Kisah Keluh Kesah di Sekolah

Hai manteman. Gimana puasanya? Lancar?

Karena kemarin malam hujan, gue memutuskan untuk tidak melaksanakan tarawih di mesjid. Malam itu, kerjaan gue cuma goleran nggak jelas dengan headset terpasang di telinga dan hmm I feel free.
Saking tidak ada kegiatan yang bisa gue lakukan, akhirnya gue hanya bisa membuka galeri hp dan mengamati foto satu persatu.

Gue menemukan hasil skrinsut yang gue pernah gue ambil dr facebook.




Gausah ngasi tebakan 'Apa yg dilihat kotak, dipegang bulet'  ke gue. Gue nggak pernah pake lambang osis soalnya. Huahahaa

Ini foto gue bersama salah seorang temen gue saat masih duduk di kelas 2 SMK semester satu pada tahun 2012. Ketika itu juga, pikiran gue mulai melayang mengenang masa-masa saat gue duduk di kelas 2 SMK.


Kelas 2 SMK.


Hmm..



Gue ingat akan suatu hal!


Jadi, pada pertengahan tahun 2013, hadir seorang guru bahasa inggris baru di sekolah gue. Seorang laki-laki berambut tipis yang kalo pipis berdiri, dengan postur badan yang kurus dan menurut gue umurnya sekitar 30 ke atas.


Di sini gue nggak bakal ngasi tau nama guru baru tersebut. Kita sebut saja namanya Bapak Juan. Memang itu sih nama sebenernya.

Awal perkenalan, beliau tidak menyebutkan namanya. Ia hanya mengambil spidol dan menggambar bebas di dinding. Semua anak keheranan saat melihat papan tulis dengan tulisan dan gambar yang aneh.





Juan

7 + HO +





  '' Ada yang tau nama saya? '' ujar beliau. Semua anak bengong saling pandang.

  '' Nama saya, Juan Sihotang. ''

7 = tangga nada = Si
Ho
Gambar tang
Sihotang   - __-

Semua anak ngakak bersamaan. Gue hanya nyengir sambil bergumam dalam hati,

YA ALLAH. KAYAK MAEN TEBAK GAMBAR :(


Secara penampilan seorang guru, Pak Juan ini cukup terlihat aneh. Di saat semua guru ingin tampil rapi, kece, bersih dan sopan dihadapan murid, Pak Juan malah berpenampilan acak adul. Kemeja lengan panjang kusut, ujung kemeja mencuat keluar dari celana di bagian pinggang, ujung tali pinggang melambai-lambai mesra, dan yang paling parahnya Pak Juan suka memakai celana dengan posisi di pinggul. Anjay.

Kalo gue khilaf gimana coba? Bisa-bisa gue pelorotin juga celananya. Astagfirulloh.

Tidak hanya itu gaes, dalam berkomunikasi saat menyampaikan pelajaran juga aneh. Bisa gitu yang awalnya bersuara pelan, lemah lembut, datar kayak dada, eh tiba-tiba suaranya nyaring teriak.
Kayak dari nada do rendah ke do tinggi.

  '' Nah, dari pelajaran yang TADI SAYA JELASKAN, kalian semua NGERTI kan? Kalo NGGAK ADA yang ngerti, KALIAN bisa angkat TANGAN DAN bertanya kepada SAYA! ''

Gue yang megang tombak langsung ngambil ancang-ancang mau nombak mulutnya.

Asli. Denger suaranya kayak naik roller coaster. Memacu adrenalin. Bikin jantung kaget tiba-tiba. 


***


Pagi itu, gue dipanggil oleh ketua yayasan untuk menemuinya di ruangan beliau. Gue deg degan parah. Gue mencoba mengingat-ingat kesalahan apa yang gue lakukan sebagai siswi di sekolah ini. Enggak ada. Gue nggak ngelakuin kesalahan apapun. 
Dengan mengenakan seragam lengkap tanpa dasi, tanpa lambang osis serta menggunakan jilbab abu-abu, iya di sekolah gue jilbabnya suka-suka gitu. Mau pake seragam pramuka jilbabnya ungu ya silahkan. Mau pake baju olahraga dan jilbab pashmina ya silahkan. Bebaaasss. Asal nggak pake mukenah aja sih. Itu mah mau teraweh.

Setelah bertemu dengan Ibu yayasan, ketakutan gue mencair. Ternyata beliau hanya meminta gue untuk bersedia menjadi peserta olimpiade. Bukan meminta sih sebenernya, tapi memaksa. Daripada gue di DO karena tidak memenuhi permintaannya, akhirnya gue bersedia menjadi peserta olimpiade yang diadakan oleh salah satu unniversitas ternama di Riau. 

Tujuan gue cuma satu, biar bisa ngeliat kakak-kakak ganteng yang jadi panitia di kampus nanti. Hanya itu.

Dan ternyata yang menjadi guru pembimbing gue selama mengikuti olimpiade adalah Pak Juan dan Miss Lalaine. Miss Lalaine salah satu guru expat dari Philipina. Sumpah, mirip banget sama Ariel Tatum. Cakep.

