Cicak dan Dindingnya

Aku menyibakkan selimut yang sedari tadi membaluti tubuhku. Ada rasa enggan untuk bangkit dan menjauh dari tempat tidur ini. Masih mengantuk.
Hari ini ayah menolak tawaranku untuk ikut serta membantunya berjualan siomay di kantin kampus. Sebenarnya aku cukup kasihan melihat lelaki itu bekerja sendiri.
  ‘’ Kamu istirahat saja di rumah. Ibu nanti yang akan membantu ayah ‘’ Ujarnya yang tiba-tiba muncul di depan pintu kamarku. Aku mengangguk lesu dengan wajah bantal yang masih mengantuk.
Tidak tahu mengapa, akhir-akhir ini aku jadi lebih sering mengantuk. Padahal aku sama sekali tidak pernah bergadang. Jam 10 saja, mataku sudah ngantuk gak karuan.
Aku meraih handphoneku yang tergeletak di atas meja kecil di samping tempat tidurku. Cukup dekat, tanpa mengubah posisi aku masih bisa menjangkau handphone berwarna gelap itu.
Tiba-tiba saja aku teringat dengan kejadian beberapa hari yang lewat. Iya, si lelaki mesum itu.
Buru-buru aku mengecek emailku. Sedikit berharap, semoga ada e-mail masuk darinya.

Tidak ada pesan baru.
Aku menghela nafas.

Mungkin dia sudah melupakan pertemuan itu. Atau mungkin secarik kertas yang berisi alamat e-mailku itu hilang darinya, tercecer atau mungkin ia sudah membuangnya. Entahlah.
Kenapa aku begitu mengharapkan email darinya?
Ah sudahlah.

Aku menarik selimutku lagi kemudian membenamkan seluruh badanku kedalamnya.
Belum sempat aku memejamkan kembali kedua mataku, sebuah deringan terdengar dari benda kecil di sampingku. Handphone.
Dengan rasa malas aku membuka handphoneku, dan ada sebuah e-mail masuk.
E-mail dari lelaki mesum itu. Di sana tertulis jelas nama yang ia sebutkan saat berkenalan denganku saat itu. Daruma.
Di e-mail itu, ia mengirim pesan untuk mengajakku jalan hari ini. Untunglah, ia memilih sore hari sebagai waktu yang tepat untuk jalan denganku.
Aku bahkan sempat bingung harus mengajaknya jalan kemana. 

    ‘’ Entahlah. Kamu kan lebih tau tentang negeri ini. Yang jelas antarkan aku ke tempat serupa toko buku ‘’. Balas lelaki itu.
Aku terdiam sejenak. Memilih toko buku mana yang pantas untuk kami datangi nanti. Begitu banyak toko buku di sekitar sini.
   ‘’ Oh, kalau begitu kita ke stasiun dekat rumahku saja. Stasiun Hakata. Di sana ada Gramedia kalau tidak salah. ‘’ Balasku kemudian mengklik send pada layar handphoneku.
  ‘’ Oke, jam 17:00 ketemuan di Stasiun Hataka ya. ‘’
Aku mengiyakan keputusannya tanpa membalas e-mail darinya.

Sambil berjalan menuju Stasiun Hakata, aku sesekali melirik pakaian yang kukenakan saat ini. Kaos hitam, dengan paduan cardigan ungu dan celana jeans biru favoritku ikut menambah kesan sederhana. Dan aku sengaja memilih untuk mengikat satu rambutku kebelakang.
Iya, aku rasa penampilanku hari ini cukup sederhana. Simple.
Aku melirik jam tangan biruku, pukul 16:55. Sepertinya aku terlalu cepat datang kesini. Mataku berkeliaran kesana-sini untuk menemukan wajah lelaki mesum itu. Ya,meskipun aku tak mengingatnya dengan jelas. Samar-samar.
Aku sempat mengeluh kesal saat beberapa menit berlalu tanpa menemukan lelaki itu. Aku mulai kesal.

  ‘’ Huh, lama sekali dia datang. Apa mungkin dia tersesat ya? ‘’ ujarku sambil melipatkan kedua tangan pada dadaku.

Baru saja aku hendak berjalan untuk mencarinya, seorang lelaki menghampiriku dengan langkah terburu-burunya. Nafasnya terdengar tidak beraturan.

  ‘’Huft, maaf aku telat ‘’ ujarnya pelan.
Aku sama sekali tak menghiraukan ucapannya, pandanganku fokus melihat seekor nyamuk yang terbang dan kemudian hinggap di pipinya.
PLAAKK
Aku melayangkan sebuah tamparan yang mendarat di pipinya.
  ‘’ Kok aku ditampar? ‘’ ujarnya sedikit menahan perih.
  ‘’ Iya, itu tadi ada nyamuk di pipimu. Kamu belum mandi ya? Kok dinyamukin gini? ‘’ tanyaku heran.

Aku memperhatikan wajahnya dengan seksama, iya tidak salah lagi. Sepertinya lelaki ini belum mandi.
Ditambah dengan tataan rambutnya yang terlihat masih berantakan.

Fix. Hari ini aku jalan dengan seorang lelaki-mesum-yang-belum-mandi.

Aku hanya tertawa kecil saat ia langsung meminta tunjukkan dimana toko buku yang akan kami singgahi.
Di sepanjang perjalanan kami begitu banyak bercerita. Dia juga tau banyak hal tentang aku,terkadang dia juga menebak-nebak dengan memberi pertanyaan padaku. Dan anehnya, hampir tebakan itu benar dalam menggambarkan seperti apa diriku.
Yang aku tahu, dia sangat hobi membaca buku, menyukai susu putih dengan campuran sedikit kopi buatan sang ibu, mencintai segala hal yang berhubungan dengan dunia komputer dan menyukai ibu-ibu.
Dan juga dari cerita yang kudengar darinya, sepertinya ia memang jarang mandi. Sangat pemalas. Ckck..

Tak berapa lama, kami sampai di dalam toko buku. Tanpa dikomando, kami langsung berpencar begitu saja untuk mencari buku yang diinginkan masing-masing. Ia sempat menawarkan diri untuk membelikanku buku dan juga menyuruhku untuk memilih buku apa yang kuinginkan. Dengan cepat aku menolak tawarannya.

  ‘’ Mending traktir aku makan aja deh. Aku lapar.‘’ ujarku. 

Setelah satu jam berkeliling di dalam toko buku, aku langsung membuntutinya saat ia bergerak menuju meja kasir.  Hmm, aroma parfum cabai yang menyengat itu tak sengaja memasuki rongga hidungku. Entah kenapa, kali ini aku tak lagi merasa asing dan membenci aroma ini.
Dari balik kaos biru yang ia kenakan, aku bisa melihat barang yang ia bayar di atas meja kasir.
1 buku kamus terjemahan dan 2 novel.  Ketiga barang itu yang berhasil ia bawa pulang saat keluar dari Gramedia.
Begitu keluar dari Gramedia, aku langsung saja menagih janjinya untuk mentraktir aku makan. Berhubung perutku sudah lapar akut, aku langsung saja mendekat dan menarik tangannya. Ia terlihat tergesa-gesa dengan mengikutiku arah tangannya yang ku tarik paksa.
Anehnya ia hanya diam dan menuruti arahku untuk menunjukkan tempat makan yang ku tuju.

Selang beberapa menit, aku memperlambat gerakan kakiku. Ku lirik tangan kananku yang saat itu sedang bersentuhan dengan tangannya. Aku baru sadar bahwa dari beberapa menit kebelakang, telapak tanganku mengenggam erat tangannya.

Dia seperti seekor cicak, dan aku sebagai dindingnya.

Tangannya mampu membuatku untuk terus lengket dengan spatula yang ada pada permukaan tangannya. Spatula itu menyelip pada pori-pori telapak tanganku sehingga dapat membentuk suatu ikatan (Van Der Waals) yang sangat kuat.  Ada getaran aneh yang tak seperti biasanya menyusup ke rongga dadaku, masuk ke dasar hati dan kemudian turun ke bagian perut.
Iya, aku lapar. Getaran itu getaran lapar.

  ‘’ Kita akan makan disini. Ini tempat langgananku. Kamu yang bayarin kan? ‘’ tanyaku untuk memastikan janjinya yang tadi.
  ‘’ Iya, makan saja sepuasmu ‘’ ujarnya sambil mencari posisi meja yang kosong.
  ‘’ Hahaaa porsi makanku  banyak loh.‘’ candaku. Sebenarnya itu bukan bercanda, tapi memang kenyataannya. Hehee.

Berhubung saat itu aku sangat lapar, aku langsung saja memesan tiga mangkok mie. Dua untukku dan satu untukknya. Tak lupa juga aku turut memesan dua soya, segelas jus alpukat dan air putih.
Sambil menunggu pesanan tiba, ia membuka obrolan dengan bercerita tentang masa-masa SD nya dulu. Ia mengatakan bahwa ia sangat rindu dengan teman-teman SD nya. Rindu bermain dan kumpul bersama.
Cerita masa SD yang terlontar darinya berakhir dengan cerita bahwa ia pernah bermain petak umpet dan bersembunyi di dalam toilet cewek. Kebetulan saat itu ada adik kelas yang sedang pipis di dalamnya. Dari sini aku jadi tau, kalo ia adalah seorang lelaki mesum-sejak-kecil.


Setelah perut kenyang terisi makanan, aku langsung saja menyandarkan pundak ke kursi yang kududuki.  Sedangkan dia tampak bangkit dari kursinya dan merogoh saku celananya hendak membayar. Aku mengerutkan dahi saat melihatnya gelisah merogoh saku celana sana-sini.
Aku menarik kembali badanku menjauh dari sandaran kursi. Raut wajahnya memperlihatkan perpaduan antara raut mesum dan panik.
Aku hanya diam menyaksikannya kebingungan.

  ‘’ Maaf, kamu bawa uang lebih tidak? ‘’ tanyanya berbisik pelan padaku.
  ‘’ Kenapa? Jangan bilang uangmu kurang ‘’ ucapku.
  ‘’ Bukan, sepertinya dompetku hilang, dicuri orang sewaktu jalan kesini ‘’ ujarnya menjelaskan.
  ‘’ Yah. Terus ini siapa yang bayar? Aku tidak bawa uang ‘’
  ‘’ Hmm. Di sini tidak bisa ngutang dulu ya. ‘’

Huh.


Aku benar-benar terkejut saat melihat seorang pelayan datang bersama pria berbadan besar. 
Sepertinya ia adalah pemilik rumah makan ini. Aku tak bisa berkata apa-apa saat melihat Daruma bernegoisasi dengan pria itu. Dan hasilnya, kami berdua harus mencuci piring kotor selama satu jam di sini.
Negoisasi yang bagus anak muda.

Usai mencuci piring aku langsung saja keluar dari rumah makan itu. Badanku terasa lemas, porsi makan yang banyak tadi sepertinya sudah terkuras untuk mencuci setumpuk piring kotor tadi.
  ‘’ Ayo pulang ‘’ Ujarku pelan.
Aku berjalan beriringan dengannya. Tubuhku mulai melemah, mataku juga tak lagi bisa diajak kompromi.

  ‘’ Kamu kenapa? ‘’ tanyanya.
  ‘’ Aku mengantuk. Ini sudah jamnya aku tidur ‘’
  ‘’ Naiklah ke pundakku. Biar ku gendong dan ku antar pulang.‘’ Lelaki itu langsung mengambil posisi jongkok di hadapanku.
  ‘’ Tak usah, rumahku dekat dari sini ‘’ aku menolaknya.
  ‘’ Hei, jangan tolak niat baik seseorang dong. Naiklah.‘’ ujarnya meyakinkan.

Aku terdiam.
Tanpa berpikir panjang aku langsung saja naik ke punggungnya dan melingkarkan kedua tangan di dadanya.
Kadar dingin yang menyelimutiku malam itu terasa berkurang meskipun aku masih melihatnya kesulitan untuk menggendong tubuhku. Padahal aku tidak terlalu berat.

Sesekali aku menguap menahan kantuk. Rasanya aku ingin sekali terlelap di sini, di pundak ini. Aku begitu nyaman dengan keadaan seperti ini.
Iya, dia adalah seekor cicak.
Spatula nya mampu membuatku bisa merasakan nyaman yang sehebat ini. Rasanya aku tak bisa lepas darinya. Begitu dekat posisiku dengan dia saat ini.

