Hallo !

My Photo

Rahayu Wulandari

Perempuan asli tanpa operasi, 20 tahun, pecandu mecin garis keras

Media Sosial

Who am I ?

Haihooo. Gimana kabarnya? Sehat? Udah dapat kepastian dari si dia belom nih? Emaap. 

Tadinya mau nulis pembukaan tulisan pake kalimat, yawlaaa gue serasa jadi blogger murtad. Tapi kok rasanya udah keseringan ya. Keseringan murtadnya. :(

Udah hampir satu setengah bulan gue ga ada nulis apapun di blog tercinta ini. Padahal dulu, apaaa aja ditulisin. Dari curhat ga penting sampe page kosong hanya berisi titik doang juga gua posting. Iya dulu gue sealay itu di dunia blog. Kalo ga percaya, coba aja dicari.

Well, mungkin beberapa temen juga udah tau ya tentang proyek WIRDY yang sedang terbit baru-baru ini. Jangankan elu, gue juga baru tau. Ehee

Ini dikarenakan gue udah sebulanan tidak berkecimpung di dunia media sosial. Apapun itu. Dan ketika gue mulai masuk kembali, eeh wasap gue error. Gue uninstall terus install lagi, eeh tambah error. Gue sampe pusing mikirinnya. Sampai pada akhirnya, untuk yang kesekian kalinya gue install wasap diiringi dengan lantunan doa agar tidak error lagi, Alhamdulillah wasap gue kembali normal.

Hal itu menyebabkan gue banyak banget ketinggalan info tentang perkembangbiakan di grup chat WIRDY. Singkat cerita, Icha, gadis cantik nan polos memberi tau tentang proyek tulisan dengan tema Kepalsuan tersebut pada gue.

So, kali ini gue bakal nulis tentang bagaimana gue sebenarnya. 

* * *

Dari duduk di sekolah dasar, gue anaknya cupu parah. Anak kelas yang mau temenan sama gue ya bisa diitung jarilah. Jari doraemon alias ga ada yang mau temenan sama gue. Ada atau enggaknya gue di kelas mungkin ga ada pengaruhnya buat mereka. Sesedih itu. 

Saat jam istirahat. berbekal dengan uang jajan seribu rupiah, gue bakalan ngeloyor ke kantin dan membeli 2 permen lollipop berbentuk telapak kaki seharga limaratus rupiah. Sisa limaratusnya gue simpen. Gue tabung buat membeli mulut-mulut mereka di luar sana.

Dan di sanalah gue, siswi cupu berambut pendek bersandar di tembok tiang sekolah, yang sibuk mengemut-emut permen telapak kaki.

Naik ke kelas 5 dan 6, gue mulai berteman dengan seorang perempuan. Namanya Bella. Nama kepanjangannya I will Bella-ving yu. Etapi serius deng, namanya Bella. Namanya panjang bener asli. Gue inget nih sampe sekarang. Nama kepanjangannya, Bella Permata Cindy Alnasari Qolbi Jamila Qiutabel Annisa.

KASIAN YA BELLA PAS NGISI LEMBAR JAWABAN UN:(

Gue cukup akrab berteman dengan Bella. Kemana-mana bareng kayak anak kembar siam.

Naik ke SMP, gue juga hanya berteman dengan satu orang. Namanya Santi. Kami kemana-mana juga bareng. Istirahat bareng, ke kamar mandi bareng, pulang pergi sekolah bareng pokoknya selalu bareng deh. Dan gue akan memilih menyendiri seharian saat mengetahui bahwa Santi tidak masuk sekolah.
Entah kenapa, gue ngerasa terlalu sulit untuk membuka diri dengan teman-teman lainnya. Gue sulit untuk membaur, kayak tiba-tiba nimbrung ke tongkrongan anak-anak sambil ngomong, ‘ hei wasapp broo..’


                               


Gue gabisa seperti itu.

Gue memiliki tipe kepribadian introvert.

Gue menyadari akan hal itu. Dengan gue yang kurangnya percaya diri, jarang mengobrol dengan banyak orang, pendiam, lebih suka menyendiri, sering mengkhayal sendiri, cenderung tertutup dan melakukan kegiatan seperti, mengutarakan curahan hati, pendapat, argumen lewat tulisan. Berbeda dengan kepribadian ekstrovert yang lebih memilih untuk berdiskusi dengan orang banyak dan beradu argumen.

Gue lebih memilih mengobrol empat mata dengan seseorang. Bagi gue, hal itu lebih bermanfaat sekaligus membuat gue merasa nyaman.

Alhasil, temen deket gue dari SD sampai SMP bisa dihitung jari. Sangat sedikit.
Dan ketika masuk di SMK, gue mulai membaur dengan beberapa temen. Gue berteman dekat dengan banyak orang. Siapapun itu, pokoknya gue deketin. Gue berusaha agar tampil friendly and easy. Namun, hal itu tidaklah berlangsung lama. Gue kembali ke dunia gue sendiri.

Gue lebih menyukai tiduran di kamar sambil dengerin lagu yang mengalun di headset. Gue lebih menyukai memperhatikan orang berkeliaran di lapangan basket dan duduk sendirian di kelas.

Mungkin, orang seperti gue sangat pemilih kepada siapa yang pantas untuk dipercaya. Tapi paan, sampe sekarang gue masih aja percaya sama janji manis si dia yang ternyata palsu. Hhhha~


* * *

                                       


Even gue saat di kampus, di kantor, setiap ngumpul dengan temen reunian selalu berusaha untuk tampil ceria, heboh dan sesekali melontar joke, bully dan lainnya, tetep saja itu hanya kamuflase dari gue yang sebenarnya adalah pribadi introvert.  Gue hanya ingin diterima dalam lingkungan.

Terlepas dari keadaan dan lingkungan itu semua, gue lebih menikmati saat di man ague menghabiskan waktu sendiri. Nggak jarang gue selalu berpergian kemana-mana sendiri.
Makan siang di luar sendirian, makan siang di kaepci sendirian, belanja sendirian, nyari buku sendirian, belanja baju sendirian dan kegiatan lainnya yang gue lakuin seorang diri.
Cukup sering gue dapat pertanyaan sejenis, ‘ kok sendirian aja? ‘ atau ‘pacarnya kemana? ‘ dan lain sebagainya, rasanya kok gue lebih nyaman ya pergi sendirian kemana-mana. Gue lebih bisa berinteraksi dengan jiwa gue sendiri ketimbang berinteraksi dengan orang lain.  

Gue ngerasa bahwa apa yang gue lakuin demi diterima di lingkungan adalah palsu. Sosok seorang gue sebenarnya tidaklah seperti itu. Tapi, terlepas dari itu semua, sosok introvert berhak mengembangkan kepribadiannya dan meraih kebahagiaannya. meskipun dalam bentuk yang berbeda dengan sosok ekstrovert. 