Karena akan mengikuti olimpiade, maka setiap sore, gue bersama beberapa teman harus balik ke sekolah untuk mengikuti latihan menjelang olimpiade. Semuanya berjalan lancar. Ya meskipun ada beberapa temen gue yang suka ngilang waktu latihan.
Suatu hari, Indra, temen gue nggak hadir di jadwal latihan. Indra seorang cowok yang kalo kalian buka laptopnya niscaya, kalian akan mual nggak karuan. Bukaaan. Indra bukan menyimpan file terlarang. Hanya saja di dalam laptopnya penuh dengan video klip boyband korea yang mukanya putih putih menggelikan. 

Why Indra?? Why?

Karena Indra, salah seorang peserta olimpiade belum datang, maka latihan pun belum bisa dimulai. Sampai akhirnya Pak Juan menemui gue.

  '' Wulan, saya boleh minjam hp kamu? Saya nggak ada pulsa untuk nelfon Indra. ''

Gue yang waktu itu lagi sok serius main scrabble di sela-sela latihan langsung menyodorkan hp ke Pak Juan.

  '' Ini Pak, nomor Indra ada di kontak saya. ''

  '' Iya, makasih ya. ''



***


Beberapa hari setelah itu, gue yang baru pulang sekolah siang itu langsung mencari hp di meja belajar. Gue anaknya dulu taat peraturan banget, nggak berani bawa hp ke sekolah. Bukan apa-apa sih,temen-temen gue mah enak, waktu razia gampang banget nyembunyiin hp di beha, sedangkan gue nggak bisa. Kalo gue ikut nyembunyiin hp di beha, guru-guru pasti menaruh curiga ke gue.
Keliatan banget dada gue yang rata kok tiba-tiba nonjol. Bentuknya segiempat lagi. Sebelum dituduh nyembunyiin hp di dalam beha, mungkin para guru lebih dulu menuduh gue karena telah melakukan suntik silikon.

Jadi, kebiasaan gue setelah pulang sekolah adalah mantengin hp. Ngeliat sms dari pacar. Pacar orang.
Siang itu, sebuah sms dari nomor asing masuk ke hp gue.



Selamat siang, Wulan. 
Iya. Ini siapa ya?
Ini Rio.
Rio mana?
Rio anak SMA 1. Tinggalnya di perumahan GSA. 

Oh, dapat nomer aku dari siapa?
Ada deh. Memang kenapa? Nggak boleh ya kenalan sama kamu. 


Kira-kira begitulah sms perkenalan gue dengan si Rio yang entah darimana bisa dapat nomer gue.  Keesokan harinya, saat di jalan hendak berangkat ke sekolah untuk latihan, gue kembali mendapat sms dari Rio.


Wulan, kamu lagi ngapain?
Lagi mau latihan ke sekolah.
Oh, latihan apa?
Latihan olimp.
Oh, udah makan?
Udah.
 

Hampir setiap waktu Rio mengirim sms ke gue. Rada risih juga. Tapi gapapa, gue cukup menikmatinya. Yakali aja bisa dijadiin gebetan. Apalagi dia anak SMA 1. Di daerah gue, anak-anak cowo SMA 1 terkenal dengan kegantengannya. Uwuwuw

Sampai suatu sore di hari terakhir latihan, sekitar pukul setengah enam, dimana anak-anak lain sudah pulang dan menyelesaikan latihan untuk hari itu, langkah kaki gue terhenti saat Pak Juan memanggil gue.
Gue yang masih membereskan lembaran kertas yang berserakan di atas meja sontak langsung memberhentikan kegiatan yang gue lakukan. Langit semakin gelap. Sekolahan terlihat sepi.

  '' Wulan. ''

  '' Saya, Pak? ''

  '' Iya, kamu. ''

  '' Ada apa ya, Pak? ''

  '' Saya minta nomor hp kamu boleh? ''

  '' Engg, buat apa Pak? ''

  '' Buat ngasi info tentang olimpiade ini. Besok pagi kita udah harus berangkat kan?  ''

  '' Oh iya Pak, nomer saya 08xxxxxx ''

Pak Juan mengetik keypad di hpnya bersamaan dengan deretan angka yang gue lontarkan dari mulut.
Dan tiba-tiba saja, hp gue berdering.

  '' Itu nomer saya ya, '' ujarnya mantap. 

Gue merogoh isi tas. Mengeluarkan hp dan melihat tulisan yang tertera di layar hp gue.



'' RIO INCOMING CALL ''

 

 

 WATDEFF....




Gue terdiam.





 Mampus gue!



Gue sama sekali nggak berani menatap wajah lelaki yang ada di hadapan gue. Panggilan masuk yang tertera di layar hp, seakan membuat gue terhipnotis kaku. Rio incoming call. RIO. Oh noooooo

Sumpah, dalam situasi saat itu gue takut bukan main. Apalagi saat itu di dalam ruangan hanya ada gue dan Pak Juan. Di luar sepi. Sore itu sangat sepi.