Aku tersenyum kecil sambil merapatkan eratan tanganku yang melingkari dadanya.
Dari posisi tanpa jarak seperti ini, aku bisa mencium aroma parfum cabai yang menyengat itu. Dan aku bahkan mulai menyukai aroma itu.

Malam ini.
Mataku terasa mulai sayup.
Dan aku mengantuk.

83 comments:

Komentarnya ditunggu kakak~

INI APAAN

Semua hal di dunia ini diciptakan berpasangan. Bener gak sih?
Ada perempuan, ada laki-laki. Ada pagi, ada siang. Ada baik, ada jahat. Ada tinggi, ada rendah. Ada besar,ada kecil. Ada aku, ada kamu. Iya kamu abang Zayn. Ailofyu.
Semuanya serba berpasangan, saling bertolakbelakang dan saling melengkapi.
Tak terkecuali dengan ada sehat dan ada sakit.

Seperti yang baru gue alami akhir-akhir ini. Gue sakit. Sakit hati.
Enggak deng.
Gue sakit kepala. Pusing gitu. Awalnya biasa aja sih, karena gue sempat ngira, ‘’ ah paling masuk angin doang ‘’.  Lagian, mungkin emang udah kondisinya gue harus sakit sekarang. Masak mau sehat terus sih.


Minggu, 23 Agustus
Setelah mandi sore, gue ngerasa badan mulai pegel-pegel semua. Lemes. Dibawa tidur juga gak enak.
Seusai magrib, Nova, adik gue ngajakkin keluar. Entah beli apa tuh anak di Minimart. Yang pastinya gue gak ada nanya, gak ada ngomong dan gak ada turun juga dari motor. Soalnya malu, dengan kejadian yang kemarin. Hahaa..
Pas diperjalanan mau balik kerumah, gue bener-bener udah kuat lagi. Kepala makin pusing.
Gue takut kalo ada apa-apa saat mengendari motor dalam keadaan seperti ini. Akhirnya gue memutuskan untuk membaca doa dan surat-surat pendek. Sayangnya cuma doa berbuka puasa doang yang gue hapal. Sedih.
Untunglah, gue masih selamat sampe rumah.
Malam itu gue bener-bener gak bisa tidur. Padahal besok adalah hari Senin, hari pertama masuk kerja diawal minggu ini. Badan gue pegel-pegel. Tulang serasa mengendur, ujung kaki mulai dingin. Belum lagi kepala yang nyut-nyutan gak jelas. Gue ngerasa kayak ada duo srigala yang lagi goyang dribble dan mengguncang isi kepala gue. Sakiiitt gaes.
Gue gak bisa tidur. Untungnya ada si Cabeh makhluk dari antah berantah yang nemenin gue chat. Kira-kira sampe jam 12 lewat, gue menghabiskan waktu untuk chattingan dan main sambung kata dengan si Cabeh. Tapi sayang, gue kalah telak 2 kali.
Haduh. Lagian gue susah mikir dalam keadaan kepala pusing gitu. Hahaa


Senin, 24 Agustus
Jam 3 pagi gue bangun. Sesak pipis.
Perlahan gue mencoba untuk membuka mata, tapi kok susah. Gue sempat menduga kalo abang Zayn lagi dibelakang gue sambil nutupin mata gue dengan kedua tangannya sambil ngomong,  ‘’ Hayo tebak, siapa? ‘’
Tapi ternyata enggak.
Pas mata gue berhasil dibuka, gue ngeliat seluruh isi ruangan kamar burem. Ternyata belek gue banyak.
Pandangan gue goyang, gue ngeliat lemari kamar. Lemarinya kayak bergetar berguncang gitu, kayak duo srigala lagi goyang dribble. Kenapa duo srigala lagi sih?
Gue nyoba bangkit untuk duduk aja pusing. Gue pengen nangis, tapi takut ntar tingkat kemachoan gue turun drastis. Alhasil gue cuma bisa diem dengan posisi tidur telentang. Kepala gak bisa ditoleh ke kanan-kiri. Bener-bener pusing. Dengan posisi tidur seperti itu, membuat gue kesusahan untuk memeluk guling. Apalagi memeluk kamu. SUSAH.

Pas pagi harinya, gue izin untuk gak masuk kerja. Ibu yang pagi-pagi bangun, langsung melihat anak-anaknya ke kamar masing-masing. Terutama gue. Memeriksa bahwa anaknya baik-baik saja usai bangun tidur semalaman.
Gue cerita ke ibu, dengan berbaik hati ibu langsung mijitin kepala gue, leher, pundak dan tangan.
Setelah meminum obat, gue tiduran lagi.


Obatnya gak ngaruh.
Gue tetep ngerasa pusing gak karuan. Serasa pengen nuker kepala saking gak kuatnya.
Jantung gue berdegup kencang. Kayak anak abege labil yang ketemuan sama pacarnya. Ceweknya  pake rok diatas lutus. Deg-degan gitu pas ngeliatnya. Lebih parah lagi sih deg-degan nya. Soalnya itu cewek punya bulu kaki, berjambang juga.
Oh, shit!

Sekitar jam 4 sore, ibu ngajak gue ke rumahsakit. Dengan tampang lemes, belom mandi, ngantuk gue langsung buru-buru ganti baju.
Sesampainya disana, gue langsung duduk didepan ruang Neonatus. Ruang Neonatus itu merupakan ruang perawatan intensif untuk para bayi baru.
Baru sekitar 5 menit gue duduk, tiba-tiba gue mendengar tangisan anak bayi dari dalam ruangan itu. Aaa lucu deh. Pengen lihat, tapi gak sembarangan orang yang boleh masuk keruangan itu.
Yaudin, akhirnya gue tetep nunggu diluar. Setelah diperiksa dokter, gue terkena Vertigo. Sebelumnya pas dirumah ibu juga udah menduga kalo gue memang terkena Vertigo.
Vertigo, verempat, verlimo.
Menurut dokter, penyebab Vertigo yang gue alami ini disebabkan karena beberapa hal. Yaitu karena,kecapekan, banyak pikiran, makan kurang teratur, kurang darah dan kurang perhatian serta kasih sayang.

Pas dirumah sakit, gak sengaja gue ketemu sama oom gue. Dia nemenin istrinya operasi kanker kista. Akhirnya ibu berniat untuk menunggu tante selesai operasi di rumahsakit itu.

Setelah 1,5 jam operasi, om Budi keluar dengan membawa sebuah toples plastic yang berisikan rahim.
Setau gue rahim itu kecil, memiliki rongga dan bersifat elastis. Bisa mengecil bisa membesar. Tapi yang gue lihat dengan apa yang ada didepan mata sangatlah berbeda. Rahim dalam ukuran besar, padat akibat kanker yang memenuhi rongga rahim.
Dan baru kali itu, gue ngeliat rahim secara langsung. Gak dari foto, gak dari gambar.
Gue baru ngeliat rahim dengan kanker yang sudah memenuhi rongga rahim didalamnya. Ganas banget kankernya.


  ‘’ Rahimnya harus diangkat. Udah terlalu besar. ‘’  Ujar om Budi melemah. Gue tau, sebagai seorang suami, ia pasti sedih.
Niatnya untuk memiliki anak kedua mungkin gak akan terjadi.

Gue langsung mendongak ngeliat rahim yang didalam toples.
Oh jadi disini sperma itu lengket.
Oh jadi ini garis finish saat gue menjadi sperma ketika itu.
Oh jadi disini tempat bayi itu.
Oh jadi ini yang menebal sebelum terjadinya menstruasi pada wanita.

Dan berbagai ‘Oh ‘ lainnya terlontar dimulut gue.
Sesaat rasa pusing yang teramat hebat tadi hilang begitu aja setelah gue melihat kanker rahim itu.
Gue langsung masuk melihat kondisi tante yang masih lemas.
  ‘’ Rahimnya udah diangkat ya? ‘’ tanyanya pelan. Gue mengangguk.
  ‘’ Enggak haid lagi berarti ya? ‘’ tanyanya kembali.
 ‘’ Iya Nte. ‘’
  ‘’ Gak bisa hamil lagi ya? Gak bisa punya anak 2. ‘’ ujarnya lagi. Gue cuma die, gak tau mau ngomong apa. Untunglah ibu masuk keruangan dan melepaskan gue dari pertanyaan yang sulit untuk gue jawab.

Hari itu, malam itu, gue dapat mempelajari banyak hal. Yang intinya, syukuri keadaan yang sekarang. Jangan pernah mengeluh.


Selasa 25 Agustus
Sepulang kerja badan gue masih terasa lemes. Sebenernya sedari di kantor tadi sih. Usai mandi, gue memilih untuk duduk di ruang tamu sambil memainkan hp.
Kok, badan gue agak hangat ya? Mata juga panas. Kepala sakit bukan main.
Akhirnya gue mengajak ibu kerumah sakit lagi. Usai magrib, gue langsung ganti baju dan bergegas kerumah sakit bertiga. Ayah juga ikut.
Sesampainya disana, gue turun sendirian.

  ‘’ Lan, ibu sama ayah mau beli makan ya. Kakak adikmua belum makan, kamu juga kan. Nanti ibu kesini lagi ‘’

Gue turun di pinggir jalan. Kayak anak terlantar yang dicampakkan begitu saja. Sedih.
Dan ini pertama kalinya juga gue masuk kerumah sakit sendiri. Awkard banget. Mana kaki tangan gue makin gak enak pas kena dinginnya AC. Gue cuma bisa diem, sambil menunggu nama dipanggil.
Gue chat Cabeh, tapi gak dibales. Gue hanya bisa diem melongo dengan menyenderkan kepala ke dinding.
Setelah 15 menitan, ibu turun dan masuk ke rumahsakit. 

  ‘’ Masih lama lan? ‘’
  ‘’ Lama bu, liat tuh orangnya pada ngantri. ‘’ 

Bener. Orang-orang pada rame kayak penonton panjat pinang tujuhbelasan kemarin. Malah lebih rame, soalnya yang ada diujung pinangnya Chelsea Island. Rameee rek..

  ‘’ Yaudah, kerumahsakit lain aja. ‘’ Ibu ngajak gue keluar setelah ngeliat muka pucat gue. Pucatlah pokoknya, kayak nahan boker didepan gebetan.
  ‘’ tapi, bentar lagi kok bu ‘’
Sebenernya gue udah lemes. Gak sanggup jalan lagi. Kalo jalan ke pelaminan barenga Abang Zayn, hayuklah gue sanggup-sanggupin. 

  ‘’ Udahlah, yuk keluar ‘’
  ‘’ Ta-tapi bu.. ini air ketubannya udah pecah. ‘'

Akhirnya gue menuruti perintah ibu.
Gue jalan dibelakang ibu dan mengikutinya.  Pandangan pasien mulai tertuju ke gue, perempuan-cengo-yang-percis-kayak-nahan-boker. Gue keluar.
Disini gue ngerasa kayak di tipi-tipi.  Adegan dimana si ibu nyuruh maksa anaknya pulang kerumah saat tau anaknya pergi ketempat yang dilarang oleh orangtuanya.
Selama diperjalanan pulang, gue cuma diem dan berusaha menutupi mulut dengan jilbab.
Gue.
Bener.
Bener.
Mual.


Tak beberapa lama, akhirnya gue sampai dirumah sakit yang lain. Setelah cek tensi, dokter mengatakan tensi gue normal. Cuma kelakuan  doang yang gak normal.
Dan gue baru tau, ternyata gue punya penyakit magh.
Apa itu magh?
Itu loh, yang nanti akan disebut anak kita saat memanggil kita.
Kalo kamu dipanggil ‘Pah’ , sedangkan  aku dipanggil ‘Mah’.

Sepulang dari rumahsakit, gue dapat oleh-oleh  4 bungkus obat. Obatnya lucu, gede-gede, tapi ya tetep aja obat.
Jarang-jarang gue sakit. Gak ada yang jenguk juga.
Sekalinya dijenguk, yang jenguk malaikat Izrail. Kan sereem.

Doain aja ya supaya gue cepet sembuh, kembali sehat, bisa beraktifitas lagi, dipanjangkan umurnya,dimurahkan rezekinya dan cepat dapet momongan.

