Who am I ?

Haihooo. Gimana kabarnya? Sehat? Udah dapat kepastian dari si dia belom nih? Emaap. 

Tadinya mau nulis pembukaan tulisan pake kalimat, yawlaaa gue serasa jadi blogger murtad. Tapi kok rasanya udah keseringan ya. Keseringan murtadnya. :(

Udah hampir satu setengah bulan gue ga ada nulis apapun di blog tercinta ini. Padahal dulu, apaaa aja ditulisin. Dari curhat ga penting sampe page kosong hanya berisi titik doang juga gua posting. Iya dulu gue sealay itu di dunia blog. Kalo ga percaya, coba aja dicari.

Well, mungkin beberapa temen juga udah tau ya tentang proyek WIRDY yang sedang terbit baru-baru ini. Jangankan elu, gue juga baru tau. Ehee

Ini dikarenakan gue udah sebulanan tidak berkecimpung di dunia media sosial. Apapun itu. Dan ketika gue mulai masuk kembali, eeh wasap gue error. Gue uninstall terus install lagi, eeh tambah error. Gue sampe pusing mikirinnya. Sampai pada akhirnya, untuk yang kesekian kalinya gue install wasap diiringi dengan lantunan doa agar tidak error lagi, Alhamdulillah wasap gue kembali normal.

Hal itu menyebabkan gue banyak banget ketinggalan info tentang perkembangbiakan di grup chat WIRDY. Singkat cerita, Icha, gadis cantik nan polos memberi tau tentang proyek tulisan dengan tema Kepalsuan tersebut pada gue.

So, kali ini gue bakal nulis tentang bagaimana gue sebenarnya. 

* * *

Dari duduk di sekolah dasar, gue anaknya cupu parah. Anak kelas yang mau temenan sama gue ya bisa diitung jarilah. Jari doraemon alias ga ada yang mau temenan sama gue. Ada atau enggaknya gue di kelas mungkin ga ada pengaruhnya buat mereka. Sesedih itu. 

Saat jam istirahat. berbekal dengan uang jajan seribu rupiah, gue bakalan ngeloyor ke kantin dan membeli 2 permen lollipop berbentuk telapak kaki seharga limaratus rupiah. Sisa limaratusnya gue simpen. Gue tabung buat membeli mulut-mulut mereka di luar sana.

Dan di sanalah gue, siswi cupu berambut pendek bersandar di tembok tiang sekolah, yang sibuk mengemut-emut permen telapak kaki.

Naik ke kelas 5 dan 6, gue mulai berteman dengan seorang perempuan. Namanya Bella. Nama kepanjangannya I will Bella-ving yu. Etapi serius deng, namanya Bella. Namanya panjang bener asli. Gue inget nih sampe sekarang. Nama kepanjangannya, Bella Permata Cindy Alnasari Qolbi Jamila Qiutabel Annisa.

KASIAN YA BELLA PAS NGISI LEMBAR JAWABAN UN:(

Gue cukup akrab berteman dengan Bella. Kemana-mana bareng kayak anak kembar siam.

Naik ke SMP, gue juga hanya berteman dengan satu orang. Namanya Santi. Kami kemana-mana juga bareng. Istirahat bareng, ke kamar mandi bareng, pulang pergi sekolah bareng pokoknya selalu bareng deh. Dan gue akan memilih menyendiri seharian saat mengetahui bahwa Santi tidak masuk sekolah.
Entah kenapa, gue ngerasa terlalu sulit untuk membuka diri dengan teman-teman lainnya. Gue sulit untuk membaur, kayak tiba-tiba nimbrung ke tongkrongan anak-anak sambil ngomong, ‘ hei wasapp broo..’


                               


Gue gabisa seperti itu.

Gue memiliki tipe kepribadian introvert.