* * *


Setelah sekian lama ga nulis proyek dikarenakan adik kecil kami, Robby sedang menjalani UN beberapa waktu lalu, akhirnya kali ini kami kembali nulis proyek dengan tema: Kepalsuan.

Untuk tulisan temen lainnya, bisa dibaca di sini ya :
Yoga : Palsu
Icha : Nge-BF Bareng Yoga Akbar Sholihin: Dari Easy A Turun Ke Pencitraan Mesum
Robby : Dibajak Ghostwriter Blog Robbyharyanto.com!
Darma : bakalan diposting setelah pulang dari Turki. 




'' Gigi aja aku lindungin pake pager, apalagi hati aku. ''

'' Ooh ternyata cuma begini doang ya. Kok nggak sakit. Apa karena gue udah sering disakiti ya jadi rasanya udah kebal gitu, ehee. ''

 Beberapa hari yang lalu, di suatu pagi yang cerah, gue dipanggil Ibu ke dapur. Tentu saja, ritual menikmati secangkir milo di pagi hari gue, ketika itu jadi terganggu. Sebagai anak yang berbakti meskipun enggan rasanya ke dapur, gue akhirnya menemui Ibu.

'' Lan, jadi mau pasang behel? '' tanya Ibu sambil memasak.

Sebenernya gue udah lama pengen pakai behel. Mengingat gigi seri kiri gue yang tumbuh kurang rapi. Dan mendengar pertanyaan Ibu yang aneh dan menimbulkan tanya di kepala gue, seperti 'kok tumben nanya beginian?' gue langsung menjawab,

'' Nggak, nggak jadi. ''

Soalnya, menurut pengalaman gue selama hidup hampir 21 tahun bersama Ibu, setiap kali ada percakapan seperti ini, Ibu pasti nanti akan menjawab,

'' Kalo mau pasang behel, ya pake kawat jemuran aja. Hahahahaaa... ''

Maka dari itu, gue memilih untuk mematahkan joke Ibu yang sudah bertahun-tahun melekat di lingkup keluarga kami.

Ibu yang sedang memasak, langsung menoleh ke arah gue.

'' Yakin gamau pasang behel? Kalo mau pake duit Ibu aja dulu. Ntar pas THR ganti ya. ''

Ya Allah ini Ibu gue kerasukan apa?
Mana joke Ibu yang sudah menahun dan terpahat di benak gue dulu?

'' Ha? Beneran, Bu? ''

'' Iya. Tapi nanti pas THR diganti ya. ''

Yailah. Kok cuma bagian THR diganti ya-nya doang yang diulang. Mau marah, tapi seneng juga.

Gue kemudian kembali menyeduh secangkir milo yang gue tinggalkan beberapa menit yang lalu. Pagi itu, minum secangkir milo serasa minum kopi starbak.

Sore harinya, gue, Ibu dan Nova berangkat menuju dokter gigi terdekat. Kami bonceng tiga. Yakaleek. Kagak deng. Kami berangkat menggunakan dua motor. Sebelum berangkat, gue ngomong ke Nova,

'' Aku gamau bonceng Ibu ya. Kamu aja yang bonceng Ibu. ''

Bukannya apa-apa nih. Sejak Ibu kecelakaan bersama kakak beberapa waktu lalu, Ibu jadi takut kalo naik motor. Trauma. Gue antar ke pasar naik motor dengan kecepatan 40km/jam aja, Ibu udah ngomel-ngomel sekaligus meluk pinggang gue kenceng. Ya Allah, masak iya bawa motor dengan kecepatan 20km/jam. Ngalah-ngalahin rangorang pacaran yang naik motor aja.

Naik motor ngebonceng Ibu juga bikin gue hilang fokus. Soalnya sering dicerewetin. Pernah pas gue nganter Ibu ke pasar. Kami melewati jalanan yang agak turunan. Turunannya nggak terlalu curam sih. Lebih curam masa depanku jika tanpa kamu. Eh itu mah suram. Ehe.


Akhirnya, gue berangkat seorang diri. Sementara Ibu dibonceng oleh Nova. Fyi, Nova juga ikut ke dokter gigi dikarenakan gigi susunya harus dicabut. Aneh juga sih, gigi susu dicabut di usianya yang sudah menginjak 14 tahun. Padahal seharusnya gigi susu harus sudah dicabut di usia 6 atau 7 tahun. Alhasil, karena gigi susunya lama dicabut, gigi baru nongol di bagian gusi atas Nova. Serem euy.


* * *

Singkat cerita, sesuai magrib, kami bertiga sampai di tempat dokter gigi. Seorang dokter perempuan bertubuh kecil, mungil, cantik dan polos menyambut kami. Setelah sedikit berkonsultasi, hal pertama yang dilakukan oleh dokter itu adalah, mencabut gigi Nova. Huahahahaa sian amat sih lau~

Tidak sampai setengah jam, gigi susu milik Nova sudah tercabut. Nova turun dari kursi santai. Iya, kursinya santai banget anjir. Bisa rebahan, bisa naik turun. Dan setelah mengamati ruangan dokter gigi itu, gue baru sadar kalau ruangannya feminin abis. Ruangannya bernuansa hello kitty. Dengan warna merah jambu dan putih. Unyu-unyu banget ya Allah. Gue geli ngeliatnya.

Well, setelah Nova turun, barulah gue naik ke kursi merah jambu tersebut. Gue rebahan dan mencoba tidur serileks mungkin. Sebelum memasang behel, Dokter lebih dulu membersihkan karang yang melekat di gigi gue bagian dalam serta menambal gigi geraham yang sedikit berlubang. Rasanya ngilu banget ya Allah. Beberapa kali gue berkumur-kumur menggunakan cangkir pink yang ada di sebelah kiri gue. Tampak sedikit darah mengalir di wastafel.
Setelah membersihkan karang dan menambal gigi yang berlubang selesai, barulah pemasangan behel dimulai.

Sebelumnya, siang harinya gue sempat searching tentang pemasangan behel. Ada yang bilang rasanya sakit, bikin mulut pegel, bikin air liur beleberan kemana-mana, dan semua artikel yang gue baca itu ternyata sukses membuat gue ketakutan setengah mati.

Namun, apa yang terjadi malam itu dengan artikel yang gue baca sangatlah berbeda.

Nggak ada sakit sama sekali coy!

Gue malah masih sempat-sempatnya melirik dan senyum ke arah Nova yang ngeliatin gue. Dengan mulut yang dibuka lebar dengan penyanggah, gue sesekali menaik-naikkan alis ke arah Nova. Seakan gue menantang Nova dengan gerakan kode itu. Seperti, ' Ape lu, ape lu! ' ke arah Nova.

