Tentang WIDY dan Cerpen Bersambung



Create by: Yoga




Ada yang tahu Widy?


Hmm tunggu bentar. Kayaknya itu kalimat pembuka Yoga deh.
Ulang, ulang.


Kalian tahu apa itu Widy? Iyak bener.
WIDY ITU COWO GANTENG BANGET GILAAA..

Enggak. Bukan yang kayak gitu.

***

Tepat pada tanggal  25 November, timeline gue penuh dengan mensyen-mensyenan. Mending mensyenan karena bahas hal penting. Lah ini kagak. Mensyenan menuh-menuhin timeline doang.
Melihat hal itu, Yoga yang ikut terlibat dalam mensyenan itu akhirnya memberikan ide cemerlang. Ia memutuskan untuk membentuk suatu grup di Line yang bernama WIDY.

WIDY adalah singkatan huruf dari Awal masing-masing nama kami.
Wulan kiyut, imut dan manis
Icha
Darma
Yoga

Nggak tau kenapa nama gue diurutin di paling awal. Dan tepat di tanggal 25 November yang bertepatan dengan Hari Guru, maka terbentuklah grup Widy itu. Gila men, sungguh barokah grup Widy ini.

Awalnya gue ada niatan mau ubah nama. Jadi RIDY. Raisa, Icha, Darma dan Yoga.
Tapi gue membatalkan niat itu setelah mendengar soundtrack kartun Spongebob.

Are you RIDY kids? Aye Aye Captain.
I can't hear you! Aye Aye Captain.
Ooohh.. 


Gue telat. Ternyata Spongebob lebih dulu mengambil nama Ridy daripada gue.

Yang bikin gue seneng, adalah meskipun kami tinggal di pulau yang berbeda, gue ngerasa semuanya begitu dekat.
Gue di pulau Sumatera, Riau. Sedangkan Icha di pulau Kalimantan, Samarinda. Darma dan Yoga di pulau Jawa, Jakarta.
Jauh-jauh banget. Tapi jarak yang sangat jauh itu tidak menjadi masalah saat bagaimana kami berempat menuangkan pikiran, celotehan serta pendapat di grup itu. Empat kepala menjadi satu. Semuanya terasa dekat.  :))

Ada 2 alasan kenapa gue begitu excited saat mengetahui gue bakal punya grup.
1. Widy bisa jadi mood booster bagi gue. 
Selalu aja ada cerita lucu, aneh yang bikin penasaran yang rasanya sayang untuk dilewati. Nggak hanya itu, Widy juga grup yang bermanfaat bagi gue. Serius. Gue belajar banyak hal dan ilmu baru dari sana.
Dari mereka, Icha, Darma dan Yoga. Setiap kali gue mendapat ilmu baru dari mereka, kadang ada juga yang tersirat. Gue selalu ngomong dalam hati, '' Oh gitu ya. Kok gue baru tau ya? Nggak nyangka gue sebodoh ini. ''

2. Gue nggak pernah dimasukkin ke grup dan ini baru pertama kalinya gue punya grup Line. Menyedihkan. 



Untuk membuktikan bahwa daya ingat gue masih tajam, gue masih ingat pembahasan pertama kali saat grup itu tercipta. Tentang LDR, dada anak SMP yang rata, jomblo berkualitas dan hai.

Tentang LDR.
Berhubung Icha adalah salah seorang pejuang LDR, Icha pernah bilang di awal saat masuk grup bahwa ia pengen jadi pejuang LDR yang bisa berkarya. Hasek.

Dada anak SMP yang rata.
Waktu itu Yoga sedang menggebu-gebu menceritakan tentang dada anak SMP yang rata. Gue curiga, kayaknya Yoga udah pernah melakukan penelitian tentang dada anak SMP yang rata. Gimana caranya? Hmm.

Jomblo berkualitas.
Gue yang waktu itu baru-baru, hikss putus hikss entah kenapa bisa mengatakan bahwa jadilah jomblo yang berkualitas. Serasa kayak memotivasi diri sendiri gitu.
-_-

Hai.
Hai juga. Ini Darma. Waktu itu Darma telat masuk ke grup Widy. Jadi pas kami lagi bahas 3 topik yang mahadahsyat itu, tiba-tiba Darma nongol dan berkata, '' HAI. ''



Masyaallah
Sungguh, grup yang bijak.

Dalam grup ini kami bisa bebas sharing dan membahas apa saja. Mulai dari tentang percintaan, pekerjaan, saling memberi motivasi, bertukar pendapat, dan banyak lainnya.
Sampai suatu hari, Yoga mencetuskan idenya untuk bermain sambung cerpen. Jadi tiap orang akan melanjutkan cerpen sesuka hati yang sesuai dengan ide pikirannya sendiri sesuai dengan urutan nama WIDY. Terserah sampai berapa kalimat. Awalnya agak ragu, takut bentrok dan nggak pas dengan jalan cerita dari masing-masing yang kita inginkan. Ide pikiran tiap orang berbeda-beda toh.
Namun akhirnya keraguan gue hilang. Sambung cerpen terus berlanjut hingga sekarang sudah tercipta beberapa paragraf.
Setiap kali menyambungkan cerpen, hanya gue yang melanjutkan cerpen dengan sedikit kalimat. Hahaha habis gue nggak begitu ngerti dengan fiksi. Berbeda dengan Yoga yang punya banyak ide, Darma yang memang pintar di bidang fiksi, Icha yang membawa suasana dalam cerpen menjadi lebih hebat.

WIDY menjadi wadah dalam hal menggarap tulisan. Gue bisa belajar banyak dari mereka.


Dan cerpen ini nantinya akan kami publish di masing-masing blog secara bergantian. Setiap 500-700 kata dalam cerpen yang akan dipublish di setiap blog masing-masing. Bisa dikatakan seperti cerita bersambung.

Cukup cerita aja yang disambung, kisah cinta kita jangan.


Insyaallah, cerita bersambung ini akan di publish di bulan Januari 2016 nanti. Tunggu cerita bersambungnya ya man teman :))



ailofyuu~

81 comments:

Komentarnya ditunggu kakak~

Suporter di Pemilihan Bujang Dara Provinsi Riau 2015

  '' Loh ibu kenapa? ''


Gue yang baru selesai subuhan pagi itu terkejut melihat ibu yang panik di di ruang tengah dengan handphone di tangan. Gue pun langsung duduk di sebelah ibu dan mendengar semua cerita ibu.
Seperti yang sebelumnya telah gue posting tentang kakak gue yang lagi ikut dalam karantina seminggu, maka di hari itu tanggal 20 Desember adalah malam final dari pemilihan acara tersebut. Dan kejadian yang nggak diharapkan tiba-tiba datang.
Baju melayu harian milik kakak yang nanti akan dipakai nanti malam ternyata kependekan. Peraturannya harus di bawah lutut. Sedangkan baju kakak hanya sampai di atas lutut.
Bingung. Gimana mau nyari baju yang sesuai lagi?
Mau nggak mau, baju melayu harian itu harus dijahitkan pagi itu juga mengingat malam nanti akan dipakai.

Pagi itu sekitar pukul 7, gue tanpa cuci muka, tanpa sikat gigi dengan muka acak adul bangun tidur langsung pergi keluar dengan motor bersama ibu. Tujuan kita pagi itu adalah mencari bahan baju yang berwarna kuning.
Satu masalah muncul.
Warna kuning yang seperti apa?
Berhubung utusan dari kabupaten adalah cewek dan cowok, maka pakaian pasangan yang diutus itu harus sama. Nah sekarang, kalo gue dan ibu salah milih warna kuning, nanti bakal kacau kalau warna kuningnya nggak sama dengan kuning pasangan cowok si kakak.
Gue baru tau. Ternyata warna kuning ada banyak ragamnya. Ada kuning kecokelatan, kuning emas, kuning pudar, kuning ngejreng, kuning e'ek, kuning cream, kuning gelap, banyak deh pokoknya.
Ibu nggak tau warna kuning yang dipakai kakak gue dan pasangannya itu kuning yang seperti apa? Gue kembali melihat layar hp, menyocokkan warna kuning baju kakak yang dipakainya pada foto di hp gue. Gue baru sadar ternyata efek warna pada objek yang ada di foto bisa berubah-ubah daripada aslinya. Apalagi warna kuning. Nggak jelas kuning yang seperti apa.