Gue menyadari akan hal itu. Dengan gue yang kurangnya percaya diri, jarang mengobrol dengan banyak orang, pendiam, lebih suka menyendiri, sering mengkhayal sendiri, cenderung tertutup dan melakukan kegiatan seperti, mengutarakan curahan hati, pendapat, argumen lewat tulisan. Berbeda dengan kepribadian ekstrovert yang lebih memilih untuk berdiskusi dengan orang banyak dan beradu argumen.

Gue lebih memilih mengobrol empat mata dengan seseorang. Bagi gue, hal itu lebih bermanfaat sekaligus membuat gue merasa nyaman.

Alhasil, temen deket gue dari SD sampai SMP bisa dihitung jari. Sangat sedikit.
Dan ketika masuk di SMK, gue mulai membaur dengan beberapa temen. Gue berteman dekat dengan banyak orang. Siapapun itu, pokoknya gue deketin. Gue berusaha agar tampil friendly and easy. Namun, hal itu tidaklah berlangsung lama. Gue kembali ke dunia gue sendiri.

Gue lebih menyukai tiduran di kamar sambil dengerin lagu yang mengalun di headset. Gue lebih menyukai memperhatikan orang berkeliaran di lapangan basket dan duduk sendirian di kelas.

Mungkin, orang seperti gue sangat pemilih kepada siapa yang pantas untuk dipercaya. Tapi paan, sampe sekarang gue masih aja percaya sama janji manis si dia yang ternyata palsu. Hhhha~


* * *

                                       


Even gue saat di kampus, di kantor, setiap ngumpul dengan temen reunian selalu berusaha untuk tampil ceria, heboh dan sesekali melontar joke, bully dan lainnya, tetep saja itu hanya kamuflase dari gue yang sebenarnya adalah pribadi introvert.  Gue hanya ingin diterima dalam lingkungan.

Terlepas dari keadaan dan lingkungan itu semua, gue lebih menikmati saat di man ague menghabiskan waktu sendiri. Nggak jarang gue selalu berpergian kemana-mana sendiri.
Makan siang di luar sendirian, makan siang di kaepci sendirian, belanja sendirian, nyari buku sendirian, belanja baju sendirian dan kegiatan lainnya yang gue lakuin seorang diri.
Cukup sering gue dapat pertanyaan sejenis, ‘ kok sendirian aja? ‘ atau ‘pacarnya kemana? ‘ dan lain sebagainya, rasanya kok gue lebih nyaman ya pergi sendirian kemana-mana. Gue lebih bisa berinteraksi dengan jiwa gue sendiri ketimbang berinteraksi dengan orang lain.  

Gue ngerasa bahwa apa yang gue lakuin demi diterima di lingkungan adalah palsu. Sosok seorang gue sebenarnya tidaklah seperti itu. Tapi, terlepas dari itu semua, sosok introvert berhak mengembangkan kepribadiannya dan meraih kebahagiaannya. meskipun dalam bentuk yang berbeda dengan sosok ekstrovert. 


* * *


Setelah sekian lama ga nulis proyek dikarenakan adik kecil kami, Robby sedang menjalani UN beberapa waktu lalu, akhirnya kali ini kami kembali nulis proyek dengan tema: Kepalsuan.

Untuk tulisan temen lainnya, bisa dibaca di sini ya :
Yoga : Palsu
Icha : Nge-BF Bareng Yoga Akbar Sholihin: Dari Easy A Turun Ke Pencitraan Mesum
Robby : Dibajak Ghostwriter Blog Robbyharyanto.com!
Darma : bakalan diposting setelah pulang dari Turki. 





11 komentar:

  1. jadi dirimu sendiri.
    sebenarnya tidak masalah ketika menjadi seorang yang sendiri tapi jangan larut karena semakin nyaman di zona itu maka akan semakin merasa terasingkan. Coba bangkit dan mulai berteman, tidak perlu banyak, cukup punya teman yang mempercayaimu itu jauh lebih baik

    BalasHapus
  2. Kalo kata artikel di internet, kita bisa jadi introvert atau ekstrovert. Mungkin dominannya aja. Tapi gue nggak bisa ngasih wejangan khusus biar gampang ngebaur gitu. Soalnya gue juga kayak gitu, sih. Huhuhu.

