Kejadian Memalukan di Bank


                                                  




Sebagai seorang karyawan yang bekerja pada bagian administrasi, hal ini cukup membuat gue setiap sore selalu sibuk ke bank. Alhamdulillah, gue dipercaya untuk memegang kas kantor yang setiap harinya akan diclaim dari pusat. 


Pekerjaan ini menuntut gue untuk lebih berhati-hati dan teliti. Terutama dalam memilih pasangan. Harus berhati-hati. Pastikan dulu dia berstatus lajang atau suami orang.

Gue yang anaknya memang nggak sabaran, ceroboh dan tergesa-gesa perlahan-lahan mulai menghilangkan sifat buruk itu. Gue selalu sabar dengan otak gue yang terlalu lambat menghitung angka di layar komputer. Gue mulai mencoba untuk teliti dalam membuat laporan, hitung-menghitung, termasuk menghitung hari menunggu kepastian darimu yang tak kunjung datang jua. Halah.

Nggak enaknya, ya kalo salah hitung, ujung-ujungnya gue juga yang nombok (ganti uang). Trus gue nggak bisa makan setahun.
Meninggal.
Masuk neraka.
Ketemu Farhat Abbas di pintu neraka.
Lagi gantian shift sama malaikat Malik.

Beberapa hari yang lalu, Yoga mengirimkan link tes uji otak dengan situs ini di grup WIDY.
Tak lama kemudian, Icha mengirim skrinsut hasil tesnya. Hasilnya, Icha lebih cenderung di otak kanan dalam hal musik. Pantesan Icha sering apdet banget tentang lagu-lagu kekinian, semua soundtrack, lirik lagu dan lainnya yang berhubungan dengan musik.

Sedangkan Yoga juga lebih cenderung di otak kanan, tetapi dalam hal imajinasi. Kalau ada hal tentang mantan, mungkin Yoga lebih cenderung di otak kanan dalam hal itu. Mengenang mantan. Uhuk.

Gue yang penasaran langsung meluncur ke sana. Dan hasilnya :

Gue lebih cenderung di otak kiri.
Ada 2 respon yang gue rasakan ketika itu:
1. Yeaaah akhirnya gue punya otak juga.
2. APA-APAAN INI. KENAPA LEBIH CENDERUNG DALAM HAL MATEMATIKA SIH. ELAH.

Gue kaget. Ini hasilnya yang salah apa gimana sih. Gue mencoba mengulang lagi. Jawab pertanyaan lagi dan hasilnya tetep sama.

Sore harinya, Darma juga ikutan tes di link yang Yoga berikan. Hasilnya, Darma lebih cenderung otak kiri dalam hal digital.
Mungkin itu typo, maksudnya digatal.
Soalnya Darma ya gitu. Hmm sudahlah nggak perlu gue lanjutin. Ntar nggak ada lagi yang mau dengerin cerita-cerita aneh gue setiap hari. Nggak ada lagi yang nelfonin gue. Nggak ada lagi yang nanya-nanya kapan gue haid di setiap hari. 


***


Jujur, seumur hidup gue paling benci dengan suatu hal yang berhubungan dengan angka, kecuali angka tanggal jadian dan tanggal gajian.
Dari SD sampai SMK, gue selalu mendapatkan nilai matematika yang rendah. Udah remedial, tetep aja rendah. Termasuk pelajaran fisika.  Pas-pas KKM aja gue udah seneng sujud syukur. Gue muak dengan angka. Seperti muaknya melihat engkau dan dia. Anjaaayy.

Sampai akhirnya, Yoga cerita kalau dia juga pernah ikut tes itu dan hasilnya rada seimbang karena waktu itu Yoga kerja di perpajakan. Pekerjaan yang berbau hitung-menghitung.



Wah sama nih, berarti karena kerjaan, gue juga dipaksa ngitung-ngitung.
Tapi nggak papa, ai lop mai kerjaan. Soalnya kalo ai lop yu, belum tentu yu lop mi. Yaa gitu.



INI APAAN?



Hmm. Oke. Abaikan saja.


Hampir setiap sore gue harus pergi ke ATM. Kadang juga ke bank, lumayan bisa cuci mata liat sekuriti muda sampai abang-abang staff yang tampan rupawan.

Ada beberapa kejadian yang gue alami saat gue berada di bank maupun di ATM. Kejadian memalukan.
Cerita pertama tentang :


-         - KEJEDOT
      Suatu sore, gue ke atm seperti biasanya. Ngambil uang dengan sok kuwl dan terburu-buru. Soalnya udah  jam pulang kerja, gue takut kehujanan di jalan. Selesai menarik kartu atm dan memasukkannya ke dalam  dompet, gue berbalik badan, melangkah dan DUK!.

       Jidat suci gue kejedot kaca atm. #nggakpapa #Wulananaqkuwat #enggaksakitkokhehee

      Sakitnya nggak seberapa, malu dan suara jedotannya yang bikin malu. Suara jedotannya kayak suara kelapa jatoh. Menarik setiap mata memandang. Alhasil gue malu. Gue keluar atm dengan muka cengengesan dan mengabaikan muka orang-orang yang prihatin. Prihatin ke kaca atm. Takut lecet dan berkuman.



-          - BINI KEDUA
      Kejadian ini kalo nggak salah terjadi pada pertengahan tahun kemarin, gue yang baru masuk ke atm terkejut melihat sebuah kartu yang masih tersangkut di mesinnya. Dengan layar mesin yang menunjukkan angka saldo yang sempat membuat gue berpikir, ‘’ mayan nih buat modal nikah. ‘’
      Tapi gue berpikir lagi, ‘’ BETEWE GUE MAU NIKAH SAMA SIAPA YAK. ‘’ Daripada kelamaan mikir mau nikah dengan siapa, akhirnya gue mencabut kartu atm itu dan langsung berlari menuju parkiran.
      Dalam hati, gue sempat mikir, seandainya aja yang punya kartu atm ini  seorang cowo ganteng. Trus pas gue ngasih atmnya yang ketinggalan, dia senyum sambil natap mata gue dengan tatapan dalam penuh cinta. Trus dia ngomong, ‘’ Kita nikah, yuk. ‘’
      Ah andai saja.

    Gue berlari ke parkiran dan menemukan seorang lelaki muda yang sedang mengenakan helmnya hendak duduk di atas motor. Istri dan anak balitanya juga turut duduk di belakangnya.
        ‘’ Bang, ‘’ panggil gue.
     Gue hampir aja mau gombal,  ‘’ Bapak kamu tukang sate, ya? ‘’
     Tapi nggak jadi.
       ‘’ Iya? ‘’
      ‘’ Ini, kartu atmnya ketinggalan. ‘’ Gue menyodorkan kartu atmnya.
      ‘’ Eh iya, makasih ya. ‘’
     ‘’ Iya bang. Sama-sama. ‘’ Gue membalikkan badan sambil ngomel dalem hati. Lah udah punya anak-bini  ternyata. Tapi kan nggak tertutup kemungkinan juga untuk gue jadi bini kedua.
     Mayan. Abangnya ganteng.
    Gue kembali melangkah masuk ke ruang atm lagi dengan rasa kesal. Tau gitu, tadi nggak gue kembaliin deh kartu atmnya. 
     Astagfirulloh. Dosa.



-          -CELANA
Ini kejadian waktu di akhir tahun 2014 lalu. Sebelum gue putus, galau diakhir tahun. Gue sempat memiliki pacar sesama karyawan di perusahaan yang sama, hanya saja beda kantor. Waktu itu, dia berkunjung ke kantor gue. Dan siang itu, gue harus segera mentransferkan uang ke bank. Kebetulan, waktu itu dia menawarkan diri untuk menemani gue ke bank.
 ‘’ Kamu tunggu di sini ya. ‘’
 ‘’ Iya, iya aku tunggu di sini. ‘’ Gue kemudian turun dari mobil dan masuk ke bank. Gue disambut senyuman hangat dari sekuriti bank yang bikin hati gue meleleh. Setelah mengisi form, gue berdiri berbaris di antrian yang cukup panjang. Tidak terjadi apa-apa sebelum akhirnya gue merasakan jeans hitam gue melonggar. Lama-kelamaan semakin longgar dan KREK.

Yak, nggak salah lagi. Resleting gue turun. Bukan hanya resletingnya, pengaitnya juga ikutan lepas.