  '' Pak, saya pulang ya. Sudah magrib. ''

  '' Iya, iya silahkan. '' Senyum bahagia terpancar dari wajah Pak Juan.

Gue langsung bergegas pulang dan mempercepat langkah kaki menuju gerbang sekolah. Dalam perjalanan pulang, bayangan tentang siswa SMA 1 yang ganteng ganteng rupawan itu musnah seketika.
Asli. Gue nggak habis pikir. Apa coba tujuan dia smsin gue dengan menyamar sebagai anak sekolah?
Dan lambat laun gue baru sadar, gue yakin sebelum menyamar sebagai Rio si anak sekolahan, Pak Juan mengambil nomor gue saat ia berpura-pura meminjam hp gue untuk menelfon Indra.

Ya Allah tolong. Gue gamau digoda om-om. Kecuali om-om berduit. Gak, nggak gitu. :(


Dan entah kenapa di antara banyak kisah dan cerita seru saat duduk di kelas 2 SMK, hanya cerita menyedihkan ini yang selalu teringat di dalam pikiran gue.




73 comments:

Komentarnya ditunggu kakak~

Karena, hanya kamu




'' Hahahaaaa aku ketawa mulu kalo inget itu, '' ledak suaraku memecah obrolan hangat yang sudah sedari tadi kita lakukan.

Aku mengangguk-ngangguk pasti sambil menahan senyum saat pikiranku kembali melayang pada masa-masa ketika kita duduk di bangku sekolah dulu. Membayangkan kita yang selalu berjalan kaki bersama saat hendak berangkat sekolah, dengan kamu yang selalu mengomel saat langkah kakiku berjalan dengan cepat. Dengan alasan, ' Biar aku bisa lebih lama ngobrol sama kamu, ' dan itu sukses membuatku menurunkan kecepatan langkah kakiku.
Aku hampir menahan tawa saat mengingat tingkah konyolmu yang selalu menghiburku di sela-sela pelajaran matematika yang membuatku bosan setengah mati.

Siapa sangka ' goodbye and goodluck ' yang pernah kutulis dua tahun yang lalu pada lembaran binder harian milikku saat terakhir kali kita bertemu, ternyata tidak membuat kita benar-benar berpisah tanpa bertemu muka seperti goodbye yang sesungguhnya.


Kita bertemu lagi. Saat ini.


Kita kembali bercerita tentang banyak hal yang masing-masing kita lewati selama kurang lebih dua tahun tak berjumpa. Juga tanpa komunikasi melalui media apapun. Segala tentang pekerjaan, keseharian, perkuliahan, teman-teman baru, teman kerja dan banyak hal lainnya kini mengalir menjadi obrolan di antara kita.

Sebenarnya banyak sekali yang ingin kutanyakan kepadamu. Apakah kamu masih tetap tidak menyukai minum dengan menggunakan sedotan? Apakah kamu masih meletakkan sate, sebagai makanan istimewa dengan nomor urut paling pertama? Lalu bagaimana dengan kebiasaanmu yang selalu membeli baju dengan jumlah selusin yang kerap sekali kamu lakukan? 'Supaya puas pakai baju yang sama setiap harinya, ' begitu alasanmu.

'' Kok bengong sih? ''
Aku terkejut dan mendapatkan ekspresi bingung penuh tanya yang tergambar pada raut wajahmu.
Wajahmu masih sama dengan wajah yang aku kenal pertama kali pada 5 tahun lalu.  Gaya bicaramu juga tetap sama, kali ini lebih berwibawa.

Sejujurnya, di sela-sela obrolan ini, aku benar-benar berharap agar waktu dapat berhenti sejenak. Barangkali hanya sekian detik. Aku masih bingung dengan apa yang membuatku ingin menahanmu di sini. Tetap dengan posisi duduk saling bertatapan seperti ini.

Aku terdiam. Sesekali senyum dan anggukan bergerak cepat seiring dengan lantunan cerita-cerita konyolmu. Aku hampir saja mati tertawa mendengarnya. Aku bahagia. Sungguh.

Bagiku, cuma kamu yang aku perbolehkan untuk membangunkanku dengan deringan handphone di tengah malamku.
Cuma kamu yang aku izinkan untuk menyeruput teh hangat tanpa izin dariku.
Cuma kamu yang aku perbolehkan untuk memaksaku mengenakan mantel, seperti yang selalu Ayah pesankan kepadaku.

Karena, cuma kamu yang bisa melakukan semuanya dengan cara semenyenangkan itu.





39 comments:

Komentarnya ditunggu kakak~

Pengawasku Sayang, Minta Ditendang

Hari Minggu di akhir Mei lalu, gue harus bangun pagi-pagi mempersiapkan diri untuk berangkat kuliah. Bayangan hari Minggu indah yang sudah lama gue nantikan, dimana gue bisa berbeha-beha, eh maksudnya berleha-leha di hari itu musnah begitu saja.