INIAPAAN


54 comments:

Komentarnya ditunggu kakak~

Kita adalah rasa



Kita 
Yang menyebabkan titik air hadir dan siap jatuh di ujung mata
Rona bahagia itu sirna
Tawa itu kemana?

Kita
Yang telah membuat luka besar menganga
Cukup perih, sepertinya.

Kita
Yang diam-diam berdoa dibawah langit-Nya
Entah untuk siapa, entah karena apa
Yang ku tau, kita itu bersama.
Kita
Yang sempat dengan sangat
Melebur kemudian hancur.

Kita adalah rasa.






Minggu, duapuluhtiga kosong delapan, 23:03 wib



  kita~                                     





51 comments:

Komentarnya ditunggu kakak~

ANTARA GUE,SUSU DAN MBAK KASIR

Sudah hampir sebulan usai lebaran. Itu artinya udah sebulan juga gue melakukan program untuk menggemukkan badan.
Tinggi gue 156 cm.
Berat badan 53 kg.

Iya. Gue pendek.

Gak papa, yang penting anunya tinggi. Anu maksudnya sopan santun gue tinggi.
Setelah puasa yang mengakibatkan badan gue menjadi kurus kayak tulang ikan teri. Akhirnya gue mencoba untuk mengonsumsi buah alpukat.  Dalam seminggu gue bisa menghabiskan 1,5 kilo alpukat. Itu juga alpukatnya dimakan gitu doang.
Dibelah, trus dimakan.
Enak gaes.
Hambar.
Tapi kalo liat kamu jadi manis kok.
Tiap hari minggu gue ke pasar sama ibu. Mesti harus bangun jam setengah tujuh.  Maka dari itu berbahagialah kalian yang bisa leha-leha sampe bangun jam 11 siang dihari Minggu.
Sebenernya jarak dari rumah ke pasar deket sih. Lempar upil dari teras rumah aja, upilnya bisa mendarat di pasar. Deket.
Kira-kira memakan waktu 1 jam kalo jalan kaki, kalo jalan mundur paling 1 setengah jam, kalo boncengan sama pacar paling 3 jam (bukan gue sih). Iya, biasalah anak muda. Kalo naik motor suka dilambat-lambatin. 
Dan karena gue biasanya ke pasar naik motor, kira-kira gue membutuhkan waktu 10 menitan untuk sampe ke pasar.
Sesampainya dipasar, gue nyari lokasi parkiran motor yang strategis. Biar kalo keluar dari parkiran langsung gampang gitu. Gak perlu geser sana-sini lagi. Gue gak kuat dalam bidang pergeseran motor. Berat gaes. Beda tipislah dengan berat beban hidup.
Sampe di pasar perasaan gue mulai gak enak. Lagi, gue harus menerima kenyataan kalo gue gak dianggap sebagai anak selama di pasar ini. 

Pas masuk ke los ikan

Kang ikan: Bu, ini anaknya ya?
Ibu            : Enggak, ini pembantu. Udah 5 tahun kerja sama saya. Liat dong tampangnya, tampang pembantu kucel gitu.
Gue         : (Lari kejembatan-bunuh diri)

Enggak deng,

Kang ikan: Bu, ini anaknya ya?
Ibu            : Enggak, ini menantu saya.
Kang ikan: Masak iya bu? Kok mirip ya?
Ibu           : Iya. Ini beneran menantu saya.
Kang ikan: Wah, pinter ya anak ibu nyari menantu.
Dalem hati gue: Iya, ibu gue juga pinter. Pinter boongin elu. Hahaa.
Gue seneng sih. Dengan cara seperti itu kang ikan tersebut gak jadi gangguin gue lagi. 

Seperti biasa, gue beli alpukat sebelum pulang. Ibu sengaja beli setengah kilo yang mateng dan 1 kilo yang mentah. Kalo yang mateng kan agak lunak gitu kalo dipegang. Sedangkan yang belum mateng masih keras. Bisa dipake buat lempar pala orang juga sih.
Hari-hari pertama gue makan deh alpukat yang udah mateng. Sedangkan yg belum mateng masih dalam kulkas. Gue gabungin sama sayur dan buah-buahan lain. Biar mereka bisa akrab satu sama lain.
Dihari berikutnya gue ambil lagi deh alpukatnya.
Eh 3 hari kemudian, alpukat yang belom mateng ternyata udah mateng. Lunak kalo dipegang. Warnanya juga udah cokelat kehitaman gitu.
Pas gue belah, keluarlah seorang bidadari. Terus bidadarinya ngomong,
  ‘’ Lala, mengapa kamu bersedih? ‘’

Enggak deng.

Pas gue belah, eh alpukatnya udah busuk. Kata ibu sih, karena kelamaan disimpan dikulkas. Sedih. Disitu gue kayak ngerasa kehilangan separuh jiwa gitu. Pengen nangis,pengen teriak sekenceng-kencengnya.
Ya Allah, ini semua tidak adil untukku ya Allah…apa salah hambamu ini??  huuuaaaa

Meskipun begitu, tekad gue untuk menggemukkan badan gak berhenti sampe disitu aja.
Gue juga tiap hari minum susu cokelat. Ya walaupun gitu, proses bikin susu cokelatnya cukup lama dan melelahkan.
Tuang susu cokelat ke gelas, tuang air panas. Udah jadi.
Jadwal gue minum susu juga gak nentu. Kadang pagi pas mau berangkat kerja, kadang malam, kadang juga pulang kerja.

Ya suka-suka gue lah. Susu juga susu gue. 

Semua kegiatan juga gue barengi sambil minum susu. Sambil nonton, sambil chat sama cabeh, sambil nulis, sambil dengerin curhatan kakak gue, sambil ngeliatin adek gue yang kesusahan ngerjain pr. Habis, pr nya pr matematika. Gak ngerti gue.

Gue selalu bahagia pas ngeliat angka timbangan dikamar.
54 kg !

Wow. Berat gue naik 1 kilo gaes. Seneng bukan main.
Tapi ya gitu, abis gue pup. Berat badan kembali ke 53 kilo lagi. 
JADI YANG 1 KILO ITU APAA??

Ada kejadian absurd pas gue beli susu beberapa hari yang lalu. Hari Selasa mungkin.
Waktu itu gue lagi chat sama cabeh. Entah lagi bahas apa gitu. Kalo gak salah bahas tentang dia ditolak cewek. Bukan cuma 1 cewek, tapi 3 cewek.
Sedih bener men.
Gila.
Gue aja baca chatnya sambil nangis dibahu Zayn Malik, si pujaan hati.
Karena lagi seru bahas tentang topik itu dan sementara gue belum minum sesajen, gue bingung dong.
Harus pilih tirai 1 atau tirai 2. Duuuh, ucink pala berbi.
Akhirnya gue bilang ke cabeh, kalo gue mau beli susu bentar keluar. Gue cek dompet. Yang ada cuma kertas resi sama foto kami, gue pas ngerayain ultahnya Zayn.
Gue ngeliat dompet. Ada uang warna biru, 50 rebu. Ya udah gue ambil deh. Ya karena cuma itu sih satu-satunya uang didompet.

Pake jilbab, masker, helm dan cuuus ke minimart. Sebenernya gue pengen ke alfamart sih, biar dapat ucapan ‘selamat sore’ dari mas-mas ganteng. Tapi gak jadi, gue udah keburu pengen minum susu. Lagian gue gak haus akan ucapan selamat sore seperti jomblo. Huahahaa

Setelah ngambil susu, dengan langkah penuh percaya diri gue langsung ke kasir. Karena udah tau berapa harga susunya, gue langsung nyodorkan uang ke mbak kasirnya.
Seolah ngomong, ‘’ Ini duitnya, dasar rakyat jelata ! ‘’
hesteksongong. Hestekbelagu. Hestekcalonpenghunineraka
   ‘’ Hehee.. ‘’ mbak kasirnya ketawa. Gue heran dong.
  ‘’ Kenapa mbak? ‘’
  ‘’ Hehee, itu duitnya. Heheee ‘’
  ‘’ Kenapa ya mbak ? ‘’ Gue nunduk ngeliat uang yang gue sodorkan.

JENGGOT JAMILAH !!

INI DUIT 2 REBU YANG GUE BAWA. 
APA-APAAN INI. DUKUN MANA YANG UDAH NGERUBAH DUIT 50 REBU GUE JADI DUIT 2 REBU HAH?? UNTUNG GAK DIRUBAH JADI DAUN. HUH.

KZL.

   ‘’ Eh ya Allah, iya ya mbak. Aduh, salah bawa duit. Maaf ya mbak. Ntar saya kesini lagi aja ya. Ini susunya tinggal dulu. ‘’ ujar gue dengan sikap cool.
  ‘’ Gak papa mbak, bawa aja dulu susunya. Gak papa kok ‘’

Ya ampuun.. ini mbak-mbaknya baik banget deh. Sumpah, udah cakep, baik,putih, langsing. Bagi yang jomblo boleh nih kenalan sama mbak-mbak ini. Ntar gue kasi nomernya ya.  Wanita idaman pria banget. Gitu sih kalo kata suaminya.

  ‘’ Hehee, enggak usah mbak. Ntar saya kesini lagi ya. Lopyu muah ‘’

Gue menolak. Iya, soalnya kalo belum bayar tapi barangnya udah dibawa pulang kerumah, gue jadi males buat pergi bayar lagi.
Dasar, pengen yang gratisan.

Akhirnya gue langsung cuus balik lagi kerumah. Selama di motor gue ngedumel dalam usus. Kenapa gak dalam hati? Karena hatiku udah diambil sama kamu. Uhuk~
Gue heran aja, sepenglihatan gue, yang gue ambil duit 50 rebu deh. Warna biru. Kok sekarang bisa berubah jadi uang 2 rebu yak?
Duit 50 rebu warnanya biru, duit 2 rebu warnanya abu-abu pudar gak jelas gitu, kayak masa depan orang yang hobi galau. Gak jelas.
Jauh beda yakan? Warna biru dengan warna abu-abu pudar.

Sampe dirumah, gue baru ingat gaes. Tadi pulang kerja gue masukkin duit ke saku celana. Duit 50 rebu.
Akhirnya gue balik lagi ke minimart itu. Bayar susu, kemudian pulang.

Malu bener.

Saat minum susu itu, gue bener-bener merasakan sensasi perjuangan yang teramat dalam untuk membelinya. Harus sampe dua kali bolak-balik ke minimart. Segitunya pengorbanan gue untuk si susu. 
Tapi… tapi apa balasan si susu ke gue? Dia ngecewain gue.
Dalam 5 hari, si susu pergi begitu saja. Sedih, hampa.


Ah udah ah baper.
Doain gue biar berat badan gue naik 2 kilo ya. hahaa

Bye.

78 comments:

Komentarnya ditunggu kakak~

Pertemuan itu

Aku menghela nafas saat melihat suasana kantin yang perlahan sepi. Rasanya aku benar-benar lelah membantu ayah dua hari berturut-turut ini. Kantor tempatku bekerja masih memberikan libur selama seminggu, cukup lama. Tapi aku sangat bersyukur. Jarang sekali si bos memberikan waktu libur yang lumayan lama.
Aku mencoba duduk dan mengatur nafasku setelah sibuk membereskan piring-piring kotor diatas meja. Suasana kantin ini mendadak sepi, berbeda dengan beberapa menit sebelumnya.
Aku melemparkan pandangan mataku agar menguasai seluruh ruangan kantin. Beberapa mahasiswa  terlihat sedang menyantap makanannya.
Hanya ada satu, dua, dan hei.. Siapa lelaki itu?
Indera penglihatanku menangkap sosok seorang lelaki yang bergerak memasuki kantin kampus. Setelah celingukan sana-sini, kemudian ia melanjutkan langkahnya kembali.
Aku memandang lelaki itu dari kejauhan. Penampilannya super berantakan, ditambah ekspresi mesum yang terpancar dari aura wajahnya. Hih.
 Hmm sepertinya ia mengarah dan mendekat pada siomay ini.
Benar saja, setelah memesan ia kembali duduk dikursi cokelat tua yang berada tepat didepan gerobak siomay ini.
Sepertinya aku mengenalinya? tapi siapa yaa.. hmm, uh sudahlah tak usah dipikirkan.