Akhirnya gue dan ibu tiba di depan toko penjahit tempat kakak gue menjahitkan baju yang kependekan itu sebulan yang lalu.
Dan tokonya tutup. Belum buka. Gue dan Ibu dengan sabarnya nunggu di depan toko jahit dengan tampang lesu belum sarapan. Apalagi gue, masih setengah sadar.
Cukup lama ibu dan anaknya yang terkiyut itu menunggu di luar toko jahit. Dan dengan modal nekat, ibu dan gue akhirnya memilih satu warna kuning yang kemungkinan mirip. Saat itu juga, ibu meminta si bapak tersebut untuk menjahitkan baju itu.
Berhubung perjalanan dari rumah gue ke tempat acara memakan waktu 1,5 jam, ibu memutuskan untuk memilih berangkat di siang hari.

Alhamdulillah baju kuning melayu harian itu terjahit cepat sebelum jam 3.
Gue berangkat jam 3 dari rumah dan sampai di parkiran gedung jam 5. Parah ya. Lama bener sampainya.
Setibanya di parkiran gedung, kami semua cuma berdiam diri di dalam mobil. Yaiyalah, wong acaranya jam 8 malam. Sementara ibu langsung menuju hotel untuk memberikan baju melayu harian kuning yang dijahitkan tadi.
Sambil menunggu jam 8 dan waktu magrib, ibu mengajak kami untuk masuk ke mall. Ada banyak sekali pemandangan yang menyesakkan dada sore itu. Iya, pasangan yang bergandeng mesra. Fak.
Gue baru ingat, ini kan weekend. Pantesan.


***

Sekitar pukul setengah delapan, kami langsung kembali ke gedung  SKA Co Ex dan masuk ke ruangan tempat acara berlangsung. Para tamu undangan sudah cukup ramai terlihat. Terlebih para senior Bujang Dara tahun lalu.
Yang cowok cowoknya, duuuh cakep gila. Bisa bikin iman melayang.
Gue cukup bingung saat menyadari posisi duduk bangku gue dan orangtua harus berjauhan. Untuk undangan orangtua, posisi duduknya dikhususkan. Sementara gue, adik, adik sepupu dan mba sepupu hanya bisa duduk di posisi tiga baris dari belakang.
Tak lama kemudian para suporter kakak gue datang dan membentuk kelompok di belakang gue.
Acara dimulai.
Ternyata jadi suporter itu beda tipis dengan anak alay. Syarat dan ketentuan untuk jadi suporter yaitu:
1. Harus punya suara yang melengking.
2. Punya tepukan tangan yang kuat.
3. Pede, alay, narsis, bodo amat, suka-suka, gila.

Dan gue yang memang alay jijik ternyata sangat berbakat jadi suporter. Saat acara pembuka dimulai, 11 pasang finalis naik ke atas panggung dengan diiringi irama musik penyambut dan gemerlap lampu yang meriah.
Saat pertama kali melihat kakak gue dan pasangannya naik, gue dan suporter kakak langsung menjerit histeris.
HIYYAAAAAAA WAAAA HYYAAA

Alay. Nggak jarang para penonton yang duduk di depan menolehkan pandangannya ke belakang. Ke suara teriakan dari lubang neraka.
Lampu kembali meredup. Sebuah layar yang berukuran besar mulai menyala dan menampilkan tayangan seminggu penuh tentang kegiatan para finalis. Berkunjung ke sana sini, interview, dll.
Tayangan di layar menampilkan kakak gue yang sedang diinterview. HYAAAA
Suporter langsung teriak.
Tayangan kakak gue lagi terlihat jalan dengan anggunnya. HYAAAA HUWAAA
Tayangan kakak gue lagi senam pagi. HYAAAAAA
Tayangan kakak gue lagi di class of beauty. HUWAAAA

Begitu seterusnya. Seakan melihat kakak gue di dalam tayangan maupun diatas pentas adalah suatu hal yang membanggakan dan mengerikan. Pake teriak-teriak alay sih.
Suasana kembali tenang, damai dan tenteram. Karena kami diusir security. Enggak deng. Karena saat itu Bapak Gubernur sedang memberi kata sambutan hangat. Iya hangat. Soalnya dibarisan tepat di depan gue ada seorang cowok cakep. Hidungnya, yoloh gemesin. Mancung banget. Jambangnya duileeh. Meleleh adek bang.
Cowok cakep itu hanya diam sedari tadi. Dia terlihat sendirian di antara para suporter kakak gue. Sampai gue mikir, '' Ya Allah, apakah ini jodoh yang engkau kirimkan untukku? "


Setelah Bapak Gubernur memberi kata sambutan, para finalis dipanggil untuk naik ke atas panggung lagi dalam sesi pemilihan 5 besar.
Dan begitu nama kakak gue disebut dan lolos ke 5 besar, para suporter dan terlebih gue langsung teriak heboh nggak karuan.
HYAAAAAAAA
HUWAAA. WAAAAA YEEEEE HWAAAA DOR!.

Kami semua ditembak mati. Ngerusuh sih.

Nggak puas hanya tepuk tangan dan bersorak kesurupan, kami semu memilih untuk berdiri. Hahaa
Dalam keadaan berdiri seperti ini, kami terlihat kayak segerombolan orang kelaparan yang saat melihat makanan langsung histeris teriak,
'' BERI KAMI MAKAN. BERI KAMI MAKAN. AAAARRGHH ''

Acara kembali tenang saat 5 finalis cewek dan 5 finalis cowok satu persatu mendapatkan pertanyaan dari dewan juri. Giliran kakak gue menjawab pertanyaan. Gue semua hanya berdoa agar kakak diberikan kelancaran dalam menjawab pertanyaan juri.Dan gila aja, kakak santai amat ngomongnya. Nggak ada gagap, kaku, atau grogi. HUWAAA

Selama acara berlangsung, gue kesel bukan main. Di belakang gue ada tiga cowok yang berisik minta ampun. Dari acara dimulai, Bapak Gubernur memberi kata sambutan, sampai pertengahan acara, itu trio cowok nggak berhenti ngerumpi.

Bising. Berisik. Mana suaranya nyerocos terus tanpa spasi.
Wong lanang kok koyok ngono? Lu kira ini acara rumpi no secret? Huh.

Selesai kakak menjawab pertanyaan dari juri, kembali para anak alayers bersorak kegirangan.
Dan setelah bersorak, gue baru sadar. Ternyata cowok ganteng itu sudah menghilang dari barisan di depan gue. Hanya ada dua kemungkinan. Dia keluar ballroom untuk ke kamar mandi atau dia keluar ballroom kemudian diopname.

Satu hal yang gue sadari tiba-tiba,
  '' Mampus. Suara gue serak. Suara gue hilang. Duuh mana acara masih panjang juga. ''

Sementara dewan juri berdiskusi untuk menentukan 3 besar, acara hiburan mulai ditampilkan. Malam itu dihadirkan bintang tamu Lucky Idol. Mas Lucky, (biar kedengerannya akrab) menyanyikan lagu Chrisye yang judulnya Kala Cinta Menggoda.

  Maka ijikanlah aku mencintaimu.  Atau bolehkah aku sekedar sayang padamu


Duuh lagunya bikin baper. Seandainya aja si cowok cakep tadi masih ada di barisan depan gue.
Sambil menikmati lagu yang dilantunkan Mas Lucky, snack mulai dibagikan ke para tamu undangan dan penonton. Dan KAMPRETOSNYA, TIBA DI GUE, IYA DI GUE. SNACK KOTAKNYA NGGAK KEBAGIAN.

