Curhatan Penari Handal

Kamis, Desember 15, 2016
Gue anak yang tidak berbakat dalam bidang seni. Hal apapun itu. Menari, menyanyi, menata sesuatu, mewarnai, melukis, mendesain, berakting. Gue bisa jadi orang bego saat dihadapkan dengan sesuatu yang berbau seni. Gue gapaham segala sesuatu tentang seni. Bagi gue, seni itu rumit. Kayak melukis.

Melukis membutuhkan kesabaran, kehati-hatian, ketelitian, sementara gue?
Nunggu antrian di alfamart aja udah males. Iya, gue memang ga sabaran anaknya. Kecuali nunggu kamu putus sama si dia. Kalo itu mah gue pasti sabar. Ehe.

Gue gatau ini memang bakat turunan apa gimana. Kalo ini bakat turunan, lantas apakah ini bakat turunan dari Ayah?
Mengingat dulu Ibu semasa kuliah mengambil jurusan Sendratasik (seni, drama, tari dan musik) dan juga Ibu pinter menyanyi dan bermain gitar, ya pasti dong ini sebabnya karena Ayah. Etapi Ayah bisa nyanyi, bisa main gitar juga, Ayah orangnya telaten. Lah Kalo begitu, gue turunan siapa dong?

Gatau ah. Kzl.



 


Semua ini bermula saat gue duduk di kelas 2 SD. Beberapa orang dipilih untuk mengikuti acara seni perpisahan anak kelas 6 SD. Berhubung pelatihnya adalah teman dekat Ayah, maka, seorang Wulan yang tidak memiliki bakat seni itu diletakkan di barisan paling depan dan di tengah.

Bhangkay. Ini benar-benar menjatuhkan harga diri negara nih.

Selama mengikuti latihan menari, gue cukup bahagia. Yaiyala, bentar-bentar gue dipanggil untuk latihan nari, alhasil gue jarang masuk kelas alias jarang mengikuti pelajaran. Asiik.

Parah ya, anak kelas 2 esde udah berpikiran seperti itu. Ckckck

Nah, sewaktu latihan menari di aula sekolah, gue cukup kebingungan mengikuti gerakannya. Gue pusing. Yang geser kanan, geser kiri, muter, pinggulnya digoyang,  minta nambah saweran, ya pokoknya pusing dah.
Ada suatu gerakan kaki yang membuat gue ngerasa, 'kok gue dulu sebodoh itu ya' hingga sampai saat ini.

Ada gerakan di mana semua anak melangkah ke samping kanan sebanyak 2 langkah, lalu kaki kiri disilangkan ke depan.
Sebaliknya, saat kaki dilangkahkan ke samping kiri sebanyak 2 langkah, lalu kaki kanan disilangkan ke depan.
Kurang lebih kaya gambar ini.


Namun, gue yang kebingungan malah mengambil gerakan yang salah. Yang gue lakukan adalah, melangkah ke kanan 2 langkah, kaki kanan dibuka lebar. Melangkah ke kiri 2 langkah, kaki kiri di buka lebar.
Kaya gambar di bawah ini.


Bapak pelatih yang melihat gelagat aneh dari seorang anak perempuan  yang berada di barisan depan, akhirnya membawa anak itu untuk keluar dari barisan.
 Lagu dinyalakan, dan di sanalah gue diajari gerakan langkah kaki oleh pak pelatih. Dan di sanalah seluruh anak peserta nari menonton gue yang gabisa bisa paham dengan gerakan langkah kaki yang diajarkan.


Cuma salah kaki doang yailah. 
Gue dodol amat. 


Yawlaaa rasanya gue ingin kembali ke masa itu, masa di mana gue duduk di kelas 2 esde dan memilih untuk tidak ikut tampil menari di acara pentas seni:(

Dan di malam itu, gue tampil bersama teman-teman membawakan sebuah tarian. Gue dengan menggunakan baju tanpa lengan, bandana warna warni, rok di atas lutut, berambut pendek dan tentunya gue menari dengan gerakan kaku.