    Btw, tahan amat sebulanan tanpa medsos. Gue mah nggak tahan kayak gitu. :(

    BalasHapus
  3. Dulu aku introvert parah, Lan. Tapi sejak mengkonsumsi Richeese Factory, kadar extrovert ku perlahan-lahan tumbuh.

    GAK LAH BECANDA!

    Aku jadi lumayan ekstrovert karena pengaruh kerjaan di kantor. Awalnya susah karena lebih nyaman sendiri. Tapi ya lama-lama jadi terbiasa.

    Dan sekarang aku jadi seorang Ambivert. Yey! 😂

    BalasHapus
  4. Itu gimana rasanya ngemut permen telapak kaki?
    Kenapa g nyoba ngemut telapak kaki beneran aja?
    Si bela namanya banyak amat, itu bela satu orang apa 7 orang?

    BalasHapus
  5. Wih, keren amat gak maen medsos. Pasti urusan di dunia nyatanya terlalu menarik. :D Gue bisa sebulanan tanpa medsos pas setahun yang lalu doang. Lebih deng. Hampir 3 bulan. Bukan karena dunia nyata menarik. Justru karena lagi depresi. Wqwq.

    Masih tetep introvert sampe sekarang nih gue. Temennya dari dulu di kelas cuma 2-4 orang. Gak pernah bisa akrab kalo kebanyakan. Wahaha. Tapi kalau udah kenal baik, introvert-nya mulai berubah jadi ambivert gitu. Ya, walau kadang jadi orang yang palsu. Suka bercanda, pengin ngebuat mereka tertawa. Padahal mah yang lebih butuh dihibur gue. :)

    BalasHapus
  6. Menurutku gak ada salahnya, sih, demi untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan. Kan pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial. Butuh berinteraksi. Gak bisa juga sendirian terus. Hehehe.

    Keren bisa gak main medsos sampe sebulan! Kalo aku paling cuma berkurang, cuma bisa main wasap dan line, karena faktor hape yang rusak dan tak kunjung mampu membeli henpon baru. Butuh henpon baru. Ada kuis berhadiah henpon gak ya? ._.

    BalasHapus
  7. Ini palsu kan? Apaan gak percaya gue. Hoax nih hoax.

    BalasHapus
  8. itu bella beneran namanya sepanjang itu? dan ada nama "Jamila Qiutabel" QIUTABEL... itu bacanya kiyut ebel kan? xD

    jadi, keceriaan yang ditampilkan kalo ketemu temen itu palsu, Ul? terus-terus.. ketika menjadi palsu begitu, apa pernah dapat keceriaan beneran? ya, kayak awalnya pura2 seneng ngumpul eh beneran seneng beneran... (ini bahasanya gue gimana yak)

    BalasHapus
  9. Gue juga introvert nih. Punya temen bisa diitung pake jari. Pertemanan pun juga karena kesamaan tempat sekolah. Setelah itu yaudah lost contact.... Malah sekarang gue mikir dulu waktu SD mainnya sama siapa. Sekarang sih mulai rada mendingan, kadang suka jadi ambivert. Gue sekarang juga nimbrung di 2 grup pertemanan walaupun gue nggak punya pengaruh signifikan terhadap grup itu. Tapi tetep suatu waktu gue lebih milih me time daripada kluyuran sama temen-temen.

    BalasHapus
  10. Gue berusaha agar tampil friendly and easy. Namun, hal itu tidaklah berlangsung lama. Gue kembali ke dunia gue sendiri.

    Bagian ini saya banget, nih. Hahah

    BalasHapus
  11. waaa menarik juga ya ini, jadi berantai tulisannya hhiihihi

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.