Setelah proses mencetak, penempelan bracket dan pemasangan kawat, gue yang sedari tadi memejamkan mata, tiba-tiba dipanggil untuk bangun. Yailah, lagi enak tidur juga.

'' Dipilih aja warnanya. Mau yang mana? '' ujar dokter kepada gue. Sang perawat berdiri tegak di sampingnya sambil memegang wadah besar yang berisi banyak sekali warna-warna karet behel.

'' Yang ini aja dok, '' ujar gue lalu kembali merebahkan badan.

'' Engg.. bukan yang itu. Yang di bagian sebelah sini aja, '' ujar dokter lagi.

Gue duduk tegak dan menunjuk sekelompok karet behel berwarna biru.

'' Yang ini aja dok, '' ujar gue lalu kembali merebahkan badan lagi.

'' Birunya mau biru yang mana ya? '' tanya dokter lagi.



Ya Allah. Gue cape nih duduk bangun duduk bangun mulu. 



'' Apa aja deh dok, yang penting warna biru, '' ujar gue sambil kembali merebahkan badan.

Untuk pemasangan karet behel ternyata hanya 10 menitan. Sangat cepat.

'' Sudah selesai ya. ''

Dokter itu beranjak dari tempat duduknya. Gue yang udah ngantuk pake banget, langsung duduk begitu mendengar ucapan dari dokter. Seraya ngomong dalam hati,

Ooh ternyata cuma begini doang ya. Kok nggak sakit. Apa karena gue udah sering disakiti ya jadi rasanya udah kebal gitu, ehee.


* * *

Setelah pulang dari dokter gigi, gue mendapat beberapa pesan dari beliau. Salah satunya adalah larangan memakan makanan yang keras. Yakali gue makan batu:(

Hari pertama menggunakan behel, rasanya masih biasa aja. Masih belum ada rasa ngilu, sakit atau apapun yang sering gue dengar dari beberapa orang pengguna behel. Bahkan sepulang dari dokter gigi, gue masih sempet makan nasi pake gulai kepala ikan patin. Dan sampai hari ini, Alhamdulillah gue belum ada ngerasain sakit akibat pemakaian behel ini.

Sebelumnya, gue banyak mendengar cerita dari pengguna behel yang lain. Ada yang bilang, ' kalo pake behel, bibirnya jadi sariawan, nafasnya bau. ' 
Ada juga yang bilang, ' pake behel bikin selera makan menurun. Cocok nih buat yang pengen diet hahaaa. '
Ada juga yang bilang, ' seminggu pertama setelah memakai behel memang sakit. Rasanya nggak enak. '

Perihal sakit atau enggaknya ketika dan setelah memakai behel, menurut gue sakitnya ya sakit biasa aja. Nggak terlalu parah banget.






Gigi gue yg berantakan.
Tolong jangan fokus sama yg pacaran di belakang ya.









Gigi aja aku lindungin pake pager, apalagi hati aku. 


E-book WIRDY

Halooo gaes

Sebuah grup blogger yang personilnya absurd semua, ternyata eh ternyata telah melahirkan sebuah karya. Bagi gue, ini merupakan karya yang cukup membanggakan. Uwwwooh

Well, atas gagasan dari Yoga, akhirnya kami menyusun juga menulis beberapa tulisan dengan tema yang sama. Ada juga tema yang sengaja kami tulis untuk mengenang Darma. Eh kagak anjir. Untuk mengingat sekaligus menyemangati Darma, yang kini tengah belajar agama di Turki.

Bagi yang ingin membaca tulisan WIRDY dan sudah lama tidak berkata kasar, maka silahkan klik gambar di bawah ini untuk mendownload.



Selamat membaca hingga tuntas.
Selamat ayan.
Dan selamat berbahagia dengan kekasihmu yang baru.

Tengs. 


Perkara Rok Panjang dan Motor

'' Jadi mau ambil motor apa, Lan? '' tanya Ibu kepada anaknya yang paling cantik sejagad raya ini.

'' Emm apa yaa, pokoknya gausah yang matic deh. ''

'' Emang kenapa? ''

'' Males aja. Kalo duduk kakinya harus dirapet-rapetin gitu. Males, kesannya jadi sok imut. ''

Akhirnya pilihan gue jatuh ke salah satu motor manual.

Kejadian 3 tahun lalu itu masih teringat jelas di benak gue. Di mana saat gue baru menerima gaji yang ketiga kalinya setelah kerja selama 3 bulan di salah satu perusahaan swasta.

Btw, motor gue kondisinya masih bagus, kaca spionnya 2, bonus jok motor, MINAT PING!


LAH KAGAK DIJUAL ANJER!


Oke, serius.


Gue masih inget saat di mana gue mengenakan rok ketika berangkat kerja. Yang ada dalam pikiran gue ketika itu, 'gue udah kerja, udah dewasa, berarti udah bisa melakukan adegan dewasa.' Eeh ga gitu deng. Yang ada dalam pikiran gue ketika itu, 'gue udah kerja, udah dewasa, gue harus merubah penampilan, harus lebih feminin, harus cewek banget  gitulah. '

Maka dari itu, gue memutuskan untuk mengenakan rok.

Sepulang dari kerja, gue mampir di salah satu supermarket terdekat. Entah membeli apa, gue juga udah lupa. Yang pastinya gue ga membeli suara rakyat. Setelah gue selesai membayar, gue keluar dari supermarket menuju motor yang gue parkir. 

Begitu gue naik ke atas motor, entah bagaimana ceritanya, rok gue nyangkut di deket pijakan gigi. Auk dah apa namanya. Otomatis, gue ga bisa nahan keseimbangan. Kalo nahan rindu sama kamu mah, aku bisa-bisain walaupun perih.

Dan dalam hitungan detik, motor yang gue naiki oleng, miring kiri-miring kanan, seolah ia bingung harus memilih jatuh ke sebelah mana.
Dan...

BRAAAKK

Gue jatuh ke arah kanan. Untungnya kaki gue masih bisa menahan body motor agar tidak jatuh ke aspal. Btw, gue keren juga ya. Kayak di film-film action gitu. Iyain dooongg plis.
Karena gue anaknya mandiri, gue berusaha mendirikan motor gue yang hampir jatuh. Soalnya kalo mendirikan usaha gue belom bisa. Belom ada modal.

Sesampainya di rumah, TARAAA kaki gue benjol biru besar.

Mulai hari itu, gue benci pake rok. Segala pake nyangkut segala. Ribet.