Maka, mulai hari itu, gue menganggap bahwa kegiatan menari atau tampil di atas panggung itu adalah hal yang memalukan bagi gue.

Di acara perpisahan kelas 6 esde, anak-anak tampil satu kelas dengan mengenakan kebaya dari sukunya masing-masing. Pagi itu, gue mengenakan baju adat Jawa Timur beserta rok kain juga sepatu hak kain khas Jatim. Di saat anak-anak lain udah berbaris mengatur barisan, gue yang baru turun dari motor terburu-buru dan berjalan menuju lokasi acara. Dengan muka cemberut, kesel karena ribet pake rok-rok segala, gue mempercepat langkah kaki gue. Beberapa menit sebelum anak kelas tampil di atas panggung, eehh sepatu gue berulah.

Hak sepatu gue lepas.

Ini gimana gue naik ke atas panggung kalo begini ini mah. Yakali kaki gue jadi tinggi sebelah. Gue langsung panik, nyari Ibu dan voilaaa berkat bantuan Ibu yang entah darimana dapat lem sepatu, akhirnya gue bisa tampil di panggung dengan selamat.
Tapi tetep. Gue merasa risih dengan baju kebaya yang super panas dan berat yang gue kenakan ketika itu.


* * *

Naik ke kelas 1 SMP.
Satu-satunya penampilan bersama teman-teman yang gue ikuti karena memang menjadi suatu keharusan dan ditonton oleh orang banyak adalah penampilan yel-yel saat MOS. Mau nolak, lah gue takut sama kakak pembina MOS.
Mau gamau gue terpaksa ikut.

Gue masih ingat, di kelas 1 SMP, sekolah gue mengadakan acara kesenian. Satu kelas harus menampilkan satu acara kesenian. Bisa tarian, nyanyian atau drama. Seingat gue, anak-anak sekelas ketika itu memutuskan untuk menggunakan lagu dari Rini Idol yang berjudul Aku Bukan Boneka dengan beberapa  lirik yang mereka ganti.


Yang liriknya lagu aslinya gini,

Nananana... a a aa
Nananana... ahha.
Kau pikir, aku akan tergoda



Yawlaa gue dengernya lagunya aja udah pengen nangis.

Seminggu lamanya anak-anak kelas latihan menari dan menyanyi. Mulai dari mengatur barisan, memecah suara, mempersiapkan aksesoris berupa hiasan kepala, hiasan tangan untuk para siswi, sampai akhirnya segala persiapan selesai.

Tidak sampai 1 jam lagi, giliran anak kelas gue akan dipanggil untuk tampil ke panggung. Anak-anak lainnya mulai sibuk mempersiapkan diri, sementara gue?

Lari ke kantin.

Bodo amat sama nari-nari, nyanyi-nyanyi lalalala-yeyeye. Males ikut gituan.

Begitulah gue di setiap acara seni yang diadakan saat gue duduk di kelas 2 dan 3 SMP. Bagi gue, tempat pertunjukan seni yang paling baik adalah kantin. Udah.


* * *

Lulus SMP, gue masuk di salah satu SMK Swasta. Kalo di sekolahan lain acara seni diadakan setahun sekali alias pas acara kelulusan angkatan tertua, di SMK gue berbeda. Acara seni diadakan pada setiap penerimaan rapor para murid.
Jadi, sekolah SMK gue itu terdiri dari playgroup-TK-SD-SMP-SMK-SMA di satu gedung. Setiap penerimaan rapor, seluruh anak pada tiap kelas harus menampilkan satu tampilan seni.
Ya lu bayangin aja, nunggu dari bocah-bocah TK tampil di panggung, kemudian dilanjut dengan anak SD yang dimulai dari kelas 1 sampai kelas 6, yang dimulai dari kelas 1A, 1B, 1C, lalu 2A, 2B dan seterusnya. Begitu juga anak SMP, kemudian anak SMK.

Pulang-pulang pantat panas karena kebanyakan duduk. Ditambah telinga jadi budek karena duduknya dideket soundsystem.Yailaah

Di kelas 1 SMK, anak-anak kelas tampil dengan membawakan salah satu lagu nasional. Lagu Pemuda-Pemudi. Berhubung wali kelas gue ketika itu seorang cowo, maka tidak ada penampilan joget-joget, haha-hihi ataupun penampilan riang lainnya. Yang ada hanya penampilan penuh keseriusan yang diiringi lagu nasional.