Sambil mempersiapkan pesanan untuknya, sesekali aku melirik lelaki itu dari balik gerobak siomay ini.
Rambutnya benar-benar berantakan. Mengerikan sekali. Kemeja biru yang ia kenakan seolah menambah kesan wibawa pada dirinya. Tapi setelah aku menatap wajahnya, seketika kesan wibawa itu hilang dan berganti dengan tampang mesum yang mencolok pada wajahnya.
Bahkan aku sempat menduga bahwa ia sepertinya seorang penjahat kelamin. Benar-benar mesum.
Aku bergidik ngeri.
Sial ! 
Sepertinya ia mengetahui bahwa aku memperhatikannya sedari tadi. Lelaki itu menatapku kemudian ia tersenyum. Senyumnya percis seperti seorang psikopat. Matanya perlahan turun memperhatikan dadaku. Ingin sekali rasanya aku mencolok matanya dengan garpu siomay ini. Kenapa? Karena tatapannya telah mencolok hatiku. 

Gak nyambung nyet.
Oke, baiklah.

Tanpa memikir panjang, aku langsung saja melipatkan kedua tanganku didada. Berharap lelaki mesum ini berhenti melirik dadaku.
Huh, untunglah. Akhirnya ia melepaskan pandangan matanya dari tubuhku.
Selesai membuat pesanan untuk lelaki itu, aku langsung bergegas menghampirinya. Menyodorkan sepiring siomay dan berharap lelaki mesum itu bisa dengan cepat menghabiskan siomay ini. Kemudian pulang.
Baru saja aku meletakkan sepiring siomay dihadapannya, suara lelaki itu seakan mencekat langkah kakiku.
  '' hei, boleh kenalan? Aku Daruma orang baru disini dan asli orang Indonesia. Kamu  dari Indonesia juga kan? ''.
Huh.. padahal aku sangat tak ingin untuk mengenal lelaki aneh ini. Aku hanya tersenyum. Lebih tepatnya berpura-pura tersenyum. 
  '' Iya, aku dari Indonesia. Ada apa? ''  jawabku singkat.
  Dan aku benar-benar terkejut saat ia menyebutkan nama panjangku serta alamat sekolah SD dengan detail. Hei, sepertinya lelaki ini bukan hanya seorang penjahat kelamin, tapi juga seorang dukun. Iya, dukun beranak. 

  '' Iya. Kok kamu tahu? '' Aku benar-benar heran padanya. 
  '' Kamu tidak ingat denganku? Kita dulu pernah satu bangku saat awal masuk di kelas dua. Tapi seminggu setelah itu kamu pindah ke Jepang '' ujarnya.
Ah iya, lelaki ini benar. Saat ayah harus pindah kerja ke Jepang, aku terpaksa harus melanjutkan kelas dua ku disini. Walaupun begitu, aku masih mengingat beberapa teman SD ku sebelum akhirnya aku pindah ke Jepang. Dan, oh iya.. Sepertinya aku sedikit mengenal lelaki ini. Dia laki-laki paling jahil ketika menjadi teman SD ku. Dia bahkan pernah menjatuhkan bekal makan siangku dengan sengaja. Dan ketika aku menangis, ia malah menertawaiku seakan puas dengan aksinya tadi. Huh dasar. 
  '' Oh maaf aku tidak ingat. '' Jawabku singkat. 

Aku tau aku berbohong. Aku hanya saja tak ingin membuatnya bisa mengenaliku lebih dalam. Dan dengan seperti itu semoga saja ia menjauh dariku. 
  '' Hah sudah ku duga. Kamu banyak berubah ya. Apalagi dadanya, sudah tidak sekecil dulu. Itu asli? '' Lelaki mesum itu sepertinya mulai menjalankan aksinya. 
 '' Hahaa. Tentu saja ini asli. Kamu mau pegang? Nih ! ''. Aku menodongkan gir tepat ke arah muka nya. 

Buru-buru lelaki mesum itu meminta maaf padaku. Aku hanya tertawa kecil, sungguh ini tawa terpaksa yang harus terlontar dari mulutku.
  '' Kamu sedang apa kesini? Liburan? '' Tanyaku. Aku berusaha mengalihkan pembicaraan pada lelaki ini. 
Dari jarak sedekat ini aku bisa melihat langsung sosok seorang Daruma, ya seperti nama yang ia sebutkan tadi.
Aroma parfum yang ia kenakan perlahan masuk ke rongga hidungku.
Hueek !
Aroma apa ini? Menyengat sekali. Pedih menusuk hidung.
 Seperti aroma cabe terasi yang dibakar pada ujung tusuk gigi? 
Kenapa tusuk gigi? Karena ia telah menusuk hatiku.
Jirr~

Aku manggut-manggut saat mendengar jawabannya. Ia melanjutkan studi disini? Oh ya.. Berarti itu membuat aku harus berjumpa dengannya selama aku membantu ayah disini. Huh menyebalkan sekali.
  '' Aku sedang bantu-bantu ayah disini. Kebetulan tempatku bekerja sedang libur minggu ini. '' ujarku datar.
  '' Kamu punya kunci inggris gak? ''
  '' Hah? gak punya tuh? buat apa? ''
 Sebenernya aku tau kalo ia sedang membutuhkan kunci inggris untuk memperbaiki otaknya yang penuh dengan mesum. 
  '' Hmm gak punya ya? Kalo alamat e-mail punya kan? ''
  '' Hahaa bilang saja mau minta e-mailku. ''
Langsung aja aku menuliskan alamat e-mailku pada secarik kertas.
  '' ini. Simpan dan ingat baik-baik ya. '' 
  '' Oke, terimakasih. Eh minggu ini kamu lagi liburkan? Kapan-kapan kita jalan bareng yuk. Kenalkan aku dengan seluk beluk negeri Sakura ini. Kamu kan sudah lama tinggal di negeri Sakura ini '' ujarnya dengan raut penuh harap. Mengiba dan memelas.
Ah, aku jadi tidak tega menolaknya.
  '' Boleh. Kabarkan saja. Kapan waktunya? Lewat e-mail ya?. Sudah ya aku mau bantu ayahku lagi. Dah ''

Aku bergegas berbalik untuk menyelamatkan hidungku yang sepertinya merasa tersiksa atas aroma parfum cabe yang dibakar pada tusuk gigi itu. 
Aku langsung membereskan sisa-sisa piring kotor yang menumpuk diatas meja bagian pojok. Sedangkan ayah terlihat masih meracik bumbu siomay dibelakang. 
Sebelum berbalik ke belakang, aku mencoba untuk melihat Daruma dari balik kaca gerobak ini.
Hahaa, ternyata ia baru saja memakan siomaynya setelah cukup lama berbincang denganku. Ia menyuapkan sesendok siomay ke mulutnya. Melihat jam tangannya, dan kemudian lelaki mesuk dengan aroma parfum cabe itu beranjak dari meja makannya. Dan aku cukup kecewa saat melihat ia hanya memakan sesendok saja siomay buatanku.
Apakah rasanya tidak enak? Hmm. 

Aku menghampiri meja makan yang ia tempati tadi. Aroma parfum cabe yang menusuk hidung itu masih tertinggal dan melekat pada posisi ia duduk tadi.
Langsung saja aku mengangkat piring sisa makan lelaki itu dan menggabungkannya kedalam piring kotor lainnya.
Aku tersenyum saat mengingat kejadian ketika ia meminta e-mailku.
Hei, mengapa aku berharap agar mendapat e-mail darinya?
Apa aku telah terhipnotis oleh lelaki mesum itu? 
Hei... ada apa dengan aku?
Huh
:)

60 comments:

Komentarnya ditunggu kakak~

Hasil dari sebuah proses

'' Suatu hasil takkan pernah mengkhianati prosesnya ''

Pernah denger kalimat itu gak?
Dan gue adalah salah satu orang yang sangat menyetujui kalimat tersebut.

Seperti yang kita ketahui pada umumnya, untuk mencapai suatu titik kita akan melewati sebuah proses. Bukan akan, tapi harus. Gak akan pernah ada suatu target tercapai tanpa usaha dan proses apapun. Semua harapan pasti memerlukan proses.
Ibarat lo pengen makan sushi tei ketika hari hujan. Sementara lo dirumah cuma leyeh-leyeh sambil mandangin foto mantan yang udah bahagia sama orang lain. Dan saat itu lo berharap bakalan ada kang sushi tei gerobak yang lewat didepan rumah.
Percayalah teman. Kagak bakalan ada kang sushi tei gerobak yang lewat didepan rumah yang seperti lo harapkan.
Kalo lo pengen makan sushi tei, lo harus berusaha pergi keluar meskipun saat itu hujan.
Pake motor trus pake jaket boleh, pake helm trus pake motor pun boleh, atau boleh juga pake helm trus pake jaket.
Dan silahkan jalan kaki dengan penampilan asdfghjkl tersebut.

Terserah lo deh, terserah.

Yang penting ada sebuah usaha untuk mencapai target yang kita inginkan.

Beberapa hari kemarin gue dapat telfon dari temen sekolah dulu. Cewek. Kita sebut saja namanya Bambang.

Etapi kurang imut, ganti.. ganti.

Kita sebut saja namanya Rili.      
RILI RILI LAIK YU !

Gue dan Rili sudah kenal sejak SMP. Tidak terlalu akrab, hanya sekedar menyapa '' hai '' dijalan, tidak lebih. Ketika masuk SMK, tanpa disangka gue dan Rili  sekelas.
Di semester pertama gue mencoba dekat dan mengenali bagaimana kepribadian seorang Rili.
Dia perempuan yang cantik, baik, sopan, ceplas-ceplos, suka berbagi, rapi.pokoknya perempuan bangetlah. Beda banget sama gue yang pas nyengir aja tampang gue kayak tapir kena diare.
Dibalik segala sifat perempuan yang baik dimata gue pada seorang Rili, ternyata Rili mempunyai sifat yang pada akhirnya membuat gue harus menjauh dari menjaga jarak dengannya.

Rili sering selimutan sana-sini. Alias sering tidur sana-sini dengan para kekasihnya. Gue shock berat saat mengetahui ada orang terdekat gue yang terjerumus kedalam pergaulan seperti itu.
Awalnya gue udah nyoba untuk memberi nasihat pada Rili. Tapi percuma.
  '' Gak usah ngatur deh. Gue suka kok. Urus hidup masing-masing, jangan sirik karena gue emang paling laku ''

'' LAKU ''

Dari kalimat yang terlontarkan pada ucapannya, seolah Rili menganggap dirinya sebuah barang. Sebuah barang yang paling laku keras, diminati banyak orang, diingini banyak orang, hingga akhirnya dengan cuma-cuma ia memberi kan seluruh tubuhnya pada orang-orang.
Gue jadi ngerti. Laku disini sepertinya mengarah pada kata 'murahan'.
Mulai hari itu, gue mulai menjaga jarak dengan Rili. Berkali-kali dia ngajakkin gue kesana-kesitu, tapi gue tetep kekeuh untuk menolaknya.
Bahkan, sebulan sebelum UN setahun yang lalu, Rili dikabarkan menginap dirumah kekasihnya selama 3 hari. Sementara orangtua pergi menjenguk neneknya yang sakit.

'' Hei,  Apa jadinya jika ada seorang perempuan yang menginap dirumah kekasihnya 3 hari lamanya? ''

Entahlah..

Selesai menutup percakapan singkat dari handphone, gue termenung untuk beberapa saat. Kenapa Rili mengajak gue untuk ketemu? Bukannya dia gak suka kalo gue nasehati saat ketika masih sekolah dulu?
Tanpa babibu, gue langsung ngambil jaket dan cus pergi ke tempat yang sudah ditentukan Rili. Disana Rili menangis tersedu-sedu.
Sumpah, ini awakrd banget. Gue gak tau harus memulai percakapan darimana. Gue cuma ngelus bahunya dan membiarkan Rili menangis lepas.
Isak tangisnya kian menderu. Akhirnya gue mencoba untuk membuka mulut.
  '' Lo kenapa Li ? ''
Dia tetep nangis.
  '' Rili.. ada masalah? ''
Tangisnya mulai mereda.
  '' Gue nyesal, ''

Dua kalimat itu seakan telah menjawab semua kekhawatiran gue terhadap Rili. Malam itu, Rily bercerita bahwa ia sudah pernah hamil saat 2 bulan setelah pengumuman kelulusan sekolah. Gue bisa membayangkan betapa hancur perasaan kedua orangtuanya saat mengetahui  hal buruk itu terjadi pada anaknya.
Akhirnya, kedua orangtua Rili memutuskan untuk melakukan aborsi pada janin yang baru berusia 3 bulan tersebut.