* * *

Gue masih inget kejadian di tahun 2010. Ketika gue baru saja keluar rumah di hari Minggu yang indah. Gue baru mandi ketika jam menunjukkan pukul 11 siang. Tiba-tiba seorang lelaki lewat di jalan samping rumah gue. Noleh kiri, noleh kanan kayak nyari sesuatu. 

Dan entah kenapa, gue memperhatikan gelagatnya yang aneh itu. Tak butuh waktu berapa lama, ia menyadari pandangan mata gue yang ketika itu tak sengaja memperhatikannya. Ia mengurangi kecepatan laju motornya. Ia membalas pandangan mata gue.

Kami saling berpandangan.


Dia senyum, gue nyengir.


Mau gue bales senyum, tapi gue ga kenal. Tapi ganteng juga, ya gimana dong.


Ada sekitar 5 detik kami saling bertatapan.


Oh indahnya, dunia terasa berhenti berputar.

Dia makin pelan membawa motornya bersamaan dengan senyumnya yang semakin mengembang. Motornya terus melaju, pelan.


Pelan.


Pelan...


Pelan....


Dan BROOK


Motornya masuk ke dalam selokan.


Sebagai manusia yang beradab dan memiliki perilaku saling menolong sesama, gue langsung ngacir ke dalam rumah. Bodo amat. Percuma ganteng kalo bawa motor masih masuk selokan.

Beberapa bulan berikutnya, gue pergi jalan bersama Santi. Sahabat SMP gue. Ketika itu, gue yang mengendarai motor Santi, sementara ia gue bonceng. Gue gatau tujuan kami jalan-jalan di siang hari yang terik itu apa selain hanya tebar-tebar pesona. Ya Allah, masa remaja gue sungguh hina sekali:(

Lagi asyik-asyik mengendarai motor, Santi mencolek gue dari belakang.

'' Lan, ada cowo ganteng, '' ujar Santi heboh.

'' Mana, mana? '' ujar gue gamau kalah.

'' Itu tuh. '' Santi menunjuk ke arah depan. Di mana ada 2 cowok sedang mengendarai motor yang berlawanan arah dengan posisi kami. Gue mengurangi laju motor. Pelan sekali.

Gue masih memperhatikan 2 cowok yang sebentar lagi akan mendekat dengan gue. Ya walaupun cuma selisihan di jalan doang.

Dan wuussh. Kedua cowok itu lewat. Omaigat, inikah keindahan duniawi yang sesungguhnya? ujar gue dalam hati.

'' BELOK LAN, BELOK. '' Santi menyadarkan lamunan gue.


Telat.


Gue gabisa mengontrol motor yang gue kendarai. Gue malah ngegas motor saat melewati belokan. Alhasil, kami berdua jatuh mendarat.

'' Bangke bener. Ini pasti gara-gara 2 cowok itu tuh, '' omel gue sambil berusaha bangkit berdiri. Santi hanya meringis menahan sakit. Siang itu, ga ada satupun orang yang berniat untuk membantu kami yang jatuh dari motor. Karena sepi juga sih. 

Tiba-tiba, gue teringat dengan kejadian pada laki-laki yang masuk ke selokan bersama motornya di samping rumah gue beberapa bulan lalu.

Well, karma does exist.


***

Lain ceritanya dengan salah seorang teman gue ketika gue masih duduk di bangku SMK beberapa tahun lalu.

Pagi itu, seperti biasa, anak-anak sedang apel pagi. Sementara gue dan Rika izin ke guru untuk keluar membeli peralatan untuk praktek pelajaran IT nanti. Sesampainya di parkiran, kami langsung mengeluarkan motor milik Engla. Iya, kami minjem motor temen lainnya. Ehe.

‘’ Kamu aja deh yang bawa, Rik. Aku pake rok panjang, susah nih. ‘’


 Gue menyodorkan kunci motor kepada Rika. Rika mengiyakan tawaran gue. Berhubung Rika adalah orang cina dan mengenakan rok pendek selutut, itu menguatkan alasan gue yang males pake banget mengendarai motor saat mengenakan rok panjang.


Rika naik ke atas motor matic milik Engla.

‘’ Ayuk, Lan, ‘’ ucapnya. Mendengar komando Rika, gue langsung naik ke atas motor.

Rika kemudian memutar kunci motornya. Menaikkan standar motor dan TIN TIIIN…


LAH BANGKE. KENAPA MALAH NGELAKSON WOY!


Rika panik bersamaan dengan mata para murid yang berada dalam barisan menoleh ke arah kami. Beberapa guru juga menoleh ke parkiran. Memperhatikan kami yang membuat suasana apel pagi terganggu hari itu.

Rika pucat.

‘’ Lan, ini gimana astagaa. Aku malu ih, ‘’ ujarnya sambil menunduk.

‘’ Starternya sebelah sana, Rik. Yang ini mah klakson. ‘’ Gue menenangkan.

‘’ Iiih kamu aja deh ini yang bawa motornya. ‘’

‘’ Nggak ah. Kamu aja. Aku susah nih pake rok panjang. ‘’

‘’ Trus ini ya starternya? Aku kira starternya di sebelah sini. Soalnya kan juga ada starter yang sebelah sini. Iya kan? ‘’

YA ALLAH GUE MAU NANGIS.

‘’ IYA IYA RIK. ADA IYA. ‘’

Akhirnya kami meninggalkan area parkir. Dalam perjalanan, gue mikir keras. Tapi ga sekeras hidup atau nipplesnya Awkarin juga sih.




Gue mikir, 

‘’ EMANG ADA YAK TOMBOL STARTER DI SEBELAH KIRI? GUA YANG KATROK APA GIMANA DAH. ‘’


 * * *

Ada banyak lagi kejadian dengan motor yang gue alami dan gue ingat sampai sekarang. Tapi alhamdulillah, gue belum pernah jatuh, keserempet, nabrak atau hal apapun yang menyebabkan lecetnya motor gue hingga saat ini. 

Ya abis, motornya gue pake buat pulang pergi ngantor doang. 

Padahal dulu pas masih sekolah, saat bandel-bandelnya, gue doyan keluyuran bareng temen-temen tentunya dengan modal nebeng, gue selalu ngomong dalam hati, 

'' Ya Allah kapan sih aku punya motor sendiri. Pengen banget jalan-jalan ke sana, ke sini, ke situ rame-rame sama temen. ''

Dan setelah kerja, Allah mengabulkan doa gue. Tapi kenyataannya, gue ga pernah lagi kepengen jalan ke sana, ke sini dengan motor. Kalo udah sampe rumah, rasanya pengen cepet-cepet istirahat aja. Males ke sana-sini lagi. 


Hahahahhaa. Kalo dipikir-pikir rasanya lucu banget. Tapi gue yakin, Allah ngabulkan apa yang gue minta bukan untuk kesenangan jalan-jalan doang, Allah ngabulkan permintaan gue karena gue memang butuh itu untuk kerja. 