Duh typo. Huruf B dan huruf L deket banget soalnya. 



Deket ndasmu!


Hari itu gue ujian. Tanpa belajar sama sekali, bahkan nyentuh catatan juga nggak ada, gue berangkat ke kampus dengan wajah yang ceria. Penuh pesona. Aura kebahagiaan terpancar jelas di wajah gue.
Gue memang mahasiswi yang baik dan berguna.
Padahal mah dalem hati, ‘ mampus dah gue. Mau jawab apa ntar di lembar jawaban. '

Seperti biasanya, sebelum berangkat ke kampus, gue selalu menyempatkan diri dan mampir sebentar ke Indomaret. Karena bagi gue, hanya senyuman manis dari mas-mas indomaretlah yang bisa menyemangati hari-hari gue. 

Setelah masuk ke dalam indomaret, gue langsung berjalan menuju lemari pendingin  minuman.  Di sana berjejer rapi beraneka rasa minuman dingin. Iya dingin. Kayak chat gebetan kamu.

Pilihan gue jatuh kepada susu soya berbotol hijau. Alasan gue memilih susu soya berbotol hijau ini adalah karena gue cinta lingkungan. Gue cinta alam. Gue cinta tumbuh-tumbuhan yang berwarna hijau. Menyegarkan. Kalo kata Darma kayak cewe cewe yang keluar pake legging. Segar.

Tidak lupa pula gue membeli beberapa cemilan dan permen yang nanti akan gue makan sambil mengamati temen-temen yang sibuk menyelesaikan soal ujian. Ntaps.

Setelah membayar dan mendapatkan kecupan di kening serta ucapan selamat pagi dari mas-mas indomaret, gue langsung cus menuju kampus.

Benar saja. Kelas masih kosong. Kalo hati kamu masih kosong juga nggak?

Tepat jam setengah sembilan, ujian pun dimulai. Seorang pengawas terlihat memasuki ruangan kelas. Dengan tubuh tinggi karena rutin minum susu hilo sholehah, lelaki itu duduk dan meletakkan kertas ujian yang seabrek di atas meja.

Watdeff…

Gaes, ini  pengawas yang pernah menjadi pengawas ujian di kelas gue saat ujian semester satu lalu. Dan kenapa di semester tiga ini gue diawasin oleh bapak ini lagi sih. Dosen aneh yang pernah gue ceritakan di sini, ternyata kembali menjadi pengawas ujian gue di semester tiga ini.

Sejujurnya, gue amat senang jika memiliki pengawas ujian seperti beliau. Orangnya santai. Anak belakang mau nyontek modul, mau buka gugel, mau buka-bukaan baju juga silahkan. Pengawasnya bener-bener kalem. Wong jowo bangetlah. Apalagi kalo denger suaranya yang medok abis.

Lembar soal dan jawaban mulai dibagikan. Sebagai anak yang cerdas dan dididik oleh orangtua yang mengajarkan untuk tidak melalaikan waktu, gue langsung mengambil pena dan mengisi lembar jawaban tersebut.
Time is mani. 


Oke ralat. Maksudnya money. Okesip. 


Setelah selesai mengisi nama, tanggal dan mata kuliah di kolom data mahasiswa yang tertera pada lembar jawaban, gue kembali meletakkan pena. Gue menyandarkan badan serileks mungkin.

Perlahan gue membaca soal pertama.


Hmmm.




Hemmmmm…

Fak. Apa yang mau gue jawab di lembar jawaban ini !!


Untuk menenangkan diri, gue langsung mengambil susu soya yang tadi gue beli. Dengan berkali-kali teguk sampai menghabiskan setengah isi botol susu soya, gue menutup kembali botol tersebut dan meletakkannya di meja kuliah.
Entah kenapa, ketika itu mata gue menangkap sesuatu yang membuat gue cukup terdiam beberapa lama.
Bukaaan. Bukan menatap anak –anak belakang yang lagi buka-bukaan baju. Mata gue menangkap sebuah deretan angka yang tertera di leher botol susu soya yang gue minum barusan.


Exp: 12 May 2016


BANGKE, MINUMANNYA KADALUARSA !


Saat itu gue bener-bener shock. Bagaimana kalau gue nanti mati mendadak? Ujiannya kan belum kelar. Gue juga belum menikah, gue belum minta maaf lahir batin juga ke mbak kantin sekolah yang dulu sering gue minta kembalian empat rebu padahal uang gue cuma dua rebu. Gorengan dapet, uang juga dapet dua kali lipat.

Aku anak cerdas.

Saat itu gue bener-bener gelisah. Badan gue berkeringat dingin, kepala gue mendadak pusing. SOAL UJIANNYA SUSAH AMAT SIH ELAAAH. 

Tidak hanya itu, secara perlahan gue mulai merasakan sesuatu yang aneh di perut gue. Perut gue rasanya sakit. Sakiiiit banget.  Seperti ada yang tekanan kuat yang melilit perut gue. Gue sampai menunduk karena menahan sakitnya.