Gue menoleh ke sekeliling, rame bener orang. Gue menoleh ke belakang, antrian di belakang gue juga udah panjang. Semakin gue bergerak, resleting gue semakin turun. Gue panik. Nggak mungkin gue menunduk-nunduk meraba  lalu mengaitkan celana untuk menaikkan resleting.
Mau keluar dari baris antrian, nanggung. Antriannya udah panjang. Lagian mau jalan juga udah susah.
Akhirnya dengan sisa keberanian yang ada, gue nekat membiarkan resleting gue begitu apa adanya. Gue juga berusaha menarik-narik baju gue agar bisa menutupi resleting yang terbuka. Walaupun panjang baju yang gue kenakan pas-pasan untuk menutupi resleting.
Selesai mentransfer uang, gue langsung buru-buru jalan menuju parkiran. Gue udah bodo amat dan nggak peduli dengan orang-orang yang melihat resleting dan pengait jeans gue yang terbuka penuh pesona.
Gue langsung naik ke dalam mobil dan panik.
   ‘’ Kamu lihat ke sana! Jangan lihat ke sini! ‘’
   ‘’ Kenapa? ‘’
  ‘’ JANGAN LIHAT KE SINI!! ‘’ Gue setengah berteriak. Si pacar menoleh ke arah lain dan akhirnya gue sukses memasangkan pengait jeans dan resleting seperti semula.



-          -SALAH NGOMONG
Ini kejadian yang baru gue alami kemarin sore. Sore itu, gue melihat ada beberapa karyawan bank beserta security sedang memasukkan uang ke mesin atm yang bernominal 50.000. Berhubung mesin atm di ruangan itu ada 3, gue langsung saja masuk dan menuju mesin atm paling ujung. Begitu gue masuk dan membuka pintu atm, spontan sebuah suara mengejutkan gue, ‘’ Assalamualaikum. ‘’
Gue sempat mikir, ini gue salah masuk ke rumah ibu-ibu pengajian bulanan apa gimana?

Gue menoleh ke sumber suara. Salah seorang pegawai bank tersenyum ke arah gue.
Ya Allah, inikah calon imamku kelak di masa depan?
Gue menjawab pelan, ‘’ Waalaikumsalam. ‘’
Dengan menggunakan nada yang lembut. Biasa, pencitraan gitu.
Hampir aja gue ingin melanjutkan membaca surah al baqarah sebelum pada akhirnya gue ingat, apa tujuan gue masuk ke ruang atm ini.
Selesai menarik uang, gue berbalik pelan-pelan. Takut kejedot lagi, malu. Sebelum gue membuka pintu atm, si abang karyawan bank membuka suara lagi.
  ‘’ Hati-hati ya. Assalamualaikum. ‘’
Gue tersenyum penuh pencitraan lagi sembari menjawab, ‘’ Waalaikumsalam, Bu. ‘’

Gue keluar dari ruang atm.
Sayup-sayup terdengar suara gelak tawa dari dalam ruang atm.
Lah iya. Gue baru sadar. 



GUE SALAH NGOMONG.







Entahlah, dimana gue harus naruh muka saat besok gue ke bank dan jumpa dengan beberapa karyawan itu lagi. Mengingat hampir setiap sore gue harus pergi ke ATM. Bolak-balik.

Mungkin masih ada kejadian-kejadian memalukan lainnya yang bakal gue alami di kemudian hari. #Wulantegar2016
Tapi gue bahagia. Seenggaknya karena gue kerja di bagian administrasi, kemampuan gue yang paling menonjol di otak kiri adalah dalam hal matematika.
Wah, anaknya jenius nih. Yoih.
Kedengerannya keren. Pinter matematika. 

Tapi paan. Rumus segitiga sama kaki aja gue enggak hafal. 


Trus apa hubungannya hasil tes otak kiri dengan kejadian di Bank?? Ya kayak kita.

Kok kayak kita? Iya, nggak ada hubungannya.


Duh, kebelet pipis. Udah ya. 





Note: Sering bingung kalo nulis penutup postingan. Hahaaa. Tapi lebih bingung menunggu kepastian dari kamu sih. 

41 comments:

Komentarnya ditunggu kakak~

Anak Pramuka

                                      



Gue anak pramuka.
Iya dulu, waktu SD.
Dulu gue bisa menghafal tri satya dan dasa dharma pramuka dalam waktu satu malam. Dulu gue hafal semua sandi dan kode. Kamu aja yang dikode nggak pernah peka. Aqu lelah mzz..

Gimana enggak hafal, kemana-mana gue selalu bawa buku saku pramuka. Berhubung bukunya kecil, itu bisa membuat gue dengan mudah memasukkannya di kantung baju atau menyelipkannya di belahan. Belahan buku tulis maksudnya.

Gue mengikuti kegiatan ekstrakulikuler di sekolah saat duduk di kelas 4 SD, sementara saat itu kakak gue duduk di kelas 5 SD. Setiap hari Kamis, gue rela panas-panasan berbaris di lapangan sekolah. Demi pramuka aja aku rela panas-panasan, apalagi demi kamu.
Alhasil setiap selesai pramuka, keringat dengan ekstra daki bercucuran di sekujur tubuh gue. Belum lagi kalau ada aroma menyengat dari kaus kaki hitam pramuka milik temen gue. Sinar matahari yang menguap membuat aroma khas surga itu menusuk indera penciuman. Baunya sumpah, parah.

Sampai suatu hari, Pembina pramuka memberikan informasi bahwa lusa akan diadakan camping atau perkemahan oleh anak pramuka.
Semuanya pada senang. Bersorak girang kayak menang undian dari frutang.
Kemahnya di mana? Di hutan? Bukan.
Di tepi sungai?  Bukan juga.
Di pedesaan? Bukan. Di pegunungan? BUKAN.


Kemahnya di lapangan olahraga sekolah. Lapangan bertanah kuning. Ntaps!

Sesampainya pulang ke rumah, gue dan kakak langsung mengabari Ibu dan Ayah. Menceritakan semuanya agar mempersiapkan barang bawaan yang akan di bawa.
Dari rumah, gue mempersiapkan untuk membawa baju tidur,  sikat gigi, sandal jepit, baju ganti, singlet, kolor, air mineral, sirup, biskuit, kecap abese, roti, senter, selembar kain dan korek api.



Ini kemping udah kayak warga kena ungsi.



Gue sempat merengek sama Ibu demi mempertahankan sebotol sirup marjan.
  ‘’ Buat apa sih, Dek bawa sirup. ‘’ Ibu mengeluarkan sebotol sirup marjan merah dari tas gue yang udah padat kayak tas abang-abang sales obat kuat.
Betewe, waktu itu gue masih dipanggil dengan sebutan ‘adek’ di rumah.
 
‘’ Nggak papa, Bu. Kalau nanti adek haus, mau minum sirup gimana? ‘’



Lah, dikata lebaran bisa minum-minum sirup. Sekalian aja bawa toples kue nastar dan kue bawang.




Akhirnya Ibu mengalah dengan membiarkan sebotol sirup itu masuk secara paksa ke dalam tas kembali.
Setelah diantar Ayah, gue sampai di lapangan sekolah dengan membawa banyak tas yang gue jinjing serta ransel punggung yang padatnya bukan main.

Gue, kakak dan seorang temannya langsung mendirikan tenda. Setelah mendirikan tenda yang akan dihuni oleh tiga orang di setiap tendanya, gue langsung mencari baju dan handuk untuk segera mandi.
Baru kali ini ada anak kemping yang mandi di toilet sekolah. Iya. Elit sekaleh.

  ‘’ Ayo, buruan mandi ke atas. ‘’

Kami bertiga naik ke atas dan mandi di toilet sekolah dengan menenteng handuk yang digulung-gulung serapat mungkin karena ada aset berharga dalam handuk. Sempak dan singlet. Waktu itu gue belum make beha.
Gue ngerasa ini kayak kerja rodi lembur membersihkan sekolah.

Setelah mandi di toilet sekolah, gue langsung handukan dan mencari sempak dan singlet.

Gue pucat.

SEMPAK GUE HILANG.

  ‘’ Kalian ada lihat sempak aku, nggak? ‘’ tanya gue sambil mencari-cari sempak gue ditumpukan handuk teman lainnya.
Tetep aja gue nggak nemu sempak gue, yang gue temukan dilipatan handuk hanya sempak kakak gue. Awalnya gue berniat untuk memakai sempak kakak. Tapi nggak jadi, badan kakak gue gede. Bisa-bisa sempaknya kedodoran saat gue pakai.
Kan nggak lucu waktu upacara pembukaan kemping nanti, lagi serius mendengarkan instruksi Pembina,  tiba-tiba ada benda yang meluncur indah ke bawah kaki gue. Dan ternyata itu sempak yang kedodoran.