-Salam super. Mamah Dedeh




Oh ya, gue ada tutorial untuk kalian yang ingin mengendarai motor ketika sedang mengenakan rok panjang. 

1. Pastikan yang kamu kenakan itu adalah rok, bukan bawahan mukenah. 

2. Persiapkan helm, jaket dan kunci motor. 

3. Nyalakan motor dan gunakan helm sebagai pengaman kepala atas. Kalo untuk pengaman kepala bawah mah beda. 

4. Nyalakan starter di sebelah KANAN. INGAT DI SEBELAH KANAN, BUKAN KIRI. 

5. Kalo baterainya udah abis, silahkan ngengkol dulu. 

6. Panaskan motor selama 10 menit. Kalo mau cepet panas, pindahkan posisi motor di bawah sinar matahari yang terik. 

7. Naik ke atas motor. 

8. Turun dari motor lalu buka jok motor. 

9. Buka rok yang kamu kenakan, lipat dengan rapi kemudian masukkan ke dalam jok. 

10. Tutup jok motor kembali.

11. Dan selamat jalan. 

TENGS. 



Mengenang Masa Kejayaan Jaya.

Gue anaknya suka mengenang. Suka mengingat segala hal yang menurut gue penting, sekalipun itu sebenernya ga penting-penting amat. Tapi sayangnya, gue gabisa mengingat suatu hal dalam jangka waktu yang pendek.

Gue hanya bisa mengingat suatu hal yang sudah terjadi bertahun-tahun lewat ke belakang. Bahkan gue masih bisa mengingat detail tanggal, bulan, tahun, suasana kondisi ketika itu, ekpresi raut orang-orang yang ada pada saat itu. Kalo untuk jangka waktu yang pendek, gue gabisa. Boro-boro mau inget, sore pas mandi aja kadang gue sering ngomong dalam hati, '' tadi sebelum mandi gue pake baju warna apa ya? ''

Kejadian lain, misalnya pas lagi tiduran di depan tv sambil menikmati iklan yang ga abis-abis, tiba-tiba gue bisa mikir, '' lah tadi sebelum iklan gue nonton apaan ya? ''
Gue terus mikir. Mikirnya lama banget. Sampai akhirnya iklannya abis, lalu munculah acara yang gue tonton sedari tadi. Bersamaan dengan raut muka komo yang lehernya penuh urat, akhirnya gue tau bahwa gue sedang menonton acara Katakan Putus.



Ini kenapa picnya ga nyambung gini sih nyet?
Iya sengaja, abis bingung mau aplot gambar apa di postingan ini. EHE



Dan banyak kejadian lain yang secara perlahan seakan menyadarkan gue bahwa pikun ternyata bisa menyerang siapa saja. Waspadalah!

Lagi asyik-asyiknya nonton Katakan Putus, eh kagak anjir. Paan. Tontonan gue biasanya lebih bermutu sih daripada tayangan Katakan Putus yang ga berkualitas itu.

Nonton tayangan Anti Jones, misalnya.

Ya pokoknya itu dah. Lagi asyik-asyik nonton, gue tiba-tiba teringat dengan salah satu siswi baru di SMK gue. Yang ketika itu ia masuk sebagai siswi baru saat duduk di kelas 2 SMK. Inisialnya JY. Nama sebenarnya Jaya Yanti.


Sebelum masuk di sekolah gue, dia bersekolah di salah satu SMK Negeri di daerah gue. Katanya, dia kena DO oleh pihak sekolah karena ulahnya yang ada-ada aja. Menurut cerita dari berbagai sumber yang gue kenal, yang kebetulan gue juga punya temen anak SMKN, katanya Jaya sering bertingkah laku aneh. Kadang jedotin kepalanya di pintu secara berulangkali. Bukan apa-apa, dia gatau apa perbaikan fasilitas sekolah itu cuma dilakukan 10 tahun sekali. Ada yang bilang kalo dia sering ngompol di sekolah, ada yang bilang dia sering ketawa sendiri dan banyak sekali kelakuan Jaya yang bikin kening gue mengerut saat mendengar testimoni dari beberapa orang.


Baru beberapa hari di sekolah gue, Jaya sudah kebingungan saat mengetahui bahwa di sekolah gue setiap bulan sekali, ujian bulanan akan diadakan. Iya, di sekolahan gue tiap bulan ujian. Puyeng.


Maka, di suatu pagi Jaya yang duduknya di depan meja guru mengerjakan ujiannya dengan lancar. Sampai di penghujung waktu ujian, barulah anak-anak seisi kelas tau bahwa Jaya menyontek dari buku yang ia letakkan di laci meja.

Jaya dipanggil ke meja guru.

Jaya nangis. Marah-marah. Nangis.


* * *


Keesokan harinya, di jam istirahat Jaya berjalan menyusuri koridor sekolah tanpa menggunakan sepatu. Jalan lurus gitu, ga liat kanan-kiri. Kaya buibu naik motor tanpa ngeliat spion kanan kiri.
Jaya naik ke lantai dua, berdiri di ujung koridor. Diem. Turun lagi. Jalan ke sudut koridor lagi, diem kemudian turun lagi.
Aneh memang.

Sampai pada suatu siang, kelas kami kosong. Sama kayak hati.
Temen-temen iseng menulis di papan tulis menggunakan spidol.

Dengan kalimat, ' Jaya cantik. '
Jaya yang duduk di kursinya tersenyum.

Ada yang nulis, ' Jaya imut. '
Jaya ngangguk-ngangguk.

Ada lagi yang nulis, ' Jaya baik hati. '
Jaya makin senyum lebar.

Sampai pada akhirnya gue ikutan nulis di papan tulis menggunakan spidol.

' JAYA CENGENG. '

Selesai menutup spidol, semua arah pandangan mata murid mengarah ke gue. Seakan mereka tau apa yang akan terjadi setelah gue duduk kembali di kursi. Benar saja pemirsa, Jaya mendatangi meja gue dengan ekspresinya yang teramat lebay. Mukanya marah.

'' Eh, itu apa sih maksudnya? ''

'' Ha, yang mana? '' ujar gue sambil fokus mainin hp.

'' Itu apa? Aku cengeng? ''

'' Apa sih Jaya? ''

'' Itu! '' Jaya menunjuk ke papan tulis.

'' Aduuh aku salah tulis. Itu maksudnya aku mau nulis Jaya Cerdas. Gitu. ''

Telat. Jaya keburu nangis sambil teriak-teriak di meja gue. HAHAHAHAHAA
Entah bagaimana ceritanya, akhirnya gue dan Jaya berhadapan dengan wali kelas di ruang guru untuk menyelesaikan masalah itu.