Apa-apaan ini? Padahal kan itu tujuan utama gue untuk datang ke sini. Mengincar snack kotak.
Kenapa tiba di giliran gue doang yang nggak kebagian? Sementara adik yang ada di kiri gue dapat, Kak Ririn yang ada di kanan gue dapat. Lah gue?? Apa jangan-jangan wujud gue nggak kelihatan oleh mereka? Apa jangan-jangan..... ah sudahlah.
Sedih amat. Gue si penonton yang terlantar. Hiks.


Sekitar setengah jam kemudian, para dewan juri kembali ke posisi masing-masing. MC mulai membuka kertas dari dalam amplop yang berisi nama finalis yang lolos masuk ke tiga besar. 3 cewek dan 3 cowok.
Para tamu undangan terlihat antusias. Gue dan kak Ririn berpegangan tangan. Saling mencengkeram. Mata beradu mata. Kita saling jatuh cinta. Dan menikah.
Enggak deng.
Gue dan Kak Ririn yang suaranya juga melengking saling merasa cemas dan berdoa dalam hati.
Alhamdulillahm kakak gue masuk ke tiga besar.
Lalu apa yang terjadi?
Iyak, ruangan ballroom pecah menggelegar. Kami semua kembali teriak histeris. Belum lagi suara tepuk tangan yang bertubi-tubi. Beberapa cowok ganteng yang duduk agak jauh dari depan gue menoleh ke arah kami. Gue melihat tatapannya yang seperti berkata dalam hati,
  '' Wah, kiyut juga ini cewek. ''

Ah jadi maluk.

Melihat aura matanya, gue jadi semakin yakin kalau dalam hati beberapa cowok ini seakan ngomong,
 '' ANJIRR, INI ORANG BELAKANG BERISIK AMAT. APALAGI ITU YANG PAKE JILBAB CREAM. ALAY. MANA TERIAKAN BISING. BAKAR AJA BAKAAARR. ''

Gue juga kesel dengan salah satu kameramen. Salah satu kameramen dari stasiun televisi lokal merekam adegan sorak-sorak gue dengan posisi mulut gue yang menganga lebar kayak terowongan Mina.
Fak. Reputasi gue jadi turun seketika. Gimana kalo gue dengan mulut menganga lebar yang sedang teriak histeris itu ditayangkan di siaran tv lokal? Apa kata para fans?



Suasana kembali tenang. Kali ini bukan tenang karena kami si suporter ricuh diseret seret security keluar ballroom. Ya nggak mungkinlah.
Kali itu suasana kembali tenang karena barisan para suporter dengan tiba-tiba dibom. Bising.

3 finalis cewek dan 3 finalis cowok mulai berbaris naik ke panggung. Dengan pakaian indah dan sunting yang terpasang di kepala mereka menambah kesan anggun pada tiga finalis Dara Riau.Uuh.
Tibalah giliran kakak gue yang akan menjawab pertanyaan dari Juri. Saat mengambil gulungan kertas, ternyata kakak gue mendapat gulungan kertas spesial. Biasanya rasanya macem macem sih. Ada yang keju cokelat, stroberi cokelat, pandan, rasa kacang juga ada.

Kakak gue mendapat pertanyaan dari Bapak Gubernur. Dengan seksama ia memahami pertanyaan dari si Bapak.
Kami semua kaget saat kakak gue menjawab pertanyaan dengan menggunakan bahasa Prancis.
  '' Bonjour à tous. '' Kakak gue membuka suara.
Serempak teman-teman suporternya yang juga satu les dengan kakak menjawab, '' Bonjour. ''

Gue yang celingak-celinguk kemudian ikutan bersuara, '' BUSU. ''
Berhubung gue telat ngucapinnya, itu menyebabkan suara gue jadi terdengar sendiri. Para penonton melemparkan pandangannya ke gue.
Dan gue baru sadar, '' Kenapa gue sok ikutan bahasa prancis? Busu itu apaan coba? Bahasa negara mana itu? APA ITU BUSU?? HUWAA GUE MALU. ''

Beberapa temen kakak mencolek gue.
  '' Lan, Busu itu apa? ''
  '' Busu itu bahasa prancis juga. '' Jawab gue asal.

Setelah para finalis menjawan pertanyaan, tibalah saat yang paling menegangkan. Penentuan dan penobatan Bujang dan Dara Provinsi Riau 2015.
Suasana mulai mencekam. Lampu mulai padam. Yang menyala hanya lampu panggung.
Dimulai dari juara 1, 2 dan 3 Bujang (cowok) dan kemudian beralih ke para Dara (cewek).

Gue menggenggam tangan Kak Ririn sambil berdoa dalam hati,
  '' Ya Allah, semoga kakak bukan juara tiga. Jangan juara tiga. ''

Juara tiga sudah diumumkan. Alhamdulillah ternyata bukan kakak gue. Hanya tinggal dua posisi lagi. 1 dan 2.
Dan gue merinding asli saat nama kakak disebutkan menjadi Dara Provinsi Riau 2015.
Gue langsung histeris dan memeluk Kak Ririn. Kemudian gue langsung berlari ke arah Ibu. Biasanya Ibu bakalan nangis kalau terharu gini.

Jangan tanya lagi seberapa heboh teriakan para suporter kakak.
HYAAAAA HUWAAAA
WAAAAA AAAAAAAAAAAAA
HYAAAAAAAAAAA
YEEEEEEEEE
HYAAAAA HYAAAAAAAAAAAAAAAAA

Ternyata bukan cuma kami saja yang berteriak ketika itu, para penonton lain juga ikut memeriahkan teriakan kami. Gue seneng. Pengen nangis.
Nggak sia-sia usaha ibu selama ini. Kekhawatiran ibu dan gue yang rela belum mandi, belum sikat gigi dan cuci muka harus ke toko jahit.

Selesai penobatan dan pemakain selempang, para penonton dan suporter berhamburan naik ke panggung. Minta foto.
Dan. Gue. Sama.Sekali. Nggak dapat kesempatan untuk berfoto dengan kakak.
Kakak gue cuma bilang,
  '' Lan, pegangin. ''
Gue disuruh memegangi sebuket bunga dari tangannya.

Rame bener. Gila.
Sementara kakak gue sibuk berfoto dengan Bapak Gubernur dan bapak ibu dinas, gue hanya duduk anteng di pinggiran panggung. Kayak orang dongo sambil memengan sebuket bunga. Berharap ada yang mengasihani gue dengan memberikan sisi snack kotak ke gue.


Bujang Revianda Windu - Dara Rahayu Kuntum Melati
Bujang Dara Provinsi Riau 2015
                                 





Selesai acara, kami pulang ke rumah sekitar jam 2 pagi. Tentunya nggak bersama kakak. Kakak masih ada kegiatan lagi di sana.


Beberapa menit sebelum buket bunga itu diserahkan kakak ke gue -_-



Perhatikan baik-baik. Lihat Bujang Revianda Windu.
Lihat warna cokelat muda yang menyembul di belakang bahu kanan bang Revianda.
Nah, itu gue. Itu jilbab gue yang duduk dipinggiran panggung.
Yoih, jilbab gue masuk ke foto dalam koran Riau Pos. Yuhuuuu





44 comments:

Komentarnya ditunggu kakak~

Adam, Ibu dan Kakak.

Hari ini tas kerja gue berat banget. Isinya makanan semua. Mulai dari biskuit, kopi mocha, cokelat, roti cokelat dan nasi uduk juga turut memenuhi isi tas gue.
Gila ya. Separah itu. Serasa mau piknik.

Duh pembuka postingannya gini amat. -__-

Berhubung kakak gue selama seminggu harus menjalani masa karantina sebagai finalis bujang dara, maka gue sebagai anak kedua harus mengganti posisi beliau untuk mengajar Adam. Adik bungsu gue. Anak kelas empat SD yang mesum parah.
Jujur, gue paling nggak bisa ngajari Adam belajar. Kerjaanya main mulu sih. Gue lagi nerangin dengan serius, eh dianya malah sibuk sama mainannya.
Nah, berhubung minggu ini Adam sedang ujian semester, mau nggak mau gue-harus-bisa-ngajarin-Adam. Sekalian belajar untuk ngajarin anak-anak kita kelak. Uhuk.