Gue mengurungkan niat itu.

  ‘’ Sempak aku hilang. ‘’

Bener apa kata orang, kehilangan itu sakit. Kita bakalan merasakan sangat berartinya sesuatu, saat dia tak lagi ada.
Gue baru menyadari betapa penting dan berharganya sebuah sempak. Ini menyangkut masa depan negara, gengs.

  ‘’ Hilang? Kok bisa? ‘’ Kakak gue yang responnya sama sekali nggak penting tetap meneruskan memakai baju dengan tenang.

Gue melihat ke sekeliling. Anak-anak lainnya udah pada selesai mandi. Udah ganti pakaian, lah gue? Masih handukan tanpa sempak.

Gue-pengen-nangis.

  ‘’ Ambil sempak aku di tas dong. Turun, ‘’ ujar gue menyuruh kakak gue.

  ‘’ Iya, nanti ya. ‘’ Kakak gue tetap meneruskan berpakaian.

Minta ditoyor amat palanya. Panik gitu kek karena adiknya baru saja mengalami musibah kehilangan sempak.  Lah ini kagak, malah santai.

Sampai beberapa menit kemudian, kakak gue keluar toilet dan turun untuk mengambil sempak gue di dalam tas. Saat berjalan turun, sehelai kain putih-putih dengan ukiran bunga ungu muda tergeletak manis tak berdosa di atas rerumputan.

Itu sempak guuueeee!


Tak lama kemudian, kakak gue kembali masuk ke toilet dan memberikan sempak itu kepada gue. Dengan diiringi ornament orchestra, airmata gue jatuh berlinang menahan haru. Nggak nyangka akhirnya gue bisa menemukan sesuatu yang selama ini gue rindukan, harapkan dan impikan. Gue baru tau, betapa pentingnya sebuah sempak.
Memang harganya nggak seberapa, tapi manfaatnya juga nggak ada.
Gue menangis sesenggukan.

Gue buru-buru memakai sempak dan langsung keluar toilet.

***

Malam harinya, setelah berbagai kegiatan selesai dilaksanakan, gue, kakak dan temannya tidur di dalam tenda. Bertiga. Bertiga terasa bertujuh. Badan kakak gue, ditambah badan temannya yang lumayan gede. Apalah daya gue yang berbadan kurus ceking yang setiap hari hanya makan remah-remah gorengan sisa jualan abang-abang di warung depan.

Gue terhimpit diantara dua benua. Nggak bisa napas. Meninggal.
Trus diangkat jadi film horor, judulnya Arwah Gentayangan Anak Tak Berguna.
Jadi arwah aja nggak berguna, apalagi waktu masih hidup.

Gue yang ketika itu masih belum bisa tidur karena kesempitan, terbangun oleh panggilan kakak Pembina.

  ‘’ Itu Ayahnya datang. ‘’

Gue langsung keluar dari tenda, berharap Ayah menjemput gue dari penyiksaan tidur dengan himpitan lahir batin ini.

  ‘’ Ini Lan, ada roti dan sari kacang hijau. Kasih kakak juga ya. Tadi udah makan, kan? ‘’

  ‘’ Iya udah, Yah. ‘’

  ‘’ Yaudah, Ayah pulang lagi ya. ‘’

Gue melepas Ayah pergi dari lapangan sekolah dengan menenteng sebungkus makanan. Banyak bener makanan yang ada di dalam plastik. Lama-lama gue buka lapak jualan jajanan juga nih di depan tenda. Mayan bisa dijual ke anak di tenda-tenda tetangga sebelah.

Sesampainya di dalam tenda, gue yang nggak bisa tidur langsung memakan semua makanan itu. Sementara kakak gue dan temannya tertidur lelap dengan posisi menguasai tenda. Gue hanya duduk dan memakan makanan dengan posisi di dekat kaki mereka yang mengarah pintu tenda. Gini amat jadi orang kecil, tersiksa.
Setelah selesai memakan semua makanan, gue pun mulai merasa kantuk akibat kekenyangan.
Belum sempat memejamkan mata, suara Pembina berteriak nyaring di luar. Menyuruh kami semua tidur berbaring di atas tanah kuning lapangan dengan mengitari api unggun.
Udah kayak ikan asin bakar.

Gue menatap langit yang berserakan bintang-bintang. Langit malam itu sangat bersih, indah. Gue ngerasa kayak di film-film korea. Dimana ada adegan memandangi bintang malam hari bersama sang kekasih.
Gue tersenyum dan menoleh ke arah kiri.
Kakak gue terlihat bersusah payah menahan kantuk, terlihat dari matanya yang bolak-balik merem-merem kecil. Kalo ngeliat kakak gue seperti itu, rasanya gue mau bisikin ke telinganya, trus ngomong pelan,  ‘’ Udah siap? Ikutin ya, Ashhadu alla ilaha illallah… ‘’


Trus gue dilempar ke api unggun yang menyala-nyala. Trus meninggal.

Ini kalo diangkat jadi film horor lagi, mungkin judulnya, ‘’ Arwah Gentayangan Anak Tak Berguna (part 2)‘’

***

Menjelang pagi, hujan turun dengan derasnya. Semua tenda kebasahan, banjir di mana-mana.
Pagi itu, akhirnya semua anak pramuka tidur di dalam ruangan kelas.

KEMPING MACAM APA INI. TIDUR DI KELAS??

Sekitar jam 10 pagi di hari Minggu, orangtua siswa menjemput anaknya masing-masing ke sekolah. Begitu juga dengan Ayah. Gue duduk di motor dengan posisi di tengah di antara Ayah dan kakak. Lagi-lagi gue dihimpit dua benua.
Sementara semua tas yang gue bawa tadi diletakkan dibagian depan Ayah. Dibalik punggung Ayah gue sadar akan suatu hal,

GUE LUPA MINUM SIRUP MARJAN DI KEMPING KEMARIN.

Sesampainya di rumah, kakak gue langsunge meminum teh hangat, sementara gue minum sirup marjan dingin.
 Besoknya gue demam dan masuk angin.

Mantaps.



Quote of the day:
‘’ Sejujurnya, kehilangan sempak itu sangat menyakitkan. Apalagi kehilangan kamu dan kehilangan sempak kamu. ‘’




60 comments:

Komentarnya ditunggu kakak~

Sepotong Hati di Segelas Milkshake Cokelat (Bagian Lima)

Bagi yang belum membaca bagian satu sampai empat, silahkan baca di sini ya. 


 ***





                                   



Mei hanya memesan frappuccino dingin, sedangkan Agus memesan french fries dan minuman favoritnya, milkshake cokelat.

Beberapa saat kemudian, pramusaji berseragam hitam dengan motif garis merah mengantarkan pesanan mereka dan meletakkannya di atas meja. Lalu, Mei pun segera meminum pesanannya yang baru saja tiba itu.

Agus terdiam. Melihat ekspresi Mei yang lucu saat meminum frappuccino sambil memejamkan mata. Agus tampak bingung ingin memujinya seperti apa. Ia mulai memikirkan kata-kata yang puitis.

“Haus banget ya, Mbak?” tanya Agus meledek.
Maksud ingin memuji, tetapi malah kalimat itu yang terlontar.

“Um....” Mei membuka matanya dan mencoba berbicara sambil minum. “Ng... nggak, kok. Cuma ngerasa cuaca siang ini panas banget. Dari tadi kita ngobrol tanpa minum. Jadi, rasanya dehidrasi gitu,” lanjut Mei sambil tertawa kecil.

“Bukannya itu artinya sama aja? Tetep haus banget, kan?”

“Iya-iya, gue haus,” kata Mei sedikit sewot.


Mei cemberut. Agus pun tersenyum. Kemudian ia mulai mencolekkan kentang goreng panjang-panjang itu ke saos sambal dan berakhir di mulutnya.


“Oiya, lu kenapa gak mesen makanan?” tanya Agus. “Tadi katanya mau mesen yang banyak?”


“Gapapa. Lagi diet nih gue," jawab Mei sambil ikutan menyomot french fries.