Saat menahan sakit itu juga gue baru sadar akan satu hal.


Jangan pake ikat pinggang terlalu kencang!


Karena gue orangnya suka curhat, gue langsung memberi tau temen yang duduk di samping kiri kanan, depan belakang dan dan beberapa deretan samping kanan gue. Dengan memasang muka heboh berharap belas kasihan dan kepedulian para teman-teman, gue membuka suara.

  ‘’ Duuuh gue barusan minum, minuman kadaluarsa nih. Gimana huhuuu. ‘’

Dan respon temen-temen,

  ‘’ Oh ya? Beli di mana? ‘’
  ‘’ Nggak papa kali. ‘’
  ‘’ Woleeesss ‘’

PAPAAN NEH. KENAPA NGGAK ADA YANG KHAWATIR SAMA GUEEEE


Tapi syukurlah, setelah meminum susu soya kadaluarsa itu, gue nggak merasakan perubahan apapun pada diri gue. Malahan minuman kadaluarsa makin terasa enak. Lah nagih~

Mata kuliah yang diujiankan pun mulai dilewati satu persatu. Sampai pada akhirnya gue menerima lembar soal dengan tulisan mata kuliah Statistika II. Asli. Gue cengo melihat lembar soalnya. Untuk beberapa saat, gue diem.


Sampe 15 menitan.

Selama 15 menit itulah gue menghabiskan waktu dengan memakan permen, sari roti serta mocca float yang gue jejerkan rapi di atas meja. Entah kenapa, setiap kali berada di kelas, gue selalu menggunakan dua meja untuk gue pakai sendiri. Dan karena itu pula, sampai sekarang gue masih penasaran siapakah penemu meja kuliah?

Asli. Gue selalu kesel setiap kali ada barang-barang yang jatuh dari meja.
Entahlah, intinya gue masih bertanya-tanya apa visi dan misi terciptanya meja kuliah yang ukurannya sama kayak tingkat kemungkinan kamu untuk jadi pacar dia. KECIL!

Setelah menghabiskan waktu 15 menit untuk mengemil, tiba-tiba gue mendapatkan sebuah hidayah. Entah kenapa secara mendadak gue langsung memutuskan untuk menyudahi acara mengemil itu dan langsung mengerjakan soal ujian statitiska II. Dengan sekali bertanya pada teman yang duduknya di belakang gue, gue langsung bersemangat untuk mengerjakan soal ujian tersebut.

Aneh. Kenapa gue bisa tiba-tiba sok tau gini. Hmm sepertinya efek minuman kadaluarsa itu baru terlihat sekarang.

Karena terlalu bersemangat, gue lupa bahwa ada satu kolom pada tabel yang belum gue kerjakan. Daripada menghapus tabel dengan mencoretnya, yang membutuhkan waktu lama daripada menghapus kenangan bersama mantan, gue memutuskan untuk mengganti lembar jawaban baru.

Gaes, ini dejavu banget.

Semester satu kemaren, dengan pengawas yang sama, karena salah menulis ayat, gue juga meminta lembar jawaban baru ke pengawas.
Dengan langkah pasti gue berjalan mendekati bapak pengawas.

  ‘’ Pak, saya boleh minta lembar jawabannya lagi nggak? ‘’
  ‘’ Iya ini. ‘’

Pengawas menyodorkan selembar kertas jawaban ke arah gue. Gue mengambil kertas tersebut dari tangannya.

Dan disaat bersamaan, bapak pengawas itu menahan kertas lembar jawaban itu dengan tetap memegangnya.


Yak. Terjadilah tarik menarik kertas yang hanya berlangsung beberapa detik sebelum pada akhirnya gue memberikan senyum dan anggukan kepadanya.

Tapi lembar jawaban itu masih ditahan di tangan pengawas. Ya Allah, tolong.
Gue mengangkat kepala dan menatap wajah lelaki itu, FAK dia memperhatikan gue dengan raut muka yang serius diikuti dengan senyuman kecil. Ini pengawas maunya apa cobaaa??

Nggak mau kalah, gue juga menatap wajah bapak pengawas tersebut.

Kami saling bertatapan.
Saling menyukai.
Dan saling mencintai.


KAGAK!


Setelah gue mengerutkan alis pertanda heran, pengawas tersebut melepaskan kertas lembar jawabannya kepada gue.
Awkard banget. Gila.

Ujian pun berlangsung dengan khidmat. Tepat sekitar jam 5 sore, ujian semester tiga di hari itu pun usai. Setelah membereskan barang-barang, gue berteriak kepada anak-anak kelas.

  ‘’ MANTEMAN, BESOK KALO PUASA KITA BUKA BARENG YA. AKU YANG BUKA, KALIAN YANG LIAT BARENG. ‘’


Ya Allah puasa. Maap.

Nggak gitu.

  ‘’ MANTEMAN, BESOK KALO PUASA KITA BUKA PUASA BARENG YA. NANTI KITA BAHAS LAGI DI GRUP. ‘’

Yang direspon oleh ucapan setuju dari beberapa suara mahasiswa.