Selang beberapa hari, justru karena hal itu gue malah deket dengan Jaya. Kami pulang sekolah jalan kaki bersama. Jarak rumah gue ke sekolah deket banget anjir. Gue berdiri hormat upacara bendera di sekolah aja, udah keliatan emak gue lagi ngejemur baju di samping rumah. Hal itu jelas mengganggu suasana khidmat gue dalam mengikuti upacara bendera.

Saking deketnya gue dengan Jaya, kadang kalo pulang sekolah, gue ngajak Jaya untuk makan siang bareng di rumah gue. Ibu yang mengetahui bagaimana Jaya setelah gue ceritakan sebelumnya, mencoba mengobrol dengan Jaya seusai makan.

Yang dimana gue bisa kesimpulan bahwa, Jaya kekurangan perhatian. Beda tipis sama gue yang kekurangan kasih sayang plus kekurangan duit saat akhir bulan.
Info baru yang bisa gue dapatkan adalah, Jaya sedang jatuh cinta dengan ketua kelas. Namanya Edi. Tapi dia gatau gimana cara menarik perhatian Edi. Kalo cara menarik becak, mungkin dia tau.


* * *


Kejadian lain, pernah di suatu hari, di tengah pelajaran berlangsung dan guru sedang menerangkan di papan tulis, entah karena apa tiba-tiba Jaya bangkit dari kursinya dan menjedotkan kepalanya ke tembok.

Duk, duk, duk.

Suaranya seakan mengingatkan gue dengan suasana bulan ramadhan. Lebih tepatnya suara bedug magrib pertanda waktunya berbuka puasa.

Duk, duk, duk.

Seisi kelas memperhatikannya. Jaya berteriak entah ngomong apa. Dari nadanya kayanya dia marah. Gatau apa penyebabnya. Sebagai teman baru Jaya, sampe-sampe gue dijuluki dengan sebutan 'kakak Jaya', gue langsung berdiri dan meletakan tangan gue di kepala Jaya. Berusaha agar kepalanya tidak terbentur pada tembok. Namun, Jaya masih saja membenturkan kepalanya.

Duk, duk, duk.

Ini suara adzannya mana sih elah

'' Jaya, udah! '' ujar gue. Jaya tidak menggubris omongan gue. Ia tetap melakukan aksinya yang nekat tersebut.

'' JAYA! ''

Jaya tidak peduli akan kehadiran gue di situ. Seisi kelas hening.

'' JAYA, UDAH UDAH! DUDUK CEPET. ''

Jaya tetep diem. Rasanya gue pengen teriak, '' TANGAN GUA SAKIT ANJIR, LU JEDOT JEDOTIN KE TEMBOK!! ''

Tapi gue mengurungkan niat itu. Gue rela, gue ikhlas tangan gue sakit. Setidaknya sakitnya tidak separah saat kamu meninggalkanku dan memilih perempuan lain seperti dia.

Halah.

Entah udah berapa jari gue yang gugur karena aksi jedot-jedotan ke tembok itu, akhirnya Jaya kembali ke kursinya.


* * *


Kejadian lain, pernah di hari Sabtu, di mana kegiatan pengembangan diri (ekstrakulikuler) diadakan, gue iseng masuk ke ruang seni musik. Ya abis gue gatau dengan diri gue sendiri mau dikembangkan ke dalam bidang apa. Alhasil gue keluar masuk ruangan aja.
Dan di hari itu, gue masuk ke ruang seni musik. Di sana ada beberapa temen sekelas gue. Ada Jaya, Sarah, Edi dan Eva. Mereka bernyanyi bersama dan Edi sebagai pemain keyboardnya. Percis kayak biduan di pesta-pesta nikah.

Entah darimana  pasalnya, tiba-tiba Jaya mengamuk parah. Ia membentak-bentak Eva, ia menampar Eva. Karena tidak terima diperlakukan seperti itu, Eva balik menampar Jaya. Dan entah sekuat apa tamparan Eva, Jaya tiba-tiba terjatuh di lantai.Gatau dah, emang Jayanya aja yang lebay apa ya.

Musik berhenti. Jaya bangkit dari lantai dan berusaha membalas tamparan Eva. Sebagai perempuan berhati mulia, tentu saja gue melerai perkelahian di antara mereka. Namun sayang, gue malah kena ciprat juga. Iya, gue kena omel juga anjir.

Lah kenapa gue diomelin juga sih fak?

Beberapa guru datang, dan well kami bertiga masuk ke kantor guru. Lagi.

Di situ gue menjelaskan panjang lebar tentang apa yang dialami Jaya. Tentang ia yang berusaha mencari perhatian Edi. Dan usut punya usut, ternyata Jaya menampar Eva karena ketika itu posisi Eva sangat dekat dengan Edi.
Istilah anak kekiniannya, Jaya jealous alias cemburu buta.


* * *


Mulai hari itu, gue mulai menjaga jarak dengan Jaya. Anak-anak seisi kelas juga mulai berhati-hati jika berhubungan dengan Jaya.
Sampai pada suatu hari, di jam istirahat, gue sedang duduk mengobrol berdua dengan ehem sang pacar masa sekolahan dulu. Gue menoleh ke belakang kemudian tertawa.

'' Liat deh, itu si Indra. Narsis banget di youcam, '' ujar gue ke pacar.

Sang pacar menoleh ke belakang kemudian kami sama-sama tertawa. Indra, seorang lelaki betina yang memiliki ratusan video boy band di laptopnya. Ya, Indra anaknya agak lembek. Ehe.
Ketika itu, Indra terlihat sibuk memonyongkan bibir seksinya ke kamera laptop. Berpose dengan wajah miring ke kiri, ke kanan, mulut dikatup rapat, mulut dimonyongkan, ya sebagaimana lelaki betina narsis karena ingin terlihat cantik di depan kamera pada umumnya.

Gue dan sang pacar ketawa ngakak bersamaan.

Di tolehan ketiga, gue menyadari sesuatu. Ada tatapan yang bisa gue tangkap dari sudut mata, yang tak gue sadari bahwa sebenarnya, sedari tadi ada yang menatap gue dan pacar saat cekikan. Gue menoleh lagi, memastikan siapa yang menatap gue sampai sebegitu tajamnya.

Yak. JAYA.

Posisi duduknya ketika itu tepat di depan Indra. Sama-sama di pojokan di kelas.

Gue saling bertatapan dengan sang pacar. Gue menaikkan bahu.

Tak butuh waktu berapa lama, Jaya menghampiri gue. Mukanya merah, rambut ikalnya yang sejajar dengan telinga tampak acak-acakan.Matanya melotot.

'' KALIAN NGETAWAIN AKU? ''

'' Ha? maksudnya apa? '' tanya gue masih dengan nada biasa.