Agus memerhatikan tubuh Mei yang menurut dirinya sudah termasuk wanita langsing. Namun, kenapa harus diet segala? Mungkin hampir semua laki-laki juga memikirkan hal aneh pada seorang wanita kurus yang seolah-olah merasa dirinya gemuk.

Tidak ingin membahas hal yang sensitif bagi wanita, Agus mulai berpikir topik lain. Ya, berbicara mengenai berat badan hanya akan membuat wanita tersebut tidak nyaman.

“Kenapa macet di Jakarta setiap sore itu nggak ada habis-habisnya ya, Mei?”
“Yah..., dia bahas macet lagi,” ujar Mei. “Nanti giliran gue respons, eh malah bilang ‘Lupain aja’ sama lu.”
“Duh, masih inget aja,” kata Agus, wajahnya memerah. “Habisnya suka kesel sendiri, sih. Kapan coba kemacetan ini berakhir?!,” lanjut Agus jujur yang dibalut emosi.

“Ya, nikmatin aja, Gus.”

“Nikmatin gimana?! Gue udah muak sama kemacetan. Gue mulai curiga, jangan-jangan sekitar tiga sampai lima tahun lagi kita bakalan tua di jalan. Baru buka pintu rumah udah macet. Perjalanan dari rumah ke kampus mungkin bisa dua hari,” ucap Agus   
“Hahahahahaha.”
Agus berhasil membuat Mei tertawa. Padahal Agus memang berkata jujur dari hati. Tidak bermaksud membuat lelucon. Tapi karena hal itu, ia mulai berani mengutarakan pendapatnya. Sehingga tidak ada lagi kecanggungan setiap kali berinteraksi dengan orang lain, terutama lawan jenis. Agus juga berharap dirinya bisa semakin mencair seperti es batu di milkshake cokelatnya setiap kali berdua dengan Mei.

***

Langit oranye yang kemerah-merahan itu tampak sangat menggambarkan bagaimana sebuah rasa hangat tentang kedekatan mereka hari ini.
Dalam hati Agus mulai timbul titik-titik kebahagiaan. Titik yang seakan menjalar ke setiap aliran darahnya. Seakan kebahagiaan itu rasanya tidak perlu lagi untuk dijelaskan. Karena hari itu, bahagia sungguh sangat sederhana.

Sudah hampir empat jam Agus dan Mei berbincang-bincang di kafe. Mulai dari topik perkuliahan, sampai membahas macet, hingga selera musik favorit mereka, dan beberapa obrolan lainnya.

“Kayaknya udah makin sore ini, Gus. Gue pamit pulang, ya. Lagian jalanan juga udah nggak semacet tadi,” pamit Mei kepada Agus.

“Kok jadi mendadak buru-buru gitu? Ada apa? Perlu gue antar pulang?” balas Agus, tidak rela harus berpisah secepat ini. Agus berharap masih bisa berlama-lama dengan Mei.
“Nggak perlu, Gus. Kebetulan ada janji sama seseorang. Dia udah nungguin,” jawab Mei.
“Oh,” tutur Agus lemas. “Hmm... gue boleh minta pin BBM lu, Mei?” lanjut Agus.
“Pin?” tanya Mei sedikit terkejut.
“Iya. Punya BBM, kan?”
“Punya,” jawab Mei. “Boleh aja, sih, tapi jangan sekarang, ya. Kita, kan, baru kenal. Hehe,” lanjutnya.

Agus sudah memberanikan dirinya, tapi sayang usahanya tidak berjalan mulus.

“Oke deh, Mei.” Agus sedikit tertawa. Mungkin ia menertawakan dirinya sendiri yang gagal.
“Gue balik ya, Gus. See you.”
“Sip. Hati-hati, ya!”

***

Agus masih betah duduk di Widy cafe. Agus tidak ingin cepat menyerah. Mumpung masih di cafe, ia memanfaatkan wifi gratisan. Agus berusaha googling mencari akun media sosial milik Mei.
Hingga akhirnya ketemu akun Twitter Mei: @meiriskautami.

Gadis sipit berkacamata dengan gaya rambut yang dikuncir kuda tersenyum memamerkan gigi putihnya. Lucu sekali avatar-nya. Meskipun penampilan Mei hari ini lebih menarik, rambut terurai dan tanpa memakai kacamata.
Agus pun berniat stalking. Sedihnya, akun itu malah diproteksi. Karena ada gambar gembok yang terlihat.

“Kayak kotak amal masjid aja segala digembok!” kata Agus meracau sendiri.



***

36 comments:

Komentarnya ditunggu kakak~

Cinta Itu Hebat



                                




Siang itu, jam menunjukkan pukul setengah dua. Gue yang baru sampai di parkiran kampus langsung buru-buru naik ke atas.Gue telat setengah jam. Huh.
Gimana enggak, jam pulang kerja gue bertabrakan dengan jam masuk kuliah. Jam satu siang gue pulang kerja, dan jam satu siang pula jam masuk kuliah. -_-

Benar saja, di dalam kelas, seorang dosen terlihat sangat bersemangat dalam menyampaikan materi. Gue mengetuk pintu, mengucapkan salam kemudian masuk.

‘’ Huh, gue telat ya? ‘’ Gue menghenyakan pantat di  kursi sambil meletakkan tas. Teman-teman di sekeliling melihat gue dengan tatapan  ya-menurut-lu-aje-nyet.
Hari itu gue mempelajari mata kuliah Ilmu Budaya Dasar. Di sana dijelaskan secara  detail tentang sifat-sifat manusia, segala macam phobia, tipe-tipe manusia,  tentang perasaan, jiwa dan rohani, cinta kasih, sifat-sifat negative pada manusia dan banyak lainnya. Gue hanya manggut-manggut memahami ucapan yang dilontarkan Ibu dosen.
Sampai pada akhirnya, Dosen melemparkan pertanyaan kepada seluruh mahasiswa.

‘’ Ada yang pernah merasa tersiksa?‘’

Spontan, salah seorang teman gue, Nurul menyahut, ‘’ Pernah, Bu. Tersiksa rindu.‘’
Gue hanya tertawa kecil.
‘’ Ada lagi?‘’
‘’ Ada, Bu. Tersiksa batin, ‘’ ujar gue dengan nada pelan.
‘’ Iya apa tadi? ‘’ Dosen mencari-cari dari mana sumber suara yang barusan ia dengar. Suasana kelas mendadak hening. Gue hanya diem sambil menahan ketawa, yakali gue mengulang ucapan yang barusan gue ucapkan.
Sang dosen mendekati posisi Nurul.
‘’ Kamu kenapa tersiksa rindu? Pacaran jarak jauh ya?‘’

Nurul hanya mengangguk. Satu anggukan.

‘’ Nih ya buat kalian, kalau kalian punya pacar jauh, kalian harus punya cadangan di sini. Jangan terlalu percaya seratus persen ke si dia yang jauh di sana. Percaya nggak percaya, dia pasti juga punya cadangan pacar di sana. ‘’

Gue mengerutan dahi. Ini dosen ngajarin yang baik atau yang buruk sih?

Seumur hidup selama pernah menjalani LDR, gue nggak pernah ada kepikiran untuk mencari cadangan lelaki lain atau menyukai lelaki lain, selain pacar gue. Kalau kita mencari cadangan lain, itu berarti kita belum sepenuhnya yakin ke pasangan. Kalau belum yakin kepasangan, ya buat apa menjalin hubungan.

‘’ Yang dekat saja bisa selingkuh, gimana yang jauh?‘’
Dosen tersebut melanjutkan kembali ucapannya kemudian berbalik dan duduk di kursinya.
Alis gue semakin mengerut.

Ibu dosen terlihat duduk di kursinya seperti semula. Kemudian tangannya menelusuri deretan kertas absen yang berisi daftar nama-nama mahasiswa.

‘’Indah?‘’
‘’ Iya Bu, ‘’ ujar sebuah suara dari belakang posisi gue duduk.
‘’ Kalau ada dua lelaki yang sama-sama suka dengan kamu. Keduanya sama-sama baik, sopan, sama dalam segi apapun. Apa yang akan kamu lakukan? Kamu harus memilih satu.‘’
Indah terlihat bingung. Mikir keras.

‘’Nggak bisa jawab? RahayuWulandari. ‘’
‘’ I-iya, Bu. ‘’
‘’ Kalau kamu, apa yang akan kamu lakukan? ‘’

Sebenernya gue mau jawab, ‘’ Saya nikahin aja dua-duanya, Bu. ‘’
Tapi nggak jadi.