Pelajaran dimulai dari mata pelajaran PKN. Gue langsung membuka buku catatan dan latihannya. Wow. Emejing. Tulisannya parah. Gede-gede acak adul. Berantakan. Mau nangis gue.
Setelah menemukan beberapa soal, gue langsung melontarkan pertanyaan itu ke Adam.
Gue : Dam, jawab ya. Apa kepanjangan dari Sekda?
Adam : Sekuriti Daerah.
PINTAR SEKALEH. 
Gue: Kok sekuriti daerah sih? Sekertaris daerah yang benernya dek.
Adam: Kan di setiap daerah ada sekuriti. Di sekolah Adam ada sekuriti, di bank, di swalayan. Berarti sekda itu sekuriti daerah. 

YAOLOH GINI AMAT ADEK GUE. 


Setelah selesai membahas pelajaran PKN, gue beralih memberikan pertanyaan mengenai pelajaran IPS yang besok akan diujiankan juga.
Gue: Dam, apa perbedaan....
*Adam sibuk ngelipatin kertas untuk membuat pesawatan*
Gue: TARUH DULU NGGAK ITU! TARUH CEPAT! NANTI MAINNYA.
*Adam shock jantung*
Gue: Dam, denger. Apa perbedaan saat zaman batu dan zaman logam?
Adam: Kalo pas zaman batu, orang-orang pakainya batu. Nggak pakai logam. Kalo zaman logam, orang-orang pakainya logam, nggak pakai batu. 
Gue: Enggak gituuuuuuuuu jugaaaa

MAU DIRAJAM, TAPI GUE SADAR INI ADEK GUE SENDIRI. -__-


Usai membahas pelajaran IPS dengan memberikan beberapa pertanyaan dan penjelasan, gue kemudian beralih ke pelajaran IPA. Gue membuka buku paket IPA milik Adam. Membaca beberapa pertanyaan dan langsung saja gue melontarkan pertanyaan untuknya.
Gue: Dek, denger nih ya. Garam berasal dari?
Adam: Dari air laut.
IYAK, BENER. ADIK GUE PINTER. CAKEP. SIAPA DULU KAKAKNYA,.
Gue: Iya bener.
Adam: Wam, kenapa air laut bisa jadi garam?
Gue: Iya, air laut dijemur di bawah sinar matahari. Trus jadi garam.
Adam: Oh berarti kalo air laut lama-lama kena panas matahari, bisa jadi garam?
Gue: Iya cin.
Adam: Semuanya?  Air laut sebanyak itu Wam sampai ke dalam-dalam dasar lautnya? Trus nanti kalo semua air lautnya jadi garam, kita nggak bisa main ke laut lagi dong.
Gue: asdfghjkll;''./


Betewe, gue di rumah dipanggil Uwam oleh adik. Nggak tau deh kenapa bisa-bisanya mereka memanggil gue dengan panggilan itu. Uwam.
Hmm mungkin kepanjangannya, Untuk Wulan Manis.
Atau mungkin, Untuk Wanita Muda.
Untuk Wajah Merona. Untuk Waria Macho. Untuk Wanita yang Merindukanmu. Untuk Wanita yang Mecintaimu. Untuk Wanita yang Mengharapkanmu. Untuk Wanita yang mendoakanmu. HALAH. BAPER.



Masih mengenai pelajaran IPA, gue kembali memberikan pertanyaan berdasarkan soal yang ada di dalam buku Adam.
Gue: Hewan pemakan daging disebut apa Dam?
Adam: Karnivora.
Gue: Iya betul. Mantap. Kalo hewan pemakan daging dan tumubuhan?
Adam: Emm herbi.. eh Omnivora.
Gue: Iya betul lagi.
Adam: Kalo manusia apa Wam?
Gue: Kalo manusia termasuk kedalam golongan Omnivora cin. Manusia juga pemakan tumbuhan dan hewan.
Adam: SALAH. Kalo manusia Nasivora. Kan manusia makannya nasi.

PERI GUT.

Entahlah gimana Adam pas ujian besok. Kalo nilainya bagus berarti itu berkat gue, sang kakak yang imut dan cerdas. Tapi kalo nilainya jelek, itu pasti karena dia nulis jawaban NASIVORA. -__-


***


Beda halnya dengan Adam yang bikin gue kesel. Ibu malah lesu mikirin kakak beberapa hari ini. Kakak yang mulai hari Minggu kemarin udah masuk ke dalam karantina selama seminggu itu membuat ibu terus-terusan mikirin kakak.
Setiap pagi ibu selalu nyempatkan diri untuk nelfonin kakak. Nanyain gimana kegiatannya, kesehatannya. Dan kemarin kakak gue menjawab kalau kesehatannya turun. Rada mual. Itu juga dialami oleh finalis lainnya. Mungkin karena terlalu padatnya jadwal kegiatan, jadi waktu istriahat para finalis kurang. Akibatnya jadi kurang fit. 
Meskipun dari rumah kakak sudah dibekali vitamin peningkat daya tahan lama, errr maksud gue daya tahan tubuh, tapi tetep saja ibu khawatir dan cemas dengan keadaan anaknya di sana.

Bagi gue, salah satu keuntungan kakak gue nggak ada di rumah adalah nasi di rumah nggak cepet habis. Ruang tamu bersih. Nggak ada sepatu maupun sendal yang numpuk di pojokan pintu.
Kakak gue mah suka gitu, suka banget naruh sepatu sembarangan. 

Tadi malam gue dengan leluasa tidur-tiduran di kamar kakak. Kapan lagi coba? Kapan lagi tempat tidurnya bisa sebersih ini. Biasanya mah, pasti ada tumpukan baju yang menggunung di atas tempat tidurnya. Gue aja ngeliatnya kayak pedagang obral baju. 
Gue tiduran sambil mainin hp di kamar kakak. Sambil dengerin lagu.
Dan gue teringat dengan masa dimana waktu itu gue juga berada jauh dari ibu untuk mengikuti lomba. 5 hari doang sih.
Sebuah pertanyaan timbul di kepala gue. Apa waktu gue lomba dan jauh dari ibu selama 5 hari, ibu juga khawatir dengan gue? Secemas itu? Apa itu yang dirasakan semua orangtua kepada anak-anaknya saat anaknya jauh darinya?

Mungkin jawabannya iya. 

Waktu gue lomba selama 5 hari, kedekatan gue dengan orangtua benar-benar terasa. Ayah yang gue kenal sebagai sosok yang cuek di rumah, terasa berbeda. Dari awal gue berangkat sampai di penginapan selama 5 hari, Ayah tak hentinya mengirim sms ke gue. Nanya lagi apa, udah makan belum, udah belajar, dll. Kita bener-bener kayak orang pacaran.
Belum lagi ibu yang tiap malam nelfonin gue, tapi selalu dan selalu saja nggak pernah gue angkat. Jadwal belajar untuk lomba ketika itu sangat padat. Kadang juga sampai jam 1 dan 2. Alhasil selesai belajar gue langsung bobo imut. Nggak ada kesempatan megang hp.
Sampai pada suatu hari, kesehatan gue down. Gue nangis nelfonin ibu di teras lantai 2 penginapan. Di samping jemuran handuk. Iya, gue ingat betul itu.
Gue nangis. Gue capek, pusing, mual. Dan selama 5 hari itu sangat minim sekali waktu untuk istirahat. Gue nangis sesenggukan. Au dah suara gue kayak apa. Hancur kedengarannya.

Besok harinya, saat di dalam mobil seusai lomba, gue mendapat sms masuk. Sms dari ibu. Gue membuka pesannya tersebut dan membacanya.