Seperti biasa, gue mengikuti latihan dari hari pertama sampai hari terakhir. Anak-anak dan wali kelas sudah berdiskusi membicarakan pakaian apa yang nanti akan dikenakan agar terlihat kompak. Gue mau jawab, pake baju pemilu aja, tapi takut digampar. Akhirnya gue lebih memilih diam.

Tak perlu memakan waktu lama, akhirnya keputusan mengenai pakaian yang akan dikenakan untuk tampil pun didapat. Seluruh anak diharuskan mengenakan atasan berwarna merah, bawahan jeans biru dan sepatu putih.

Keesokan harinya, di saat penerimaan rapor murid yang mengundang para orangtua murid, maka di sanalah gue.

Di rumah. 

Berleha-leha di depan tv nonton marsha and the bear sambil menyeduh teh hangat. Bodo amat sama penampilan seni di atas panggung. Wkakaka

Naik ke kelas 2 SMK. Gue memiliki wali kelas seorang perempuan. Galak parah anjir. Dan ketika acara seni diadakan 2 minggu lagi, anak-anak sekelas memutuskan untuk tampil dengan sedikit drama, sedikit nyanyi bersama dan berdansa. IYA BERDANSA. BANGKE.

Gue senam tiap hari kamis di sekolahan aja b



esoknya encok menahun. Apalagi dansa. 

Lagu yang dipake lagu One Direction yang judulnya One Thing. Merusak citra 1D aja. Najis emang anak kelas gue.

Ini kalo abang zayn tercinta tau lagunya dipake untuk nari-nari plus drama gaje kayak gini, dia pasti depresi deh.

Lalu, yang gue bingungkan ketika itu adalah...

Ini gimana caranya gue bisa berleha-leha depan tv sambil nonton marsha and the bear lagi cobaaaa??

Yawlaaa ini cobaan hidup terberat. Mau gamau gue harus ikut penampilan seni kali ini. Rusak sudah kesucianku. Aaaaakk tidakkk:(

Maka, di hari penerimaan rapor ketika itu, gue tampil di atas panggung. Dengan format tampilan, 6 pasang cewe-cowo di depan, sementara anak-anak lain membentuk 2 barisan di belakang.

Yang 6 pasang ditugaskan untuk berdansa, yang 2 barisan di belakang ditugaskan untuk melihat adegan berdansa mesra sambil menahan iri. See? kekejaman sudah dimulai.
Dan entah atas dasar apa, gue dipilih menjadi salah satu cewe yang tampil dalam 6 pasangan untuk berdansa. Yawlaaa. Hidup dan mati gue ada di atas panggung ini.

Bersyukur sekali, gue dipasangkan dengan Jefri. Salah seorang teman sebangku gue semasa kelas 1 SMK dulu.

Oke. Acara dimulai.

Jantung gue udah ga karuan. Bukan karena nervous, tapi karena gue gabisa menemukan jawaban KENAPA HARUS GUE YANG BERDANSA ANJIIRR.

Seluruh penonton bertepuk tangan. Seluruh anak naik ke atas panggung. Alunan lagu One Direction mulai diputar dan mengiringi segala langkah dan gerak badan semua anak. Tibalah saat di mana, 6 cowo mengeluarkan setangkai bunga, berlutut dan memberikan setangkai bunga itu ke para pasangan dansanya.





Gue dengan menahan malu menerima bunga dari tangan Jefri sambil berbisik ke telinga Jefri, '' Tay kucing. ''
Jefri menahan tawa dan meneruskan gerakannya.

Tidak hanya ada adegan memberi setangkai bunga, adegan puncak yang hina bagi gue adalah BERDANSA.

Jefri memegang pinggang bagian belakang gue. Sementara tangan gue menempel di atas pundak Jefri. Tangan kami yang lainnya menyatu di depan.


Dan.




6 pasang anak-anak.