‘’ Hmm,  saya akan membandingkan mereka berdua dalam segi atau hal lain yang saya sesuaikan dengan kriteria lelaki yang saya cari. ‘’
‘’ Keduanya sama-sama baik dalam segi apapun. Nggak ada yang bisa dibandingkan.’’

Pertanyaan macam apa ini. Ahelah.

‘’ Enggak tau, Bu. ‘’
‘’ Nggak tau jawabannya? Nah, kalau kalian berada dalam situasi seperti ini, jawabannya adalah perbanyak sholat tahajud. ‘’

Lah iya juga yak. Gue manggut-manggut paham.

‘’ Masalahnya bu sekarang, jangankan dua lelaki, satu lelaki aja kagak ada yang mau sama saya, Bu. ‘’
Spontan seisi kelas tertawa. Cara mempermalukan diri yang paling elegan.

Elegan ndasmu!

***

Sore itu, jam menunjukkan pukul lima sore. Waktunya istirahat untuk semua mahasiwa. Perkuliahan akan dimulai kembali, tepat pada jam tujuh malam.

‘’ Kita makan di mana gengs? ‘’ Gue sok menirukan gaya bicara Komo Ricky. Tau kan Komo Ricky? Ituloh host yang kalo ngomong selalu bicara pake otot, emosi sampai urat lehernya keliatan sixpack, ngaceng keluar.

‘’ Makan di mana ya, di mana aja deh. Nggak usah di tempat kemarin, bosen, ‘’ ujar Fira, salah seorang temen gue.

‘’ Di kaepci, yuk? ‘’

Kami berempat mengangguk setuju.
Tak berapa lama, kami berempat sudah sampai di dalam toko ayam. Sambil menikmati makanan, terjadi percakapan ala ciwi-ciwi.

‘’ Lu beneran  LDR, Nur?‘’ Fira menyenggol lengan Nurul.
‘’ Iya, gue LDR. Dia di Jawa Tengah, jauh. ‘’
‘’ Wah berarti lu harus punya cadangan nih, ‘’ Fira menggoda Nurul. Nurul menggelengkan kepalanya cepat.

‘’ Di sini yang jomblo siapa sih?‘’ ujar Imel, salah seorang teman gue.
Tanpa dikomando, gue, Fira dan Indah menunjuk dirinya masing-masing. Setau gue, Fira memang jomblo. Jika ditanya mengapa ia jomblo, Fira selalu berkata, ‘’ Gue mau nunggu orang yang tepat untuk bisa hidup selamanya sama gue. ‘’ Maknyus. 

‘’ Lu jomblo?‘’ Nurul seakan tak yakin dengan pengakuan gue barusan. Gue mengangguk. 

‘’ Yang kemarin mana?‘’ tanyanya lagi.

‘’ Oh, yang itu udah putus. Males dicuekin. Serasa nggak punya pacar. Males pacaran, maunya nikah aja. Tapi sama siapa? Sama bambu runcing? Yakali,‘’ ujar gue sambil  menyuap nasi ke dalam mulut.
Suasana kembali hening, lagi asyik-asyiknya menikmati makanan, tiba-tiba Indah memecah keheningan. Dengan setengah berteriak, ia membuka mulutnya.

‘’ MAKAN TUH CINTA! ‘’

Indah menatap kosong ke arah luar jendela. Lebih tepatnya kearah parkiran motor. Kami berempat saling pandang. Bingung mendengar ucapan Indah barusan, apalagi melihat ekspresinya yang datar. Antara kerasukan atau frustasi berat, gue menyenggol kaki Indah.

‘’ Lu kenapa deh?‘’

Indah mengedipkan matanya setelah beberapa detik menatap nanar keluar jendela.
‘’ Nggak, gue nggak papa. Lagi bosen aja pacaran. Bosen jatuh cinta. Capek. ‘’ Gue mengangguk pelan, seakan tau apa yang dirasakan Indah saat ini.


***

Tepat pada jam sembilan di Sabtu malam, perkuliahan untuk hari itu selesai. Setelah membiarkan dosen pamit dan keluar dari kelas, terdengar suara Imel memanggil gue.
‘’ Lan? ‘’
‘’ Iya, Mel. ‘’
‘’ Minggu depan temenin gue keluar cari kado ulangtahun untuk pacar gue, ya. ‘’
‘’ Iya, insyaallah ya kalau gue masih hidup. ‘’
‘’ Hoi, mulut lu! ‘’
‘’ Hahaaha yakali aja habis pulang ini gue meninggal, ya umur siapa yang tau. Jodoh juga siapa yang tau. Entahlah kira-kira jodoh gue siapa ya, Mel? ‘’
‘’ Bodo ah.‘’

Gue hanya cengengesan sambil berjalan beriringan dengan Imel menuruni anak tangga.
Dalam perjalanan pulang, gue masih nggak habis fikir dengan apa yang diucapkan Dosen tadi. Dengan saran yang ia berikan dalam menjalani LDR.
Gue juga teringat dengan kejadian tadi sore.

Cinta itu hebat.
Cinta bisa membuat seseorang bertahan pada satu hati dan setia menunggu kepulangannya, seperti yang dirasakan oleh Nurul.
Cinta bisa membuat seseorang tersenyum bahagia, membuat orang untuk selalu berusaha membahagiakan kekasihnya, seperti yang dialami oleh Imel.
Cinta bisa membuat seseorang mampu menjaga diri, menjaga hati dan berhati-hati untuk memilih demi menunggu orang yang tepat, seperti yang dialami oleh Fira.
Bahkan, cinta juga bisa membuat seseorang mati rasa, bosan, lelah dalam jatuh bangun karena cinta, seperti yang dialami oleh Indah.


Di balik kaca helm, gue hanya tersenyum penuh haru. Menyadari betapa hebatnya cinta yang bisa membuat masing-masing orang merasakan hal yang berbeda-beda dalam satu waktu. Tidak hanya itu, cinta juga bisa membuat orang untuk bertahan dengan prinsipnya.

Karena, cinta mampu membolak-balikan hati.








63 comments:

Komentarnya ditunggu kakak~

Kopdar Pekanbaru

Sabtu, 06 Februari

Gue yang sedang serius dengerin dosen dalam menyampaikan materi  sesekali melihat hp, menghilangkan suntuk.
Kali aja ada chat dari pacar. Pacar orang.

Sebuah notif muncul di layar hp. DM dari Pangeran Wortel. Awalnya gue mengira kalo Pangeran sedang mengirim sayembara ke semua orang untuk meminta bantuan agar cepat menemukan Permaisurinya. Tapi ternyata enggak, Pangeran menawarkan gue untuk ikut kopdar BE Pekanbaru. Pembicaraan beralih ke BBM.

‘’Tanggal 08, Lan. Di Panam. Bisa kan? ‘’
“ Tapi Pange, dari rumah Wulan ke Panam 1,5 jam lagi. Hehee ‘’

Gue juga rada ragu, soalnya gue bukan anak BE. Wkwk.

Ternyata dan ternyata, Pangeran mengira kalau gue tinggalnya di Pekanbaru. Padahal mah enggak, gue tinggalnya di Pangkalan Kerinci. Jarak dari rumah gue ke Panam (daerah di Pekanbaru) itu bisa memakan waktu 1,5 jam.
Kuliah gue jadi nggak konsen. Pengen buru-buru pulang trus minta izin ke Ibu, semoga saja Ibu ngizinin gue pergi sendirian ke Pekanbaru.

Sesampainya di rumah, gue langsung meminta izin ke Ibu. Syukurlah Ibu mengizinkan gue untuk pergi kopdar pada tanggal 08 Februari itu.
Gue langsung mengirim chat ke Pangeran.

‘’ Pange, Wulan diizinin  Ibu. ‘’
‘’ Yeeeeeeee… ‘’

Gue masih ingat jelas dengan respon Pangeran saat gue mengirim chat itu. Gue takut aja, setelah itu Pangeran malah bilang, ‘’ YEEEEEEEE KETIPU LU KAN! ‘’
Untung aja enggak.

**

Senin, 08 Februari

Tepat jam 8 pagi, gue sudah mandi dan bersiap-siap untuk berangkat ke Pekanbaru. Padahal acaranya malam jam setengah 8. Hahaa
Berhubung kakak juga ada keperluan di Pekanbaru, hal itu membuat gue untuk bisa menginap bersamanya.