  '' Lan, udah selesai lombanya? Kapan pulang? Ibu rindu. ''


Ada air yang siap jatuh membendung di ujung mata. Ketika itu, gue bener-bener nangis sambil memandang ke luar kaca. Berusaha mengedarkan pandangan ke arah lain agar tidak ada teman dan guru yang tau bahwa gue sedang menangis. 
Iya, gue nggak bisa jauh dari ibu dan ayah. Setiap pergi jauh, setiap kali berada jauh dari rumah, gue selalu rindu dengan suasana rumah, suasana ngumpul dengan keluarga. Uuh~
Gue baru menyadari betapa khawatir dan sebegitu cemasnya orangtua saat berada jauh dari anak. 

Hmm. 
Ya semoga saja kekhawatiran ibu berujung bahagia. Semoga aja kakak gue terpilih sebagai Dara Pekanbaru di tahun ini. Amin.

Gudlak my sister, Rahayu Kuntum Melati :))
Jaga kesehatannya, lakukan yang terbaik. I'll see u on Sunday :)





Bujang dan Dara Pelalawan 2015










49 comments:

Komentarnya ditunggu kakak~

Hai, Cinta Pertama

Ada yang ingat kapan pertama kali jatuh cinta?
Kata orang cinta pertama itu enggak bisa dilupakan. Bener nggak sih?
Meskipun pada kenyataannya cinta pertama kita belum tentu menganggap kita sebagai cinta pertamanya. Karena dia pasti punya cinta pertamanya sendiri.



                                       




Jujur. Gue sendiri merasakan cinta pertama di usia 8 tahun. Gila ya. Gue nggak habis fikir. Anak kelas 3 esde bisa-bisanya mengalami jatuh cinta.
Gue jatuh cinta dengan ketua kelas di kelas gue sendiri. Namanya Fariz. Beneran deh, ini nama asli. Bukan nama samaran.
Fariz bersuku Aceh. Badannya gagah, tampan rupawan. Kepribadiannya juga wibawa banget. Ngomong seadanya. Tipe suami-able gitu. Duuh.
Gue sering kali melirik-lirik dia di setiap kali ada kesempatan. Ada bahagia yang tak terungkap di dalam hati.

Sampai pada suatu hari yang di mana gue mengingat jelas hari bersejarah ketika  gue jatuh cinta untuk yang pertama kalinya.
Pagi itu pelajaran matematika sedang berlangsung. Sialnya, gue lupa membawa penggaris. Padahal beberapa hari sebelumnya, ibu guru udah mengingatkan siswanya untuk membawa penggaris. Soalnya pelajaran kali itu udah masuk ke bab bangun ruang.
Selesai ibu guru menerangkan di papan tulis, seperti biasa anak-anak lainnya sibuk mencatat kembali pelajaran dari papan tulis. Dan gue mendadak bengong saat menyadari bahwa gue tidak membawa penggaris.
Daripada enggak nyatat, akhirnya gue memberanikan diri bertanya ke teman-teman yang posisi duduknya dekat dengan gue.

  '' Temen-temen, ada yang bawa penggaris nggak? ''
Satu kelas hening. Nggak ada yang respon. Gue dikacangin. Parah.
Gue kembali  membuka mulut.

  '' Ada yang bawa penggaris nggak? Pinjem dong. ''

Belum sempat gue menyelesaikan omongan gue, sebuah penggaris hadir tepat di depan gue.
  '' Nih, ''

Seorang lelaki mengulurkan penggarisnya ke arah gue. Gue terkejut. Fariz tersenyum seraya menganggukkan kepalanya ke gue.
Gue diem.
Waktu seakan berjalan lambat. Ada jeda yang membuat jantung gue berdegup cukup kencang. Nafas pun ikut tertahan.

 Ada gejolak yang tak biasanya gue rasakan saat berada dalam situasi saat ini. Ada rasa yang beda. Lain.


Keringat dingin mulai mengalir di sekujur tubuh.

  '' Ini, pakai aja. '' Fariz menyadarkan gue.
  '' Ehh iya, iya. Pinjam dulu ya. ''

Sejak saat itu, gue menyukai Fariz.
Fariz yang berhasil membuat gue jatuh cinta untuk yang pertama kalinya. Kedengarannya memang aneh, bagaimana mungkin anak berumur 8 tahun bisa mengalami jatuh cinta dengan lawan jenisnya? Bagaimana mungkin cinta bisa datang tiba-tiba di usia yang semuda itu. Masih terbilang kanak-kanak.

Tidak hanya itu. Gue juga sering sekali memperhatikan buku absen yang ada di atas meja guru. Memperhatikan deretan nama absen sesuai abjad. Yang dimana nama gue dan nama Fariz hanya terpisah oleh satu nama siswi lain.

Muhammad Fariz
Ningsih
Rahayu Wulandari


Ada senyum yang perlahan mekar di ujung bibir saat jari tangan gue menyentuh deretan nama gue dan nama Fariz.
Ah, andai saja Ningsih tidak ada di kelas ini. Pasti nama gue dan Fariz udah deketan.
Gila. Segitu jatuh cintanya gue dengan lelaki itu.

Semakin hari, gue semakin menyukai sosok Fariz. Sikapnya dalam memimpin kelas, mengatur kelompok, mengatur barisan. Hanya satu kata yang terlintas di benak gue. Gagah.
Naik ke kelas 4 SD, gue tidak lagi sekelas dengan Fariz. Meskipun begitu, setiap jam istirahat gue selalu menyempatkan diri untuk melihatnya dari kejauhan. Melihat punggungnya yang sedang berjalan di paving block halaman sekolah. Melihatnya masuk ke kantor guru, bicara dengan guru, tertawa dengan teman-temannya. Tatapan matanya teduh.

Hingga sampai naik ke kelas 6 SD, gue-masih-menyukai-Fariz.
Gue menyukai saat di mana gue bisa memperhatikan raut wajahnya secara jelas. Ketika nomor ujian akhir murid udah keluar dan terpampang di papan info sekolah, rasanya gue ingin melompat girang saat mengetahui posisi duduk gue tepat di belakang posisi duduk Fariz. Gue juga bingung, kenapa bukan Ningsih yang berada di belakang posisi duduk Fariz. Dan akhirnya gue tau, ternyata posisi duduk sengaja dibentuk zig-zag sesuai nama di buku absen. Syukurlah. Setidaknya dengan posisi zig-zag itu, gue bisa berada dekat dengan lelaki ini. Lelaki yang gue kagumi 3 tahun lamanya.


Ada satu momen yang sampai saat ini masih teringat jelas di benak gue di saat hari ujian akhir berlangsung.
Seperti biasa, setiap kali selesai mengerjakan soal ujian, gue dan Fariz selalu berbicara tentang apa saja. Saat itu obrolan yang paling gue ingat mengenai musibah tsunami di Aceh. Berhubung Fariz adalah orang Aceh, gue selalu bertanya tentang kejadian itu, tentang saudaranya di sana.
Gue selalu senang ketika bisa berbicara dekat dengan sosok Fariz.

Setidaknya dengan obrolan inilah, gue bisa berada dekat sebagai lawan bicaranya. 


Gue juga masih ingat, saking ingin mengobrol dekat dengannya gue pernah membuka pembicaraan dengan kalimat,
  '' Riz, kamu tau nggak. Itu A'a Gym nikah lagi loh. ''
  '' Eh, masak iya? ''
  '' Iya, bla bla bla  ''

Bayangin. Anak kelas 6 SD udah ngomongin tentang A'a Gym yang melakukan poligami. Waktu itu acara gosip di tv memang lagi seru-serunya ngebahas tentang A'a Gym yang berpoligami.
Habisnya, gue nggak tau lagi mau bahas apa dalam obrolan. Gue hanya ingin terus berada dekat dengannya. Meskipun hanya dengan melalui obrolan.