Miris sekali.

  '' Sekarang gue udah tobat. Gue gak berani lagi untuk masuk kedalam pergaulan seperti itu Lan ''. Ujarnya.

Cerita pun kembali mengalir.
  '' tapi kenapa gak ada laki-laki yang mau menerima gue dengan keadaan seperti saat ini ya Lan? ''

Gue terdiam.

  '' gue pernah pacaran dengan seorang laki-laki lan, dan gue juga udah menceritakan tentang siapa gue sebelumnya ke dia. Tapi.. ya itu ''
  '' ya itu kenapa Li? ''
  '' Dia nerima keadaan gue sih, tapi ya dia juga pernah mau 'make' gue. Bajingan! ''
Aura kebencian yang dahsyat terpancar dari wajahnya. Matanya menerawang dengan sisa-sisa gumpalan air mata yang masih menggenang dipelupuknya.

  '' Jadikan ini sebagai pengalaman lo Li. Jangan diulangi lagi. Hati-hati dalam memilih cowok ''
  '' Iya Lan, tapi sebenernya kan tujuan gue baik, gue jujur diawal tentang siapa gue yang sebenernya. Tapi kenapa gak ada laki-laki yang menerima gue dengan tulus? ''
  '' Pasti ada kok laki-laki yang tulus nerima lo. Lo nya aja yang belum nemuin laki-laki itu. '' ujar gue.
Suasana kembali hening. Jam mulai menunjukkan pukul setengah 9.
 Setengah jam lagi, bukan sulap bukan sihir, pasti hp gue bunyi. Ada telfon masuk dari ibu atau ayah yang intinya nyuruh gue pulang.
  '' Lan.. ''
  '' ha? '' gue asyik mengetik hp dan mengirim sms ke pacar.
  '' Lan  ''
  '' iya Li? Apaan? ''
  '' Lo tau gak? Pacar lo yang sekarang ini pernah jadi gebetan gue sebelum akhirnya dia jadian sama lo ''
Gue menganga gak percaya.

  '' Gue kenal dia awal Desember tahun kemarin. Kita deket, pernah jalan juga, dan sampai akhirnya gue jujur ke dia bahwa gue punya masa lalu yang buruk. Gue berharap dia bisa menerima gue apa adanya, ternyata enggak. Tepat dimalam tahun baru dia datang kerumah gue. Ngomong baik-baik, bahwa dia menyayangi gue lebih seperti adeknya sendiri. Dia juga memberi gue motivasi, sampai akhirnya sebuah boneka hadir didepan mata gue. Itu boneka terindah yang gue terima dimalam tahun baru. Gue sedih, tapi juga seneng ''

Gue membisu. Gak tau akan bicara apa.

Keesokan harinya, gue menanyakan hal ini ke si pacar.
  '' Iya, dulu sebelum kenal kamu, Rili pernah jadi gebetan aku. Kita sempat deket. Sampai akhirnya dia jujur ke aku tentang dia pernah terjerumus dalam pergaulan bebas,tidur sana-sini, hamil, kemudian aborsi. Dan itu yang membuat aku harus berfikir seribu kali untuk menjadikannya perempuan istimewa dihatiku. Aku rasa gak bisa. Karena aku yakin, ketika itu Rili sangat membutuhkan penyemangat daripada seorang pacar.
Dan kamu tau kan kenapa aku harus membatalkan janji untuk datang kerumahmu ketika malam tahun baru itu? ''

Gue melongo.
  '' IIIH IYAA IYA AKU INGAT. PADAHAL AKU UDAH NUNGGUIN KAMU DARI SETENGAH JAM YANG LALU, AKU UDAH SIAP-SIAP BAKAL KETEMU GEBETAN, EH TAUNYA KAMU GAK DATENG. HUUUU PEHAPE !! ''
Gue ngomel kenceng kayak emak-emak yang udah pecah ketuban dan bentar lagi mau lahiran.

  '' Iya, maaf-maaf. Volume tipi nya bisa dikecilin gak yang? ''
  '' Hah tipi? '' gue ngeliat ke ruang tengah. Tipi gue mati kok, gak nyala.
  '' Suara kamu maksudnya. Jangan kenceng-kenceng. ''

Bangkeh!

Gue mendadak hening.
  '' Ibu pernah pesan, kalo nyari perempuan itu harus perempuan bener-bener. Yang jelas bibit bebet bobotnya. Aku gak mau menjadikan perempuan yang memiliki masa lalu yang seperti itu untuk dijadikan pendamping nantinya. Laki-laki mana sih yang gak berfikir seperti itu jika harus memilih satu diantara itu?
Intinya aku udah sama kamu. Udah, gak usah dibahas lagi hal yang seperti itu. Oke? ''
Ujar si pacar dengan tenang.


***

Gue bener-bener gak habis pikir. Kenapa banyak banget perempuan yang rela menyerahkan mahkotanya untuk orang lain?
Rili, adalah salah satu dari sekian ratus ribu bahkan juta perempuan yang pada umumnya pelajar maupun mahasiswa yang dengan sadar merelakan keperawanannya untuk laki-laki yang padahal gak jelas akan terus bersamanya atau tidak.

'' Karena gue cinta dia ''
Hellow, cinta gak meski diukur dari mau apa enggaknya nyerahin mahkota. Kalo cinta gak harus tidur bareng juga kan?

'' Gue udah terlanjur sayang banget sama dia. Gimana dong? ''
Ya goblok namanya, itu sih namanya cuma lo doang yang sayang bahkan sampe terlanjur sayang ke dia. Dianya mah kagak. Goblok gak sih. Kalo dia beneran sayang ke lo, mungkin dia bakal memilih untuk menjada tubuh lo daripada harus memakainya.

'' Gue dipaksa sama dia. ''
Hahaa ini alasan klasik. Kalo lo gak ngumbar tubuh ke dia, gak mungkin dong dia gak terpancing. Oke, kejadian diawal karena dipaksa si cowok. Gimana dengan kejadian kedua? ketiga? dan seterusnya.
Kalo udah tau enaknya, gue berharap lo bisa ngubah statement atas alasan kejadian pertama tersebut.

Ingat gaes, keperawanan itu harga mati.

Intinya, kalo kita ingin mendapatkan seseorang yang baik kita harus berusaha jadi yang terbaik. Begitu juga dengan harapan dan impian jika kita ingin memiliki pasangan hidup yang memiliki akhlak baik, kita harus mengubah diri dan mengintropeksi kepribadian kita sendiri.
Dengan usaha seperti itu, insyaAllah semua impian kita akan tercapai. Yang terpenting jangan pernah mengeluh,bosan sampe ngedumel karena proses yang dilewati begitu rumit dan panjang. Ya namanya juga hidup, pasti ada proses sebelum akhirnya muncul suatu hasil.
Lo keluar dari rahim gak langsung kelar skripsi kan? Kecuali kalo ada universitas jangka 9 bulan didalam kandungan si emak. Kalo itu sih gue iya, percaya.
Berusahalah selagi mampu.
Gue juga begitu. Gue masih dalam proses berusaha untuk menjadi seorang perempuan yang baik, semoga aja harapan itu terwujud. Amin..


Bye :)
lopyu.mwah.






63 comments:

Komentarnya ditunggu kakak~

Dibuka dan Dilihat


Tadi malam gue bener-bener kayak orang dongo. Kebetulan tadi malam hujan, bawaannya jadi laper gitu.Pas gue buka kulkas, yang ada cuma sayur-sayuran sama cabe doang. Iya beneran ada cabe dalam kulkas gue. Cabenya naik motor bonceng tiga.
Karena gak tau mau ngapain, akhirnya gue nyungsep didalam selimut. Mau sms pacar, tapi takut ganggu. Soalnya dia lagi nyusun skripsi.
yaudahlah gue sms pacar yang lain aja.

Eeh bukan, bukan..
Bukan gitu maksud gue

Tunggu dulu, jangan salah paham

Hei, tu..........

huh

Karena gak tau mau ngapain, akhirnya gue bengong sambil ngingat-ngingat kenangan masa sekolah dulu.

Ah iya, ada kejadian absurd ketika gue masih duduk dikelas 2 SMK.
Disekolah gue, ada yang namanya ujian bulanan.
 Jadi dalam sebulan itu, murid melakukan pembelajaran selama 1 minggu pertama.
 Di minggu kedua mulai penyampaian materi yang akan diujiankan. Di minggu ketiga, ujian bulanan dilaksanakan dan di minggu ke empat pembahasan hasil dari ujian bulanan.
Dan lo bisa bayangin kan, gimana tampang bucek gue setiap pulang sekolah.
Mata gue merah, ingus juga meler kesana-kesini, kepala nyut-nyutan gak karuan.
 Dan yang gue sebutkan tadi adalah contoh gejala-gejala demam yang disertai flu.

Nah, waktu itu ujian bulanan dilaksanakan. Kebetulan temen sebangku gue seorang cowok. Namanya Putra.
Iya Putra, Putra pertama buah hati kita.
Anaknya pecicilan nau'ujibilah, cengengesan, suka tidur juga sering ngences. Geli deh kalo liat dia. wakakaaa
Selama ujian, gue asli gak pernah nyontek, buka buku, bikin contekan kecil trus diselipin dimana gitu, nulis catatan kecil dimeja, suer deh.. Gue gak pernah ngelakuin yang begituan.
Selain gue emang gak pinter berlagak sok-sok mikir sambil liat contekan, gue juga orangnya suka gelagapan trus panik sendiri kalo lagi ketakutan.
Itu alesan kenapa gue gak berani nyontek.
Dihari ujian terakhir, gue mendadak gila gak karuan pas ujian KIMIA
KIMIA..
KIMIA....

Alesan kenapa gue mendadak gila gara-gara ujian kimia :
- Guru yang ngajar gak bisa menyampaikan dengan benar apa penjelasan dari suatu materi
- Guru kimia lebih sering nyatat dipapan tulis,tanpa menjelaskan. Dan yang dicatat itu yaa tulisan dibuku paket. Ya podo aee
- Gak pernah ngasi tugas
- Sering kesulitan nyusun kata-kata dalam menyampaikan ke murid
- Gurunya kecentilan karena sering di goda-goda cowok alibi dikelas
- Gurunya sibuk benerin jilbab mulu dikelas.

Dan malam sebelum ujian kimia, gue bener-bener stress. Gue bolak-balik baca buku catatan, gue baca-baca lagi buku paket yang padahal isinya sama percis dgn yang gue catat dicatatan.
Sial, gue gak ngerti juga. Gak paham sama istilah-istilah yang gaje banget.
Apaan, angka sama huruf digabung-gabungin gitu. Kayak status fb 4n4k 41aY  4Jah d3ch!

Besok paginya, gue pasrah.
Lembaran soal mulai dibagikan kehadapan masing-masing murid. Sementara gue cuma nelan ludah pas ngeliat soal yang akan gue selesaikan nanti. Kira-kira begini soalnya:

Dalam 100 mL larutan CH3OOH (Kc = 10-5) dimasukkan 50 mL larutan KOH 0,2 M. Ternyata dihasilkan larutan penyangga dengan pH = 5, 
Jadi, maukah kamu menjadi pacarku?

Sumpah !
Gue enggak tau jawabannya apa. Itu soalnya beneran susah minta ampun.

Karena soal kimia semua susah,
Mau gak mau ya terpaksa gue harus ngelakuin aksi bejat. Iyaakk, NYONTEK !!
Oke, pas ujian dimulai, gue kerjasama sama si Putra nih.