  ‘’ Oke oke. Kita atur aja ya. ‘’

  ‘’ Iya nanti kita bicarain lg ya. ‘’

  ‘’ Nice info gan. ‘’

Anak-anak lain mulai meninggalkan kelas setelah bersalaman sekaligus minta maaf lahir batin dengan pengawas. Gue yang kerepotan menyusun barang serta mengumpulkan sampah kemasan cemilan gue, membuat gue cukup lama keluar dari kelas.
Setelah membuang sampah pada tempatnya, gue langsung mengampiri bapak pengawas. Gue mengulurkan tangan.

 ‘’ Pak, mohon maaf lahir batin ya. ‘’

Bapak pengawas menyambut uluran tangan gue.

  ‘’ Iya, sama-sama ya engg… Ayu, ‘’ ujarnya setelah melihat nama gue di kertas absensi.  Gue tersenyum dan menarik uluran tangan gue. 

Tapi, alam berkata lain. Tangan gue ditahan oleh beliau. Anjir. Serem amat. Mana gue cuma berduaan doang di dalam kelas.  Bapak pengawas tersenyum bahagia menatap gue. Senyumnya senyum misteri illahi.

  ‘’ Hmm besok mau buka puasa bareng di mana? ‘’ Bapak pengawas mengajak gue berbicara dengan tangan gue yang tetep di eratnya. So sweet. 

  ‘’ Ngg ngga nggak tau, Pak. Masih belum didiskusikan sama temen-temen. Heheeee.. ‘’

Itu adalah ‘heheee’ paling kaku diantara ‘heheee’ lainnya yang pernah gue ucapkan kepada siapapun.

  ‘’ Pak, saya pulang dulu ya. Udah mau hujan nih, ‘’ ujar gue sambil terus menerus menarik tangan gue agar lepas dari genggamannya.

  ‘’ Oh iya iya. Hati-hati ya pulangnya. ‘’

  ‘’ Iya, Pak. ‘’

Gue langsung terburu-buru menuruni anak tangga. Jantung gue berdegup kencang. Ya Allah itu pengawas gue kenapa sih?
Kenapa coba dia genggam tangan gue dengan waktu yang lama? Kan gue jadi teringat genggaman tangan mantan. HALAH.
Hari itu gue bener-bener ngerasa takut nggak karuan. Bayangan-bayangan ‘andai saja’ yang jika terjadi saat itu bermunculan di benak gue.

Tapi untung saja semua itu nggak terjadi. ;(
 Bener-bener dah itu pengawas. Minta ditendang banget. Aseli. 






 ***

Betewe udah masuk bulan ramadhan, mohon maaf lahir batin ya manteman. Aku sayang kalian lahir batin. Uwuwuwuww
Mwah. :*








54 comments:

Komentarnya ditunggu kakak~

ADAM


Hari Kamis tanggal 26 Mei kemarin adalah hari bersejarah bagi keluarga gue. Terutama bagi adik gue, Adam. Di hari itu, ia harus merelakan ujung  tititnya dipotong oleh dokter.








Iya. Hari itu, Adam disunat.



Sore sekitar pukul empat saat gue berada di kantor, hp gue berdering. Nama Ibu tertera di layar hp gue. Gue pun langsung mengangkat panggilan itu.

 ‘’ Adam disunat jam lima, Lan. ‘’

‘’….’’

‘’ Rencananya kan tadi pagi Adam disunat, tapi pak mantrinya bilang sore aja, soalnya pagi tadi pak mantrinya nggak bisa. ‘’

‘’….’’

‘’ Koe mau liat, Lan? ‘’

Gue hening dengan waktu yang cukup lama.

Ya Allah, ini mau liat kangen band atau mau liat Adam disunat sih? Pake ditawarin mau liat-mau liat segala. Yaa gue MAU LAH.
Kapan lagi coba gue bisa menyaksikan adegan terkejam sepanjang sejarah hidup gue. 

 ‘’ Yaudah iya, Bu. Jam lima kan? ‘’

‘’ Iya, Lan. Bawa kamera hp ya. Nanti kita video.‘’

Tuh kan bener. Kayaknya Ibu nyuruh gue videoin kangen band pas nyanyi Yolanda nih. Pasti.

Sepulang kerja, gue langsung meluncur menuju alamat rumah sakit yang Ibu beritahu sebelumnya. Tepat ketika gue memarkirkan motor di sana, gue melihat seorang anak turun dari mobil dengan tampang kusutnya. Alisnya mengkerut. Mungkin dia lupa untuk menggunakan yang anti kerut, anti bocor, charm body fit.
Anak lelaki itu celingukan menoleh ke kanan dan ke kiri. Kayak mau nyebrang. Padahal posisinya sedang berdiri di parkiran rumah sakit yang terlihat sepi. Gue melepas helm lalu menghampirinya.

