Sepotong Hati di Segelas Milkshake Cokelat (Bagian Sembilan)

Sabtu, Maret 26, 2016



Bagi yang ingin membaca cerita bersambung ini dari awal silahkan lihat di halaman Proyek WIDY







Agus lupa bagaimana cara berdamai dengan kehilangan. Saat ini, ia memang sudah ikhlas dengan kepergian ayahnya. Bahkan sudah dari SMA. Tapi, kini ia mengalami rasa kehilangan yang baru. Kehilangan seseorang yang ia sayangi. Ini memang pertama kalinya Agus merasakan jatuh cinta. Rasanya pasti berbeda jika disamakan dengan kehilangan ayahnya beberapa tahun yang lalu.

Di saat keadaan semakin kelam, Agus kemudian teringat pesan almarhum ayahnya beberapa hari sebelum meninggal,

“Ketika Ayah udah nggak ada, kamu nggak boleh terpuruk lama-lama. Segeralah bangkit. Kamu itu anak cowok. Harus kuat. Jangan benci ibumu. Juga kakakmu. Apa yang ibumu bilang itu sebenarnya baik. Tapi cara penyampaiannya mungkin salah. Dia cuma ingin memotivasi kamu supaya berprestasi dan mandiri. Ayah yakin kamu bisa mandiri, tapi memang butuh proses. Cara belajar kamu berbeda dengan Januar. Kamu itu tidak bisa terburu-buru, sedangkan ibumu wataknya kurang sabaran. Kamu harus bisa maklumi itu, ya.
Kamu juga nggak perlu iri sama kecerdasan kakakmu. Setiap orang diciptakan Tuhan berbeda-beda. Kamu nggak perlu jadi seperti kakakmu untuk mendapatkan kasih sayang dari ibu atau orang lain. Karena kamu juga spesial, Nak. Jadilah dirimu sendiri.
Ayah sayang kamu, Gus.”


Air mata Agus pun mengalir semakin deras. Ia ingat sekali pesan itu lengkap dengan jenis suara Ayah yang terdengar parau dan melemah. Tapi, berkat pesan itulah ia sedikit-sedikit mulai belajar. Agus jadi lebih mandiri sejak kepergian ayahnya. Ia mulai tidak acuh ketika ibunya mulai memuji-muji Januar. Agus juga tidak perlu membuktikan apa-apa kepada ibunya. Ia cukup bersyukur menjadi dirinya sendiri, meskipun kenyataannya ia memang tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan sang kakak. Agus masih percaya dengan kata-kata ayahnya, menjadi diri sendiri itu menyenangkan. Dan di situlah letak keunikannya.

Lagi pula, Agus hanya sebulan memandangi Mei dari kejauhan. Baru bertemu dua kali, dan tentunya belum mengenal Mei lebih lama daripada Januar. Sedangkan Januar sudah hampir setahun memiliki hati Mei. Agus kalah terlampau jauh. 


***


Setelah tidur, semua ingatan menyedihkan itu mulai tertutup dan kembali tersimpan otomatis di memorinya. Agus bangun tidur dengan lebih fresh. Hati Agus juga sudah tak sesakit malam itu. Setelah melewati masa-masa sulit, ia tampaknya mulai belajar mengikhlaskan Mei untuk Januar.

Hari ini, perkuliahan sedang libur dan ia tidak ada kesibukan. Maka, siang itu, Agus berencana untuk pergi ke toko buku. Saat sedang bosan di rumah, di sanalah tempat yang membuatnya merasa tenang. Larut dalam imajinasi akan tokoh-tokoh yang disajikan oleh jajaran novel fiksi di rak buku yang sering ia sambangi.

Sesampainya di Gramedia, Agus langsung menuju ke arah rak favoritnya. Matanya yang cokelat itu membulat begitu melihat banyak novel yang dipajang di rak itu. Dadanya pun bergemuruh. Agus mengambil salah satu novel untuk dibaca. Ia mulai membaca halaman demi halaman sambil berjalan. Sampai akhirnya, ia tak sengaja menabrak seorang perempuan di dekatnya.
“Duh, maaf-maaf,” ucap Agus spontan.