Hingga di hari ujian kedua, gue mendadak kesel dengan Fariz. Fariz tidak sengaja mencopot kartu ujian gue yang tertempel di atas sudut permukaan meja. Di tiap-tiap meja memang tertempel kartu ujian masing-masing siswa. Dengan tujuan agar siswa bisa menyesuaikan posisi duduk dan kartu ujian yang asli sebagai pegangan.
  '' Sorry, aku nggak sengaja. ''
  '' Kamu sih, lihat tuh kan kartu ujianku jadi lepas. Ujungnya juga robek. '' Gue manyun. Sok imut. Jiji.
  '' Iya, aku minta maaf. Blablablaaa.. ''

Hari itu, tidak ada lagi obrolan seusai ujian yang biasa kami lakukan sambil menunggu jam ujian berakhir. Tidak ada lagi membahas tsunami maupun A'a Gym yang menikah lagi.
Setiap kali Fariz menoleh ke belakang untuk mengajak gue mengobrol, gue selalu membuang muka. Diem. Ngambek.
HAHAAHAA KOK GUE GELI YA NGETIK DI BAGIAN INI. NGEBAYANGIN GUE SOK-SOK NGAMBEK.

  '' Lan, maaf. Kan aku nggak sengaja. '' Fariz memutar posisi duduknya. Gue tetep diem sambil melempar pandangan ke arah lain.

Keesokan harinya, gue yang sedang diam duduk manis di kursi terkejut dengan kedatangan Fariz yang terlihat tergesa-gesa. Gue mau nanya sih, tapi gue sadar. Kan gue masih dalam kondisi 'ngambek'.
Fariz meletakkan tas punggungnya kemudian mengeluarkan kotak pensil hitamnya. Kemudian Fariz berbalik arah menghadap gue yang berada di belakangnya.
Dari kotak pensil hitam itu, Fariz mengeluarkan sebuah lem kertas. Dengan tanpa bicara apapun, Fariz langsung saja mengoleskan lem kertas itu ke kartu ujian gue dan menempelkannya kembali di atas meja. Gue sama sekali nggak melihat jelas tangan Fariz yang berusaha menempelkan kembali kartu ujian gue.
Dari posisi seperti ini, gue hanya-ingin melihat raut wajahnya yang tampak serius dan berhati-hati menempelkan kertas tersebut.
  '' Udah kan? '' Fariz tersenyum sambil menutup kembali lemnya.
Gue tersenyum dan mengangguk. Masih nggak menyangka Fariz sebegitu pedulinya dengan gue. Berbeda dengan anak-anak lainnya.

Gue sebenernya mau ngomong,
'' Lemnya masih di pake nggak? ''
Dan membayangkan Fariz yang akan menjawab,
'' Enggak. Memangnya buat apa? ''
Trus gue dengan imutnya membalas,
'' Buat ngelem hati aku dan hati kamu. Biar lengkeeeet terus. ''

Trus gue dilempar lem.

Sayangnya, percakapan itu nggak terjadi. -__-

Setelah kartu ujian gue kembali melekat di atas meja, gue mulai membuka mulut saat Fariz mengajak gue mengobrol.
Ada perasaan yang sulit untuk diungkapkan saat gue mengingat kejadian seperti itu.
Sebegitu tanggung jawabnya dia di usia anak sekolah dasar ketika itu. Gue salut. Dan sikap-sikap seperti itu yang menjadi alasan mengapa gue bisa menjatuhkan cinta kepada sosok seorang Fariz.
Hampir setiap hari gue selalu berdoa dengan kalimat,
''Ya Allah semoga aku lulus SD. Semoga diterima di SMP 1. Semoga hasil ujiannya bagus dan kertas ujiannya nggak ada masalah. Semoga Fariz bisa jadi suamiku. Amin. ''

Nama Fariz, selalu ada dalam setiap rentetan doa gue.


Sejak lulus dari sekolah dasar, gue dan Fariz masuk di SMP yang berbeda. Begitu juga saat di SMA.
Gue sudah jarang bertemu Fariz.
Pernah suatu kali gue bertemu dengannya. Ingin sekali rasanya menyapa teman lama, tapi gue begitu takut untuk memulai.
Setiap kali berjumpa, gue dan Fariz selalu bertatapan beberapa detik sebelum pada akhirnya kami sama-sama sibuk dan kembali pada kegiatan masing-masing. Satu hal yang gue ingat, tatapan matanya masih sama seperti yang dulu. Teduh. Menyejukkan hati.
Tahun lalu, gue juga sempat bertemu dia saat di bulan puasa. Gue yang ketika itu sedang berburu takjil  di pinggir jalan selalu menyempatkan diri melihat jalanan yang macet. Nggak tau kenapa, gue suka macet. Saat berada dalam mobil, gue juga sering memperhatikan korban macet dari balik kaca mobil.
Gue suka memperhatikan orang-orang yang terjebak dalam situasi macet meskipun gue sama sekali tidak berada di dalam kerumunan itu.
Gue bisa melihat raut wajah, gerutuan, omelan dari sikap masing-masing pengguna kendaraan. Gue juga bisa melihat sikap sabar dari beberapa pengendara motor dalam menghadapi situasi macet kala itu.
Dan pada detik itu, tanpa sengaja tatapan mata gue berhenti pada seorang pengendara motor. Fariz.
Lelaki itu...
Entah bagaimana bisa seketika gue menatap Fariz, lelaki itu seperti sadar dan juga menatap gue di tengah-tengah macet yang dialaminya.
Ada beberapa detik saat mata gue dan Fariz saling bertemu. Tak ada obrolan seperti yang kami lakukan saat 6 tahun silam. Tak ada sapaan, senyuman juga tegur sapa.

Mata yang seolah berbicara.


Percaya atau tidak, sampai saat ini gue masih sering menjadi stalker Fariz. Gue hanya ingin tau bagaimana tentang dia, bagaimana sekolahnya, kuliahnya juga tentang pacarnya.
Gue juga sering membaca komen-komenan instagramnya bersama teman-temannya. Tentang ia yang saat itu mendaki gunung, liburan ke pantai, jadi seorang maba, berlebaran dengan keluarganya dan banyak lainnya.

Karena gue hanya ingin tau tentang bagaimana keadaan dia setiap waktu.



Hai cinta pertama.
Sepertinya kamu tidak tau dan tidak akan pernah tau bahwa kepada kamulah aku menjatuhkan cinta untuk yang pertama kalinya di hidupku. Pemujamu dalam diam.
Kepada sosokmulah aku dapat merasakan bagaimana rasanya menyukai seseorang. Dengan hati yang bercampur aduk, dengan hati yang tidak menentu setiap kali aku melihatmu.
Hai cinta pertama.
Aku sangat berterimakasih kepadamu. Dengan adanya kamu, aku menjadi tau bagaimana rasanya guncangan degup jantung dengan skala besar. Aku menjadi tau bagaimana sejuknya hati saat berbicara denganmu. Dengan memperhatikan tekstur wajahmu, lekukan lesung pipimu, setiap inci helai rambutmu.
Hai cinta pertama.
Sukses selalu dalam mewujudkan impianmu :))



64 comments:

Komentarnya ditunggu kakak~

Ujian, Dosen dan Hari yang Apes


Yeay.
Akhirnya beban yang numpuk dan selama ini terus membayangi di pikiran gue udah berkurang.
Tanggal 6 kemarin, alhamdulillah gue sudah selesai mengikuti ujian semester 1. Perasaan baru aja masuk kuliah, eh sekarang udah ujian aja. Dan sekarang gue udah masuk ke semester 2. Yuhuu.
Betewe, di kampus gue 1 semester itu sama dengan 3 bulan. Jadi ya gitu, ujiannya cepet. Bayar uang semesternya juga cepet. Dompet juga cepet menipisnya. -__-

***

Pagi sekitar jam delapan kurang lima belas menit, gue sudah sampai di kampus dengan pakaian putih-hitam. Memang gitu ya penampilan mahasiswa ujian. Lebih keliatan kayak pelamar kerja yang siap diinterview.