‘’ ADAM!! ‘’

Adam menoleh ke arah gue, sang kakak yang memiliki budi pekerti luhur. Adam mengernyitkan dahinya dan memasang muka jijik saat gue menghampirinya. Gue biasa aja sih. Udah sering digituin soalnya. Lebih tepatnya gue memang menjijikan.
Sambil menunggu dokternya datang, kami berlima duduk rapi di ruang tunggu. Gue yang ketika itu duduk di samping Adam mendapatkan sebuah pertanyaan dari bocah kecil itu.
‘’ Wam, nanti enggak sakit kan pas disunat? ‘’

 ‘’ Ya enggaklah. HAHAAA. Nggak bakal sakit. Adam tenang aja ya. ‘’

‘’ Sakitnya sedikit kan, Wam? ‘’

‘’ Iya. Dikiiiiiiiiiiitt banget… ‘’

Adam senyum-senyum sambil menggoyangkan kakinya yang menggantung di bangku. Tepat jam setengah enam lewat beberapa menit, Adam dipanggil masuk ke dalam ruangan. Sayang seribu sayang, kalo nggak sayang ya nggak usah bilang sayang, yang diperbolehkan masuk oleh si perawat hanya Ibu, Ayah dan Adam, si pasien. Sementara gue dan Nova harus menunggu di ruang tunggu dengan penuh kecemasan dan rasa khawatir.
Cemas kalo nanti tititnya jadi rata. Kan kasian. Masa depannya terancam punah.



Satu menit…




Dua menit….




Tiga menit…...




Empat menit..…..





HUUUUUWAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA. HUWAAAAAAAAAAAAAA



Gue dan Nova saling berpandangan dan tanpa dikomando, tawa kami pecah begitu saja. Kakak macam apa kami berdua. Tertawa diatas penderitaan titit yang terpotong.
Gue dan Nova kemudian diam dan kembali mendengarkan suara jeritan dari ruangan yang ada di sebelah kami.

‘’ Jangan suntik lagi dokter. HUWAAAAAAAAA ‘’

Gue dan Nova kembali tertawa. Asli. Hari itu gue bener-bener sakit perut karena kebanyakan tertawa. Gue masih nggak nyangka, Adam yang selama ini sok jagoan di rumah karena merasa anak laki-laki satu-satunya ternyata bisa nangis saat disunat.


‘’ DOKTEERR JANGAN PEGANG JARUM DOKTEEEERRR HUWAAAAAAA ‘’

Untung aja Dokternya nggak jawab, ‘’ Trus saya harus pegang apa dong? ‘’
Yang kemudian dijawab kembali oleh Adam, ‘’ Berpeganglah pada keimanan dan ketaqwaan, Dokter. ‘’


MASYAALLAH.


Trus Adam nggak jadi sunat. Dokternya langsung umroh.



Proses sunat kembali dilanjutkan dengan khidmat. Sampai akhirnya…

‘’ DOKTEERRR BENANGNYA PANJANG-PANJANG DOKTEEERRR.. ‘’

Sumpah. Gue kalo jadi dokternya, rasanya gue pengen berbisik ke telinga Adam, ‘’ Nak, ini saya mau nyunat. Bukan mau bikin layangan. ‘’

Setelah setengah jam berlalu dan proses pemotongan titit Adam selesai, pintu ruangan perlahan terbuka. Adam berjalan keluar dengan dibimbing Ibu dan Ayah dikedua sisinya. Lagi dan lagi gue ngakak nggak karuan. Sarung dengan warna pink menjulur indah membalut tubuh Adam dengan ujung sarung yang diikatkan pada lehernya.


Sarungnya kenapa mesti warna pink sih? Elaah.


Gaes, ini jelas-jelas telah menjatuhkan kejantanan seorang Adam yang ketika itu baru saja selesai sunat. Cuma lelaki sejatilah yang berani disunat, tapi kenapa kain sarungnya mesti warna pink. Ya Allah.
Ketika Adam telah masuk ke mobil dengan digendong Ibu, gue hanya melambai-lambai penuh bahagia ke arahnya. Setelah mobil menghilang di belokan, gue tidak langsung pulang ke rumah. Tujuan gue adalah mengabulkan permintaan Adam yang sudah lama ia minta dengan ucapan ‘kalo Adam disunat…’, dan hari ini gue harus mengabulkan permintaannya.
Adam minta dibelikan psp.

Ini permintaannya nggak asik banget. Kalo disunat, minta dibelikan psp. Gue kalo jadi Adam, trus disunat, gue bakal minta nama gue tercantum di surat tanah dan kepemilikan rumah ini. Ntaps!

Dasar anak nggak tau diri!

Sesampainya di rumah, gue langsung memberikan psp kepada Adam. Dan gaes, mata gue melihat banyak sekali makanan yang berada tepat di dekat kepala Adam. Di sana tergeletak makanan seperti, roti, susu beberapa kotak, energen satu renteng, cokelat, dan berbagai jenis cemilan lainnya yang banyak banget anjir.

Ini emak gue mau buka lapak jualan atau mau ngadain sahur on the road sih?