“Gapapa, Mas,” jawab perempuan itu.

“Ng... Mei?” ucap Agus heran melihat penampilan perempuan yang mirip Mei. Perempuan ini memang benar-benar mirip. Dari mulai matanya, warna kulitnya, dan juga jenis kelaminnya (yaiyalah kampret). Hanya saja perempuan ini memiliki potongan rambut berbeda dan suara yang lebih lembut.

“Mas siapa?” tanya perempuan itu.

Padahal Agus serasa mimpi kalau dirinya dapat bertemu Mei di Gramedia. Namun, aneh sekali karena Mei kali ini sangat berbeda. Apalagi mendengar responsnya yang seperti itu. Apakah itu bukan Mei? Kalaupun bukan, apakah Mei punya kembaran? Apa mungkin di dunia ini ada seseorang yang benar-benar mirip dengan Mei?

“Gue Agus. Kita pernah ketemu di kafe deket kampus. Ngobrol banyak hal sambil nunggu macet waktu itu,” terang Agus.

“Hmm.... Kok saya nggak ingat apa-apa, ya?" jawab perempuan itu.

“Tapi kita, kan, sempet ketemu lagi waktu itu di....”Agus ingin mengingatkan perempuan ini tentang pertemuan selanjutnya saat makan malam bersama keluarganya. Namun, ia sendiri ingin sekali menghapus momen itu dari ingatannya. Agus kemudian termenung. Wajahnya mendadak murung.

"Di mana?" tanya perempuan itu.

“Lu bener bukan Mei? Lu mirip temen gue soalnya.”

“Bukan. Saya Septi, Mas.”

“Oh, maaf kalo gitu. Gue salah orang,” jawab Agus pasrah, kemudian ia berjalan menjauhi perempuan yang tidak mengenali dirinya ini. Mungkin ingatan tentang Mei di pikiran Agus masih benar-benar melekat. Sehingga saat ia melihat perempuan yang rada mirip, ia pun berpikir kalau perempuan itu adalah ’Mei’.


***


Agus sedang membaca novel yang baru saja ia beli siang tadi, ponselnya tiba-tiba berbunyi. Agus mendapat sebuah notif di layar ponselnya. Sebuah permintaan pertemanan BBM dari seorang perempuan. Yang ternyata adalah Mei. Padahal Agus sudah mulai mencoba untuk mengikhlaskannya, tapi dia malah hadir kembali.

Ada perlu apaan dia invite gue, ya? Bukannya waktu itu dia nggak mau ngasih pinnya? Apa dia mulai kehilangan gue? Atau dia baru menyadari bahwa gue lebih ganteng daripada Januar?

Tanpa berpikir macam-macam dan untuk menghindari agar ia tidak terlalu kegeeran, Agus segera menerima permintaan pertemanan dari Mei. Setelah berteman di BBM, Agus ingin sekali mengontak Mei. Ia tidak bisa menyembunyikan perasaan rindunya. Paling tidak, ia mungkin bisa bertanya basa-basi “Kok tau pin gue? Ada apa, ya?”, namun, ia malah bimbang dengan keadaan ini.

'' BBM aja. ''
'' Jangan! ''
'' BBM. ''
'' Jangan! ''
'' BBM! ''



Suara-suara di dalam kepalanya mulai berdebat.

Oke, BBM aja deh.
Saat sudah mulai menggerakan jemarinya untuk mengetik sesuatu, tiba-tiba... INGET! DIA ITU PACAR KAKAK LU WOY! IKHLASIN. HARUS IKHLASIN. INGET PESAN AYAH.

Jemari Agus perlahan kaku danmenjauh dari layar ponsel. Ia kembali mengurungkan niatnya.

*tengtongteng*

Dan di saat kebimbangan Agus, tiba-tiba terdengar bunyi notifikasi di HP-nya.