‘’ Nginap di mana?‘’
‘’ Di asrama putri, kamar Ningsih.‘’
‘’ Aku udah otewe.  Jemput aku nanti di simpang harapan ya. ‘’

Ini nama simpangnya bener-bener bikin baper. Simpang harapan. Mungkin dulu asal-usulnya di simpang ini ada dua pasang kekasih yang sama-sama menaruh harapan. Tapi akhirnya harapannya nggak terwujud.Ya jadi gitu deh, namanya simpang harapan.


NGARANG BEBAS! OKE.


‘’ Bawa helm ya. Di sini banyak polisi. ‘’

Gue mengerutkan alis. Gimana caranya gue naik angkutan umum, bawa tas dan juga bawa helm.
‘’Oke. Aku bawa helm. Kalo bawa helm sih bisa, asal jangan suruh bawa pacar aja. Nggak punya soalnya.‘’
‘’ BODO ‘’

Karena gue nggak mau memperpanjang chat yang nanti bakal menimbulkan masalah, daripada gue terlantar karena nggak dijemput di simpang harapan,  akhirnya gue nggak membalas chatnya lagi.
Jam 8 pagi, kak Putri mengantar gue ke terminal mobil angkutan umum. Gue yang seumur hidup baru kali itu pergi sendirian menggunakan angkutan umum dengan pedenya turun dari motor.

‘’ Ini langsung ke Pekan, kan Pak? ‘’
‘’ Iya, iya. Naik aja?‘’
‘’ Naik ke mana? Ke pelaminan?
‘’ Ciyeee ‘’

Trus gue menikah dengan supir angkutan umum.

Kagaklah.
Gue langsung naik dan meletakkan helm di dekat kaki. Tak lama kemudian, 2 penumpang lain yang kalau pipis berdiri mulai naik ke dalam mobil. Gue menelan ludah.
Di mobil ini cuma gue sendirian yang cewek. 2 orang penumpang laki-laki ditambah supirnya juga laki-laki.

Fakyu.
Kalo gue diperkosa di semak-semak gimana? Foursome dong.

Sekitar jam setengah 10, gue sudah sampai di simpang harapan. Seorang laki-laki langsung menghampiri gue.
‘’ Ojek, Neng?‘’
Trus disambut dengan laki-laki lain dibelakangnya, ‘’ Taksi, Neng? ‘’
Gue menggeleng cepat.

Gue yang-kayak-orang-dongo-nenteng-nenteng-helm-hitam mencari tempat duduk untuk menunggu, sampai akhirnya gue menemukan posisi duduk di emperan toko. Ada beberapa orang yang juga ikut menunggu di sekitaran gue. Ada yang menunggu dijemput suaminya, dijemput anaknya, dijemput pacarnya, dan ada juga yang menunggu kepastian yang jelas. Hmm.

Gue langsung saja mengirim chat ke kakak.
‘’ Aku udah di simpang harapan. Jemput aku ya. Aku di depan hotel alpha. ‘’
‘’ Iya aku udah jalan. Tunggu sana aja ya. ‘’

Lima menit kemudian.

‘’ Aku udah di depan hotel alpha. Kamu di mana?‘’
‘’ Aku di seberang hotel alpha. Trus maju dikit, kan ada apotik tuh. Di samping apotik kan ada ruko yang tutup. Cari aja cewek paling kiyut sejagad raya. Itu aku.‘’
‘’ UDAH AH CEPAT AJA KE PINGGIR JALAN.‘’
‘’ Oke. ‘’

Gue jalan dengan menenteng helm dan tas. Di seberang gue, seorang perempuan yang celingukan terdiam menatap gue. Gue melambaikan tangan.

‘’ Golut, aku di sini. AUUWOO O..‘’

Kakak gue melihat gue dengan tampang jijik.

Selesai makan siang bareng, gue dan kakak memutuskan untuk tidur siang di asrama Ningsih, teman masa kecil gue. Gue baru tahu, kalau peraturan di asrama putri yang Ningsih sewa ini memberlakukan aturan batasan pulang malam. Pulang malam hanya boleh sampai jam 10. Lewat dari jam 10, pintu gerbang akan ditutup. Kayak hati kamu, yang ditutup.

Sore sebelum gue siap-siap, terjadi percakapan antara gue dan kakak.
‘’ Alamat kopdarnya di mana?‘’
‘’ Di Zi Cafe. Daerah Panam. Dekat SKA. ‘’
‘’ Oh itu, iya iya tau. Nanti sama aku berangkatnya. Aku antar. Biar bisa cepat pulang, kalo kelamaan ntar gerbang asramanya dikunci. ‘’

Jam 7 lewat , gue mengirim chat ke Pangeran.
‘’ Pange, udah di tempat?‘’
‘’ Belum, masih mau jalan. Taukan Pangeran yang mana?‘’
‘’ Hahaaa iya tau. ‘’

Sebenernya gue mau jawab, ‘’ Iya tau, yang jomblo itu kan. ‘’
Tapi nggak tega.

Gue dan kakak meluncur menyusuri jalanan. Hening. Kakak gue celingukan kesana-sini mencari alamat lokasi yang gue sebutkan tadi.

‘’ Ini alamatnya di mana sih?Dari tadi nggak nemu.‘’
‘’ Lah tadi katanya tahu.‘’
‘’ Iya aku tahu, ini jalannya. Tapi Zi Cafe di mana?‘’
‘’ Aku juga nggak tau.‘’ Gue menjawab ketus.

Beberapa menit kemudian.

‘’ Duh, ini jalannya kemana lagi sih? Alamatnya yang mana yang bener?‘’
‘’ AKU NGGAK TAU. KAN TADI KATANYA TAU. DI ZI CAFÉ, DARI SIMPANG EMPAT MALL SKA LURUS TERUS. ‘’

Gue mengeraskan suara. Kesel. Pengen loncat dari motor aja. Tapi nggak jadi. Soalnya nggak punya asuransi.
Mendadak suasana hening.

‘’ Nah, itu tuh Zi Café.‘’

Gue menghela nafas kemudian tersenyum. Akhirnya gue bisa turun dari motor juga tanpa harus meloncat.
‘’ Itu kayaknya temen aku deh. Nanti jemput jam setengah 10 ya. Dadaah. Hush hush. ‘’

Gue merapikan jilbab yang sedikit berantakan. Di parkiran, dengan jarak 5 meter dari posisi gue berdiri, seorang lelaki berjaket hitam berdiri dan menoleh ke belakang. Gue yang dari awal belum pernah bertemu dengan Heru Arya a.ka.Pangeran pemilik blog tulisan wortel, langsung menghampirinya.

‘’ Heru ya?‘’ Gue menyalaminya.
‘’ Iya, Wulan kan? ‘’
‘’ Iya.‘’

Gue berbincang sedikit dengan Pangeran, sebelum akhirnya gue dikenalkan dengan seorang blogger cewek.  Namanya Kak Icha.  Anaknya cakep, baik, ramah. Istri-able banget.
Tak lama kemudian, sebuah motor berhenti di parkiran. Lelaki itu adalah Hardiansyah (Didi). Pemilik blog budak sadjak.

Kami berempat masuk ke dalam, membaca daftar menu yang disodorkan oleh waiters. Mengingat jam setengah sepuluh gue harus buru-buru balik ke asrama, gue hanya memesan minuman ice bubble chocolate.
Sambil menunggu pesanan datang, gue, Pangeran, Didi dan kak Icha saling berbincang-bincang.
Pangeran menjelaskan tentang Blogger Energy, tentang award yang pernah ia dapat dari BE, tentang keseruan dalam dunia blog dan banyak lainnya. Sampai akhirnya seorang perempuan masuk ke dalam cafe.
Dengan kerudung merahnya, perempuan itu melemparkan senyum ke arah kami. Wajahnya ceria dan imut. Baby face. Beda sama gue, babi face.

‘’ Hai, hai. Duh sorry ya datangnya lama. Tadi lagi ada urusan.‘’

Gue hanya senyum. Gue anaknya pemalu dan kalem-kalem gitu. Percayalah.
Pangeran mengenalkan gue ke perempuan berkerudung merah itu.
‘’ Vina.‘’
‘’ Wulan.‘’
Kami bersalaman dan mempersilahkan Vina duduk. Vina, perempuan yang heboh, rame parah, bisa bikin suasana cair.
Kalo Vina bisa bikin suasana cair, aku juga bisa kok bikin cair. Bikin hati kamu cair.Uhuk.
‘’ Jadi kamu ke sini dari rumah demi kopdar ini? ‘’ tanya Vina ke gue.
‘’ Hehee iya. Deket kok, Kak.‘’
Gue ketawa kecil.

