyah yang keluar dari mulut gue.

Kami terdiam untuk beberapa saat. Otak gue langsung menyalakan beberapa rencana yang akan gue lakukan dengan uang limapuluh juta yang nantinya akan gue terima. Salah satunya, gue akan melakukan operasi payudara. Agar supaya gue bisa menggantikan Ovi jika sekiranya Ovi akan mengikuti jejak Pamela untuk keluar dari duo serigala. Sungguh impian yang indah!

Cukup lama Jeri mampir di kantor gue. Sambil cerita-cerita, gue memperhatikan penampilan Jeri ketika itu. Tidak banyak yang berubah darinya sejak 6 bulan kami terakhir bertemu. Badannya tetap kurus, giginya tetap setia keluar dari batas barisan yang telah ditetapkan, rambutnya masih gondrong hingga hampir menutupi telinga.

Kalo dibandingkan dengan Jeri saat sekolah dulu, oh jelas dia sudah banyak berubah. Salah satunya adalah cara berpakaian.

Kalo dulu pas masih sekolahan, gue selalu geli melihat penampilan Jeri. Dengan celana sekolah yang dipensil (ujung bawahnya dikecilin), juga celananya yang dikenakan hanya sebatas pinggul. Kalo  ngeliat Jeri jalan, celananya kayak antara ragu mau melorot apa enggak. Melihat boxernya yang menyembul dengan corak kotak-kotak putih merah kayak warna bendera Indonesia, ini mengartikan bahwa Jeri seorang rakyat yang memiliki jiwa patriotisme yang tinggi untuk negara ini.
Belom lagi rambutnya yang nauujubilah kerasnya. Belom diapa-apain aja udah keras.

…. rambutnya.

Gue masih inget, Jeri pernah ngomong sama gue pas di kelas.
‘’ Gue kalo ntar udah lulus sekolah, rambut ini mau gue panjangin ah. Biar gondrong, ‘’ ujarnya sambil merapikan pucuk atas rambutnya.

Gue inget percis gaya bicara dan gerak-geriknya ketika itu.

‘’ Buat apasih? ‘’ tanya gue.

‘’ BIAR KAYAK ANAK PANG. UYEEAAHHH….. ‘’

Dan beberapa bulan setelah lulus sekolah, Jeri main ke rumah gue bersama blankon yang nempel di kepalanya. Saat gue tanya kenapa ada blankon di kepalanya, Jeri mengatakan bahwa ini karena kesalahan fatal si tukang pangkas rambut.

Gue melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kiri gue. Jam setengah sebelas.

‘’ Eeh udah jam setengah sebelas jir, gue bikin laporan dulu ya. Lu mau di sini apa gimana nih? ‘’ tanya gue. Jeri beranjak bangkit dari posisi duduknya.

‘’ Gue pulang aja deh. Ntar kalo ada apa-apa, gue telfon lu ya. ‘’ Gue mengangguk setelah Jeri berpamitan pulang.

Sekembalinya gue ke meja kerja, gue langsung browsing tentang penipuan cek yang didapat di jalan.
Dan benar saja, ada banyak sekali berita-berita tentang kasus penipuan dengan cara menebarkan cek milyaran di jalanan. 

Dan gue sempat membaca ada korban yang tertipu karena dengan baik hatinya ia malah menransfer uang ke penipu dikarenakan si penipu bilang bahwa dia tidak punya uang dalam bentuk rupiah. Jadi, si korban mengirim sejumlah uang untuk si penipu. Si penipu menjanjikan akan memberikan uang ratusan juta sebagai imbalannya. Dan seperti yang kita duga, si penipu langsung kabur.

Berita penipuan tersebut bisa dibaca di sini dan ini. 


Gue langsung nelfon Jeri dan kita tertawa terbahak-bahak bersama.

‘’ WANJEER KITA KENA TIPU COY. HAHAHAHAHAA… ‘’

Gue ngakak ketawa tanpa bisa berkata-kata apalagi. Terlebih saat mendengar info dari Jeri, tentang nomornya si bapak yang tidak bisa dihubungi lagi.

‘’ Nih ya, kalo dia beneran mau ngasi seratus juta buat kita, ya buat apasih dia nanya saldo di atm gue ada berapa. Coba deh lu pikir. Aneh kan? ‘’ ujar gue menceritakan kejanggalan tersebut.

Juga tentang tanggal yang tertera di cek. Beda sehari doang dengan tanggal di mana cek itu ditemukan oleh Jeri, lah si bapak malah bilang kalo dia udah lama banget nyari cek itu yang katanya hilang.