“Gus?” sebuah chat masuk dari...

Mei.
Ingin rasanya Agus bersorak girang. Bagaimana mungkin Mei mengirim chat untuknya?
Karena setahu Agus, bagi perempuan, mengontak laki-laki terlebih dahulu adalah ketidakmungkinan yang tak akan terjadi di dunia.
Seperti pada umumnya, biasanya kebanyakan perempuan gengsi untuk mengontak laki-laki terlebih dulu.

Dan betapa bahagianya ia saat mengetahui  Mei terlebih dahulu mengontaknya dengan mengirim sebuah chat bbm. Agus buru-buru melupakan ketidakmungkinan bodoh itu.

Senyuman terlukis di bibir Agus. Hidungnya kembang-kempis. Matanya berbinar-binar. Cukup lama Agus terdiam hening dengan menatap chat yang tertera di layar HP-nya. Seolah terhipnotis dengan chat barusan. Agus mulai menggerakkan jemarinya, menyusun kata-kata yang hendak ia layangkan kepada Mei sebagai chat balasan.

“Ya? What's up?”


Agus tau kalau Mei adalah penggila musik hip-hop. Ia berlagak seperti rapper dengan sok asyiknya, berharap Mei tertawa dan mengejeknya. Lalu, berharap kalau mereka bisa chatting tanpa ingat waktu.

“Cuma mau nanya, apa Januar sudah pulang kerja, Gus? Chat gue dari tadi sore belum di-read."



Bangkeh. 

Hal ini lebih mengejutkan dari seorang perempuan yang tidak gengsi mengontak duluan. Ya, mengontak hanya karena ada maunya.

46 komentar:

  1. Udah gus delcon aja
    Kamu harus ikhlas gus
    Ngmong2 si agus beli novel apa ya? Berapa harganya neng? Dia beli di gramed mana?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Harga novelnya mahal bang.
      Lebih mahal dari harga diri gue.

      krai :(

      Hapus
  2. Wooooo udahh ada part 9.

    Masukan nih ya, seharusnya pas dibagian

    BBM aja?
    Jangan?
    BBM?
    Jangan?
    BBM?

    Ganti tanda seru, atau titik aja. Agak aneh kalo tanda tanya, kan gue jadi pengen jawab kalo gini.

    Tapiii endingnya Kampret. Jahat banget ini Mei. Player. Gak ketebak endingnya, baguuuuus. Nendang. Kompooor gaaas

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Bang Uben masukannya. :D

      Hapus
    2. Heheee iya bang. Masukannya sudah diterima dan sudah diedit :D

      Sering-sering kasih masukan ya bang. Jangan masukin. EH APA TADI.

      Hapus
  3. Yaduuuh, sakiiit banget jadi Agus. Kalo gue jadi Agus nggak bakal gue bales tuh. Read aja daaah.

    Apa jangan-jangan cewek begitu ya, mau nge-chat kalo ada maunya doang? Semoga nggak semuanya.

    Ada lagi yang namanya Septi. OKTO KAPAN, NIH, MUNCULNYA?! DARI KEMARIN UDAH STRETCHING. Eh. Maap-maap. Kayaknya Septi bakal jadi wanita masa depannya Agus. Hmmm, kurang ajar gue malah nebak-nebak.


    BalasHapus
    Balasan
    1. Kok ngakak baca komennya robby ya

      Hapus
    2. Bhahahaaa rata-rata cewe kayak gitu sih, By :D
      Hahahahahaa stretcing segala lu, By. YAWLAAA

      Sama, By. Gue juga masih nebak-nebak. Wkwkwkw
      Masih belum tau gimana endingnya.

      Hapus
  4. iih udah part 9.
    itu tepatnya almarhum bukan almarhumah.
    yahh gus tabahkan hatimulah gus. kirain endingnya tuh terus chatingan gitu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bang. :D
      Heheee iya bang. Makasih koreksinya. Sudah diedit :))

      Nantikan part selanjutnya bang :D

      Hapus
  5. yaaaah gak jadi kenalan sama septi, aguuuus2 itu septi lebih lembut.. kenapa di tinggal aguuuus2

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bhahahaaa iya kan. Agusnya masih kepikiran Mei.