Tak lama kemudian, pesanan kami datang. Seperti biasa, ritual anak muda terkini, anak-anak mulai mengambil handphone masing-masing dan memotret makanan yang terhidang di atas meja.

Cekrek.
‘’Waaah keren. ‘’

Cekrek.
‘’ Bagus ya Tapi kurang kiri dikit. ‘’

Cekrek.
‘’ Aaa bagus bagus. ‘’

Cekrek.
‘’Pangeran, tangannya awas dikit.‘’

Cekrek.

Begitu terus sampai cafenya tutup dan waitersnya pulang.

'' Dasar anak alay. Hih, '' ujar gue dalam hati sambil mencoba serius memfokuskan kamera handphone untuk memotret minuman. 


***


Obrolan berlanjut bersamaan dengan kami yang menikmati hidangan. Gue menoleh ke arah kak Icha yang sedang asyik menikmati makanan. Dengan lahapnya dia menikmati makanan.
Setelah berbincang-bincang, Pangeran menyarankan agar kami berfoto bersama. Pangeran menyodorkan handphonenya.
‘’ Foto dulu yuk. ‘’
Kak Icha yang udah kenyang dengan semangat langsung menaikkan handphone dan cekrek.



Maafkan daku, yang menghalangi wajahmu, Pangeran. :'D


Kak Icha menyodorkan handphone ke pemiliknya.
'' Blur nih, ulang lagi dong. '' Pangeran menyodorkan hpnya pada kak Icha.
Kak Icha memperhatikan seksama hasil foto yang ia potret tadi.

'' Nggak blur kok, Pangeran aja nih yang blur di foto ini. Lihat deh sini. '' Spontan semuanya tertawa.

Malam itu, gue bener-bener sedih saat jam di layar hp mulai menunjukkan pukul sembilan lewat duabelas menit. Gue langsung buru-buru pamit pulang, meskipun sebenernya gue masih pengen bercerita dan mengumpul bersama mereka untuk waktu yang lama. Tapi apa boleh buat :(

'' Pange, Wulan pulang duluan nggak papa ya. Asramanya tutup jam sepuluh, '' ucap gue sambil beranjak berdiri dari kursi.
'' Iya, iya nggak papa. ''
'' Wulan pamit pulang dulu ya semua. ''
Anak-anak mengangguk. Selesai membayar minuman ke Pangeran, gue langsung menemui kakak yang ternyata dari zaman raja namrud sudah di luar nungguin gue dari pertama gue sampai di sini.

'' Yuk, buruan pulang. Sebelum gerbang asramanya ditutup. Kalo ditutup, ntar kita tidur di mana, ''

Malam-malam, di jalan raya yang masih ramai, kakak gue menancap motor dengan kecepatan tinggi. Ngebut kaya Komo Ricky lagi ngintai target.

Lagi asyik menikmati angin malam, gue merasakan punggung gue dingin. Memang semilir angin malam itu terasa sangat dingin, gue mulai merasa aneh saat punggung makin lama terasa semakin dingin. Gue meraba punggung gue.

Fakyu. Baju belakang gue terbuka dan terangkat-angkat karena angin yang kencang.

Mendadak gue terdiam sambil menahan malu. Gue menoleh perlahan sedikit ke arah belakang, dua orang laki-laki yang mengendarai matic tampak senyum-senyum ke arah gue.


OH NO!


Gimana kalau dia ngeliat punggung gue yang terbuka tadi?
Gimana kalau dia tau warna daleman gue? Merek daleman gue? Ukuran daleman gue? Renda-renda daleman gue?


AAAAAAKKKK GUE MALU.



***

Sesampainya di asrama, untung saja gerbangnya masih dibuka. Sebagai seonggok adik yang baik dan berbudi pekerti luhur, gue langsung buru-buru naik ke atas dan membiarkan kakak gue sendirian di parkiran motor.

Malam itu gue senang bukan main. Meskipun waktunya hanya sebentar, gue bisa bertatap muka langsung dengan teman baru, dengan mereka yang baik, ramah dan seru. Sebenernya masih banyak lagi yang ingin diperbincangkan, pengen sharing lebih dalam, sedalam cintaku padamu. Meskipun kau tak menyadari itu. Halah.

Sesampainya di rumah, gue langsung bbm Pangeran, gue lupa akan sesuatu hal. Sebuah pesan dari Darma Kusumah, orang yang sama sekali nggak ada hubungan darah dengan Arum Kusuma.

'' Pange, Wulan kelupaan. Ada salam dari blogger Jabodetabek. ''
'' Iya, salam balik dari blogger Pekanbaru ya. ''
'' Iya, Pange. ''


Ini foto-foto hasil jepretan Pangeran. Sayang sekali, gue nggak sempat foto bersama Pangeran bareng-bareng.


Kak Icha-Vina-Didi-Raisa Andriana




Kak Icha-Vina-Didi-Kekasih Zayn Malik




Kak Icha-Vina-Didi-Calon makmum kamu





Masih banyak waktu-waktu lain untuk kita bertemu lagi. :)
See u again :)







73 comments:

Komentarnya ditunggu kakak~

Ngomongin Makanan

Hai gengs, gimana palentainnya? Dapat cokelat? Enggak ya? Hahaa
Jomblo. Hih.

Seperti yang pernah gue tulis di postingan sebelumnya, mengenai tulisan bertema WIDY, kali ini gue akan mencoba menulis dengan tema makanan. Agak bingung juga mau mulai darimana, mau mulai dari awal, tapi semuanya udah keliatan jelas. Gue juga nggak mau sih kecewa dan disakiti berulang kali.
Hmm.

Ini bakal menjadi postingan pertama tentang makanan yang ada di blog gue. Berbeda dengan blognya mba Nita, yang setiap kali gue ke sana, bawaanya bikin gue pengen ngetik komentar sambil ngelap iler.

Gue mirip percis kayak Icha, yang selalu bangga punya tubuh pas-pasan meskipun doyan makan. Kalau Icha kebanyakan makan, gemuknya lari ke pipi. Bikin orang-orang ngeliatnya jadi gemes. Pipinya minta digigit.
Lah gue, kalo banyak makan, gemuknya entah lari ke mana. Mentok-mentok larinya ke wc. Ibaratnya kalo gue makan, makanannya cuma numpang lewat doang.
Gue pengen banget gemuk. Karena itu beberapa bulan belakangan ini gue rajin banget minum susu. Susu duo serigala. Maksudnya susu kaleng dari duo serigala.
Tapi tetep ae gue nggak gemuk-gemuk.


***
Meskipun gue selalu berusaha untuk menggemukkan badan, gue nggak pernah makan nasi sampe sebakul. Gue malah jarang makan nasi. Lebih sering ngemil dan beli jajanan di luar. Terkecuali nasi dengan lauk jengkol.
Gue pecinta jengkol garis keras. Gue pernah ikut dengan Ibu ke pasar, dan gue menyaksikan sendiri kalau Ibu membeli jengkol sampai menghabiskan uang 200 ribu. 200 ribu khusus untuk jengkol doang, belum cabe, belum bawang, sayuran, ikan-ikanan, yawloh. 

Saat diperjalanan pulang, sayup-sayup gue mendengar suara Ibu.
  ‘’ Seminggu ini kita makan jengkol ya Lan, ‘’
Gue cuma ngangguk dan senyum-senyum kecil. Bahagia banget rasanya.

Gue suka jengkol dalam bentuk sajian apapun. Gulai jengkol, sambal jengkol, goreng jengkol, semur jengkol, rendang jengkol apalagi sambalado tanak jengkol. Subhanallah nikmatnya.

Sambalado tanak jengkol ini merupakan makanan dari Sumatera Barat. Rasanya lebih seperti rasa gulai jengkol, tapi secara fisik keliatan seperti rendang jengkol.
Gue suka tekstur lembut pada jengkol. Ada sensasi nikmat disetiap gigitan yang gue rasakan. Kenyal, empuk, maknyus. Ayam kaepci mah kalah.
Meskipun Ibu menggoreng ayam atau ikan selain memasak jengkol, entah kenapa gue lebih memilih untuk hanya memakan jengkol dengan pasangannya nasi.
Jengkol aja ada pasangannya, masak kamu enggak?