Aneh kuadrat!

Di obrolan penutup dalam telfon singkat itu, gue sempat berkata, 

'' Bener deh ya. Cowok di mana-mana tukang tipu. Hih. ''






Mang enak ditipuin?  Wkekekee
- H. Hendi Santoso, penipu ulung. 











7 comments:

Komentarnya ditunggu kakak~

3 Unforgettable Moment

   1. Drama Korea
 
      Akhir-akhir ini gue lagi demen sama yang namanya sendirian. Kemana-mana sendiri.  Salah satunya adalah,
      makan siang sendiri. Selalu. Setiap kali gue masuk ke kaepci, ga heran kalo mas-mas kaepci selalu
      hafal dengan menu favorit gue.
 
      Pernah suatu kali, gue lagi ngantri di kaepci, tiba-tiba seorang bapak yang berada di belakang mencolek gue.
 
     ‘’ Dek, itu tasnya terbuka, ‘’ ujarnya.

Gue menoleh dan langsung menutup tas gue kembali seraya mengucapkan terimakasih kepada bapak-bapak tua yang menurut perkiraan gue umurnya berkisar 40-an. Melihatnya rambutnya yang sudah mulai memutih, bapak tua yang juga mengenakan kacamata dan yang pastinya juga bukan kacamata kuda itu tampak masih gagah. 
Singkat cerita, setelah mencuci tangan, gue langsung menuju posisi favorit gue. Dan begitu gue keluar dari wastafel, gue melihat seorang perempuan yang maybe seumuran sama gue sedang main hp sendirian. Memang, di meja yang perempuan duduki itu terdapat banyak colokan yang memang disediakan oleh pihak kaepci.

Gue bergumam dalam hati, ‘’ Yailah, numpang ngecas doang di sini? ‘’

Dan ketika gue lagi menikmati makan siang kala itu, si bapak tua tadi tiba-tiba duduk di sebelah perempuan yang-numpang-ngecas-doang-di sini tadi. Dugaan gue salah, ternyata si perempuan tadi sedang menunggu bapaknya yang mengantri pesanan.

Awalnya gue mengira bahwa mereka adalah bapak dan anak. Namun, perkiraan gue salah.
Mereka mengobrol. Si bapak asik makan, sementara si perempuan hanya minum. Beberapa kali disodorkan makanan, namun si perempuan malah menggeleng. Terlihat dari gerak-geriknya yang aneh yang bisa gue tangkap ketika itu adalah si perempuan tampak sedang ngambek.

Sebenernya, jiwa usil gue berniat untuk menguping obrolan mereka. Namun, soundtrack surga yang dirindukan si Laudya Chintia Bella yang mengalun dari speaker cukup mengganggu indra pendengaran gue ketika itu. Tapi jelas banget sih dari bahasa tubuhnya kayanya mereka bukan anak dan bapak. Wkwkw

Beberapa menit kemudian, si perempuan  tersebut beranjak dari kursinya. Meninggalkan si bapak sendirian. Si perempuan pergi menuju pintu yang berhubungan langsung dengan mall. Sementara, selisih hitungan detik setelah si perempuan pergi, si bapak juga beranjak dari kursinya menuju pintu keluar kaepci.


                                                            



Gue nyengir. Keduanya pergi dan keluar dari pintu yang berbeda?
Gue meratiin si perempuan yang berjalan memasuki mall. Sesekali dia menoleh ke belakang. Kayak minta dikejar gitu. Yailaah. Bahkan sampe naik ke escalator, si perempuan masih aja noleh-noleh ke belakang. Ngarep disamperin. Sementara si bapak malah menghilang di parkiran mobil. Hhh~

Gue ketawa kecil. Seraya bergumam dalam hati dan bersyukur atas tontonan drama yang gue saksikan yang menemani makan siang gue ketika itu.



2.   Banyak Hantunya?

Kejadian lain, gue pernah lagi ngantri di kaepci. Beberapa hari sebelumnya, gue dapat pesan dari seorang laki-laki yang bekerja di salah satu karyawan bank. Karena lagi males ngeladenin siapapun, gue akhirnya mengabaikan pesan maupun chatnya. Dan entah kenapa, pada hari itu ketika gue lagi mengantri, seorang laki-laki yang berada di depan gue menoleh ke belakang.