Betewe, aku udah siap loh diinterview mama kamu. Uhuk.

Ujian berjalan lancar, tenang, damai dan sentosa.
Pengawas ujian gue kali ini, seorang bapak-bapak yang sepertinya sudah berkepala 3. Kurus, tinggi dan panjang. Hmm.
Maksudnya, kakinya yang panjang. Kan badannya tinggi. Ahelah.

Ada satu pertanyaan yang terus-menerus gue pertanyakan dari awal ujian sampai kelar dan keluar kelas.
Pertanyaannya adalah,
  '' KENAPA SIH MEJANYA KECIL?? KENAPAAH? ''

Gue malu.
Bolak-balik barang-barang gue jatuh ke lantai gara-gara mejanya kecil. Pena, soal ujian, lembar jawaban, headset. Mungkin alangkah lebih baiknya gue berterimakasih kepada Fira.
Soalnya setiap barang gue jatuh, gue selalu ngomong,
  '' Fir, tolong kertas kakak dong. ''
  '' Fir, pena kakak dong. ''
  '' Fir, cariin pacar dong. ''

Cuma Fira yang rela bungkuk-nunduk untuk ngambil barang-barang gue yang jatuh. Jangan salahkan gue, salahkan meja. Mejanya kecil.
Ujian berlangsung khidmat, sampai masuk di ujian Agama. Gue dengan songongnya nulis satu ayat di kertas jawaban. Sampai akhirnya Fira mencolek gue.
  '' Kak, itu kok ayatnya pendek banget. ''

Dan setelah gue cek. Ternyata masih ada dua baris ayat lagi yang ketinggalan. Gue lupa nulisnya. Daripada nyoret kertas, gue memilih untuk meminta kembali kertas lembar jawaban ke depan.
  Gue: Pak, saya bisa minta pin bbm Bapak?
  Dosen: Untuk apa?
  Gue: Untuk ngeliat dp bbm Bapak?
  Dosen: Emang untuk apa?
  Gue: Untuk nunjukkin ke ibu, kalau ini foto calon menantunya.
Asoy!

ENGGAK DENG.  ENGGAK GITU.
BENERAN.

 Gue: Pak, saya bisa minta kertas jawaban lagi nggak pak?
 Dosen: Oh iya silahkan.

Pas gue maju ke depan.
Dosen: Rumah kamu di mana?
Gue: Anu Pak, di sana. Di jalan Datuk Engku Rajalela Putra.
Dosen: Oohh *manggut-manggut*

Asli. Nama jalan di rumah gue memang sepanjang itu. Tau aja gue suka yang panjang-panjang.
Pocky Stick maksudnya. Kan panjang gitu.

Gue balik lagi dan langsung mengerjakan soal ujian. Sampai di akhir jam ujian Agama habis dan pergantian ke ujian lain, gue baru nyadar akan satu hal.
Gue lupa ngisi data diri di kertas lembar jawaban. Gue langsung buru-buru maju ke depan lagi dan pelan-pelan minta izin ke pak dosen.

Gue: Pak, maaf pak. Saya bisa minta kertas ujian saya lagi? Saya belum isi nama dan data diri pak.
Dosen: Kamu enggak usah nulis data diri, karena saya udah tau segala tentang diri kamu.

EEAAAKK
ENGGAK DENG.

Dosen: Oh, iya iya silahkan ambil aja.
Gue langsung aja buru-buru nulis data diri di lembar jawaban di meja dosen. Saat gue lagi serius ngisi data diri, eh si pak dosen nanya ke gue.

Dosen: Rumah kamu yang di jalan Datuk Engku Rajalela Putra itu dimananya? Deket mana ya?
Gue: Di deket perumahan GSA, pak.
Dosen: Oohh *manggut-manggut lagi*


Anjir. Ini dosennya niat amat nanya sampai detail.


Setelah ujian agama selesai, gue masuk ke ujian IAD. IAD itu kepanjangan dari, Izinkan Aku Didekatmu. Assooyy..

Di sela-sela pergantian ujian itu, gue sempat mengobrol-ngobrol ke teman dengan posisi membelakangi papan tulis. Ngobrol ngalur-ngidul. Sampai akhirnya seorang temen nyahut,
  '' Lan, lihat tuh di belakang kamu. ''
Perasaan gue nggak enak. Gue membalikkan badan ke posisi semula.

FAQ. Bapak Dosen udah berdiri di depan gue sambil nyerahin kertas absen.Nyuruh gue ngisi absen.
Gue sedikit shock saat melihat dosen ngeliatin gue tepat di depan gue. Bukan apa-apa. Senyum semriwingnya itu nggak nahan bangeeet. -___-'
Gue cengengesan. 

Gue udah membayangkan kayak adegan yang di tipi-tipi.
Cowoknya ngasih surprise. Pas ceweknya balik badan, eh si cowo udah bawa bunga gitu untuk ceweknya. Kan so sweet surprisenya.
Lah ini kagak, pas gue balik badan. Si Dosen malah bawa kertas absen untuk gue isi.
Nggak so sweet ih.


Dari jam 2 sampai jam 5 selesai ujian, gue ujian dengan ditemani lagu Mytha Lestari-Aku Cuma Punya Hati.
Nggak kebayang itu lagu udah berapa kali gue replay. Yang liriknya:
  Kamu berbohong aku pun percaya. Kamu lukai ku tak peduli. 
  Coba kau pikir, di mana ada cinta seperti ini.

Pokoknya itu lagu, gue bangetlah. Huaahaa :'D

Eh iya, buat lu makasih yak. Udah bantuin gue belajar, ngerjain kisi-kisi. Bangunin gue bergadang jam satu buat belajar. Ya walaupun belajarnya 15 menit, trus sisanya gue tidur. HAHAHAA ENGGAK DENG.
Makasih. :)



***

Di hari ujian itu, gue juga apes banget.
Yang pertama gue kehilangan helm di jam istirahat siang. Otomatis gue nggak bisa keluar dari area kampus kalo nggak pake helm. Mana gue laper juga.
Heran deh, siapa sih yang mau nyolong helm gue. Fans? Haters? Duuh
Padahal helm yang gue pake, helm sejuta umat.
Daripada gue nggak makan siang, trus sakit trus meninggal trus masuk neraka trus disiksa. Akhirnya gue melakukan sebuah aksi, yaitu aksi borrow silent-silent. Yang artinya: Pinjam diam-diam.
Gue meminjam helm yang ada di sebelah motor gue. Helm orang. Au dah punya siapa.

Nggak hanya itu, sesampainya gue keluar. Gue panik. Handphone gue hilang.
Gue juga heran nih, siapa coba yang mau nyolong handphone gue. Handphone standar juga. Nokia 105. Iya, hp yang ada senternya itu. Yang bisa nyenter orang pacaran disemak-semak belukar tiap malam minggu.
Hp gue hilang. Gue panik.
Bukan kenapa-kenapa. Itu hp juga masih ada pulsanya.Kalo nggak salah masih ada seribu dua ratus tujuh puluh tiga rupiah. Lumayan bisa buat miskol-miskol gebetan.
Gue panik bukan main.
Singkat cerita, ternyata hp gue ada di temen yang duduk di belakang gue. KOK BISAA?? -__-

Entahlah. Pokoknya aku sayang kamu.

Tengkiyu.

40 comments:

Komentarnya ditunggu kakak~

Masalah Selera



 Dari kecil gue selalu nggak pernah punya pendirian. Iya. Serius. Kalau kamu serius nggak? Kalo kamu serius, lamar aku dong.