Terlepas dari memperhatikan berbagai cemilan yang menggoda nafsu itu, gue beralih untuk melihat ada apa dibalik sarung pink milik Adam. Ini kalo gue jadiin film, pasti judulnya AADSPMA. Film AADC 2 mah lewat.
Setelah Adam menyibak sarung pink imutnya, kali ini gue melihat sesuatu yang tak kalah imut. Iya, titit Adam dengan keadaan diperban terpampang indah penuh pesona.
Satu hal yang terbesit di pikiran gue,

‘’ Kok jadi kecil? ‘’

Perbannya.

Hari itu, untuk yang pertama kalinya gue melihat kondisi titit setelah disunat. Pengetahuan gue bertambah satu. Pengetahuan tentang titit.


***

Hari-hari berikutnya, rumah gue mulai berdatangan para tetangga, teman Ayah dan teman Ibu.
Untuk apa mereka datang? Yak benar.
 Untuk melihat titit Adam. Kalo kalian mengira Adam akan seperti anak-anak lain sehabis sunat pada umumnya yang menggunakan sarung, perkiraan itu tidak akan kalian temukan pada Adam. Dari hari pertama di rumah setelah sunat sampai gue mengetik tulisan ini, Adam tidak pernah menggunakan sarung untuk menutup titittnya.

Dan jelas sekali, saat orang-orang berdatangan untuk menjenguk Adam yang habis sunat, Adam dengan rasa bahagianya akan menyambut para tamu dengan keadaan terbaring di kasur dan titit yang terpampang penuh kharisma.
Setiap hari ada saja temen Ayah ataupun Ibu yang sengaja berkunjung ke rumah demi menonton titit Adam. Sebagai mahasiswi ekonomi, gue melihat ini sebagai peluang bisnis. Gue punya rencana, nanti gue bakal bikin spanduk dan brosur serta tiket masuk untuk menonton titit Adam. Satu tiket dijual dengan harga 25K. Sedangkan untuk kursi VIP dengan harga 85K sudah termasuk makan siang, tanda tangan dan foto dengan pemilik titit. Yang minat PING!

Percayalah, gue melakukan ini semua demi mengembalikan uang gue yang sudah melayang untuk membelikan psp kepada Adam.


Bukan, bukan gue nggak ikhlas. Masalahnya adalah, KENAPA ADAM SUNAT DI AKHIR BULAN SIHH ELAAAH

Gue akhir bulan aja udah setengah mati mikirin duit yang semakin tipis. Gue ngeluarin duit seribu untuk bayar parkir aja harus diiringi derai air mata dulu karena mengingat uang seribu itu sangat berarti di akhir bulan bagi gue. Lah ini Adam malah sunat di akhir bulan.

Ya Allah.

Tapi ndak papa. Aku ikhlas. Ini semua demi titit Adam. Demi masa depan nan gemilang Adam. Demi anak cucunya nanti. Aku ikhlas.


***

Saat beberapa teman Ayah dan Ibu datang menjenguk Adam ke rumah, temen Ibu berkata, ‘’ Laki-laki sama perempuan adil ya, Bu. Laki-laki sakitnya di waktu sunat, sementara perempuan sakitnya di waktu melahirkan. ‘’

Spontan gue menjawab, ‘’ Tapi perempuan kan melahirkan berkali-kali. Nggak ada laki-laki yang sunatnya berkali-kali. ‘’

Teman Ibu langsung diam dan manggut-manggut. Dalam hatinya, ‘’ Bgst juga nih anak! ‘’


***
Dan setiap kali ada tamu yang datang ke rumah, Adam selalu mendapatkan selipan uang di tangannya dengan ucapan yang rata-rata sama, ‘’ Nih buat Adam, untuk beli permen. ‘’ atau ‘’ Nih buat Adam, untuk beli jajan. ‘’


((BELI PERMEN))
Ya lu pikir aje beli permen sebanyak itu. Ntar tititnya sembuh, giginya yang mendadak sakit.

Hampir setiap malam Adam mendapatkan selipan uang ditangannya dari temen-temen Ibu juga Ayah. Bener-bener mendadak jadi kaya nih bocah. Gue nggak bisa bayangin kalo minggu depan tau-tau Adam udah bangun kos-kosan di belakang rumah.

Asli. Enak bener idupnya.
Yang gue takutkan, dengan uang yang banyak, Adam bakal jadi rentenir. Trus malak-malakin orang ke rumah-rumah. Nagih utang. Penampilannya kece. Necis abis. Pake jas, pake dasi, kacamata item, tapi belom bisa pake celana. Soalnya tititnya belum kering. Kan habis disunat.
Tapi…


RENTENIR MACAM APA ITU!

Oke. Lupakan.


Setelah menemani Adam sunat dan melihat ‘after dan before’nya, gue bisa mengambil kesimpulan dari hal itu.


Kesimpulannya adalah :

‘’ MAU KAYA? AYO SUNAT! ‘’


‘’ SUNAT PANGKAL KAYA ‘’







47 comments:

Komentarnya ditunggu kakak~