‘’ Eh, Wulan? ‘’
‘’ Eh iyaa, aduh siapa ya nama abang? Lupa. Hehe. ‘’
Saking malesnya ngeladenin pesan maupun chat darinya, gue sampe lupa nama dia.
‘’ Ali. ‘’
‘’ Eh iya bang Ali. Hehee. ‘’

Sumpah, gue lagi males basa-basi. Wkwkw
Namun apa boleh buat, dia mengajak gue ngobrol dengan menanyakan alamat rumah. Mau gamau gue juga bertanya balik di mana rumahnya. Hahahaa.

‘’ Rumah Wulan yang deket kolam pancing yang besar itu bang. Agak lurus lagi. ‘’
‘’ Oh iya tau tau. Itu kolamnya kan punya almarhum bapak aku, ‘’ ujarnya.
‘’ Oh iya ya. Katanya di situ banyak hantunya ya bang? ‘’

Ali ngeliat ke gue kemudian diem.

Gue juga diem.

Mas-mas kaepci resign.

SUMPAAH GUE NGOMONG APASI BARUSAN. GA ELIT BANGET NEH OMONGAN.
LAGIAN SIH, KAN UDAH GUE BILANG KALO GUE LAGI MALES BASA-BASI.

YA ALLAH:(

Baru pertama ngobrol panjang, didenger banyak orang, eeh gua malah nanya hantu segala. Ga elit banget anjir:(

Sumpah dah gua gamau lagi ketemu dia. Malu euy.



3. Yaudah, engga ngapa-ngapa

Di lokasi dan tempat yang sama, kejadian ini sungguh teramat membuat gue malu berkali-kali lipat. Siang itu, di tengah rasa laper karena antrian yang cukup panjang, gue mulai merasa bosen. Satu-satunya yang bisa gue lakukan untuk mengusir rasa jenuh ketika itu adalah dengan memperhatikan orang-orang yang ada di sekitar gue.

Dengan gue memperhatikan orang, maka pikiran dan hati gue pun mulai bertindak layaknya netizen jaman sekarang. Alias berkomentar sesuka hati. Gue suka meratiin orang yang gayanya aneh, kemudian berfantasi dan komentar sendiri di dalem hati. Mentok-mentok ketawa kecil sendiri.

Dan ketika gue meratiin orang-orang yang ada di sekitar gue ketika itu. Gue mengerutkan charm body fit, tapi gabisa. Soalnya anti kerut. Hehe. Cnd.

Gue mengerutkan alis, kok kayaknya gue kenal ya sama ibu-ibu itu. Berjarak beberapa meter dan sekitar 4 orang dari posisi mengantri gue, gue mulai menoleh dan memperhatikan si ibu dengan seksama. Bahkan gue sampai keluar dikit dari barisan demi bisa memastikan wajah si ibu yang kayak gue kenal tadi.

Yap, ga salah lagi. Itu Tante Yani.

Tetangga gue pas gue masih TK dulu. Gue yang sering main ke rumahnya dan menjadikan biscuit anaknya yang ketika itu masih bayi sebagai cemilan sehari-hari. Enak banget coy cemilin biscuit bayi.
Nama ibu-ibu yang mengenakan jilbab syar’i itu Tante Yani dan seinget gue anaknya bernama Rahmah. Tapi ketika itu, Tante Yani cuma sendirian.

FYI aja nih ya, Tante Yani sama sekali bukan istri dari Buni Yani. Ok. Tengs.

Gue memperhatikannya lekat-lekat. Ga salah lagi nih, udah lama ga ketemu Tante Yani. Sejak gue pindah rumah pas kelas 2 esde waktu itu, gue udah jarang jumpa dengan beliau. Dengan rindu yang menggebu-gebu sekaligus gue bertekad untuk membayarinya makan siang itu demi menebus dosa gue yang sering ngabisin biscuit bayi milik anaknya. Gue melekatkan tangan di pundaknya dengan posisi yang sedikit melenceng keluar dari barisan.

‘’ Tante? ‘’

Tante Yani menoleh.

‘’ Iya? ‘’
‘’ Tante Yani ya? ‘’
‘’ Bukan. Saya bukan Tante Yani, ‘’ ujarnya dengan logat jawa yang cukup kental.

Gue seakan tidak percaya. Apakah Tante Yani telah dicuci otaknya?

'' Loh, bukan ya? '' Gue masih sedikit ngotot.
'' Iya bukan. ''
'' Oh maaf ya bu kalo gitu. Hehe. ''
'' Oh iya iya. Yaudah engga ngapa-ngapa hehe, '' ujar wanita itu sambil senyum.



                                               




Engga.



Ngapa.



Ngapa.



:))))))))

Bahasanya yawlaaa, pengen ngakak kenceng tapi ya gimana:(







6 comments:

Komentarnya ditunggu kakak~