Dari kecil gue anaknya pendiem. Kalem. Nggak percaya? Peluk deh coba~
Berhubung gue dan kakak hanya memiliki selisih umur 1 tahun, dan itulah yang menyebabkan gue dan kakak lebih terlihat seperti anak kembar. Iya kembar kalo make baju samaan.
Dulu ibu sering banget membelikan gue dan kakak barang yang sama. Baik warna dan ukurannya. Tapi lama-kelamaan mulai kelihatan jelas kalau gue dan kakak memang bukanlah anak kembar.
Lah iya, wong kakak gue badannya gede, montok, tinggi, cakep. Beda dengan gue. Yang kecil, cungkring, pendek, acak adul. Saking cungkringnya, kena semburan asap knalpot gue bisa terdampar. Sedih.
Selain perbedaan ukuran tinggi dan berat badan, gue juga memiliki selera yang aneh saat kecil.
Gue-kurang-pede.

LAH YAIYA. LU JELEK NGAPAIN PEDE. HIH





NGGAK GITU JUGA. -__-


Gue masih ingat saat kakak gue ikut lomba fashion show. Bisa dikatakan, jiwa feminim kakak gue kuat banget. Waktu kecil udah berani jalan lenggak-lenggok. Nggak tau deh itu karena berani atau puber pada usia 4 tahun.
Saat kakak gue fashion show, gue, ayah dan ibu cuma jadi penonton.
Selain itu, tampilan rambut gue dan kakak juga berbeda. Sewaktu kecil kakak gue selalu ngotot nggak mau potong rambut supaya rambutnya bisa dikucir lucu-lucu gitu.
Sedangkan gue? Selalu pasrah dengan keadaan. Sejak awal masuk sekolah, rambut gue selalu dipotong pendek model bob.
Gue si anak yang tersakiti. Sedih amat.

Tapi gue santai-santai aja. Pasrah-pasrah aja. Nggak percaya lagi? Peluk deh coba~

Gue nggak punya pendirian dalam memilih. Dan itu berlaku sampai sekarang. HUWAHAHAA

Dalam hal penampilan gue juga masih meminta saran dari ibu. Beli baju juga masih minta ditemenin ibu.
Beli sepatu apalagi.
Sampai saat gue membeli sepatu, gue masih akan bertanya,
   '' Bu, ini bagus nggak? Warnanya gimana? Norak ya? ''
Dan ibu cuma ngejawab satu kalimat yang gue sudah hafal betul.
  '' Ya terserah loh. Selera anak muda kan beda dengan orangtua. Anak muda itu warnanya yang ngejreng biar kelihatan cerah. ''

Secerah masa depan kita bedua. HASEKK.

Biasanya belanja dengan Ibu akan berujung dengan percakapan,
  '' Cepet Lan pilih yang mana. Capek muter-muter. ''
  '' Duuh yang mana ya Bu, bingung. ''
  '' PILIH AJA! CEPET! ''
  '' Ibu aja deh yang pilih. ''
  '' Udah yang itu aja. ''

Selesai dipilih. Bayar. Barangnya dibungkus. Bawa pulang.

Bener-bener nggak punya pendirian banget kan gue. Milih barang yang bakal gue pake aja lama banget.
Milih baju apalagi. -__-

Tapi kalo memilih kamu, uuuh pendirian aku udah kuat banget.

Gue baru tau kalo gue sedari kecil suka ngambekan. Ya wajar sih, namanya masih anak-anak. Apalagi anak kecil kiyut nan imut kayak gue. Maklum aja sih ngambek. Ngambek gemes-gemes lucuuu gitu. Kayak minta digampar.

Lagi ngambek, tetep ae kena jepret -_-'


Sendirian aja naik odong-odongnya? Jomblo yaa..
HestegOdong-odongPribadi.
HestegHorangKayah




Kakak gue selesai lomba fashion show.


Dan gue baru sadar, kalau akhir-akhir ini gue sudah jarang belanja dengan ibu. Ibu lebih memilih belanja dengan kakak. Sedangkan gue ditinggal di rumah sendirian. Di tinggal itu sakit gaes. Periih.
Biasanya setelah ibu seharian belanja dengan kakak, tau-tau pas pulang ibu pasti membelikan gue sesuatu.


Pernah suatu kali gue dibelikan dompet. Sebagai seorang ibu, pasti tau dong ya gimana suka anaknya. Ya seenggaknya yang berbau remaja gitu.
Lah Ibu malah beliin dompet dengan warna kuning. Mending gold, ini bener-bener kuning.
Norak banget. Memang sih gue nggak punya pendirian dalam hal memilih, tapi nggak warna kuning norak juga. -__-
Gue galau. Sedih. Lari masuk kamar.

Beberapa waktu kemudian, ibu kembali membelikan gue baju. Kali ini kelihatannya hasil belanja ibu bersama kakak dan yang jelas ''tanpa gue'' itu berhasil. Dari warnanya gue suka. Nggak norak, nggak cerah banget. Warnanya gue banget. Kalem. Uhuk.
Dan begitu gue pakai, TARAAAAA
Sumpah, itu baju ribet amat. Pake sayap-sayap segala di kanan-kiri kayak softek aja. Iya, gue tau gue itu bidadari tanpa sayap. Tapi nggak gini juga dong. Ribet amat bajunya. Belum lagi banyak tali-yali yang menjuntai di baju itu. curiga, jangan-jangan ini misi ibu dan kakak agar gue terlilit tali-tali baju, trus tercekik. Habis, jadi anak nyusahin mulu.
Akhirnya, gue menghibahkan baju itu ke kakak.
Gue sedih. Merana.
Lari ke kamar mandi.
Nangis di bawah shower.


Dan beberapa bulan kemudian, ibu dan kakak pulang berbelanja. Perasaan gue udah nggak enak nih.
Ibu menyodorkan sebuah sling bag ke gue. Modelnya keren. Gue suka. Ta-tapi warnanya nggak gini juga. Warna putih bergari-garis yang 'nggak-gue-bangetlah'.
Alhasil, sampai sekarang sling bag itu nggak pernah gue pakai. Masih tersimpan rapi di lemari. Seperti kenangan kita. Yang masih tersimpan rapi di dalam hati. Hmm.

Baru saja 2 minggu yang lalu, ibu dan kakak pulang berbelanja sore itu 'tanpa gue'. Sepulang ibu berbelanja, ibu memberikan gue rok berwarna pink. Oww feminim sekali dan gue beneran nggak suka dengan warna ngejreng itu. Huwaaa
Dan lagi-lagi kakak gue kembali beruntung. Gue menghibahkan rok pink itu ke kakak.

***

Sampai pada suatu hari, gue mencoba mencari situs online shop. Dari sekian banyak situs olshop yang gue temukan, gue tertarik dengan salah satu online shop. Yaitu, ZALORA.
Gue nggak perlu lagi susah-susah keliling di pusat perbelanjaan dengan Ibu. Nggak perlu kesel lagi saat ibu membelikan barang yang 'nggak gue banget'. Meskipun gue tau, sebenernya itu dikarenakan gue sendiri yang susah memilih barang.



Dengan adanya Zalora, gue tinggal duduk anteng di rumah sambil membuka website dan memilih produk yang menurut gue pas dengan selera gue.
Zalora akan mengadakan diskon besar-besaran di Hari Belanja Online Nasional 2015. Atau disingkat dengan HarBolNas.
HalBolNas ini bertepatan pada tanggal 12 Desember 2015.
Situs fashion ini juga bakal menawarkan diskon dan promo menarik dengan diskon 50 %. Produknya juga udah pasti berkualitas.

Proses pemilihan produknya juga nggak ribet.
Cukup mudah dan praktis dengan cara bayar yang bisa kita tentukan sendiri. Bisa melalui Internet Banking dan juga melalui Cash On Delivery (COD). Kemanan transaksi juga udah jadi keunggulan tersendiri dalam berbelanja Online di Zalora.

Gue enggak perlu repot memilah-milih, muterin pusat perbelanjaan bareng ibu sampe encok. Enggak perlu lagi ngambek, manyun nangis di bawah shower saat ibu memberi gue barang yang nggak masuk dalam kategori selera gue.


Sembilan hari lagi menuju HarBolNas.
Yuk rame-rame kita meriahkan HarBolNas!



CIAOO~


57 comments:

Komentarnya ditunggu kakak~