'' IYA. KALIAN LIAT-LIAT AKU TRUS NGETAWAIN AKU KAN. KALIAN JAHAT YA SAMA AKU. KALIAN TEGA SAMA AKU. ''

Gue dan sang pacar saling berpandangan sekaligus menahan tawa. Iya, lucu banget anjir liat Jaya yang super drama.

'' Apa sih, Jaya. Kami tadi lagi ngeliatin Indra yang foto-foto di youcam. Lucu liat posenya, '' ujar sang pacar.

'' ENGGAK. KALIAN NGETAWAIN AKU KAN. KALIAN JAHAT. NGGAK NYANGKA KALIAN SEJAHAT ITU SAMA AKU. HUHUUHHUUU... ''

Lah sianjir. Alay banget.

Jaya langsung naik ke atas meja. Lompat-lompat, lari-lari dari meja satu ke meja lainnya. Dia beratraksi sebahagianya dia. Seisi kelas melihat tingkahnya, dan tentu saja tidak ada yang memperdulikan tingkahnya. Semua anak sibuk dengan kegiatannya masing-masing.
Bagi anak di kelas, tingkah Jaya yang aneh seperti itu sudah menjadi makanan sehari-hari. Kalo lagi kumat, dia bisa-bisanya naruh kursi di atas meja trus berdiri di atasnya. Dengan raut wajah bahagia, dia mengangkat-ngangkat tangannya. Melambai-lambai seakan ia menjadi seorang Ratu yang memimpin sebuah negeri yang penuh kejayaan.

Etapi emang beneran deng, kelas 2 SMK pada tahun itu memang bener-bener masa jayanya si Jaya banget. Dia bener-bener jadi pusat perhatian seluruh anak di sekolah. Bahkan buibu yang jual tempe goreng dengan irisan tipis setipis silet, di kantin juga ikutan memperhatikan tingkah laku Jaya yang aneh.

Setelah puas berlari, berlompat di atas meja, Jaya turun. Mungkin dia kecapekan. Suasana yang tadinya sudah normal, mendadak heboh saat Jaya kembali menghampiri gue dan sang pacar lagi.

'' Lan, kamu kok jahat sih sama aku? ''

'' Ha? '' gue cengo. Masih heran aja dengan kelakuannya yang tiba-tiba.

'' APA SALAHKU LAN? APAAA? '' Jaya memukul-mukul dadanya.

Yawlaa, itu ekspresi mukanya percis kayak pemain ratapan anak tiri yang sedang cosplay jadi awkarin di video nangis yang habis diputusin pacar.

'' APA SIH JAYA. GAUSAH LEBAY. '' Emosi gue mulai terpancing. Jaya semakin tak mau kalah dengan gue.

'' KALIAN SEMUA JAHAT. JAHAT. ''

Jaya langsung menjatuhkan badannya di lantai. Ia nangis terisak-isak. Dengan ucapan serta emosinya yang masih saja ia lontarkan di tengah isak tangisnya, Jaya semakin leluasa untuk miring ke kiri dan ke kanan. Posisi terakhir yang gue liat, dia udah telungkup sambil terus menangis terisak.

Asli. Gue ilfil ngeliat tingkahnya. Mau negur, tapi takut dia semakin drama.

Gue gatau ada apa dengan diri seorang Jaya Yanti. Apakah ia memiliki sedikit gangguan kejiwaan atau kelakuan aneh dia selama ini hanya sebagai bentuk untuk mencari perhatian belaka?

Bahkan, Jaya sempat mengirim sms broadcast ke semua kontak yang isinya,
'' Nanti siang, sepulang sekolah jam 2, aku mau bunuh diri. Aku mau lompat ke dalam sumur. ''

Ia mengirim sms itu ke seluruh kontak teman sekelas. Maka, sepulang sekolah, gue beserta teman sekelas pulang ke rumah masing-masing tanpa memperdulikan sms itu.
Ya abis, itu sms puluhan kalinya yang Jaya broadcast ke seluruh kontak teman sekelas. Jadi ya respon anak-anak, biasa aja.
Toh, besok paginya dia tetep masuk sekolah seperti biasa. Hahahaaa.


* * *

Jaya bersekolah di SMK gue hanya sampai kelas 2 SMK. Naik ke kelas 3, kata-katanya dia udah ga sekolah lagi karena orangtuanya malu akibat terlalu sering mendapat pengaduan dari guru tentang ulah Jaya yang tiap hari ada aja.
Terakhir kali gue ketemu dia, pas lebaran tahun 2013. Gue yang ketika itu sedang ngobrol bersama 2 teman SMP di rumah gue, kaget ketika Jaya meminta kami bertiga untuk menuliskan nomor handphone di selembar kertas.

'' Buat apa, Jay? '' tanya salah seorang temen SMP gue. Jaya cuma diem.
Sebelumnya Jaya udah gue kenalkan terlebih dahulu dengan 2 temen SMP gue.


Selang beberapa hari, kami bertiga terkejut saat mengetahui bahwa pulsa 5 ribu masuk ke handphone kami bertiga. Fix, ini Jaya yang ngirim pasti.

Beberapa bulan berikutnya, gue mendapat cerita dari Ibu bahwa beliau melihat Jaya jalan tanpa menggunakan sendal di pinggir jalan. Dan lokasi di mana Jaya berjalan kaki yang Ibu sebutkan itu cukup jauh dari kota. Gils banget.

Terakhir gue denger kabarnya, katanya Jaya sakit trus meninggal. Etapi gatau deng kabar duka itu benar apa enggak. Dan sampai saat ini, gue belum pernah bertemu dengan Jaya lagi.

Seenggaknya, dengan hadirnya Jaya di sekolah gue ketika itu, saat ini gue bisa kembali mengenang peristiwa lucu, aneh, absurd yang Jaya lakukan semasa SMK dulu.




RISOLASI 2017

                                    

Haihooo udah tahun 2017 aja neh.

Maapkeun kalo beberapa bulan belakangan ini gue jarang apdet bahkan sempat meninggalkan blog tercinta ini. Ada banyak sekali faktor-faktor yang menjadi penyebab itu semua. Salah satunya embikoz gatau kenapa, abis ganti domain kemarin, tiba-tiba blog gue gabisa dibuka di komputer kantor. Begitu juga dengan blog Icha setelah ganti domain dan juga blog Yoga. Sementara blog teman-teman lain bisa dibuka. Aneh deh. 

Jadi, kalo mau bw ke blog Icha dan Yoga, gue harus buka lewat handphone. Menyedihkan.
Gatau deh ini diapain sama abang-abang teknisi IT di kantor. Abang-abang teknisi, plis atuh ini dibenerin.