      Hapus
  6. Udah gus delcont aja dah, kalo mau lebih ikhlas bagi aja pin bbm nya mei ke kita kita X)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bhahahaaaaa ini nih komen para jomblo. Malah minta pin bbm Mei :"D

      Hapus
  7. mau ke gramedia ah, siapa tau ketemu agus. pengen bisikin ' Sian amat iduplu toong tong.'

    si agus ini pasti lagi sering-seringnya denger lagu nya al ghazali nih.
    Mau bilang sayang tapi pacar kakakkk..
    Bilang tidak ya?
    Bilang tidak ya?
    Bilang tidak ya?
    Bilang tidak ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahahahaaa buru ke gramed, Dib. HAHAHAAA

      LAH KENAPA GUE BACANYA SAMBIL NYANYI :(

      Hapus
  8. Uda dichat, yang ditanyain orang lain wokwok

    Dalam ati agus, kubur aja gue hidup hidup mei, kubur wkwk

    Wah septi tokoh baru nih, apa krmbaran atau sekedar mirip kita tunggu saja ke te ka peh....punyanya icha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hhahahaaa sedih amat dalam hatinya Agus ya mba :'D

      Widihh mba Nita tau aja sambungan berikutnya ada di blog Icha :D
      Tunggu lanjutannya ya mba :))

      Hapus
  9. tiap kali bbm cm di R aja ?? kalau aku jadi si Agus, aku DC dah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bel sekolah.
      Ini bawaannya pengen mencet-mencet aja deh

      Hapus
    2. Aku pengen grepe-grepe, Laaaaaaaaan. Grepe bel sekolah :D

      Hapus
    3. Ayo kita barengan, Chaaa =D

      Hapus
  10. Nama Septi diambil dari nama bulan kelahiran kamu bukan, Lan? Yuhuuuuu. Itu kalau nama Agus jadi Maretio, tambah cucok. Fix mereka berjodoh. Hohohoho.

    BalasHapus
    Balasan
    1. HAHAHAHAAAAA
      Kenapa harus Maret, Chaaa :'D yawlaaaa

      Hapus
  11. "INGET! DIA ITU PACAR KAKAK LU WOY! IKHLASIN. HARUS IKHLASIN. INGET PESAN AYAH."
    Kenapa mesti diingetin sih wooy!!
    Biarin aja di ngechat dulu Щ(ºДºщ)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaaa suara hatinya Agus ngingetin dia :D

      Hapus
  12. kasian banget ya si agus, padahal balesnya singkat aja tuh "y" contohnya kan jaim dulu dong, ya memang harusnya jangan pernah jatuh pada pilihan yang sama dengan seorang kakak ya mba, cewe kan masih banyak loh, mungkin masalahnya ada yang mau gak hahahahaha
    sory ga baca dari season 1 :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaaa sedih mas dibales dengan sebiji kata.

      Iya itu masalahnya. Ada yang mau nggak. Hahahaa :D
      Iya nggak papa mas. Kalo mau baca semua seasonnya, silahkan baca di laman yaa :))

      Hapus
    2. sory banget nih mba, saya soalnya masuk kategori pendengar setia lho. jadi mba baca ya dari awal saya dengerin aja.wkwkwk

      Hapus
  13. si agus pasti lahirnya bulan agustus...
    si mei pasti lahirnya bulan mei...

    #INFOGAKPENTINGYANGSEMUAMAKHLUKHIUPDIBUMIINIPASTIUDAHTAU

    BalasHapus
    Balasan
    1. Agus lahir bulan januari dan mei lahir bulan desember, gilang -__-

      Hapus
    2. Hahahaaaa semuanya salah. Agus di bulan Oktober. Mei di bulan Juni.