Berdansa dengan bahagianya.



Tamat.






 



Ya kagaklah. Kejadian memalukan tidak hanya selesai sampai pada adegan berdansa. Selama berdansa, gue hanya menunduk menahan malu sekaligus menahan murka.

Selesai tampil, gue langsung buru-buru pulang ke rumah. Melepaskan diri dari kehinaan yang teramat dalam.

Di kelas 3 SMK, tentunya acara kesenian kembali hadir di sekolahan gue. Gue berhasil tidak mengikuti acara kesenian di saat pengambilan rapor semester. Namun, gue cukup shock saat menyadari bahwa gue diharuskan untuk mengikuti acara kesenian untuk perpisahan angkatan tua. Angkatan gueeee yawla.
Seperti biasa, gue menerapkan taktik, latihan-latihan berdahulu, kabur dan berleha-leha di rumah kemudian.

Sementara temen-temen sibuk nyari lagu apa yang pas untuk digunakan dalam acara kesenian perpisahan, gue memilih untuk tidak banyak omong. Toh ntar pas hari H gue gabakalan hadir. Hahahaha

Dan benar sekali wahai pemirsa yang budiman. Beberapa hari sebelum hari H, gue dan keluarga pergi ke Padang menghadiri acara pernikahan sepupu gue. Alhamdulillah. Nyawa gue terselamatkan.


* * *

Entahlah. Entah kenapa darah kesenian tidak mengalir di dalam tubuhku.

Gue masih inget ketika itu ada temen gue, seorang cowo, datang ke rumah. Karena besok hari valentine, dia meminta tolong kepada gue untuk membungkuskan kado yang akan ia beri ke pacarnya. Sebagai perempuan sejati pada umumnya,

Gue menolak permintaannya.

Yaiyala kambing.
Gue yang niatnya mau nyampul buku aja malah jadi nge-isolasi buku. Rapi enggak, malah acak adul.
Lah ini, minta ngebungkusin kado. Pergi ke rumah makan padang coba, ngomong ke mba-mbanya, ' mba, jangan keseringan ngebungkusin nasi, sekali-sekali ngebungkus kado dong, '

 
Di jamin.
Lu bakal digampar mba-mbanya pake centong nasi.

Gue bener-bener gabisa mengerjakan sesuatu yang harus menuntut kehati-hatian, ketelitian dan kerapian pada suatu benda. Gue anaknya ga sabaran, pecicilan. Huhuu

Maka dari itu, gue selalu salut dengan cowo yang bisa membungkus kado dengan rapi. Gue bisa heran kalo ngeliat ada cowo yang ngebungkus kado di depan gue. Apalagi kalo kadonya buat gue. Apalagi kalo isi kadonya kunci mobil kayak Rachel Vennya. Yawlaaa enak banget ngayal.

Maka dari itu, kriteria lelaki idaman gue sepertinya kan bertambah satu. Yaitu:

Bisa membungkus kado dengan rapi. 


Ok. Tq.



13 komentar:

  1. Gue dengan menggunakan baju tanpa lengan
    Abang kagum sama eneng
    Pake baju tapi engga pake lengan
    Hebat
    Lengannya bisa dicopot

    BalasHapus
  2. Hmm... komen Niki emang sialan, ya.

    Tapi bodo amat. Yang penting itu, lagu One Direction dijadikan jogetan sama temen lu. Wakakaka. Itu Abang Zayn bukan depresi lagi. Langsung bunuh diri kalau lihat dan denger langsung.

    Sebagai anak Pemasaran, dulu sewaktu SMK gue disuruh bungkus kado tuh. Di mata pelajaran menata produk. Jadi, semua siswa harus bisa membuat kemasan yang menarik. Dan yang paling pertama harus bisa membungkus kado. :))

    BalasHapus
  3. Ha ha si Jefri sungguh terhina.
    Eh itu emang dari SD sampe SMK gak ada pilihan lain selain menari/berdansa? Kasian Wulan.

    Gak apa-apa kamu gak punya bakat di kesenian. Yang penting kamu ngerti seni memperjuangkan cinta. Yeeeeeaaaah..