'' Put, lo buka buku paketnya dong ''

Putra ngebuka buku paket,

'' balik lagi coba, ''
Putra ngebalik lembaran berikutnya. Gue baca pelan-pelan, sambil setengah nunduk antara ngeliat kertas dimeja sama buku paket dipaha putra.
Sedangkan tugas putra, ngeliat pengawas yang kali aja curiga sama aksi gue yang memang belum mahir nyontek.
'' balik lagi put, balik lagi... terus balik.. Eeeh stop-stop tunggu. Bentar-bentar gue baca dulu, ''

Yess, gue nemuin jawabannya dibuku paket. Lanjut ke soal berikutnya.

'' Put, buka buku catatan dong ''
'' buku catatan dari hongkong. Gue aja kagak pernah nyatat ''

Ehh iya, gue baru ingat. Gak ada sejarahnya seorang putra nyatat pelajaran dibuku catatannya. Tu anak pemalas banget emang.
'' yaudah, buku catetan gue aja. Ambil tuh didalem tas. ''

Putra ngerogoh tas gue, pas udah dapet bukunya ia langsung ngebuka buku itu diatas pahanya.
'' Balik ''
'' balik lagi coba, ''
'' balik,balikk ''
'' Eh tunggu, bentar gue belom baca begok. loe cepet amat ngebalik bukunya ''

And then, setelah gue selesai melakukan perbuatan terlaknat itu, gue nyoba diem sambil mandangin lembar jawaban gue. Lirik kiri-kanan...
Ebuseeettt, hampir semua orang ternyata juga ngelakuin aksi nyontek itu.
Halaah, gak cuma gue doang kok yg nyontek. Gue ngomong dalem hati.
Emang gini nih manusia. Sadar sih kalo udah ngelakuin perbuatan yang salah, tapi malah seneng dan santai waktu tau ternyata gak cuma dia sendiri yang ngelakuin perbuatan salah itu.
Dasar gue!



2 hari berikutnyaa..
TARAAAA
hasil ujian dibagikan tjoyyy!!
Wali kelas gue pun bingung hebat. Bingung, kok hasil ujian kimia pada bagus semua. Lah, pas ngeliat nilai harian siswa, pada jeblok semua.
Wali kelas gue pun curiga.
Beberapa orang dites maju kedepan buat nulis jawaban dari soal yg sama diujiankan kemarin dipapan tulis.
TARAAAAAAA LAGIII...

Dari 30 murid, cuma 5 orang yang bisa ngerjain soal dipapan tulis. Sedangkan 14 orang lagi cuma planga-plongo, 3 orang lagi nunduk diem dikursi, sisa nya itung sendiri.

Wali kelaspun ngamuk-ngamuk kayak wonderwoman lagi  PMS dihari pertama.
FIX!!
Satu kelas disuruh jujur dan ngaku di pelajaran apa aja ngelakuin aksi nyontek ato buka buku gitulah. Trus setiap siswa harus nulis alasan, kenapa ia nyontek dan dengan cara bagaimana nyonteknya.
Masing-masing disuruh nulis diselembar kertas trus kertasnya dikumpulin kedepan.
Dengan cepat gue nulis satu pelajaran, dipelajaran KIMIA gue menjawab semua soal dengan jawaban dosa. Setelah semua kertas dikumpulin, suasana kelas kembali hening. Hening, kayak hubungan yang udah gak ada rasa lagi. Udah hambar, mau putus juga takut. Mau ngomong ngejelasin ke dia juga susah, ya gitu deh suasana heningnya.
Tulisan dikertas itu dibaca wali kelas gue didepan kelas, juga disebutin nama siswanya. Sumpah deh, gue deg-degan banget. Malluuuu

Pas nama gue disebutin, gue langsung diem. Seluruh kelas ngeliatin gue. Wali kelas pun mulai ngebaca tulisan yang gue tulis diselembar kertas itu.

Nama: Rahayu Wulandari.
Ujian yang dicontek pelajaran kimia.
Bu, saya memang nyontek di satu pelajaran. Pelajaran kimia. Saya kerjasama dengan Putra. Bukunya diletakkan dipaha putra.
Jadi Putra yang buka, dan saya yang lihat

Mendadak seisi kelas ketawa hebat, wali kelas gue pun ikutan tertawa terkekeh geli.
Si walikelas mengulang-ulang kalimat terakhir yang gue tulis.
Seisi kelas masih aja ketawa, gue heran sambil masang tampang bengong.

Langsung aja wali kelas gue ngobral-ngabrik kumpulan kertas untuk nyari kertas nya si Putra.
Pas udah ketemu, walikelas langsung membacanya:

Nama: Putra Haryono
Mencontek dipelajaran Matematika, fisika,bahasa inggris dan kimia
Matematika nyontek ke si A
Fisika nyontek catatan.
Bahasa inggris nyontek ke si C
Kimia kerjasama dengan Wulan.
Saya yang buka, trus wulan yang ngeliat 

Mendadak seisi kelas kembali heboh
Buka apa?
Lihat apa?

Untuk beberapa menit pertama gue dan Putra saling pandang. Bengong. O'on, goblok.
Lama-kelamaan Putra mulai cengengesan najis. Gue tetep bingung.
Kenapa orang satu kelas pada ketawa ngakak?

Akhirnya gue ngerti.
Gue paham.
 Gue tau. Ada yang janggal dari kalimat yang gue tulis dikertas itu.
Entahlah,
Penulisan gue yang salah atau pemikiran orang satu kelas yang cepet negatif.
Hahaa



66 comments:

Komentarnya ditunggu kakak~

Gue (gak) Nakal kok..

Enggak terasa, udah setahun lebih gue lulus dari sekolah. Gue beneran kangen dengan masa-masa sekolah dulu. Masa pertama kali mengenakan seragam putih-abu, suasana MOS, suasana asing saat melihat temen-temen sekelas yang pada umumnya enggak gue kenal.
Ah, pengen sekolah lagi deh -_-'


Ketika SD, bisa dibilang gue adalah salah satu anak culun.
Gue selalu kesekolah dengan penampilan:
Kaos kaki panjang sampe ke lutut,
 bando ungu alay yg selalu nempel dikepala,
tali pinggang dengan kepala bergambar superman
air minum pinguin warna orange yg selalu digantung dileher
kacamata dengan tali nya yg menjuntai
dan tas ransel kayak anak pungut yang diusir paksa dari rumah sm ibunya.

Percaya gak percaya, itu penampilan gue ketika SD selama 6 tahun lamanya. Bisa dibilang, gue anaknya pendiem.
Tapi jangan salah gaes, dibalik gue yg pendiem, gue pernah masuk kantor kepala sekolah gara-gara kasus '' menghina guru ''.
Ketika kelas 5 SD, gue punya wali kelas cowok. Kejam gila! Kalo membagikan buku latihan murid, bukunya sampe dilempar-lempar ke lantai gitu. Alhasil semua murid kalo ngambil harus nungging. Kan kasian yang cewek. Kalo celana dalamnya keliatan gimana? Untungnya gue gak pernah make celana pendek selain celana dalam kesekolah. Huahaahaa
Ternyata dan ternyata, walikelas gue itu salah satu dosen di suatu universitas di Medan.
Dosen             = GALAK GILA KEJAM
Orang Medan = TEGAS

Dosen orang Medan= MAMPUS GUEH !

Harusnya dia bisa bedain dong, gimana cara mendidik anak SD dan gimana cara mendidik mahasiswa.
Berhubung walikelas gue kepalanya dibagian depan botak dan menyisakan beberapa helai rambut dibelakangnya, semua anak dikelas gak pernah ada yang protes saat diperlakukan seperti itu.
Dan akhirnya gue ngirim surat diselembar kertas, dan gue nulis curhatan gue disitu. Sebelumnya gue memang sering kirim-kiriman surat sama temen dikelas sebelah. Isinya ya curhat-curhat gitu. Didalam kertas itu, gue juga menyebut walikelas itu dengn sebutan, '' si rambut satu ''. Dan kemudian surat itu gue kasi ke temen gue yang berada dikelas sebelah. Alay memang. Sebelahan kelas sok pake kirim-kiriman surat.
Dan keesokan harinya
TARRRAAAAAAA
GUE DIPANGGIL KE KANTOR KEPALA SEKOLAH !
Keren gaes.
Pemandangan yg pertama kali gue lihat ketika gue masuk ke kantor kepala sekolah adalah, si walikelas yg selama ini galak dan kejam didepan kelas terlihat sedang nangis sambil mengelap air matanya dengan saputangan cokelat.
GLEK! Gue bener-bener kaget bersamaan dengan sebuah amplop yang gue terima dari kepala sekolah.
''Surat panggilan orangtua. ''


Masuk SMP, gue masih culun, masih baik, masih alim. Saking alimnya, kemana-mana gue selalu bawa buku yasin didalam tas. Bukan karena untuk dibaca sih, tapi karena gue takut hantu. Hahaaa.

Gue masih ingat dengan kejadian ketika SMP dulu. Gue berantem sama temen sekelas, sama-sama cewek.
Sebenernya masalah sepele sih, jadi gini. Ketika pelajaran komputer berlangsung, seperti biasa guru komputer selalu mengabsen muridnya terlebih dahulu. Sebelum mengabsen, beliau selalu bilang,
  '' siapa yang tidak masuk dalam pelajaran ini, saya anggap tidak hadir satu hari. ''
Nah, kebetulan Niar, temen gue enggak masuk saat pelajaran itu. Ketika guru komputer memanggil nama Niar, gue langsung aja nyahut keras, '' GAK MASUK BUK ! ''
Suara gue yang cempreng kayak kang kenek angkot menggelegar memenuhi isi ruangan lab komputer.
Ibu komputer langsung manggut-manggut kemudian menulis dikertas absennya sambil ngomong dalam hati,
cocok nih anak jadi tukang jual obat keliling, suaranya top. Leh uga u !

Keesokan harinya, Niar nyamperin gue. Marah-marah. Satu kelas heboh rek, serasa nonton tinju katanya. Gue cuma jawab seadanya saat Niar bentak-bentak gue.
 Ibu pernah bilang, api jangan dilawan dengan api. Api harus dilawan dengan air.
Mengingat pesan ibu yg seperti itu, hampir aja gue mau nyiram air keras ke arah Niar. Tapi gak jadi.
Niar tetep teriak-teriak, makin tenang cara bicara gue, makin naik emosi si Niar. Gue mah stay cool aja,
Enggak deng, sebenernya gue takut. HAHAAA
Dan cekcok itu berakhir saat Niar narik baju gue. Gue tetep diem. Temen-temen pada sibuk melerai cekcok gaje antara gue dan Niar.
Sampe akhirnya, PLOKK !!
Salah seorang temen gue memukul tangan Niar yang menarik baju gue. Tangan Niar lepas dari baju gue. Baju gue kembali kebentuk semula, agak kusut sih. Tapi gak papa, bisa disetrika kok. -_-
Singkat cerita, gue dibawa ke kantor guru. Dan disitu tangisan gue pecah. Hahaaa

Naik ke kelas 2 SMP gue berubah jadi baik, naik ke kelas 3 SMP, gue makin baik sekaleeehh
Pasti ntar dibawah muncul komen, ''Pencitraan lu !''
Hhahahaa.. hmm sudah kuduga.

Masuk SMK, gue malah berubah drastis. Diawal semester aja, gue nekat cabut dari sekolah dengan alasan keluar ngambil ijazah SMP.
Enggak tau kenapa, gue malah makin bandel ketika SMK. Padahal jarak rumah gue ke sekolah SMK cuma 5 menitan. Jalan kaki juga nyampe.Gue juga sekolah di SMK swasta, yang guru-gurunya kejam abis. Tapi kok gue justru nekat jadi anak bandel ya ketika itu. Entahlah, gak jodoh mungkin. Kalo gak jodoh kan gak bisa dipaksa. Urusan hati siapa yang tahu. Urusan jodoh juga udah ada yang ngatur.

Iyak, keluar topik!


Gue bersekolah disekolah SMK Swasta. Satu bangunan gedung, digabung bareng anak SD-SMP-SMK-SMA.
Gak masalah sih bagi gue, malah seneng pas liat anak SD lucu-lucu gitu. Yang bikin serem itu saat gue ngeliat anak SD fasih banget ngomong bahasa inggris sama gurunya yang juga orang luar.
Lah gue bisa apa?
Ngerti bahasa inggris juga tau dari bungkus permen kiss. Ahelah.
Peraturan di sekolah gue ketat banget.
Kayak Nicki Minaj pake bikini ukuran M.
 Ketaaat gaess, ketaaaatttt !