      YHAAA~

      Hapus
  14. Kecut amat deh dapet bbm hanya karena ada maunya dong lalu sedih :(

    Project widy makin asoy dan makin panjang aja sekarang xD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Wid. Mei cuma nanya Januar doang ke Agus. :'D

      Waaa terimakasih yaa. :))

      Hapus
  15. Si agus ini cerita hidupnya menyedihkan.. ckckk

    Cewek BBM duluan kalo ada maunya... Hahaha.. ngakak nangis.. ckckk

    DC ajaa... bikin sakit hati.. Hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Rum. Malang bener ya si Agus.
      Hahahaaahaa

      Hapus
  16. hahaha, jleb banget ya si agus. udah lah ribut aja sama januar, fight like a man. tapi si mei juga sadis, nggak kasihan apa sama agus chat begitu. shock banget tuh pasti. hmm, tadi gue sempet ragu mau komen.. gue kira gue udah komen. gue kira ini postingannya icha, tadi gu emain ke blognya juga ada cerita widy dengan gambar yang sama. hahaha :")

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bhahhaa fight like a man. Leh uga, Jev.
      Oohahahaa iya Icha udah posting cerpen WIDY juga yang bagian ke sepuluh. wkwkwkw

      Hapus
  17. Hemmm Kacian agusnya ya....Masak gitu ya cewek sebenarnya hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa malang banget nasibnya Agus. :'D

      Hapus
  18. Mei Bangke banget ya lan.. :D

    OW, ya lan. Pange mau minta maaf ni. Baru bisa mampir di sini. Ya, dirimu mungkin sudah tau apa yang terjadi. Lebih jelasnya baca di blog aja, ya. :) *Mendadak promo

    Cerbung ini berlanjut dan berlanjut. Wah-wah.. Mau sampe kapan bersambungnya ini lan? Apakah Grup WIDY sudah menyiapkan ribuan Episod untuk mengalahkan Tukang Haji Naik Bubur. Eh, Tukang Bubur Naik Haji?. Semoga enggak.

    Tapi entah kenapa dari beberapa cerita tentang Cerbung ini, selalu saja Agus berakhir Apes. Gak kasihan apa? Sesekali Happy Ending kek, lan.. Biar seru. :) Kasihan agusnya..

    BalasHapus
  19. hahha, pas ujungnya itu lo sakit banget , pengen nangis rasanya kalau kejadian kayak gitu :D

    BalasHapus
  20. Kok kalau ada di posisi Agus... Sakit juga ya :'. Banget malah sakitnya :'

    BalasHapus
  21. Ya Allah, gua telat baca, maaf :(

    Lan, gua suka deh pemaparan kalimatnya, runut, jadi ngalir lancar aja pas dibaca. Pas bagian pesan Ayahnya si Agus, gua termenung lama di situ.
    "Kamu nggak perlu jadi seperti kakakmu untuk mendapatkan kasih sayang dari ibu atau orang lain. Karena kamu juga spesial, Nak. Jadilah dirimu sendiri" --> ini terasa personal banget bagi gua haha. Nice statement.

    Bagus lah si Agus mau jadi diri sendiri :D karena kalo mati-matian berusaha nyamain ama orang lain karena sering dibanding-bandingin itu ngga ada gunanya. Emang udah oke kalo jadi diri sendiri, dengan semangat juang kita sendiri *hasek*

    Haha, mikir Mei sampe segitunya si Agus, ada orang mirip Mei di Gramedia sampe dikirain beneran si Mei. Wah, si Septi ini bisa jadi tokoh berikutnya untuk ngeramein suasana, makin drama :p

    Itu chat si Mei di BBM bikin nyesek banget haha, udah seneng-seneng dia chat duluan, ternyata ujung-ujungnya si Januar lagi :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu gue yang ngetik. Wakakak. Nggak nyangka ada yang suka. Makasih ya, Bay. Lu keren udah baca cerpen ini! :))

      Hapus
  22. waduh udah chapter 9 aja nih padahal aku baru baca he he harus baca dari awal ini

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.