    BalasHapus
  4. ya ampun baca pas bagian lagu aku bukan boneka jadi inget dulu sama temen dimarahin guru gara2 ngolokin lagu itu pas pelajaran. Ketawa2 ngakak di barisan belakang gara2 nada + liriknya aneh banget :'))

    Woooghh cupuh! kalo gue suka sama seni sih, tapi cuma gambar doang. Kalo nari sama musik akupun akan menyerah. Sekali pas SMA kelas 3, pelajaran kesenian disuruh bikin tarian kontemporer, kelompok gue malah gerakan tarinya kayak senam.

    BalasHapus
  5. KALIMAT PENUTUP YANG SANGAT MEMOTIVASI PARA KAUM HAWA, LAN. AKU BANGGA PADAMU. KITA HARUS MENCARI LAKI-LAKI YANG BISA MEMBUNGKUS KADO DENGAN RAPI. KARENA SUDAH PASTI LAKI-LAKI ITU BISA MEMBUNGKUS HATI KITA DENGAN RAPI JUGA. TIDAK AKAN MEMBUATNYA BERANTAKAN. YHA.

    Sumpah, aku nggak habis pikir, Lan. Kenapa bisa lagu One Thing dipake. Aku jadi ingat ceritanya Robby yang bilang kalau lagu We Don't Talk Anymore dijadiin lagu senam. Rasanya ingin menyangkal, tapi pas aku dengerin lagi, cocok sih buat senam. Lah One Thing dipake dansa? Kok sedih sih aku. Tay kucing! :(

    Btw, kita sama, Lan. Aku juga nggak berbakat nari. Dulu aku pernah ikut audisi, cailah audisi, nggak audisi juga sih. Tapi ya gitu. Aku nggak bisa nari. Dibilangnya badanku kaku. Anjir. Padahal udah semangat tuh berusaha luwes pas nari dengan lagu Jaiho itu. Sedih :(((

    Dan nggak papa kita nggak bisa nari, yang penting kita bisa goyang. You know what I mean, darl.

    BalasHapus
  6. Balasan
    1. Asik asik asik asik kenal dirimu. Asik-asik jos!

      Hapus
  7. itu lagu apa dah liriknya nananana nanana nanana , suara nirunya gimana liriknya nanana nanana

    BalasHapus
  8. Berarti kita bertolak belakang ya lan, ibarat magnet yg saling tolak menolak. Sya klo diajakin menari2 gitu paling semangat lan. Apalagi kalo tari2an tradisi budaya lokal. Tpi klo ngebayangin berdansa trus pake lagunya 1 Direction.......kayaknya perlu kita pikir 7 kali deh.

    Itu gmana ceritanya satu bangunan isinya tk, sd, smp sama smk? gw curiga, jangan2 didalamnya juga ada rumah warga, rumah sakit, supermarket sama kantor polisi.

    Anyway, berproses dalam kesenian itu memang agak sulit klo kita nggk menikmati prosesnya lan. Orng gmpang stress melukis klo selalu mikirin hasil gambarnya seperti apa. Kdang kita disatu titik berhenti melukis karna ditengah2 itu gmbarnya keliatan jelek, trus hapus lagi, gambar lagi, bgitu sterusnya, smpe gambarnya gk jadi2.

    Klo pandangan sya sih, seni itu lebih tertuju pada kebebasan berekspresi, tidak melulu soal berkarya atau menampilkan sesuatu. Apa yg kmu lakukan itu (nonton masha and the bear dn nggk tampil) termasuk seni. Dalam hidup kita bebas memilih dan bereksepresi, tanpa itu semua.... kita sulit menikmati hidup.

    BalasHapus
  9. lagu Baliandonya enrique iglesias lebih cocok padahal kak dipake joged. pake lagu one thung ngebayangin lucu kak, untung itu group uda bubar ya! wekwkwkwkkw

    BalasHapus
  10. Wakssss dulu gw juga gitu, kalo lagi ada acaratrus ngak ikutan pelajaran itu seneng banget hehehe

    BalasHapus
  11. tariannya asyik kayaknya tu

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.