Apel pagi disekolah gue dilakukan disetiap hari. Dan setelah barisan dibubarkan, satu persatu walikelas datang ke barisan anak muridnya. Dan lo tau apa yang terjadi berikutnya?
Gue tewas! Iya, gue stroke ditempat.
Berhubung walikelas gue waktu itu guru matematika yang paling senior disekolahan, maka semua murid yang hendak masuk kelas, harus bisa menjawab soal matematika yang diajukannya.
Tanpa kalkulator
Tanpa pena
Tanpa kertas
Tanpa kamus bahasa indonesia

Ngeri gaes.
Gue bener-bener pengen beralih profesi jadi tukang ketoprak daripada harus jadi pelajar yang mau masuk kelas aja harus dapat pertanyaan dulu. Kayak malaikat munkar aja, nanya-nanya.
Otak-otak pinter nan encer dikelas satu persatu mulai masuk. Gue heran deh sama mereka yg pinter. Pas dikasih soal matematika sama walikelas, mereka cuma ngeliat ke langit atas, mikir, diem, liat ke langit atas lagi, dapet deh jawabannya.
Lah gue, pas gue liat ke langit atas sambil pura-pura mikir, malah dikatain orang ayan yang kejang-kejang sama walikelas.

Bangkeeeh.

Sampai akhirnya tinggalah otak-otak beku, otak seperempat,otak padat sampe otak kosong kayak gue juga ikut tinggal dibarisan.
Gue planga-plongo nunggu hidayah jatuh dari langit.


Ketika duduk dibangku kelas 1 SMK, bandel gue malah menjadi-jadi. Gue bahkan pernah menempuh perjalanan 2 jam sepulang sekolah dengan temen cewek, tanpa helm, tanpa jaket, dan tanpa pasangan. Waktu itu gue jomblo sih.
 Jadi ceritanya gini,
.
.
.



Eeh bentar yak, mama gue nelfon nih.

Dalam perjalanan yang memakan waktu 2 jam itu, gue sama sekali gak memikirkan resiko yang akan kami hadapi saat itu. Bayangin gaes, dua siswi SMK alay yang masih berseragam sekolah nekat jalan-jalan jauh tanpa helm dijalan lintas antar daerah. Dimana banyak fuso bahkan mobil tronton yang beriringan didepan kami. Kalo gue oleng bawa motor, trus jatuh, gak pake helm, trus dilindes tronton, apa kabar gue nantinya?
Kalian sedih gak sih? Enggak ya? oh yaudah.

Bukan hanya itu, gue juga pernah jalan jauh dengan memakan waktu 1,5 jam ke kota lain bareng 5 temen lainnya. Kali ini bukan ngelewatin jalan lintas, tapi ngelewatin jalan tanah yang kanan kirinya masih hutan. Yang gue takutin ketika itu adalah, '' diperkosa om-om ''.
Kalo ganteng sih,, heeemmm eeh enggak boleh juga. Pokoknya gue takut banget diperkosa om-om waktu itu.
 Gue selalu nancap kencang gas motor saat berpapasan dengan laki-laki.

Bukan hanya sekali-dua kali gue melakukan perjalanan jauh, tapi berkali-kali.
 Dan alhamdulillah, selama perjalanan jauh seperti itu, gue gak mengalami kejadian-kejadian buruk.
Kadang gue ngerasa bersalah banget sama ibu. Sampe sekarang juga.
Dulu gue sering banget bohongin beliau. Pura-pura pake alasan ngerjain tugaslah, jenguk temen sakitlah,bantuin guru ini itu anu. Padahal diluar sepengetahuan ibu, gue malah jalan-jalan gak jelas diluar sana bareng temen-temen.
Maafin adek ya buu :(
Adek janji gak bakal nyusahin ibu lagi :)




75 comments:

Komentarnya ditunggu kakak~

Tragedi 12 ribu

 Nova, adek gue yang baiknya super sekali sampe pengen gue jadiin gantungan kunci saking baiknya. Kemarin Nova maksa-maksa sampe nyeret kaki gue untuk keluar kamar dan nemenin dia nyari buku tulis ke Pustaka 2000, sebuah toko buku yang ada ditempat gue tinggal.
Kalo udah masuk kamar, enggak tau kenapa rasanya gue maleeesss banget untuk ngelakuin kegiatan lain selain nulis binder dengan tulisan-tulisan alay, main hape,nyanyi dengan suara gue yg pas-passan dan meluruskan kaki ke dinding. Bener. Coba deh luruskan kaki ke dinding, enak banget rasanya.

Setelah melihat wajah memelas iba yang emang udah bawaan lahir dari adek gue, gue pun langsung ganti baju dan cus pergi nemenin dia.
  '' mau beli buku apa Va? '' ujar gue sambil tetep ngendarain motor dengan muka males-malesan.
  '' beli buku tulis, sama pena 2. Buku tulisnya yang besar, yang ada gambar-gambarnya disampul luarnya. Isinya juga harus ada gambar-gambarnya. Biar cantik gitu, ''
Disimpang ada tiang listrik gede.
Rasanya gue pengen menabrakkan motor ini secepatnya.Gak tahan denger permintaan aneh dari Nova.

  '' Bawa uang gak Va? '' tanya gue lagi.
  '' Bawa, ini tiga ribu. ''
TIGA RIBU GAEESS! DAPAT APA?
Bayar parkir udah seribu, beli teh gelas satu harganya seribu, cuma sisa seribu. Buat apa ha? Buat apaa??
  '' Ha? Kok cuma segitu sih? ''
  '' tadi lupa minta duit ke ibu, ibu tadi pergi. '' jawabnya.
Oh Tuhan, seandainya jalanan dilampu merah didepan kosong, mungkin gue udah salto depan-belakang.
Untung aja didalam jok motor ada duit. Kayaknya sih.

Sesampainya di Pustaka 2000 kita berdua turun.
Bersamaan dengan langkah kaki gue yang menginjak masuk lantai Pustaka 2000, seorang mbak-mbak cakep senyum ke arah gue. Udah cakep, ramah senyum lagi. Kalo gue cowok, udah gua bawa ke KUA tu mbak-mbak.
Dalam sekedip mata, Nova udah ngilang dari peradaban. Eeh maksud gue dari pandangan mata gue. Dia langsung ngacir ke arah buku-buku.
  '' iih yang ini cantik ya ''
  '' ini doraemon, lucu kan kak ''
  '' Sampulnya timbul gitu, keren ya, ''
  '' eeh ini cantik banget, lucuuu ''
Gue cuma diem dengan melipatkan tangan kedada sambil mandang nyengir ke adek gue. Pengen cepat-cepat pulang gue.

  '' bukunya itu? udah? pena nya cari sana '' gue tetep berdiri santai sambil ngecekkin hape, kali aja ada sms masuk dari pacar. Ternyata enggak. Yaudah.
Pas Nova lagi asyik-asyik milihin pena yang padahal semua isi sama-sama tinta, kagak bakalan ada pena yang isinya minyak solar, gue memandang sekeliling gue. Gak ada cowok cakep soalnya, coba ada cowok cakep, mungkin kita udah saling pandang-pandangan.
Gue noleh ke kiri, seorang mbak-mbak karyawan yang kerja disitu memperhatikan gue. Kayaknya udah dari tadi sih, cuma guenya aja yang baru sadar.
Gue nyengir sambil menatap balik mbak-mbak itu. Gak ada kerjaan banget sih mbak-mbak ini, kebelakang kek, nyuci piring atau apa kek gitu.
Kemudian gue membuang muka.
Selang beberapa lama, gak sengaja pandangan gue mengarah ke mbak-mbak sinis tadi. Beda dengan mbak-mbak si ramah senyum yg berdiri didepan pintu masuk tadi.
Si mbak sinis itu ngeliatin gue lagi dari atas sampe bawah, seolah-olah ngomong,
Oh jadi perempuan ini yang udah merebut suami gue!
Gue natapin dia balik dengan tatapan nantang. Seolah-olah ngomong.
Iya, memang gue yang ngerebut suami lo. Mau apa lo hah?

Adegan tatapan itu berlangsung kira-kira setengah menitan. Entah dengan visi dan misi apa mbak-mbak itu menatap gue dengan tatapan sinis.
Apa karena pakaian gue?
Gue ngeliat pakaian yang gue kenakan ketika itu. Jilbab cokelat, tanktop hitam yang dibaluti dengan jaket pendek seukuran pinggang, serta celana jeans hitam. Ditambah tas samping cokelat ala-ala tukang kredit yang lagi frustasi ngejar client nya. Dan yang terakhir sendal jepit cokelat kesayangan gue dengan tulisan ''woles'' di atasnya.
Apa karena penampilan gue yang absurd itu kali ya sampe si mbak-mbak negliatin gue. Pengen banget gue ngelepas sendal cokelat ini trus gue sodorin ke mbak-mbak nya sambil teriak,
  '' NIH BACA MBAK, WOLES DONG WOLES. MATA NYA WOLES AJA! ''
Abis itu gue diseret keluar sama security.

Selesai membayar dan menjauh dari mbak-mbak sinis itu, gue langsung ngacir keluar.
  '' Kita kesana dulu yuk '' gue ngajak Nova ke supermarket yang gak jauh dari Pustaka 2000 itu.
Sesampainya disupermarket, kita berdua langsung naik ke lantai atas. Jalan ke bagian aksesoris, dan disana gue ngeliat banyaaaakk banget barang-barang lucu. Cewek bangetlah pokoknya.
Setelah ngeliat sana-sini, akhirnya gue memilih jedai rambut untuk dibawa pulang. Iya, cuma jedai.
Gue pecinta jedai rambut. Sangat cinta.
Hampir seminggu sekali gue beli jedai, soalnya sering patah mulu kalo gue pake. Entah ada apa dengan rambut gue ini. Tapi gue semangat dan gak pernah berhenti untuk beli jedai, ya meskipun sering patah sih.
Kayak cinta, walaupun udah banyak cinta yang patah, kita harus tetep semangat dan jangan pernah  berhenti untuk mencari cinta yang baru.
Gue dan Nova langsung turun ke lantai dasar. Muter-muter lagi, beli ini-itu dan akhirnya sampailah kami ke meja kasir.
Saat mbak kasir sedang menghitung harga barang yang kami beli, mata gue tiba-tiba ngeliat sebuah maskara didalam kotak kaca.
  '' Mbak, itu maskara nya satu ya ''
Spontan aja gue langsung ngomong gitu. Dengan penuh sukacita, si mbak kasir ikut menggabungkan maskara kedalam plastik belanjaan setelah menjumlahkan harganya.
  '' Total semuanya 143 ribu mbak ''
Gue merogoh anu gue, saku celana maksudnya, saku celana. Dengan bermodal duit yang dari dalam jok motor, gue langsung meletakkan uang tersebut dimeja kasir.
Seratus
Tiga
Puluh
Satu
Ribu

Mampus gue~
Duit gue kurang 12 ribu. Sumpah, gue malu.
Gue merogoh anu gue yang satu lagi. Saku celana sebelah kiri maksudnya. Berharap ada sisa-sisa duit untuk melanjutkan hidup gue ketika itu.
Sial! Yang ada disaku kiri cuma bungkus permen Mint. Itu juga permen kembalian dari mas ganteng di indomaret. Berhubung mas kasirnya kece, yaudah gue simpan deh bungkus permennya. Mau dibuang, tapi sayang.
Gue sempat ngelirik ke Nova, kayaknya adek gue bisa nih dijadiin jaminan atas kurangnya duit gue itu. Tapi setelah gue liat-liat lagi, kayaknya dia gak sampe 12 ribu deh kalo dijadiin jaminan.

  '' Mbak, maaf.. Ini barangnya bisa dibalikin gak? 1 barang aja. Soalnya duit saya kurang, hehee ''
Suer deh, itu bener-bener '' hehee '' terkamfred yang gue ucapkan.
  '' Bisa kok mbak, mau balikin barang yg mana? ''
Setelah gue meletakkan salah satu barang kembali ke raknya, alhamdulillah gue masih nerima kembalian 4 ribu. Gak papa. Lumayan buat beli cimol didepan.