Ngomongin tahun 2016 kemarin, bagi gue itu adalah tahun yang paling berkesan . Gimana enggak, di tahun itu gue bisa bertemu langsung dengan duo blogger mesum ya you know lah. Gausah disebutin namanya.

Namanya Yoga dan Darma.

Meskipun bagi gue, tahun 2016 itu ibarat lilin. Awalnya terang, namun lama kelamaan redup kemudian cahayanya habis. Sama seperti yang gue rasakan. Di bulan-bulan awal tahun 2016, gue amat bahagia. Teramat bahagia. Semuanya berjalan lancar seperti yang gue inginkan. Urusan kerja lancar, kuliah lancar, asmara lancar, BAB lancar, semua dah lancar.
Namun di 5 bulan terakhir kebahagiaan gue perlahan-lahan menghilang. :’)

Okedah gausah dibahas lebih dalam. Eheew

Di tahun 2016 lalu, gue amat bahagia saat datang ke pesta salah satu mantan saat SMP gue dulu. Ga nyangka orang yang dulu rela anter jemput gue tiap pagi padahal beda sekolah, meskipun jemputnya jam 6 pagi sementara masuk sekolah jam setengah 8, akhirnya menikah. 

Gapapa gue dateng sepagi itu. Duduk sendirian di kelas. Jangankan ngeliat cleaning service sekolah, pintu pager aja belom dibuka anjis. Tapi gapapa deng, asalkan bareng abang sih, adek udah seneng.

Oh ya, gue juga bertekad pada diri sendiri untuk kembali rajin nulis di sini. Embikoz ternyata eh ternyata, selama gue ga apdet tulisan di sini ada beberapa orang terdekat yang nanya kenapa ga apdet tulisan di blog lagi. Seketika gue terharu.

Jadi ceritanya di awal Desember , Silvana, temen SMK gue baru pulang dari Batam. Katanya cuti. Mengetahui hal itu, gue bersama beberapa teman berniat untuk ketemuan di Nongcan Kopi Tiam, salah satu tempat makan di daerah gue. Setelah bertemu, kami mengobrol banyak hal.
Sudah hampir 2 tahun kami tidak bertemu. Ga banyak yang berubah dari Silvana yang memiliki panggilan Cipa itu. 

Iya, panggilannya Cipa. Kalo denger nama itu, pasti yang ada di benak kebanyakan orang, Cipa itu seorang perempuan lucu, imut dan menggemaskan. Namun berbeda dengan Cipa yang ini.

Cipa yang ini adalah seorang cewek jantan. Gue kenal Cipa dari semasa SMP. Rambutnya dulu keribo, sampai pada suatu pagi di kelas 3 SMP, Cipa datang ke sekolah dengan rambut yang lurus dan tergerai indah. Seisi kelas shock berat sekaligus mengucap syukur atas perubahan Cipa. Terutama gue, akhirnya Cipa jadi seorang gadis feminin juga. 

Namun, kami menyesal atas ucapan syukur yang kami lontarkan saat Cipa duduk di kursi dan berkata,

‘’ ANJIR, INI EMAK GUE NIH YANG NYURUH REBONDING RAMBUT. ‘’

Tidak ada yang berubah dari Cipa hingga sampai kami bertemu kembali di SMK. Cipa masih tetap berpenampilan seperti cowok. Juga sampai saat ini.

Setelah cukup lama mengobrol, kami memutuskan untuk menyudahi acara kumpul pada malam itu. Kami berlima bergegas menuruni anak tangga dan menuju kasir untuk meminta bill.

‘’ Lan, kamu kok nggak pernah nulis lagi di blog? ‘’ ujar Sarah, salah seorang teman gue.

‘’ Hehehe lagi nggak sempat, Sar. Sibuk banget, ‘’ ucap gue sambil menerima bill dari mba kasir.

Di lain sisi, gue cukup senang. Ternyata, Sarah tau dan sering membaca blog gue. Bahkan dia pernah memposting beberapa paragraf tulisan gue ke dalam caption instagramnya. Gue bener-bener terharu. Gue menundukkan kepala gue untuk melihat angka yang tertera di bill. Mata gue mulai berkaca-kaca.

‘’ Anjis, angka billnya gede banget. ‘’

Mungkin yang punya tempat makan, mau naik haji sekeluarga besar. Gapapa.

***

Ngomongin tahun baru dan liburan, sumpah gue ga kemana-mana selain diem di rumah.
Pada malam tahun baru, gue sempat ngumpul sama temen-temen sampai jam 10 malam. Abis itu pulang, tidur. Jam setengah 12 malam, gue kebangun karena suara kembang api yang cukup berisik. Rasanya gue pengen ngomong di telinga orang yang nyalain kembang api itu, trus teriak,

‘’ BELOM JAM DUABELAS BEGO. LU KECEPETAN. ‘’

Tapi gatau deh ya, kali aja orang itu lagi dalam pra-nyalain kembang api pas malam tahun baru.
Jadi ya gitu, kecepetan.

Alhasil, dari jam setengah 12 sampai jam 12 gue bener-bener melek dan gabisa tidur sama sekali.
Berisik banget emang kayak video jepang.
Maksud gue, video anak-anak jepang yang lagi tawuran. Kan berisik.

Di pagi harinya, hujan deras mengguyur kota gue. Sebagai perempuan nan cerdas, gue langsung buru-buru ngeluarin motor. Dengan tujuan agar motor gue bersih. Ehee
Terkadang cerdas sama pemalas itu beda tipis. Setipis kumis lelaki idaman wanita jaman sekarang.
Karena udah terlanjur basah, akhirnya gue memutuskan untuk mandi hujan di samping rumah bersama adik-adik gue. Bahkan Ibu gue juga ikutan.
Bener-bener keluarga yang kurang bahagia di masa kecilnya.
Gue langsung ngeluarin sampo dan sikat gigi. Gue sampoan di bawah derasnya air hujan. 

Sambil nyanyi, ‘’ Rabuu, rabuuu emejing. ‘’

Yawlaaaa

Setelah selesai sampoan, gue lari-lari ke sana sini. Berasa lagi syuting video klip yang adegannya sedang nyanyi-nyanyi di bawah guyuran air hujan. Dramatis banget anjir.
Ada sekitar sejam lebih gue mandi ujan di luar. Rasanya seru banget. Apalagi pas ngeliat motor seketika langsung kinclong. Bahagia pastinya.

***

Ya begitulah sekilas info ga penting yang gue alami di tahun 2016.

Selamat datang 2017!
Semoga gue bisa mengisolasi masalah-masalah rumit ini agar cepat selesai dan suasana bisa kembali seperti semula lagi. Juga menjadi pribadi yang lebih baik lagi untuk ke depannya.