'' Gigi aja aku lindungin pake pager, apalagi hati aku. ''

'' Ooh ternyata cuma begini doang ya. Kok nggak sakit. Apa karena gue udah sering disakiti ya jadi rasanya udah kebal gitu, ehee. ''


                                           




 Beberapa hari yang lalu, di suatu pagi yang cerah, gue dipanggil Ibu ke dapur. Tentu saja, ritual menikmati secangkir milo di pagi hari gue, ketika itu jadi terganggu. Sebagai anak yang berbakti meskipun enggan rasanya ke dapur, gue akhirnya menemui Ibu.

'' Lan, jadi mau pasang behel? '' tanya Ibu sambil memasak.

Sebenernya gue udah lama pengen pakai behel. Mengingat gigi seri kiri gue yang tumbuh kurang rapi. Dan mendengar pertanyaan Ibu yang aneh dan menimbulkan tanya di kepala gue, seperti 'kok tumben nanya beginian?' gue langsung menjawab,

'' Nggak, nggak jadi. ''

Soalnya, menurut pengalaman gue selama hidup hampir 21 tahun bersama Ibu, setiap kali ada percakapan seperti ini, Ibu pasti nanti akan menjawab,

'' Kalo mau pasang behel, ya pake kawat jemuran aja. Hahahahaaa... ''

Maka dari itu, gue memilih untuk mematahkan joke Ibu yang sudah bertahun-tahun melekat di lingkup keluarga kami.

Ibu yang sedang memasak, langsung menoleh ke arah gue.

'' Yakin gamau pasang behel? Kalo mau pake duit Ibu aja dulu. Ntar pas THR ganti ya. ''

Ya Allah ini Ibu gue kerasukan apa?
Mana joke Ibu yang sudah menahun dan terpahat di benak gue dulu?

'' Ha? Beneran, Bu? ''

'' Iya. Tapi nanti pas THR diganti ya. ''

Yailah. Kok cuma bagian THR diganti ya-nya doang yang diulang. Mau marah, tapi seneng juga.

Gue kemudian kembali menyeduh secangkir milo yang gue tinggalkan beberapa menit yang lalu. Pagi itu, minum secangkir milo serasa minum kopi starbak.

Sore harinya, gue, Ibu dan Nova berangkat menuju dokter gigi terdekat. Kami bonceng tiga. Yakaleek. Kagak deng. Kami berangkat menggunakan dua motor. Sebelum berangkat, gue ngomong ke Nova,

'' Aku gamau bonceng Ibu ya. Kamu aja yang bonceng Ibu. ''

Bukannya apa-apa nih. Sejak Ibu kecelakaan bersama kakak beberapa waktu lalu, Ibu jadi takut kalo naik motor. Trauma. Gue antar ke pasar naik motor dengan kecepatan 40km/jam aja, Ibu udah ngomel-ngomel sekaligus meluk pinggang gue kenceng. Ya Allah, masak iya bawa motor dengan kecepatan 20km/jam. Ngalah-ngalahin rangorang pacaran yang naik motor aja.

Naik motor ngebonceng Ibu juga bikin gue hilang fokus. Soalnya sering dicerewetin. Pernah pas gue nganter Ibu ke pasar. Kami melewati jalanan yang agak turunan. Turunannya nggak terlalu curam sih. Lebih curam masa depanku jika tanpa kamu. Eh itu mah suram. Ehe.


Akhirnya, gue berangkat seorang diri. Sementara Ibu dibonceng oleh Nova. Fyi, Nova juga ikut ke dokter gigi dikarenakan gigi susunya harus dicabut. Aneh juga sih, gigi susu dicabut di usianya yang sudah menginjak 14 tahun. Padahal seharusnya gigi susu harus sudah dicabut di usia 6 atau 7 tahun. Alhasil, karena gigi susunya lama dicabut, gigi baru nongol di bagian gusi atas Nova. Serem euy.


* * *

Singkat cerita, sesuai magrib, kami bertiga sampai di tempat dokter gigi. Seorang dokter perempuan bertubuh kecil, mungil, cantik dan polos menyambut kami. Setelah sedikit berkonsultasi, hal pertama yang dilakukan oleh dokter itu adalah, mencabut gigi Nova. Huahahahaa sian amat sih lau~

Tidak sampai setengah jam, gigi susu milik Nova sudah tercabut. Nova turun dari kursi santai. Iya, kursinya santai banget anjir. Bisa rebahan, bisa naik turun. Dan setelah mengamati ruangan dokter gigi itu, gue baru sadar kalau ruangannya feminin abis. Ruangannya bernuansa hello kitty. Dengan warna merah jambu dan putih. Unyu-unyu banget ya Allah. Gue geli ngeliatnya.