Gue yang cemberut ketika pergi tadi, berubah jadi ketawa ngakak disepanjang jalan pulang.
Malu gaes, maluuu banget.

Yaudah ya, ada telefon nih dari mamah.
Bye~



58 comments:

Komentarnya ditunggu kakak~

Selamat Tinggal LDR~

Gak terasa udah sebulan gue menjabat sebagai Distancer, alias pejuang LDR.
Rasanya baru kemarin tanggal 7 Juli, hari dimana gue melepas kepergiannya dengan lambaian tangan sambil senyum bahagia.
Pura-pura bahagia sih sebenernya. Sampe rumah mewek juga. Huuhu

Enggak tau kenapa, LDR selama 1 bulan ini rasanya lamaaaaa banget gaes. Serasa bertahun-tahun LDR-an, ahelah -___-'
Bagi si pacar yang kuliah di kota tempat gue tinggal saat ini, mudik tahunan saat lebaran adalah momen yg pas untuk berkumpul dengan keluarganya. Alhasil, gue ditinggal sendirian. Sedih. Miris.

Diminggu pertama LDR-an gue bener-bener santai dan menikmatinya. Ya meskipun lumayan jarang komunikasi. Lama-kelamaan gue jadi bete sendiri. Soalnya pada minggu-minggu selanjutnya, sms gue jarang dibales. Iya, kami memang masih menggunakan layanan sms untuk berkomunikasi. Hahaa jadul banget gak sih? Gak ada yg namanya Line, BBM, WA, de el el. Padahal gue udah pernah menyarankan dia supaya meninggalkan layanan sms-an itu, tapi dia malah jawab, '' smsan kan simpel, gak ribet. ''.
Yasudahlah.. -__-
Makin hari sms gue makin dicuekkin, bener-bener dicuekkin. Gue sms dia pagi, eeh dia bales pas selesai zuhur. Gue balas lagi, eeh dianya ngantuk dan pengen tidur siang.
Pokoknya selama 1 bulan itu, kami sangat minim komunikasi.
Kalo kangen?
Kalo kangen yaa..
Kalo kangen sih yaaaa
Kalo kangen sih
Gue
Ya
Mewek
Dalam
Selimut.

Hahaa etapi ini beneran loh. Kalo lagi kangen, gue gak bisa berbuat apa-apa. Bahkan dia pernah nelfon gue, karena saking kangennya gue nangis. Ujung-ujungnya gue gak berani buat ngangkat telfonnya.
Gue takut aja ngeliat dia shock pas dengen suara cempreng gue yg lagi nangis.
Gak hanya sering mewek, gue juga jadi sering marah-marah sendiri. Enggak tau kenapa juga, rasanya emosian mulu. Alhasil, si pacarlah yang gue jadikan korban pelampiasan. HUAHAHAA
Yang anehnya, selama sebulan kemarin, gue dapat mimpi yang aneh-aneh aja. Entah ini dikarenakan faktor sedang kangen, sedang LDR-an atau sedang sedih. Iya sedih pas liat isi dompet.
Pertama, gue mimpi punya pacar baru.
Besoknya, gue mimpi dilamar cowok, entah siapa orangnya. (kalo Zayn Malik sih, langsung gue terima lamarannya)
Besoknya lagi, gue mimpi dilamar sama temen kakak gue. Dulu juga pernah deket sih.
Hari berikutnya, gue mimpi dirumah gue ada anak bayi. Luccuuu banget, kayak gue.
Besok harinya, gue mimpi si pacar mutusin gue trus jadian sama temen deket gue sendiri.

HASTAGAH! Mimpi gue aneh-aneh banget kan.
Entahlah, kalo kata-kata orang, mimpi itu cuma bunga tidur. Ada juga yang bilang, mimpi itu tandanya kebalikan dari apa yang kita mimpikan.
Gue jadi ngerti, pantes aja waktu kecil gue sering banget mimpi jadi jelek. Eeh udah besar malah jadi cakep.
Bener-bener kebalikan dari mimpi ya.

Dan Alhamdulillah ya, hari ini gue udah enggak LDR-an lagi.
Bener-bener genap 1 bulan. Dari tanggal 7 Juli sampe tanggal 7 Agustus. Ini emang direncanain apa gimana sih? -__-

Setengah jam lagi si pacar sampe kesini. Yuhuuu
Selamat Tinggal LDR !
Jangan datang-datang lagi ya ~











22 comments:

Komentarnya ditunggu kakak~

Jangan Takut dengan Kegagalan

Kegagalan memang kerap sekali hadir disaat kita hendak melangkah maju. Bahkan orang yang sukses, juga pernah mengalami kegagalan. Bukan hanya sekali-dua kali, tapi berkali-kali.
Putus asakah kita?
Menyerah kah kita?
Itu semua tergantung dengan bagaimana kita menyikapi kegagalan itu

Jangan takut dengan kegagalan :)
                                       


jiirr~ kesenggol malaikat apa gue hari ini yak
Bicara mengenai kegagalan, kita semua pasti pernah mengalami kegagalan. Meskipun dalam segi yang berbeda-beda. Kali ini gue mau nulis tentang kegagalan dalam cerita cinta gue. Kampret banget kalimatnya!

Gue akui, selama gue pacaran dengan cowok, itu semua gak lepas dari pantauan orangtua, terutama ibu. Beliau yang tau laki-laki mana yang baik untuk gue, laki-laki mana yang beneran sayang dengan tulus atau hanya sekedar modus. Ibu yang ngajarin gue untuk berhati-hati dalam memilih cowok.
Iya, memang benar. Nyari cowok baik dijaman sekarang ini ibarat lo nyari rujak di KFC. Susaaah gaees, suusaaahhh.

Beberapa kali gue harus end dengan cowok, dan beberapa kali juga itu atas permintaan ibu.
Sekitar 3 tahun yg lalu, gue harus mengubah status jadi jomblo tepat dilebaran ketiga. Lebaran ketiga yang dimana banyak dihabiskan temen-temen gue dengan jalan-jalan bersama pacarnya dan sementara gue harus mewek dirumah. Miris.
Itu karena, ketika si pacar berlebaran kerumah gue bersama 2 temennya (cewek-cowok). Dan sepasang kekasih itu tiba-tiba 'kissing' didepan rumah gue. Dan pas didepan mata ibu.
GILA WOY, SIANG BOLONG GINI MALAH KISSING. MASIH LEBARAN JUGA, UDAH BIKIN DOSA AJAA -__-

Dan akhirnya ibu menyuruh gue untuk putus dengan pacar ketika itu juga. Ibu khawatir, nanti gue kena pergaulan edan kayak gitu.
Disitu gue bener-bener down. Pengen memberontak.
Kenapa ibu ikut campur dalam masalah gue? pacar, pacar gue, yang jalanin juga gue. Toh kalaupun yg disakiti, yang dikecewakan, kan gue. Bukan ibu.
Ini masalah hati, gak bisa seenaknya dihilangkan gitu aja.
Tapi apa daya. Gue tetep nurut dengan perintah ibu, orangtua.

Bukan hanya sekali, dua kali. Bahkan sudah lebih dari hitungan 1 kepalan tangan gue harus putus dengan pacar dikarenakan pandangan yg menurut ibu kurang baik terhadap mereka semua. Dan memang bener sih, beberapa bulan setelah kejadian itu, gue jadi sangat bersyukur dan berterimakasih ke ibu karena berkat beliau, gue enggak sampe dikecewakan oleh laki-laki. Ailofyuu ibu, mwah :*
Berkat ibu, gue jadi tau berbagai sifat laki-laki dan itu bisa membuat gue lebih berhati-hati dalam memilih.
Ibu hebat, sangat hebat.
Gue jadi tau, apa alasan dibalik sikap ibu yang seperti ini ke gue. Ibu hanya gak mau anaknya disakiti dan salah dalam mengambil keputusan. Itu aja.

Kayaknya ibu beneran tau sikap gue ketika gue sedang gagal alias putus cinta.
Gue bisa seharian gak keluar kamar, uring-uringan, tidur mulu, gak mau makan nasi, pengennya ngemil. Dan mata yang sembab.
Meskipun gue ngejawab, '' gak apa-apa '' ketika ditanya ibu, ternyata ibu tau aja apa yg gue alami.
Beneran, gue kalo putus cinta kayak orang gila. Padahal baru pacaran 5 bulan juga, meweknya kayak ditinggal mati suami. Elaah.

Bahkan, kalo kalian semua tau, blog ini tercipta ketika gue lagi putus cinta. Kalian bisa liat tulisan pertama kali yang super najis, dengan kalimat alay kampret yang gue ketik disana. Bahkan saat menulis postingan pertama kali itu, gue ngetik sambil netesein air mata.
BAJIGURR~ GUE ENGGAK BISA MEMBAYANGKAN ITU !
Drama abis pemirsa..

Niat pertama gue bikin blog sebenernya hanya sekedar iseng-iseng doang. Kebetulan gue lagi galau, kecewa, yaudin gue create a blog, jadi deh.
Lambat laun gue mulai sadar, buat apa punya blog kalo isinya cuma curahan hati galau galau najis gak jelas gitu? Dan berkat pemikirn seperti itu, gue akhirnya jadi merubah konsep awal nge blog. Hingga akhirnya gue memutuskan untuk menulis kisah sehari-hari kedalam blog ini.
Cape gue nulis postingan yang galau mulu -__-

Dan tanpa disengaja, karena kegagalan yang menyebabkan galau itu akhirnya blog ini tercipta. Bahkan sampai sekarang. Karena blog ini jugalah gue bisa banyak kenal dengan temen sesama blogger. Galau gue juga makin hari makin hilang.


Bukan hanya kegagalan dalam soal cinta. Kegagalan dalam bisnis, dalam dunia pendidikan juga kerap sekali terjadi.
Intinya, jangan takut mengalami kegagalan. Karena dengan adanya kegagalan, maka akan terbuka seribu jalan yang akan membuat kita menjadi lebih baik. Bukan menjadi mundur kemudian down hingga menutup diri dari lingkungan.

Oke gaes..
Sip dah

Happy Blogging















45 comments:

Komentarnya ditunggu kakak~

Aku dan Mimpi






                              








Silahkan berteriak dan menyebut tulisan ini hanya sebuah mimpi. Iya, rangkaian kata ini memang secuil mimpi dari harapan besar yang ku sembunyikan jauh disana.

Bolehkah aku bermimpi?
Bermimpi untuk tetap bergandeng tangan denganmu. Melewati jejak-jejak kehidupan bersama, selalu bersama. Berkeliaran dengan menginjakkan kaki ditanah basah berdua. Tertawa lepas saat menonton film favorit kita.

Bolehkah aku bermimpi?
Bermimpi untuk selalu ada dalam kisah suka maupun dukamu. Aku siap menampung segala curahan hatimu, aku siap menerima keluh kesahmu kapan saja. Karena aku ingin menjadi satu-satunya orang yang paling dekat bahkan bisa mendengar denyut jantungmu setiap waktu.

Bolehkah aku bermimpi?
Aku tau, aku masih terlalu kecil untuk memimpikan kisah seperti ini. Kamu boleh saja mengatakan bahwa khayalanku terlalu tinggi. Iya, kamu benar. Aku memang berkhayal untuk sebuah mimpi. 

Bolehkah aku bermimpi lagi?
Aku ingin menjadi orang yang selalu ada disetiap pagi kamu membuka mata. Menyatukan dunia kita bersama, meruntuhkan segala perbedaan bahkan tembok penghalang sekalipun.

Hei, apa boleh aku boleh bermimpi lagi?
Aku ingin sekali duduk berdua denganmu sambil menyaksikan senja yang menguasai langit sore itu. Dengan secangkir teh hangat dalam gelas biru muda yang bertengger disebelahku. Menceritakan segala hal, tertawa lepas bersama, hingga aku terlelap disandaranmu. 

Mungkin mimpi-mimpi dalam tulisan ini terlihat seperti dongeng, bahkan sekedar drama. 
Izinkan aku untuk mencintai semua khayalan konyol dalam mimpi ini.
Karena aku, mencintai segala mimpiku.







Disini, kosongtiga agustus duaribulimabelas



                                                                                                                           

                                                                                                               Your Future




42 comments:

Komentarnya ditunggu kakak~