Itu Perempuanmu

Rabu, September 02, 2015
Itu perempuanmu yang terlihat berdiri di ujung gang kecil.
Bergelut dengan gelap yang pekat. Bersemayam pada dinginnya malam.
Dia adalah perempuanmu yang paling cantik.
Tersenyum licik kepada setiap lelaki bersampul jas mewah.
Di setiap lekuk tubuhnya, telah tercatat puluhan bahkan ratusan sentuhan yang tersemat.
Tercatat dengan sangat lekat tanpa ada yang terlewat.

Itu perempuanmu yang tertawa manis dengan suara khasnya.
Aroma malam yang selalu mereka rindukan kini telah membaur dengan keringat nikmat.
Itu adalah uang, begitu kata perempuanmu.

Lihatlah, betapa bahagianya rona mereka.
Bergumul dalam kepulan asap,berpacu dalam dentuman ritme keras serta belaian halus yang laknat.
Kenyamanan yang tiada duanya teruntuk si perempuanmu.

Hei..
Sepertinya itu perempuanmu yang duduk meringkuk di ujung gang kecil.
Nafasnya terlihat menggantung nyawa. Matanya yang indah berubah padam.
Tubuh keriputnya saat ini seolah tak mampu lagi mencatat sentuhan-sentuhan baru dari ‘mereka’.
Kemana perginya tawa manis itu? Bukankah itu uang?
Apakah nikmat jahanam itu telah hilang?

Itu perempuanmu yang menangis terisak di sudut kota.
Berharap jalan pulang masih ada.
Namun sayang, nafasnya telah tertanam di pencakar langit.
Uratnya mengendur, jantungnya enggan untuk berdetak.

Selamat tinggal untuk perempuanmu.
 

33 komentar:

  1. Deskrifsi'a seperti wanita panggilan

    BalasHapus
  2. Kayanya bukan pantun. Tapi, tebak tebakan gitu.
    Tebakan gue benar, kan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini pribahasa. -_-

      Tebakan lu salah.
      Hutang gue lunas. Udah 10 hari juga ya ternyata :D hahaaa

      Hapus
    2. Oh, pribahasa.

      Jadi, ini bukan puisi.
      Nggak mau. Berarti lu masih hutang puisi.
      Ini nggak aci. Gue maunya puisi, bukan peribahasa. Apalagi perihatin, dan peringatan. Gue nggak mau. :(

      Hapus
    3. Hahahaaa
      Lu sih bilangnya ini tebak-tebakan.

      Aaaaaaa enggak, enggak.
      jadi 3 dong hutang puisi gue.
      Bunuh aja gue beh, bunuh..

      Hapus
    4. Iya, lu masih punya hutang yang banyak. Dan ini nggak sah, ya. Ini bukan puisi. :p
      Itu ada yang bilang pantun.

      Ada alternatif lain supaya terbebas dari puisi.
      Bikinin gue seribu candi.
      Hahahha

      Hapus
    5. Yang ada gue yang sudah terbunuh sama lu.

      Terbunuh dengan senyummu.
      *ciiiee.

      Hapus
    6. Hahahaa gue juga bingung beh, kenapa ada yang bilang ini pantun. Hahaaaa..
      :D ngakak.

      Lu Roro Jonggrang ya?
      Minta seribu candi segala. haha

      iya. Gue memang pembunuh ;p

      Hapus
    7. Bukan. Gue Keenan.
      Itu 'e'-nya ada dua, ya. Jadi dibacanya panjang satu harakat. Kaya ada mad Thabi'inya atau mad Asli gitu.

      Aduh dapat emot dikedipin sambil melet melet lagi.

      Hapus
    8. Hhaaha panjang satu harakat :D
      enggak gitu juga bacanya hoi. Biasa aja bacanya

      itu harusnya titik dua, bukan titik koma.
      Raisa typo. Maaf ya :D

      Hapus
    9. Yaudin, terserah Raisa saja mau dibaca apa nama itu.

      Nggak percaya kalau itu typo. Dasar genit.

      Hapus
  3. Penyesalan memang selalu dataang terakhir ya mba,? semoga saja menjadi pelajaran bagi kita semua.

    BalasHapus
  4. Balasan
    1. Waduh dikomen bule. :D

      Lu butterfly night Jov. Hahaa

      Hapus
  5. Jadi ini intinya apa raisa? ini nyeritain wanita malam/wanita panggilan yang sering disebut psk? -__-

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya neng geulis :)
      Tentang wanita malam yang belum sempat bertaubat. Tapi udah keburu dipanggil Allah

      Hapus
  6. Balasan
    1. (PELAMPIASAN)
      ((PELAMPIASAN))
      (((PELAMPIASAN)))

      Huhuu..

      Hapus
  7. syair yang indah dengan sebuah makna yang menyentuh..

    BalasHapus
  8. kena banget...

    tapi, itu bukan perempuanku mbak :((

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kena di mana?

      Alhamdulillah kalo itu bukan perempuan kamu mas :)

      Hapus
  9. itu perempuanmu, mana perempuanku yaa ? hihi :D

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.