Well, setelah Nova turun, barulah gue naik ke kursi merah jambu tersebut. Gue rebahan dan mencoba tidur serileks mungkin. Sebelum memasang behel, Dokter lebih dulu membersihkan karang yang melekat di gigi gue bagian dalam serta menambal gigi geraham yang sedikit berlubang. Rasanya ngilu banget ya Allah. Beberapa kali gue berkumur-kumur menggunakan cangkir pink yang ada di sebelah kiri gue. Tampak sedikit darah mengalir di wastafel.

Setelah membersihkan karang dan menambal gigi yang berlubang selesai, barulah pemasangan behel dimulai.

Sebelumnya, siang harinya gue sempat searching tentang pemasangan behel. Ada yang bilang rasanya sakit, bikin mulut pegel, bikin air liur beleberan kemana-mana, dan semua artikel yang gue baca itu ternyata sukses membuat gue ketakutan setengah mati.

Namun, apa yang terjadi malam itu dengan artikel yang gue baca sangatlah berbeda.

Nggak ada sakit sama sekali coy!

Gue malah masih sempat-sempatnya melirik dan senyum ke arah Nova yang ngeliatin gue. Dengan mulut yang dibuka lebar dengan penyanggah, gue sesekali menaik-naikkan alis ke arah Nova. Seakan gue menantang Nova dengan gerakan kode itu. Seperti, ' Ape lu, ape lu! ' ke arah Nova.

Setelah proses mencetak, penempelan bracket dan pemasangan kawat, gue yang sedari tadi memejamkan mata, tiba-tiba dipanggil untuk bangun. Yailah, lagi enak tidur juga.

'' Dipilih aja warnanya. Mau yang mana? '' ujar dokter kepada gue. Sang perawat berdiri tegak di sampingnya sambil memegang wadah besar yang berisi banyak sekali warna-warna karet behel.

'' Yang ini aja dok, '' ujar gue lalu kembali merebahkan badan.

'' Engg.. bukan yang itu. Yang di bagian sebelah sini aja, '' ujar dokter lagi.

Gue duduk tegak dan menunjuk sekelompok karet behel berwarna biru.

'' Yang ini aja dok, '' ujar gue lalu kembali merebahkan badan lagi.

'' Birunya mau biru yang mana ya? '' tanya dokter lagi.



Ya Allah. Gue cape nih duduk bangun duduk bangun mulu. 



'' Apa aja deh dok, yang penting warna biru, '' ujar gue sambil kembali merebahkan badan.

Untuk pemasangan karet behel ternyata hanya 10 menitan. Sangat cepat.

'' Sudah selesai ya. ''

Dokter itu beranjak dari tempat duduknya. Gue yang udah ngantuk pake banget, langsung duduk begitu mendengar ucapan dari dokter. Seraya ngomong dalam hati,

Ooh ternyata cuma begini doang ya. Kok nggak sakit. Apa karena gue udah sering disakiti ya jadi rasanya udah kebal gitu, ehee.


* * *

Setelah pulang dari dokter gigi, gue mendapat beberapa pesan dari beliau. Salah satunya adalah larangan memakan makanan yang keras. Yakali gue makan batu:(

Hari pertama menggunakan behel, rasanya masih biasa aja. Masih belum ada rasa ngilu, sakit atau apapun yang sering gue dengar dari beberapa orang pengguna behel. Bahkan sepulang dari dokter gigi, gue masih sempet makan nasi pake gulai kepala ikan patin. Dan sampai hari ini, Alhamdulillah gue belum ada ngerasain sakit akibat pemakaian behel ini.

Sebelumnya, gue banyak mendengar cerita dari pengguna behel yang lain. Ada yang bilang, ' kalo pake behel, bibirnya jadi sariawan, nafasnya bau. ' 
Ada juga yang bilang, ' pake behel bikin selera makan menurun. Cocok nih buat yang pengen diet hahaaa. '
Ada juga yang bilang, ' seminggu pertama setelah memakai behel memang sakit. Rasanya nggak enak. '

Perihal sakit atau enggaknya ketika dan setelah memakai behel, menurut gue sakitnya ya sakit biasa aja. Nggak terlalu parah banget.





                                               




Gigi gue yg berantakan.
Tolong jangan fokus sama yg pacaran di belakang ya.



Gigi aja aku lindungin pake pager, apalagi hati aku. 


21 comments:

Komentarnya ditunggu kakak~