                                                       




Dulu nih ya, dulu. Duluuuuuuuuuuu banget.
Dulu waktu gue punya pacar, waktu ada yang pernah khilaf rela jadi pacar gue, waktu ada yang perhatiin gue, waktu ada yang nanya ‘udah makan belum? ‘ ke gue, waktu ada yang peduli ke gue, waktu itu pokoknya gue punya pacar deh. 

Gue selalu kesel setiap kali Ibu memasak jengkol di hari Sabtu.
Itu tuh bikin gue dilema parah. Dilain sisi gue udah ngiler pengen nyomot jengkol anget-anget yang baru diangkat dari kuali, dilain sisi lagi gue mikir kalo nanti malam sang pacar bakal ngapelin gue.
Berhubung ketemunya cuma seminggu sekali, gue nggak mau merusak pertemuan itu dengan nafas yang bau naga. Enggak mau.
Akhirnya dengan berat hati, gue menutup kembali tudung saji dan langsung masuk kamar. Kelaperan sampai ketiduran.
Ini semua demi pacar. Demi pacar gue harus rela menahan nafsu untuk segera memakan jengkol masakan Ibu. Demi pacar dan demi keharmonisan hubungan gue dan dia kelak.
Yaa walaupun pada akhirnya gue tetep aje jomblo.


Sambalado tanak jengkol. Gue memotret ini, sesaat sebelum makan nikmat gue terhenti
karena ada telefon masuk dari om-om gadun. Oke.



'' Jangan pernah mengabaikan jengkol demi pacar. Pacar bisa berkhianat, tetapi jengkol tidak. ''

-Wulan, 19 th, calon ibu bagi anak-anakmu kelak.






67 comments:

Komentarnya ditunggu kakak~

MERAH

                                         

Angin sore itu terasa halus membelai ujung rambutku.
Aku terperangah ketika ia tiba-tiba turun dari kursi cokelat muda kemudian menekuk lutut di hadapanku. Ia merogoh sakunya sebelum pada akhirnya muncul sebuah kotak merah sebesar kepalan tangan.
Dengan satu sentakan jari tangannya, ia memamerkan sebuah cincin dengan hiasan berlian yang membuatku terpesona takjub.
'' Marry me? '' tanyanya.

Kedua bola mataku membesar. Tak tahan menahan haru bahagia. Senyumku mengembang luas, aku menarik nafas sedalam mungkin dan menghelanya. Dengan yakin aku mengatakan, '' Yes!'' hingga ia kemudian bangkit berdiri dan memasangkan cincin itu di jari manisku. Ah, betapa indahnya cincin ini.


***


Aku tersenyum sinis mengingat kejadian sebulan yang lalu. Sembari melepaskan pakaian, aku menarik selembar handuk yang menggantung. Sesaat sebelum melangkahkan kaki untuk masuk ke kamar mandi, aku mengecek HPku.
Tidak ada yang menanyakan kabarku, tidak ada yang peduli denganku. Ya, harusnya aku sudah tahu itu. Ku letakkan HP ke tempat semula.

Dari pintu kamar mandi, air hangat yang memenuhi bak terlihat merayuku dan tak sabar ingin memanjakanku. Pencahayaan yang cukup remang di dalam kamar mandi ini bisa membuatku leluasa untuk menikmati hangatnya air yang mulai perlahan menyentuh pori-poriku.

Tak ada yang lebih sakit dari pengkhianatan dua orang yang begitu sangat kucintai.

Aku membenci tanganku. Tangan yang pernah di genggam erat saat jalan beriringan dengannya sore itu.

Perlahan aku mengambil silet dan mulai menggaris pergelangan tanganku secara vertikal. Garisnya masih belum sempurna. Aku mencoba menggaris lagi dengan pola horizontal. Lagi, garisnya masih belum sempurna. Tak heran, dulu saat duduk di bangku TK, aku selalu mengalami kesulitan dalam menggambar dengan penggaris. Bahkan sampai saat ini pun, aku masih belum bisa membuat garis dengan sempurna.

Aku mencoba menggaris pergelangan tanganku lagi. Kali ini dengan tekanan yang cukup.



Ya! Aku berhasil, sayang.
Lihat, garis yang baru saja ku goreskan tampak sempurna, bukan?


Aku tersenyum puas saat menyaksikan air hangat dalam bak mandi berubah menjadi merah disetiap detiknya.

Aku membenci pipiku. Pipi yang pernah ia usap lembut sebelum pada akhirnya sebuah ciuman mendarat di sana.


Aku kembali menarik garis panjang dari ujung pelipis dengan titik akhir berada di ujung bibir.
Aku bersorak girang. Kedua pipiku kini terukir garis panjang yang lurus. Tanpa menunggu waktu lama, aku membasuh wajahku dengan air hangat di dalam bak mandi. Darah segar mengucur keluar dan jatuh bersamaan dengan turunnya air hangat tersebut dan kembali bermuara ke dalam bak.

Sesekali ku jilat darah kecut yang mengalir di area bibirku. Rasanya meninggalkan candu.


Aku tersenyum puas saat menyaksikan air hangat dalam bak mandi berubah menjadi merah disetiap detiknya.


Aku membenci kedua mataku. Mata yang telah merekam jutaan sosok tentang dia. Senyumnya, tawanya, bentuk rambutnya, bulu tangannya yang lebat, tekstur hidung mancungnya, kumis tipisnya, kuku putih bersihnya, alis tebal yang berjajar rapi, bentuk bibirnya, ah aku benci mataku yang membuatku terus mengingat segalanya tentang dia.


Tanpa berfikir panjang, aku segera mencongkel kedua bola mataku. Kunikmati setiap bunyi remuk yang kuhasilkan dari tangan ganasku.


Aku tersenyum puas.


Lihatlah, air di bak mandi ini. Merahnya tak kalah dengan merahnya bibirmu yang diolesi gincu, wahai sahabatku.
Merahnya tak kalah juga dengan merahnya kisah cinta kalian.


Cincin pemberiannya sebulan yang lalu hanya diam dan bertengger manis di tepi bak mandiku.





***

Hai gaes.

Untuk sementara ini, cerpen WIDY mungkin akan diberhentikan sejenak. Mengingat teman-teman pada sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Icha yang lagi sibuk mencari kerja baru dan menunggu kekasih LDRnya pulang di bulan ini, Yoga yang sibuk dengan freelance, kuliah dan kegiatan lainnya, Darma yang sibuk revisian skripsi, dan gue sibuk menunggu kepastian yang jelas darinya. Anjay.

Tapi secepat mungkin, kami bakal melanjutkan untuk menulis kembali bagian cerpen selanjutnya.
Doakan lancar ya gaes :)
Terimakasih untuk kritik, saran, pendapat dan waktu luang yang kalian gunakan untuk membaca cerpen WIDY. *ketjup satu-satu

Di bulan Februari ini, rencananya kami akan membuat satu tulisan bertema dengan bentuk bebas. Boleh seperti, puisi, review, hasil observasi, FF (Flash Fiction), bentuk curhatan juga boleh. Bebas. :)

Dengan tema: Makanan. 

Bagi teman-teman yang mau ikutan menulis bertema Makanan di bulan ini, yuk silahkan ikut. Hitung-hitung belajar menulis bareng. :)



Terimakasih gaes. Aku cinta kalian.





75 comments:

Komentarnya ditunggu kakak~

BAPER. ELAH






Aku tidak akan beranjak pergi bila bukan kamu yang memintanya. Aku ingin selalu berada di sini. Dengan sekelumit kisah berwarna yang membuat garis lengkungku mengembang luas.
Hampir setiap malam aku tak henti melayangkan sebait doa dengan namamu yang juga turut melengkapinya.

Kamu tahu, namamu mendapati posisi baru. Iya, dalam setiap doa baik dan di setiap shalatku.

Akan ada saat di mana kaki kita melangkah bersama menuju satu arah. Melewati berbagai persimpangan yang ada.
Karena aku ingin, posisimu tak hanya di sisi kanan atau di sisi kiriku, melainkan satu shaf di depanku.

Namamu adalah rumah. Tempat aku berpulang dan tempat mengadukan cerita lelahku.

Aku hanya ingin menjadi salah satu alasan atas senyummu.

Kamu, jawaban atas seribu pertanyaan yang selama ini berputar dibenakku.






BAPER. ELAH




60 comments:

Komentarnya ditunggu kakak~